Pentingnya sex dan kekerasan

17 Apr

Faster, Pussycat! Kill! Kill! (1965)

 

Pengetahuan saya tentang gerakan feminis untuk membuat derajat perempuan sama seperti lelaki sangat minim dan bisa di bilang terbelakang. Mungkin karena subyeknya terlalu personal seperti agama sehingga saya lebih baik berdiam diri daripada sok tau. Walaupun saya kurang mengerti detail sejarahnya tetapi saya menghormati dan mendukung kesamaan derajat perempuan dengan lelaki karena semua orang seharusnya mempunyai hak/derajat yg sama.

Membahas bagaimana sejarah sinema memandang perempuan akan selalu menjadi topik yg menarik dan cukup kompleks. Apakah perempuan selalu menjadi obyek hawa nafsu, sebagai ‘hadiah’ untuk hero lelaki di akhir cerita, sebagai pemanis semata atau sebagai individu yg mempunyai kekuatan dan kepercayaan diri untuk menentukan sendiri nasib dan takdirnya? Belum lagi nilai-nilai budaya/agama/tradisi yg sepertinya mempunyai peraturan ‘khusus’ untuk perempuan. Seberapa jauh perempuan bisa menentukan nasibnya?

Salah satu keindahan sinema adalah bisa merubah atau mencoba untuk memberi sudut pandang yg beda ke penonton tentang situasi/subyek tertentu yg mungkin sudah menjadi norma standard di saat itu. Misalnya mayoritas karakter-karakter perempuan di film tahun 50’-60’an akan mengikuti nilai-nilai standard budaya di era itu; feminin, keibuan, elegan dan selalu menjadi bayangan kaum lelaki tetapi ada juga film-film exploitasi yg terang-terangan menggunakan sosok perempuan sebagai fantasi liar pria.

 ‘Faster, Pussycat! Kill! Kill!’ adalah salah satu film exploitasi terkenal yg juga di sebut sebagai masterpiece karena menggunakan perempuan sebagai obyek fantasi pria secara sexual dan terang-terangan tetapi juga mempunyai kejutan dengan membuat karakter-karakter perempuan lebih mematikan dari pada karakter laki-laki. Penulis/Sutradara Russ Meyer di kenal sebagai pembuat film exploitasi perempuan terkenal. Obsesi dia dengan karakter perempuan berpayu dara besar yg mempunyai nafsu sexualitas yg tinggi serta doyan kekerasan sepertinya merendahkan martabat perempuan menjadi sosok kartun yg mengada-ngada dan tidak realistis. Malah para perempuan-perempuan feminis awalnya menilai filmnya Russ Meyer adalah karya B-movie sampah yg sudah masuk batas soft porn.

Memang di dunia Russ Meyer, film-filmnya seperti di planet lain. Dialog yg super campy, cerita yg tidak masuk akal, karakter-karakter yg tidak terasa nyata dan di sertai dengan konflik-konflik yg penuh kekerasan tetapi di balik itu semua Russ Meyer memberikan sesuatu yg paling berharga untuk kaum perempuan yg tidak ada di mayoritas film-film lain di era 60’an.

Perempuan yg memegang kendali cerita.

Melalui sexualitas dan kekerasan perempuan bisa mengalahkan laki-laki d dunia laki-laki. ‘Faster Pussycat! Kill! Kill!’ seperti sebuah statemen subversive di mana sex dan kekerasan adalah mata uang kekuatan untuk perempuan. Fantasi berlebihan? Mungkin. Tetapi fantasi yg brilian dan militan ini menampilkan perempuan yg tidak mau kompromi dengan dunia laki-laki yg selalu menindas perempuan.

Faster Pussycat! Kill! Kill! menceritakan tiga perempuan go-go dancer yg suka balapan mobil dan petualangan mereka dalam mendapatkan apa yg mereka mau. Pemimpin mereka bernama Varla (Tura Satana), berpakaian hitam seperti anak geng motor dengan alis kabuki style, Billie (Lori Williams) si pirang yg kuat tetapi sensitive dan Rosie (Haji) si tomboy yg punyai sifat sadis.

Mereka ketemu seorang pria yg suka balapan dan mereka bertanding tetapi sesuatu terjadi yg mengakibatkan Varla membunuh dia dengan menggunakan jurusan judo mautnya (kan saya udah bilang filmnya campy). Mereka menculik pacar si pria, Bunny (Susan Bernard) dan berencana untuk merampok harta karun seorang laki-laki pincang dengan dua anak laki-lakinya di tengah-tengah gurun pasir.

 Sudah tidak asing kita melihat perempuan menggunakan sexualitas mereka untuk mendapatkan yg mereka mau di film tetapi yg membuat Faster, Pussycat! Kill! Kill! Beda adalah tonasi sexualitas mereka di naikan secara drastic untuk mendominasi pria dengan membuat pria-pria menjadi impoten karena mereka tidak bisa berfungsi secara ‘normal’ atau karena mereka selalu kalah dalam bertarung sehingga derajat maskulinitas mereka hampir selalu punah.

Untungnya Meyer tidak pernah membuat filmnya terlalu serius karena selalu di baluti oleh imej-imej pop art fantasi (editing cepat, framing dinamis, musik pop, stylish) sehingga filmnya terkesan ‘main-main’ atau genit sehingga mayoritas laki-laki yg menonton tidak pernah merasa di ‘kecilkan’ malah menyoraki aksi-aksi Varla sehingga membuat sebuah hasil ironis di mana Meyer secara diam-diam memberikan kekuatan dan wewenang penuh ke sosok perempuan tanpa membuat laki-laki merasa di jatuhkan.

Sebuah konsep jenius.

Legacy film ini juga  masih berkesan di era pop culture sekarang. Ketika Quentin Tarantino menggunakan film ini sebagai referensi utama dia untuk filmnya ‘Grindhouse’ dan bahkan dia hampir membuat remake ‘Faster, Pussycat! Kill! Kill!’. Bahkan ada band punk  yg memakai nama yg sama. Yg paling mengejutkan adalah seorang kritikus film feminis bernama B. Ruby Rich dua puluh tahun yg lalu menilai film ini tidak lebih dari sebuah film soft porn sampah tetapi ketika dia menonton lagi di New York Film Forum, dia mengakui bahwa ternyata film ini memberikan banyak kekuatan untuk kaum wanita. Sebuah testimoni film brilian yg awalnya di pandang sebelah mata.

 tintascreenplay.com

Meet you in Montauk

24 Mar

Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004)

 

Time and memory is a bitch.

why?

Because they are the two consistent things that keep reminding us of our pain. How we use that pain will ultimately shaped us as unique individuals. Some people use pain as motivation to be better, some use it as a learning curve and some never completely recover and choose to wallow in self bitterness. I could use love as an example too but that would be too easy and predictable.

If I had to choose between the two, I choose pain.

Why?

Because pain makes us grow, because pain is a necessary evil to keep us alive, because pain keeps us moving forward.

But some people simply can’t face the pain because the wounds are far too great to bear.

Wouldn’t that be a relief if that part of your memory that hides your inner most pain can be erased? All those perfect scars in your deepest memories can be deleted instantly? All those regrets and mistakes that are dragging you down will disappear in a flash?

Would you do it if you had the choice?

Apparently many did in ‘Eternal Sunshine of the Spotless Mind’. Well, to be specific Clementine (Kate Winslet) did. She erased her memories that had anything to do with Joel (Jim Carrey). When Joel finds out, he gets mad like any other person would in the last dying breath of their relationship and he retaliates by getting the same treatment done. The thing is, memory also serves as a stubborn reminder of why we hold on to those fleeting moments that are dear to us. Fleeting moments that are precious or intimate with people we’ve loved. It’s because those same people that we have connection with also defined us as a person.

Without them, we are nothing.

Joel realizes this as the procedure begins erasing his memories of Clementine and he decides to fight it off because he still wants to remember. He needs to remember her because Clementine has been so ingrained in his psyches that she has become an integral part of his life, for better or worse.

Writer Charlie Kaufman and director Michel Gondry are the perfect collaborators for this film because each played to each other’s strength and covered each other’s weaknesses. Kaufman is a cubist writer who is brilliant and loves to push things to the limit but sometimes needs to be rein in because he has a morbid habit of demolishing story/characters and turning them bitter without any sort of redemptive qualities. This is where Gondry comes in to make the story more hopeful and open. Gondry is one of those rare director who is technically gifted but with a heart to back it up, a somewhat rare commodity in today’s filmmaking. He saw something pure and unabashed in the story amidst all the non-linear/maze like structure /heavy theme. He saw a simple love story with a very off beat approach.

It would be easy to get lost and be confused by the many different layers of story as it got deeper and surreal but it never got bogged down by the razzle dazzle of the clever structure or the cool lo-fi effects that Gondry designed because all those elements were designed to make the story whole and not vice versa.

At the heart of it all, the emotions of the characters journey were very…well emotional, familiar and touched a nerve without being sappy or falling to most romantic movies clichés. We see how when they first meet. Joel is a shy timid introvert while Clementine is a bashful extrovert, an unlikely pairing that sparks off a unique chemistry that embedded deeply in their minds. We also see how their relationship starts to decay slowly and their resentment towards one another reach an unbearable level ,“Are we the dining dead?”

This story works because Kaufman wanted to make sure you believe in their relationship first and it feels real and not artificial. Once you bought in to their story, Kaufman pulls the rug under you and the real journey starts. I guess what I’m trying to say is the core of this film is crystal clear and easy to understand which is why the film never gets confusing.

The direction of Gondry is truly spot on because he refused to jump in with the 3D/CGI bandwagon for this film and instead using mainly lo-fi effect techniques that were mainly shot in camera to give it a surrealist feel that is also feel very raw and imperfect yet works perfectly. As Joel’s final memory of Clementine’s collapsing and he sees all their little precious moments flashing by in a train ride like effect, the realness/rawness of that effect really hits home because that is something that 3D will never capture, the intimacy of your world falling apart in front of you being captured like a slide show. And summarised perfectly by this  dialogue scene:

Carrie: I saw you talking to someone pretty!

Rob: Yeah, man, who was that?

Joel: She was… just a girl.

Makes it one of the most heart aching scenes in film history.

Later on, when Joel and Clementine meet up again in Montauk, though they don’t remember each other but somehow sense a strong familiarity/bond with each other. It really is a statement about the human heart, that it has a mind of its own.

That is truly romantic.

tintascreenplay.com

Map film!

17 Mar

filmmap4Sekilas mungkin kelihatan seperti map biasa, tetapi ketika kita lihat lebih dekat lagi…

filmmap

Ternyata sebuah map film!

Konsep ini di ciptakan oleh wearedorothy.com

Di mana mereka membuat map berisi film-film terkenal seperti…

filmmap2Dan juga…

filmmap3

Map ini kurang lebih mengikuti pola dari map kota Los Angeles lama dan menaruh  sekitar 900 film.

filmmap5Setiap area mempunyai maksud spesifik, seperti area Alfred Hitchcock bahkan ada juga distrik merah. Walaupun harga map ini cukup mahal sekitar 25 Pound sterling tetapi map ini sangat langka dan unik. Paling tidak kamus pengetahuan film kita naik drastis.

tintascreenplay.com

Ketika film sudah tidak memuaskan lagi

15 Mar
Sopranos-Season5F

The Sopranos

 

Mungkin anda sudah merasakannya, mungkin belum. Telah terjadi perubahan pelan-pelan tapi signifikan di antara film-film mainstream Hollywood dan serial TV.

Mayoritas cerita yg berkualitas, pintar dan tidak mudah ketebak sudah migrasi ke TV.

Ya, saya juga engga percaya dan pertamanya tidak mau percaya. Tetapi itu sudah terjadi.

Yup, suka atau tidak ini sudah menjadi kenyataan.

“Tapi kemarin film-film yg menang di Oscar berkualitas semua!”

Ya, tetapi film-film itu memang di desain untuk award season. Hollywood mempunyai tradisi di mana setiap studio pasti akan membuat film-film berkualitas yg fokus ke cerita yg matang dan karakter yg kompleks untuk Oscar tetapi fokus utama bisnis mereka sekarang adalah membuat film-film blockbuster yg penuh dengan CGI dan action demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Tentunya tidak semua film-film budget besar berkualitas buruk, ada juga film-film yg di dominasi CGI mempunyai visi unik dan beda tetapi rasionya sangat rendah sekali. Untungnya, serial TV lebih bersedia untuk meng- explore cerita-cerita yg lebih berani dan berkualitas karena mereka tidak mempunyai budget 100 juta+ dollar sehingga mereka tidak mempunyai tekanan untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya seperti film-film big budget.

Kita sedang berada di era keemasan serial TV selama 15 tahun terakhir di mana acara-acara seperti ‘The Sopranos’, ‘Six Feet Under’, ‘The Shield’, ‘Mad Men’, ‘The Wire’, ‘Battlestar Galactica’, ‘The Walking Dead’, ‘Game of Thrones’, ‘Breaking Bad’, ‘Girls’, ‘Homeland’ dan masih banyak lagi mendominasi serial TV dan pop culture dengan cerita-cerita yg baru, berani dan segar sehingga menjadi sukses dan mendapat pujian dari penonton dan kritikus. Di Amerika, diskusi serial TV lebih hangat dan personal karena serial TV punya banyak waktu untuk develop karakter dan cerita yg inovatif, unik dan beda sehingga penonton lebih mempunyai investment emosional yg lebih tinggi di bandingkan mayoritas film-film Hollywood mainstream yg tidak meninggalkan kesan berarti.

Hubungan antara Televisi dan film memang cukup unik dan kompleks. Ketika Televisi pertama muncul di tahun 50’an, industri perfilman merasa terancam karena mereka takut penonton tidak keluar rumah sehingga dunia perfilman melakukan gebrakan teknis seperti menciptakan 3D sinema, membuat film-film epik yg menggunakan  lensa kamera anarmorphic 70mm dan mempromosikan bintang-bintang Hollywood dengan heboh untuk menambah kesan glamor. Strategi itu berhasil dan semenjak itu Televisi di anggap seperti saudara tiri film di mana perjalanan seorang aktor/penulis/sutradara di mulai dari TV dan ‘naik kelas’ ke film di anggap normal tetapi jika seorang bintang film/penulis/sutradara balik ke TV dari film, karir mereka di anggap gagal.

Ketika era film-film CGI mulai beranjak di pertengahan 90’an dan mulai mendominasi market di tahun 2000’an sampai sekarang, banyak kualitas cerita-cerita yg lebih unik dan berani menjadi tersingkirkan di perfilman tetapi mendapatkan rumah di TV atau lebih spesifik lagi chanel cable seperti HBO di mana mereka lebih mementingkan kualitas cerita daripada hype, bintang-bintang Hollywood yg glamor dan sensasi spesial FX/CGI. Untungnya lagi, mayoritas pembuat acara serial TV biasanya mempunyai latar belakang penulis di mana mereka lebih peka dengan kualitas penulisan cerita sehingga serial TV mempunyai kultur di mana penulis-penulis sangat di hargai.

Kebanyakan pembuat acara/penulis sudah kenyang membuat acara-acara komersil dan tidak berbobot di chanel TV free to air (CBS, NBC) sehingga ketika mereka melontarkan ide-ide idealis mereka ke HBO dan di terima, era keemasan serial TV sudah di mulai. Mereka mempunyai ide dan visi yg berani dan pintar di mana mereka membuat acara yg di fokuskan untuk pasar/segmen yg terbatas dari pada membuat serial yg musti semua orang suka sementara pemikiran produser film-film blockbuster Hollywood justru kebalikan. Mereka membuat film untuk semua orang/pasar karena mentalitas blockbuster memang seperti itu.

Ketika serial seperti ‘The Sopranos’ menjadi hit dari mulut-ke mulut dan akhirnya menjadi fenomena, strategi ini menjadi sebuah contoh untuk serial-serial yg lain di mana penonton sebenarnya suka dengan cerita yg panjang dan tema berat. Penonton suka dengan karaker-karakter yg kompleks dan humanis karena terasa lebih nyata dan yg lebih penting penonton tidak merasa di rendahkan dengan cerita-cerita yg klise dan aman. Mereka suka di bawa ke dunia yg tidak familiar dan cerita yg tidak mudah ketebak.

Sekarang aktor-aktor Hollywood kelas atas atau yg dulu ngetop berbondong-bondong ingin bekerja di serial TV berkualitas, memang tidak semua berhasil tetapi ini menunjukan inidikasi bahwa kualitas cerita serial TV sudah menyaingi bahkan melebihi banyak film-film Hollywood sekarang ini.

Jadi jika anda sudah banyak kecewa dengan mayoritas kualitas cerita film-film Hollywood yg gitu-gitu aja atau sudah lelah dengan film-film CGI/super hero coba cek serial-serial TV yg unik dan berani. Definetly worth it.

tintascreenplay.com

5 film low budget horor yg mendapat keuntungan terbesar

9 Mar

Memohon. Meminjam. Kalo perlu mencuri atau merampok sudah menjadi pedoman bagi semua pembuat film indie untuk membuat karya mereka menjadi kenyataan. Selain hambatan dana, pembuat film juga musti membuat film yg unik dan spesial supaya membuat film mereka menonjol. Walaupun genre horor selalu di pandang sebelah mata dan kurang di anggap serius, genre ini justru menjadi pupuk di mana pembuat film bisa berkereasi dan berinovasi dengan limitasi dana dan membuat cerita yg baru dan mencekam penonton. Film-film berikut ini telah meraup keuntungan terbesar dan juga di anggap sebagai film-film penting karena mempunyai visi yg original.

 

5. The Evil Dead (1981)

Budget: $350,000-400,000

Box office: $29,4000,000

Di anggap banyak kritikus film sebagai salah satu film horor terbaik sepanjang masa dan memberikan Sam Raimi permulaan karir sebagai salah satu sutradara penting dengan latar belakang independen yg selalu mencoba untuk membuat film-film berkualitas di Hollywood. Kru ‘The Evil Dead’ kebanyakan adalah teman/saudara Raimi yg tidak mempunyai pengalaman formal sehingga banyak melakukan kesalahan-kesalahan amatir (tersesat di hutan, luka karena tidak tahu cara kerja aman) tetapi ini tidak mematahkan semangat mereka dan terus berjuang. Sangking low budgetnya, mereka musti menciptakan efek steady cam dengan mengikat kamera di atas stik kayu dan membuat platform dari kayu untuk mendapatkan efek pergerakan kamera yg halus.

 

4. Night of the Living Dead (1968)

Budget: $114,000

Box office: $42,000,000

Penulis/sutradara George A.Romero bertanggung jawab atas menciptakan film zombie pertama. Sebelum itu, penonton belum pernah melihat adegan kanibalisme atau ‘orang-orang mati’ yg berjalan atau kekerasan yg grafis/sadis. Efeknya sangat kontorversial tetapi membuat statemen sejarah. Kritikus film banyak yg membela film ini karena film ini menjadi alat komentar sosial di mana gaya hidup kapitalis Amerika justru membawa bencana. Zombie menjadi simbol kekuatan kapitalis yg tidak ada habisnya dan selalu mencari daging baru untuk memuaskan rasa lapar mereka. Film ini di buat di puncak era konflik antara pemerintah dan rakyat sipil Amerika di era 60’an menjadi momen yg bersejarah juga.

 

3. Halloween (1978)

Budget: $325,000

Box office: $70,000,000

Dinobatkan sebagai film pencetus genre slasher pertama dan membesarkan nama sutradara John Carpenter, di buat karena terinspirasi dari ‘The Exorcist’ dan ingin mempunyai efek yg sama tetapi mood yg beda. Carpenter mencari inspirasi lebih dalam lagi dan dia menemukan film ‘Psycho’ karya Alfred Hitchcock menjadi batu loncatan. Carpenter dengan brilliant berhasil membangun mood suspens dengan menggunakan perspektif pandangan pembunuh sehingga penonton ‘berpatisipasi’ dalam membunuh korban. Ironisnya, film-film slasher yg meniru ‘Halloween’ setelah itu selalu fokus ke banyak gore dan darah sementara ‘Halloween’ sendiri tidak banyak memperlihatkan adegan itu karena fokusnya selalu tentang persepsi masing-masing imajinasi penonton tentang kekerasan.

 

2. The Blair Witch Project (1999)

Budget: $500,000-750,000

Box office: $248,639,099

Menjadi film fenomena karena pendekatan dokumenter yg banyak membuat orang percaya bahwa kejadian itu benar dan di bantu oleh marketing internet yg cerdik sehingga menjadi viral. Film ini telah membuat standard baru bagaimana pembuat film independen bisa sukses dengan menggunakan internet dan memanipulasi realita sehingga membuat orang penasaran. Belum lagi cara shooting film di mana, aktor-aktornya di taruh sendirian di hutan, tidak pernah di kasih skenario karena mereka di anjurkan untuk improvisasi dan juga mereka benar-benar di takutkan sewaktu shooting membuat film ini unik dan mendefinisikian era low budget digital film making.

 

1. Paranormal Activity (2007)

Budget: $15,000

Box office: $193,355,800

Di shooting cuman tujuh hari dan menggunakan kamera digital biasa, film ini mengikuti jejak “The Blair Witch Project’. Fokus ke realita, hindari gore dan darah. Film ini sukses karena dapat memasuki ke psikis orang yg paling dasar; ketika kita tidur adalah saat yg paling lemah dan jika sesuatu jahat terjadi, kita tidak bisa berbuat banyak. Suspens menunggu sesuatu terjadi ketika kamera merekam saat korban tidur mungkin di atas kertas tidak seram, tetapi ketika kita melihat adegan berlangsung justru lebih seram daripada adegan horor yg sering kita lihat di film horror biasa karena lebih terasa familiar; anda terbangun tiba-tiba jam 2 pagi karena mendengar suara di depan pintu anda. Apa yg anda lakukan sekarang? Sangat simpel tetapi sangat efektif.

tintascreenplay.com

Reservoir Dogs is the most important film of the 90′s

2 Mar
Reservoir Dogs (1992)

Reservoir Dogs (1992)

 

Let me start by saying, this is not a review about ‘Reservoir Dogs’. It’s more about my personal account on how ‘Reservoir Dogs’ affected me and the decade which I grew up in, which is the 90’s.  I’m pretty lucky to have seen ‘Reservoir Dogs’ when it first came out on the big screen, by accident.

I went to study in Perth, Australia when I was in my teen. Prior to that, I was studying in Singapore for a few years. Although, I’ve enjoyed my stay in Singapore, the place was starting to feel a bit claustrophobic. There’s so much sterile cleanliness, consumerism and civil obedience for a kid like me could barely cope.

Growing up in Perth is probably one of the best thing that could’ve happened to me because it helped me –for better or worse- to be the person that I am today. Growing up in a society that respects arts, free speech/expression and individuality does that to you but ultimately it still comes down to your choice. I knew some friends from Indonesia/Malaysia/Korea/Singapore who studied in Australia but never really made the effort to get to know the country and it’s people. They’re content in hanging around with their countrymen, eating the same food just like back home and generally just being typical polite overseas students proned to home sickness and listening to horrible pop music from their respected country.

Not me though, I milked every experiences I had for whatever it’s worth. Especially films, TV, music and comic books and the many interesting individuals/places I’ve met from different countries/backgrounds.

At the end of school’s term break, I’d normally go to Sydney where my cousin used to live for a short holiday. He’d normally go to work for the whole day, so I’m happily cruising all over Sydney to kill time until we meet up for dinner. So there I was on George St, contemplating whether to see some crappy Hollywood movies or just aimlessly bumming around. Until I saw this photograph in front of an old movie theater:

 “What’s this? It  looks fucking cool!”

I did remember reading a short article on ‘Reservoir Dogs’ on some obscure indie film magazine and it had great review. So fuck it, let’s see it. It must’ve been 1993 so internet was still a piece of crap. There was no marketing hype, no twitter, no youtube, no facebook, no excited fanboys drooling over 30secs trailer and orgasming all over your face telling you it’s the greatest 30 secs of cinema they’ve ever seen and if you don’t see it, you will miss out on the greatest event in humanity’s history ( yeah you, fucking ‘The dark knight rises’ fanboys, that was a piece of shit btw).

So I went in, wanting to buy the ticket and I saw the R rated sign which means you have to be over 18 yrs old to see the film and I was 16 at the time. Oh crap. Should I continue onwards and be bold or admit defeat, act like a pussy and watch some horrible Mel Gibson movie across the street?

“Fuck no! live a little Joe.”

I walked to the counter and asked for a ticket. I Remember, the dude had a long blonde pony tail and looked like a cool artsy type who probably smoked great weed and probably also had a cool girlfriend. Since it was an old proper theatre that only played art films and probably subsidized by the government, so obviously, there wasn’t anybody around. The pony tail dude was cool enough to let me in and didn’t even ask for my ID.

I got that same rush the day I stole my dad’s Playboy from his closet.

Walked into the theatre, it was a beautiful huge old school theatre that’d shit all over today’s multiplex, and there were only four people inside. In front of me was a blonde dreadlock guy looking half asleep, probably friends with the pony tail dude or maybe he was his pot dealer and maybe the pony tail dude didn’t have enough money to pay for his weed so he let him in for free.

Thank you pony tail dude.

“Well if the film turns out bad, I could always leave.”

It turned out to be one of the greatest 99 minutes piece of cinema I’ve ever seen.

You see, up until that point, independet/art cinema didn’t mean much to me. The only art cinema that was cool to me up until that point was Jean Luc Godard’s ‘Breathless’ (which I later found out, is one of Tarantino’s fav film) which I saw on TV (thank you SBS, best channel ever). Granted I wasn’t able to watch much art films on SBS because I was staying in a boarding school at the time, so our TV viewing was very restricted. My knowledge of independent cinema was also very limited, I could only read about the ones on some rare indie film magazine  and most of the films I saw were really boring and just taking it self way too seriously and got lost in it’s own ass. It had no bite, was made for intellectuals/high art crowds so they could cleverly talk amongst themselves during dinner about some delightful French film they saw last weekend. In other words, it was boring as shit for a teenager like me.

But ‘Reservoir Dogs’ changed all that, it truly showed me that there were other cool type of films that had exciting story, gutsy, smart, fresh, different and funny as hell so ‘average’ people like me could like and root for and it didn’t need to have explosions every 5 minutes or big Hollywood stars or blockbusters hype or Mel Gibson’s mullet. It didn’t have to be a ‘high art’ about boring story of a couple who are arguing in the kitchen for forty minutes. Just great story and characters and some kick ass dialogues and some mean bursts of violence here and there to keep you engaged.

When in the opening scene the guys casually arguing over the meaning of Madonna’s song ‘Like a virgin’ whether it’s about love or because Madonna gets fucked by a dick so massive that it feels like being fucked for the first time and then they casually walk together in the parking lot in a jagged slow-mo effect, in cool black suits, white shirts and skinny ties. I knew I was watching greatness.

Watching ‘Reservoir Dogs’ is like watching cool bits of cinema and pop culture from every decade being mixed tape by Tarantino. Yeah of course everybody knows this now but back then? When there were only me and four other guys in the cinema? It’s like accidentally stumbling into a dingy bar and seeing Joy Division playing live to five people and you’re one of them.

Historical is the word I’m looking for.

And that ear cutting scene? I was literally cringing and turning my head in spasm mode like the time when my mom forced me to eat vegetables when I was a toddler and I fought valiantly to keep it off my mouth.

How about the final Mexican stand off? Where everybody shoots off at the same time?

“What was that? The fuck just happened??” yelled the the dreadlock guy, finally awake for the first time in six years.

My mouth was wide open.

Film’s finished, lights back on.

I was still stunned on my seat.

“The fuck just happened??” said the dreadlock guy in a confused state as we walked out.

Here’s my take on why ‘Reservoir Dogs’ is the most important film of the 90’s. It came at the same time when grunge exploded in the early 90’s  and single handedly destroyed poodle rock scene (Poison, Warrant, White Lion) to oblivion. It made music mattered again. Nirvana spearheaded a movement with ‘Nevermind’ and made music that was catchy, angry, complex and downright anthemic to capture the spirit of dissatisfied youth.  Overnight, the music landscape changed.

‘Reservoir Dogs’ has the same importance. It gave independent cinema a new blood. Tarantino helped to spearhead a new generation of indie filmmakers  bursting out into the scene and made films mattered again. Films that were exciting and personal and just didn’t give a fuck about establishment.

I was lucky to be caught in the middle of two great art movements.

Not long later, ‘Pulp Fiction’ was a big hit at Cannes film festival and won best film. The mainstream took notice. Anticipation was overwhelming. This time I watched it with my friends, we were still underage but didn’t give a toss, and somehow we got in.

This time the theatre was packed and the film killed the audience like I’ve never seen before.

People were laughing/screaming and going insane.

“What the fuck was that? What the fuck was that?” said a bewildered guy in his 40’s walking out of the cinema.

“I know exactly how you feel.”

Thank you pony tail dude.

 tintascreenplay.com

Mencari kemurnian di tengah tragedi

25 Feb

Poetry (2010)

 

Bagi saya Lee Chang-dong adalah salah satu penulis/sutradara Asia terbaik saat ini. Dia berasal dari Korea Selatan dan di anggap sebagai salah satu sutradara terbaik dari negara itu dan juga pernah menjadi menteri budaya yg memajukan perfilman Korea Selatan.  film-film dia cukup ambisius karena biasanya mengexplore tema-tema yg cukup kompleks. Dari soal agama, sejarah dan nilai-nilai budaya/ masyarakat Korea Selatan, Lee Chang-dong selalu ingin mengungkapkan keborokan dan kemunafikan rakyat Korea Selatan. Film-film Korea Selatan biasanya terkenal di festival film Internasional dengan cerita yg edgy dan penuh dengan kekerasan, walaupun film Lee Chang-dong yg lain mempunyai elemen kekerasan tetapi selalu dalam domain realistis dan tidak stylish/berlebihan seperti film-film Chan Wook Park (Old Boy). Lagi pula kekerasan bukan fokus utama cerita dia.

Efek cerita Lee Chang-dong lebih dalam, karena biasanya secara sistematis dan perlahan karakter-karakter utama di film dia akan selalu mengalamai perubahan total di mana mereka akan kehilangan segala-galanya sehingga membuat imbasan yg lama di perasaan penonton. Seperti puntungan cerutu yg terbakar diam-diam dan jatuh terselubung, anda tidak sadar itu terjadi sampai karpetnya terbakar.

‘Poetry’ memiliki semua elemen bahan cerita yg biasa Lee Chang-dong pakai; awal cerita yg pelan tentang kehidupan sehari-hari rakyat Korea Selatan yg sangat normal dan membosankan, karakter-karakter realistis yg berjuang sehari-hari demi memenuhi kebutuhan ekonomi dan sekilas bisa menjadi sebuah representasi yg membuat bangga pemerintah Korea Selatan. Rakyat yg patuh dan taat dengan norma-norma sosial yg ada, lingkungan yg bersih dan apik serta komunitas yg saling menghormati nilai-nilai tradisi dan budaya. Tetapi Lee Chang-dong tidak berminat untuk hanya memberikan cerita yg apik atau standard tentang Korea Selatan, dia ingin menggaruk lapisan atas yg bersih/tanpa cela dan memperlihatkan bagian yg rapuh, korup dan luka secara elegan dengan berbisik.

Opening scene film di mulai dengan suasana tenang di pinggiran sungai tempat anak-anak bermain, terusik oleh mayat gadis remaja yg mengapung dengan kalem dan menjadi fokus sentral cerita.

Seorang perempuan manula bernama Yang Mija (Yun Jung-hee) mengunjungi rumah sakit di diagnos terkena penyakit alzheimer karena dia sudah mulai lupa beberapa kata dan dokter memberikan peringatan bahwa kondisi Mija akan bertambah parah. Mija menerima kabar itu dengan sikap yg positif malah dia mendaftar ke kelas puisi karena dia ingin belajar berekspresi melalui puisi. Mija tinggal berdua dengan cucunya yg remaja, Wook, yg selalu cuek dengan Mija dan lebih peduli bermain dengan teman-temannya. Mija sendiri seorang pensiunan yg masih bekerja sambilan mengurusi seorang pria manula kaya yg terkena stroke.

Ternyata, mayat perempuan remaja yg di temukan adalah teman sekelasnya Wook dan di buku diary si perempuan, dia menulis bahwa Wook dan lima temannya memperkosa dia selama enam bulan, tidak tahan akhirnya dia bunuh diri. Bapak-bapak dari teman-teman Wook yg memperkosa berkumpul dan mengajak Mija berunding. Demi melindungi masa depan anak-anak mereka dan juga Wook, mereka bersepakat untuk patungan dan membayar si ibu anak perempuan dengan uang yg banyak supaya ‘damai’. Mereka juga berhasil membujuk pihak sekolah untuk tidak melaporkan ke polisi karena kontroversi ini akan membawa nama buruk sekolah, menyelesaikan masalah ini dengan cara ‘kekeluargaan’ sepertinya jalan yg terbaik.

Di sini kita mengikuti perjalanan Mija yg sudah mulai pikun berusaha untuk mendapatkan uang demi cucunya yg tidak tahu diri sementara Mija sendiri mengalami kesulitan berekspresi menulis puisi karena dia tidak mengerti bagaimana caranya.

Di tangan sutradara yg standard, fokus cerita biasanya akan fokus ke masalah gadis remaja yg bunuh diri dengan struktur cerita yg mudah ketebak. Lee Chang-dong malah lebih memfokuskan perjalanan Mija dalam kesulitan menulis puisi bukan karena kasus si gadis remaja tidak penting, tetapi ketika Mija menyaksikan betapa tidak peduli/kejamnya/munafiknya orang tua teman-teman Wook menyelesaikan persoalan dengan uang (yg Mija tidak punya) dan juga Wook sama sekali merasa tidak bersalah dan dengan santainya selalu main game di komputer, membuat Mija lebih putus asa untuk belajar puisi karena dia ingin berexpresi tentang keindahan dunia sebelum dia kehilangan ingatannya. Di kata lain, dia ingin mencari kemurnian di tengah-tengah dunia yg penuh dengan kelakuan orang-orang yg nilai moralitasnya sudah korup dan kotor.

Sangat sedih melihat pengorbanan Mija yg berjuang mati-matian untuk menyelamatkan cucunya dan juga perjuangan dia untuk tidak kehilangan pikirannya sementara dia mecoba untuk mengerti dunia di sekitarnya yg sudah tidak masuk akal. ‘Poetry’ memang menjadi sebuah karya yg puitis tetapi tidak mau terjerumus ke tonasi cerita yg terlalu sentimental atau melodramatis (penyakit kebanyakan film-film Asia), tetapi sebuah puisi yg kontemplatif dan juga tidak takut untuk menunjukan kekejaman.

Scene yg sangat menyentuh bagi saya ketika Mija berusaha meminjam uang tetapi tidak berhasil, dia menaiki bis ke pinggiran kota dan duduk di pinggir sungai dengan sebuah pen dan buku tulis. Mija melihat sekelilingnya dan ingin menulis puisinya tetapi dia tidak bisa menemukan kata-kata yg tepat, rintikan hujan tiba-tiba datang dan membasahi buku tulisnya. Mija hanya tertegun diam menatapi buku dengan pandangan kosong. Expresi Mija yg sepertinya tenang dari luar tetapi sebenarnya sedang mengalami kekacauan dan frustasi di dalam dirinya dengan sangat elegan dan simpel dapat di tangkap oleh Lee Chang-dong.

A picture does worth a thousand words.

tintascreenplay.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 264 other followers

%d bloggers like this: