Idealisme bukan kata kotor

23 Jun

Saya sebagai orang Indonesia yg di bilang tua engga, di bilang muda juga engga, besar mendengar kata idealis adalah kata kotor. Saya selalu mendengar dari paman, tante, orang tua dan teman-teman orang tua kalau tipe  orang idealis adalah orang-orang seniman gondrong yg tidak peduli dengan materi. Mereka hanya fokus ke karya mereka saja dan tidak peduli dengan apa yg orang bilang. Di lingkungan saya kata idealis sudah di anggap seperti kata lelucon atau kata di gunakan untuk mengejek orang lain.

Semenjak saat itu,  saya di brainwashed untuk berpikir idealisme adalah kata kotor. Saya besar di lingkungan keluarga yg cukup. Orang tua saya bisa memberikan segala kebutuhan yg saya perlu dan mereka cukup mengerti kalau saya suka nonton kartun, warkop dan film-film science fiction atau perang. Mereka pikir, yah daripada ini anak manjat pohon engga jelas mendingan nonton video saja. Saya dari kecil memang suka berimajinasi dan kalau main sama teman yg pasti main drama-drama yg penuh dengan action dan juga pura-pura akting seperti aktor yg saya sering lihat di film.

Saya menjadi addict dengan film, karena saya bisa melihat dunia baru yg keren atau karakter-karakter yg ‘cool’ seperti Luke Skywalker (bagi saya Luke lebih keren dari Han Solo, dude…he’s got a light saber), Indiana Jones, Kolone Kurtz (Apocalypse Now) atau film-film menakutkan seperti Jaws atau Alien. Lalu saya berpikir, bagaimana karakter-karakter ini bisa ada? Pasti  seseorang yg menciptakan mereka. Pasti orang ini yg berhari-hari memikirkan karakternya, berarti hanya mereka yg tahu bukan? Orang-orang semacam apa mereka? Kok bisa memikirkan karakter seperti ini? Saya baru sadar….mereka orang idealis?

Saya mulai berpikir kalau orang-orang ‘idealis’ bisa menciptakan sesuatu yg keren banget, yg membuat saya bahagia sampai saya tidak bisa tidur karena inget terus sama filmnya kenapa orang idealis selalu di hina?

Saya masih terlalu kecil untuk mengerti konsep yg tidak jelas itu. Saya hanya tahu bahwa saya jatuh cinta sama film dan itu saja yg penting. Singkat cerita, saya di kirim orang tua sekolah di luar negeri semenjak usia 11 tahun sampai saya tamat kuliah. Setahun sekali saya pulang ke Jakarta dan ketemu keluarga. Mungkin banyak orang berpikir kalau saya selalu sedih karena jauh dari orang tua, memang sedih tapi cuman seminggu aja. Sehabis itu FREEDOM!! Hehehe, engga lah saya bukan tipe berandal. Masih bisa di bilang wajarlah bandelnya. Maksud saya freedom adalah,  bebas memilih hal yg saya suka. Pastinya film, buku, musik, tv  menjadi santapan saya setiap saat. Dan untungnya di luar negeri saya terexpose dengan film/musik/buku yg bagus-bagus. Saya belajar banyak tentang bermacam jenis/sejarah film atau menonton konser band atau melihat art gallery. Intinya semua hal ini memberikan saya jati diri dan saya tahu apa yg saya mau buat di hidup saya. Saya mau jadi sutradara.

Benih idealisme sudah ada di benak saya dan begitu saya ingin melanjutkan kuliah, saya bilang ke papa bahwa saya mau ke sekolah film. Dia tidak setuju dan menyarankan saya ke sekolah bisnis. Kita sempat berdebat cukup sengit tentang pilihan saya, tetapi saya tidak peduli. Paman saya juga ada yg bilang “Ngapain jadi sutradara? shooting film hujan-hujan cuman di bayar 300 ribu?” Saya tidak peduli. Saya bersikeras dan untungnya mama saya mendukung saya. The rest as they say is history.

Bagi saya idealisme adalah state of mind yg tumbuh dari dalam. Call it intuition, gut feeling or instinct to do something great. Idealisme memang susah di raih, mungkin karena susahnya banyak orang yg menyerah. Mereka hidup dengan visi yg standard (Cari pasangan cakep, menikah punya dua anak, beli rumah, cari duit banyak, mau jadi kaya) tetapi mereka tidak mempunyai visi untuk melakukan perubahan berarti. Saya bukannya anti kaya atau sukses, pastinya semua orang mau sukses di kehidupan mereka. Yg saya sayangkan adalah pemikiran bahwa idealisme selalu di konotasikan dengan melarat. Tetapi orang-orang yg berpikir begitu tidak sadar bahwa hp yg mereka pegang, mobil yg mereka bawa, tv yg mereka tonton adalah hasil jerih payah idealisme seseorang. Dan idealisme itu membawa perubahan yg berarti.

Jadi lain kali anda melihat seorang seniman gondrong berpakaian compang-camping di jalan, sebelum anda pandang-pandangan dengan teman anda dan tersenyum ingin kasih komen lucu atau mau nge-tweet something clever. Steve Jobs juga dulu seorang seniman gondrong putus kuliah yg berpakaian compang-camping, he turned out ok.

tintascreenplay.com

 

Advertisements

2 Responses to “Idealisme bukan kata kotor”

  1. saksi August 1, 2012 at 7:48 am #

    Catatan yang keren, dan memang begitulah. Idealis yang mengusung idealismenya itu pejalan sunyi di jalan sunyi, ia berjarak dengan keramaian, tetapi hasil karyanya pasti tidak standart….harus berani lapar dan miskin, memang. Tetapi bukankah cerita cerita besar selalu berangkat dari cerita kecil? :))))

  2. joegievano August 1, 2012 at 8:23 am #

    Bener sekali, Melawan arus terus! Malah lebih mirip kaya melawan badai tsunami di atas sampan tetapi yg merubah sistem memang musti orang-orang idealis/gila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: