Less is more

20 Jul

Bagi saya genre film yg musti mempunyai pedoman ‘less is more’ adalah genre horror karena semakin sedikit kita mengerti tentang sebuah misteri, semakin menyeramkan cerita itu. Its human nature, kita memang di desain sebagai mahluk yg pingin tahu dan suka penasaran. Ketika keperluan itu tidak terpenuhi, imajinasi kita menjadi liar dan membuat kita semakin penasaran. Tetapi kenapa kebanyakan film horror tidak seram? Karena mereka mengabaikan peraturan less is more. Salah satu film horror modern yg saya suka adalah ‘The strangers’ yg di perankan Liv Tyler karena film ini mengikuti pedoman less is more dan terbukti dengan bujet kecil 9 juta dollar bisa mendapat keuntungan 82 juta dollar.

Premise ceritanya cukup simple, menceritakan dua pasangan yg di teror oleh tiga orang bertopeng di tengah malam. Lokasi shootingnya juga cuman di satu rumah saja. Sepertinya kalau kita membaca draft awal screenplay film ini akan menjadi cerita yg membosankan. Saya sudah kebayang kalau yg baca seorang sutradara/produser komersil pasti dia geleng-geleng kepala “Adegan buka-bukaan kok engga ada?” atau “Adegan pembunuhan kurang, perlu banyak karakter lagi untuk jadi korban.” atau “Darahnya manaaaaaa??”

Film horror yg benar-benar seram bukan mengandalkan gore atau banyak korban tetapi cara build up suspense dan exploring the unknown. Malah  film horor yg bagus musti  build up suspense seperti film misteri cuman klimax film horror memang lebih primal atau mendasar yaitu menakutkan penonton.

The strangers lebih memfokuskan ke suspense dan unknown. Walaupun sekilas seperti genre thriller, tetapi pendekatan cerita menggunakan style horror. Kita tidak pernah tahu siapa tiga orang bertopeng yg menteror hero, kita tidak pernah melihat wajah mereka, bahkan jarang sekali mereka berbicara.  Mereka sepertinya semacam kekuatan jahat yg ingin membunuh hero kita tanpa maksud tertentu. Kita hanya mengikuti perjalanan hero yg mencoba survive dari teror ketiga orang bertopeng itu. Cerita ini kaya dengan creating sinister mood, suspense dan exploring rasanya menjadi korban yg helpless.  Walaupun tidak ada unsur supernaturalnya but you know what? it’s still scary. Saya sudah lama sekali tidak merasakan ketakutan sewaktu menonton film horror. Terakhir saya merasa ketakutan waktu saya umur 11 tahun ketika nonton film The Amityville Horror [versi original].

Di ‘peraturan’ penulisan screenplay memang di anjurkan sewaktu kita mendesain karakter antagonis seperti sekompleks hero kita yg artinya kurang lebih penonton musti mengerti karakter antagonis seperti hero. Bagi saya untuk genre horror, semakin kita tahu sedikit tentang antagonis semakin menyeramkan karena basic human nature will always fear the unknown. Kalau ketiga orang bertopeng itu di jelaskan secara detail siapa mereka dan apa backgroundnya bagi saya akan membuat film itu menjadil lebih lemah dan lebih condong ke genre drama atau thriller.

Horror adalah genre film di mana semakin sedikit kita tahu tentang antagonis, semakin efektif cerita itu. Mungkin semacam peraturan spesial di mana horror films can get away with it. Kurang lebih sama juga dengan peraturan genre musical, di mana tiba-tiba orang menyanyi dan dansa dan break away dari realitas tetapi penonton masih bisa menerima itu karena mereka menikmati musiknya. Menurut saya hampir sama kenapa kita suka menonton horror karena kita suka perasaan di kagetkan/ketakutan, it makes us more alive.

tintascreenplay.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: