Frank Miller: The man without fear

27 Jul

Waktu saya kecil, buku komik adalah salah satu passion saya. Mungkin karena saya doyan baca, jadi segala buku (kecuali buku pelajaran hehe), koran saya lahap. Yg pasti buku komik menjadi salah satu menu saya yg konsisten. Komik book adalah medium yg sangat unik karena berhubungan erat dengan film. Membaca komik  seperti membaca story board film, ada visual dan tulisan; dua hal yg saya suka. Seperti kebanyakan anak kecil di generasi saya, saya membaca komik-komik Tintin, Lucky Luke, pos kota, Asterix bahkan bobo 🙂

Sampai akhirnya ketemu komik-komik super hero, di situ saya menemukan one of my real passion. Saya lebih suka Marvel di bandingkan DC (Walaupun saya suka DC Vertigo), mungkin karena karakter-karakter Marvel lebih humanis atau penulisannya lebih greget atau art-nya lebih kick ass atau semua kombinasi itu.

Dari semua superhero yg saya baca dan suka, favorit saya adalah Daredevil (lebih spesifik Daredevil di era Frank Miller dan setelah itu) karena dia yg paling realistis/manusiawi dan juga super hero cacat yg pertama; dia buta. Sebelum Daredevil, tidak pernah ada konsep superhero cacat jadi ini membuat dia sangat unik. Super power yg dia miliki juga bukan spektakuler seperti Spiderman, Superman atau Silver Surfer, Super power yg dia miliki adalah heightened super senses di mana semua indera dia menjadi sangat tajam sehingga dia mempunyai sebuah ‘radar’ yg bisa mendeteksi keadaan sekitarnya. Masih lebih realistis dari pada bisa terbang atau menembakan laser optic beam dari mata bukan?

Walaupun Daredevil memiliki dasar cerita/karakter/konsep yg realistis dan lebih humanis, sebelum era Frank Miller, penulis lain selalu melihat Daredevil sebagai seorang super hero yg lebih ke ‘swash buckling’ hero type atau hero yg suka ‘berpetualangan’. Intinya, Daredevil sebelum Frank Miller adalah super hero yg biasa-biasa saja. Tidak begitu populer tetapi bukan tidak di kenal. Cerita-cerita Daredevil tidak menonjol malah sangat standard bahkan sedikit ‘campy’. Penjualan Daredevil di akhir 70’an semakin sedikit, sehingga terancam cancellation. And then Frank Miller came and changed everything…

Frank Miller merubah konsep Daredevil menjadi ‘tragic-noir’ hero dengan merubah fokus cerita ke crime stories karena salah satu inspirasi favorit  Miller adalah ‘film noir’, di mana secara visual gambar Daredevil lebih banyak menggunakan black shadows/bayangan gelap dan secara tema, ceritanya menjadi lebih  ‘gritty’, realistis dan dark.

Karena Miller, popularitas Daredevil menanjak cepat. Daredevil seperti ‘lahir’ kembali dan menjadi superhero yg dapat memukau pembaca karena Miller membuat Daredevil lebih kompleks dan lebih grounded to reality. Miller melihat potensi Daredevil dengan dunia yg lebih realistis dan humanis. Dia bisa membuat Daredevil menjadi karakter yg tragis karena Daredevil jatuh cinta dengan Elektra.  Di sini, salah satu sisi tragis Daredevil pelan-pelan mulai di perkenalkan; wanita yg dia cintai akan selalu tewas dengan mengerikan. Miller juga membawa Daredevil ke tema kehancuran yg identik dengan Daredevil berkali-kali, di mana Daredevil/Matt Murdock akan kehilangan segala-galanya tetapi akan selalu bangkit dan menjadi lebih kuat.

Jatuh bangkit Daredevil berulang-ulang yg membuat kenapa karakternya selalu populer dan unik di dunia komik superhero.

Musuh-musuh Daredevil seperti Kingpin, Bullseye dan tentunya Elektra menjadi legendaris karena Miller merubah karakter mereka dari supporting B-list menjadi ikon yg lebih berbahaya, kompleks dan mencekam. Salah satu klimaks yg di ciptakan Miller menjadi sejarah di dunia komik adalah ketika Elektra di bunuh Bullseye. Di awal 80’an, membunuh karakter yg popular adalah sesuatu hal yg tidak pernah mungkin di buat. Miller berani membuat itu karena dunia gelap yg dia ciptakan pas dengan tema itu dan dia membuat scene itu se- elegant dan se-cinematic mungkin.

Sejak saat itu, era modern super hero telah lahir. Di mana cerita dan karakter lebih realistis, kompleks.  Sosok anti-hero menjadi standard baru dan kematian/tragedi di dunia komik menjadi bagian yg normal. Influence Miller juga ke modern  film seperti Batman, 300, Sin City.

 

 

Christoper Nolan mengambil inspirasi dari Frank Miller untuk film Batman. Nolan mengambil inspirasi dari ‘Batman year one’ untuk’ Batman begins’ dan ‘The dark knight returns’ untuk ‘The dark knight rises’. Miller juga bertanggung jawab dalam membuat Wolverine menjadi ‘bad ass’ dengan Chris Claremont sewaktu mereka membuat komik Wolverine. Bayangkan saja bagaimana Industri film sekarang di influence oleh seorang pemuda kurus di tahun 1979 yg penggemar film noir dan suka baca novel crime. Siapa yg sangka, cinta Miller terhadap film meng-influence dan merubah industri komik dan akhirnya industri komik merubah industri film?

Bahkan kejadian penembakan di Colorado yg di lakukan James holmes di bioskop yg sedang memutarkan Batman pernah di ceritakan oleh Frank Miller sewaktu dia menulis Batman di tahun 1986. Spooky huh?

Apapun visi Frank Miller, bagi saya dia selalu menjadi inspirasi karena dia tidak takut untuk mewujudkan visi yg dia punya.

tintascreenplay.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: