Sinema anarki

24 Dec

Weekend (1967)

 

Dari semua alumni sutradara French new wave, tidak ada yg lebih radikal, berpengaruh, terkenal dan paling sering bereksperiemen dari pada Jean-Luc Godard.  Dari tahun 1959-1967 film-film Godard merubah dunia perfilman dengan pemikiran/style yg baru, progresif dan sangat kritikal. Mungkin kalo untuk ukuran musik karya Godard seperti ketika free style jazz/punk/hip-hop/grunge pertama kali muncul; Alien, energetic, youthful, passionate, confrontational and direct.

Obsesi Godard untuk ‘merubah’ atau men-dekonstruksi bahasa film dengan segala cara melalui editing (Jump cuts!), kamera (Hand held!), lokasi (Real location!), screenplay (Heavy monologue!), tema (A film within a film!) dan masih banyak lagi membuat film-film dia terasa sangat personal tetapi juga asing di saat yg bersamaan. Film-film Godard tidak perlu budget yg  mahal, di era studio film di mana lokasi shooting musti memerlukan biaya yg besar karena lokasi musti di bangun dan film terasa seperti komoditas yg glamor/kaku/palsu dengan cerita-cerita yg komersil. Godard merubah konsep itu dengan membuat film dengan budget kecil, shooting di lokasi yg nyata, dengan alat yg minim (Siapa butuh lampu-lampu besar?) dan membuat konsep cerita/tema film yg sangat intelligent/sinikal/intim. Walaupun dari luar film-film Godard tidak sentimental/tipikal tetapi kecintaan Godard dengan sejarah sinema tidak di pungkiri. Influence- influence dari Italian neorealism, film-film Jean Pierre Melville  dan classic Hollywood cinema seperti hal-hal yg sangat bertolak belakang dan tidak mungkin ketemu. Godard bisa mempertemukan itu semua dan membuat film-film yg spektakuler.

‘Weekend’ adalah film Godard yg sangat monumental karena menjadi film narrative Godard masterpiece yg terakhir dan akhirnya sebuah era. Setelah ‘Weekend’ film-film Godard lebih melenceng ke ideologi politik kiri yg radikal dan lebih experimental. Setelah ‘Weekend’ kecintaan Godard ke sinema tidak kelihatan lagi di film-film berikutnya, sehingga membuat Godard terasingkan dari dunia pefilman.

Basis premise cerita ‘weekend’ adalah tentang sepasang pasangan borjuis, Roland dan Corinne yg melakukan sebuah road trip di akhir pekan untuk ketemu bapak Corinne yg sedang sekarat. Misi mereka, untuk merubah surat waris bapak Corinne supaya Corinne bisa mendapatkan porsi waris yg lebih banyak. Di balik itu semua ada sebuah rencana yg lebih licik, mereka berdua sudah berselingkuh bersama pasangan masing-masing dan berencana untuk membunuh satu sama lain.

Perjalanan mereka menjadi sebuah cerita yg surreal dan chaotic. Penuh dengan karakter-karakter aneh, random violence (To the point of comic horror absurdity) untuk melambangkan kehancuran kebudayaan barat yg sudah terlalu obsesi dengan konsumerism/materialsim.

Mobil-mobil terbakar di jalan, mayat-mayat tersebar di mana-mana, orang-orang tiba-tiba muncul entah dari mana dan berantem sementara Roland dan Corinne melihat itu semua dengan acuh tak acuh, Godard membuat nada film ini se-absurd/komikal/surreal mungkin untuk membuat visi apokaliptik yg jelas. Bahkan karakter Roland dan Corinne (Dan semua karakter) memang sengaja di desain untuk mempunyai nilai-nilai kemanusiaan yg hampa, mereka berdua hanya peduli dengan agenda masing-masing karena mereka adalah simbol produk sistem kapitalis yg tidak peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satu scene yg iconic dari weekend adalah single tracking shot yg berjalan terus selama 8 menit di mana kamera mengikuti adegan macet. Orang-orang di mobil pada marah-marah sambil membunyikan klakson bertubi-tubi. Setelah 8 menit, akhir dari scene di perlihatkan; sebuah keluarga mati tragis karena kecelakaan mobil sementara pengendara mobil di belakang marah-marah karena tidak bisa jalan.

Chaotic, senseless and frightening.

Ketika misi mereka untuk ketemu bapak Corinne gagal dan malah berakibat lebih buruk, hubungan dan dunia mereka terjerumus ke daerah lebih aneh ketika mereka di culik oleh segerombolan orang-orang hippie revolutioner dan di sini monolog cerita lebih fokus ke ideologi politik, perbedaan kelas dan…umm kanibalisme.

Bahkan Godard juga mulai ‘breaking the fourth wall’ atau karakter-karakter di film ‘Weekend’ sudah tahu bahwa mereka adalah karakter film dan realita mereka tidak nyata.

“Are you in a film or in a reality?”

“In a film.”

“In a film? you lie too much!”

‘Weekend’ seperti komedi kejam yg tidak reda-reda atau kartun slapstick yg lama-lama unsur humornya hilang yg tinggal hanya efek kekerasan yg di putar berulang-ulang sehingga penonton menjadi kebas rasa.

Intinya, ‘Weekend’ adalah sebuah statement atau amarah Godard terhadap dunia barat yg menurut dia akan menghancurkan diri sendiri dan di dalam konteks dekade ’60 an, di mana situasi dunia sangat kondusif antara kapitalis vs komunis, perang dingin, civil rights movement yg penuh kekerasan, student movement vs perang vietnam, Godard punya poin yg sah untuk mengungkapkan kekesalan itu.

Sayangnya kekesalan Godard membuat dia berbalik badan dan menilai film-film yg dia bikin sebelumnya adalah produk ‘gagal’ karena sistem perfilman adalah bagian dari sistem kapitalis yg tidak ada habisnya. Godard tidak pernah membuat film masterpiece narrative drama lagi setelah ‘Weekend’. Untungnya dari tahun 1959-67, Godard sudah memberikan sebagian jiwanya untuk membuat beberapa film narrative yg masterpiece dan sejarah film tidak akan pernah lupa bahwa once upon a time, Godard actually gave a shit.

Godard was “the most elegant stylist and the most vulgar polemicist, the most remorseful classicist and the most relentless modernist, the man of the moment and the artist for the ages.” – Andrew Sarris, Village voice.

tintascreenplay.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: