Beda tetapi sama

30 Dec
The Breakfast Club (1985)

The Breakfast Club (1985)

 

“When you grow up, your heart dies.” – Allison

 

Film yg di atas rata-rata atau yg exceptionally great mempunyai sebuah benang merah yg sama. Mereka meninggalkan kesan yg lebih dalam setelah film selesai. Contohnya film Sci-fi yg brilliant (2001: A Space Odyssey) bukan hanya sekedar mengandalkan special FX atau action atau big budget saja tetapi musti mempunyai tema/ide yg lebih berani/beda sehingga meninggalkan bekas yg unik di pikiran penonton. ‘The Breakfast Club’ adalah salah satu film yg di anggap exceptionally great dan di anggap sebagai ‘one of the greatest high school films of all time’.

Writer/director John Hughes memang di sebut sebagai pioneer dalam membuat film-film high school comedy karena selucu-lucunya film dia, dia juga selalu fokus untuk membuat karakter-karakternya terasa humanis dan nyata. Sebuah visi yg sangat beda dan jarang di era ’80 an di mana fim-film Hollywood teen comedies hanya fokus ke karakter-karakter klise/dua dimensi, aspek komedi yg terlalu di buat-buat.  Sex/ menjadi tenar/pesta pora di jadikan gol/impian standard karakter-karakter di film teen. Sementara  hal yg mereka lupakan justru hal yg paling penting untuk membuat film yg menyentuh: hati.

Ya, bahkan film komedi membutuhkan hati untuk membuat film itu bukan hanya sekedar good tetapi great.

‘The Breakfast Club’ mempunyai visi yg sangat unik dan beda karena berani untuk meng-ekplorasi karakter-karakter high school yg klise dan memutar balikan konvensi itu. Ceritanya sangat simple, tentang karakter-karakter klise yg musti meluangkan waktu di sabtu pagi di perpustakaan sekolah karena mereka di hukum. Ada Andrew (Sport star), John (Rebel), Brian (Nerd), Claire (Rich popular girl) dan Allison (Weirdo). Walaupun mereka kenal satu sama lain tetapi mereka tidak peduli antara sesama karena mereka punya  ‘geng’ masing-masing.

Tetapi semakin lama mereka mengenal satu sama lain (Melalui proses yg panjang/lucu/penuh konflik tentunya) semakin mereka melihat bahwa siapa mereka di luar belum tentu bahwa itu sebenarnya jati diri mereka di dalam dan mereka menemukan bahwa ternyata mereka mempunyai lebih banyak persamaan walaupun sekilas atau dari luar mereka sangat beda. Mereka sama-sama mengalamai tekanan dari keluarga/teman, tidak akur sama orang tua, merasa tidak percaya diri, bahkan ada yg sempat memikirkan bunuh diri.

Awalnya John memfokuskan untuk mengejek Claire dan Andrew karena mereka murid-murid populer. Claire merasa terasingkan dari orang tuanya, Andrew ingin sekali untuk bisa argumentasi dengan bapaknya yg terlalu banyak ngatur tetapi dia tidak pernah mempunyai keberanian, John berasal dari keluarga yg abusive di mana bapaknya sering memukuli dia. Mereka bertiga berpikir Brian mempunyai keluarga yg sempurna tetapi dia justru mempunyai keinginan yg sangat kelam sementara Allison mempunyai dunia sendiri seperti binatang liar yg menyendiri.

John Bender: [after Claire performs her lipstick trick]
[claps sarcastically]

John Bender: Wow, Claire. That was great. My image of you is totally blown.

Allison Reynolds: You’re a shit. Don’t do that to her, you swore to God you wouldn’t laugh.

John Bender: Am I laughing?

Andrew Clark: [shouts angrily] You fuckin’ prick!

John Bender: What do you care what I think anyway? I don’t even count… Right? I could disappear forever and it wouldn’t make any difference. I might as well not even exist at this school, remember?
[turns to Claire]

John Bender: And you… don’t like me anyway.

Claire Standish: You know, I have just as, many feelings as you do and, it hurts so much, when someone steps all over them.

John Bender: God! You’re so pathetic. Don’t you ever, *ever* compare yourself to me, okay. You got everything, and I got shit. Fuckin’ Repunzel, right? School would probably, fuckin’ shut down if you didn’t show up. Queenie, isn’t here. I like those earrings, Claire.

Claire Standish: Shut up.

John Bender: Are those, real diamonds Claire?

John Bender: Shut up.

John Bender: I bet, they are. Did you work, for the money, for those earrings?

Claire Standish: Shut, your mouth.

John Bender: Or , did your daddy, buy those for you?

Claire Standish: [shouts] SHUT UP!

John Bender: I’ll bet he bought those for you. I bet those were a Christmas gift. Right? You know what I got for Christmas? Oh, it was a banner fucking year at the old Bender family. I got a carton of cigarettes. The old man grabbed me and said, “Hey, smoke up Johnny.” Alright? So go home and cry to your Daddy. Don’t cry here, okay?

Andrew Clark: My God, are we gonna be like, our parents?

Claire Standish: Not me. Ever.

Lama kelamaan, mereka akhirnya bisa membuka diri dan menemukan bahwa untuk sesaat mereka tidak sendiri dan kesamaan sesaat ini bahkan membuat mereka untuk berbagi rahasia masing-masing yg mereka tidak pernah kasih tahu orang lain. Walaupun dari luar mereka sangat bertolak belakang antara satu sama lain tetapi di dalam, mereka sama-sama takut/kebingungan untuk mengerti dunia mereka.

John Hughes bisa menangkap fase remaja yg kompleks/membingungkan ini yg selalu di hadapi oleh setiap anak remaja dan membuat karakter-karakter mereka menjadi lebih komplit seperti manusia nyata. Hughes juga tidak mau memberikan solusi yg di buat-buat (Mereka akan menjadi teman abadi selamanya!)  karena dia tahu walaupun untuk hari ini sepertinya mereka lebih dekat dan bisa di bilang menjadi teman, tetapi apakah di hari senin nanti ketika mereka ketemu lagi, mereka saling berpapasan?

90% scene di ‘The Breakfast Club’ di shooting di perpustakaan untuk membuat interaksi karakter mereka semakin intens dan penonton bisa merasakan untuk sesaat dunia sempit yg mereka tempati atau juga semacam simbolisme bahwa hidup mereka seperti di penjara. Bisa di bilang film ini sangat heavy di dialog tetapi dengan script Hughes yg sangat hidup/tajam dan di dukung oleh akting  yg sangat mendalami, ‘The Breakfast Club’ tidak pernah terasa bosan atau asing malah dengan limitasi ruangan/waktu itu John Hughes bisa membuat film dunia remaja yg penuh dengan ‘kedangkalan’ menjadi sangat terbuka, kompleks, dekat dan lucu. Dan untuk sesaat, it’s the coolest place to be.

tintascreenplay.com

Advertisements

2 Responses to “Beda tetapi sama”

  1. Fariz January 24, 2013 at 9:16 am #

    Aaah one of my favorite films of all time 🙂 atmosfir remaja nya dapet bgt! dan saya suka sama adegan mereka duduk di lantai itu, pas ‘F*CK YOU’ nya Brian sedih bgt..

  2. joegievano January 25, 2013 at 10:19 am #

    Iya, saya juga…film-filmnya john hughes walaupun komedi sangat menyentuh karena esensi karakternya jujur dan engga takut untuk menunjukan kerapuhan mereka. he’s one of a kind. RIP john.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: