Penindasan expresi atau kurangnya kedewasaan?

16 Jan

censorship

 

Apa yg lebih parah ketika lembaga sensor tidak mengijinkan film tayang?

Pembuat film menyerah dan menarik film dari peredaran karena mendapatkan protes/tekanan padahal filmnya sudah lolos sensor.

Seperti yg terjadi dengan film ‘Cinta tapi beda’.

Terjadi adanya protes tentang ‘Cinta tapi beda’ memang menjadi berita karena ada orang Minang yg protes atas representasi karakter orang Minang yg bukan orang Muslim sehingga akhirnya filmnya di tarik dari pasaran.

Sesuatu hal yg sangat di sayangkan.

Oh ya, sebelumnya saya musti berterus-terang. Saya tidak pernah peduli dengan karya-karya Hanung atau film-film yg di asosiasi dengan namanya. Saya juga belum pernah menonton film dia secara full, paling sepintas-sepintas, itu pun kalo lagi ada di TV. Jadi pengetahuan saya tentang film Hanung di dapat dari apa yg saya baca atau komen dari teman-teman. Ini yg saya dengar kebanyakan; film-filmnya komersil dan sukses, mencoba untuk beda tetapi cerita jatuhnya klise atau aman dan sangat crowd pleasing bahkan agak menggurui.

Ok, saya sudah dapat gambarannya. Sutradara komersil sukses yg ingin punya visi beda tetapi jatuhnya tidak  beda-beda amat.

Saya bukan membela filmnya (karena saya belum nonton dan memang tidak interest) atau asosiasi Hanung (karena saya tidak peduli) tetapi yg saya sayangkan adalah kebebasan berekspersi melalui film yg di di tekan oleh orang-orang  yg menggangap nilai-nilai ‘tradisi’ atau’ budaya’ adalah hal yg mutlak dan akhirnya si pembuat film menyerah dan menarik filmnya walaupun sudah di anggap tidak masalah dari badan sensor.

Saya mengerti bahwa masyarakat kita sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya/tradisi/agama karena ini adalah identitas kita sebagai individu/kelompok/bangsa tetapi apakah hal ini mutlak dan tidak bisa di pertanyakan?

Jika ‘iya’ berarti kita sebagai bangsa belum dewasa untuk berpikir secara rasional/progresif dan lebih condong bertindak secara emosional karena mudah sekali tersinggung dan terbawa arus ‘mob mentality’. Saya tidak akan membawa kata ‘toleransi’ karena masalah ini bukan tentang toleransi tetapi kedewasaan dalam menghadapi isu yg bukan hitam/putih atau salah/benar.

Apakah nilai budaya/tradisi kita di era modern akan selalu sama dengan generasi nenek moyang kita? Tentu tidak. Perubahan adalah sesuatu yg pasti, cepat atau lambat. Seperti di kehidupan kita, perubahan akan selalu terjadi di setiap aspek hidup kita; baik atau buruk. Saya mendengar protes bahwa orang Minang tidak ada yg non-Muslim. Apakah ini 100% mutlak? Saya pesimis jika ada yg bilang ‘iya’. Yg saya tahu mutlak adalah kelahiran dan kematian, yg lain di antara itu akan bisa berubah.

Mungkin yg musti di pertanyakan juga adalah seberapa jauh kapabilitas pembuat film dalam mendesain cerita supaya terkesan jujur dan bermakna lebih dalam?

Saya tidak tahu kenapa si pembuat film menggunakan karakter non-Muslim dari Minang, walaupun Hanung bilang bahwa di film, si karakter tidak pernah di bilang bahwa dia orang Minang cuman dia besar di sana (mungkin mau ngeles?). Apakah untuk sensasi atau  kebutuhan cerita? Seharusnya jika karakter itu bertolak belakang dengan keadaan umumnya musti di ekplorasi secara dalam, contohnya di seri TV ‘Homeland’ Brody adalah seorang marinir AS yg pulang kembali setelah menjadi tawanan di Afghanistan, dia  diam-diam sudah berubah menjadi seorang Muslim dan mempunyai misi rahasia. Di sini, cerita di explorasi lebih dalam kenapa Brody berubah menjadi seorang Muslim dan perubahan ini menjadi sebuah momen yg signifikan di perjalanan cerita Brody. Apakah ‘Cinta tapi beda’ punya visi sedalam itu? Saya tidak tahu dan yg saya dengar tidak ada explorasi karakter background yg dalam sehingga kesannya menjadi suatu sensasi yg tidak berbobot.

Film mempunyai kekuatan untuk mengeksplorasi kehidupan masyarakat di mana film itu di buat. Seperti kaca yg mencerminkan apa yg sedang terjadi di suatu masyarakat/negara. Mesin penggerak cerita film adalah konflik, jika anda hanya mengharapkan film tanpa explorasi/konflik berarti sama saja seperti makanan tanpa garam, hambar. Maksud dari ‘Cinta tapi beda’ adalah menggunakan konflik beda agama antara sepasang pasangan untuk membuat cerita yg dramatis, tetapi saya banyak mendengar komen bahwa filmnya sangat klise dan aman jadi tidak sedramatis hype-nya. Sehingga banyak orang yg bingung kenapa masalahnya jadi di besar-besarin?

Apakah mayoritas orang-orang yg protes sudah menonton filmnya atau hanya terbawa arus panas saja? Mungkin yg di butuhkan adalah sebuah kedewasaan yg perlu di bangun dari pembuat film dan orang-orang yg protes. Kedewasaan untuk benar-benar membuat cerita yg tidak asal-asalan dan kedewasaan untuk tidak main hakim sendiri karena representasi yg ada di film tidak umum. Jika rakyat kita akan selalu mudah tersinggung karena imej mereka tidak sesuai dengan apa yg ada di film, ini akan menjadi malapetaka untuk perfilman kita karena film kita akan terbata-bata dalam mencari tema/cerita unik yg mau di angkat. Sementara film bisa banyak memberi sebuah pencerahan tentang isu atau hal-hal yg berarti untuk setiap masyarakat/bangsa bukan semata-mata sebagai hiburan saja, tetapi sebuah karya artistik tentang keadaan manusia yg menyentuh.

Kecaman untuk film karena di anggap terlalu kontroversial memang bukan sesuatu yg baru. Baru-baru ini film Quentin Tarantion ‘Django Unchained’ mendapat kritikan karena menggunakan banyak kata-kata ‘N-GGER’, tidak akurat dengan sejarah dan yg pasti penuh dengan kekerasan. Tarantino sudah terbiasa dengan kritikan ini karena selama 20 tahun terakhir dia sudah capek menghadapi pertanyaan yg sama, tetapi dia tidak pernah mau menyerah atau mau kompromi dengan visi dia karena ini adalah hak dia sebagai pembuat film untuk membuat cerita yg dia mau. Untungnya Tarantino sudah siap dengan kecaman yg akan datang dan persiapan cerita/karakter sudah di buat matang-matang dari awal sehingga hasilnya tidak asal-asalan dan pas dengan visi yg dia mau ungkapkan.

Aksi penarikan ‘Cinta tapi beda’ adalah sesuatu yg melemahkan kapasitas pembuat film kita untuk mencari tema unik untuk bercerita, karena pembuat film menyerah kepada permintaan protes atau tidak mau ambil pusing lagi sementara justru momen seperti ini sangat pas untuk berdialog tentang maksud dari film itu. Real filmmakers must have the balls to believe in themselves, otherwise nobody else will.

Related article: There is nothing ‘educational’ about educational films

tintascreenplay.com

Advertisements

4 Responses to “Penindasan expresi atau kurangnya kedewasaan?”

  1. Inspired Ground (@InspiredGround) January 25, 2013 at 2:27 am #

    Saya udah nonton Cinta Tapi Beda, tp saya gak punya perbandingan ttg film tentang cinta beda agama selain dr film Cin(t)a. Saya juga nggak tau atas dasar apa Hanung memilih background Minang yang menganut agama non-Muslim untuk karakter utama wanita, cuma memang saya juga sering menyayangkan gampangnya film dikecam karena dianggap menyinggung satu komunitas atau agama. Mungkin sih isinya nggak benar-benar menyudutkan pihak yang terkait, hanya ya bisa aja karena ‘panas’. padahal inti filmnya bukan itu. Nggak semua juga yang nonton bisa segampang itu percaya kebenaran satu film. Namanya juga film sih, bisa bener dan bisa nggak. Sekian 🙂

  2. Oni Suryaman January 25, 2013 at 2:36 am #

    Btw, gw gak ngikutin. Emang beneran ditarik yah, bukan sekedar dikasih tagline: tokoh yang ngaku dirinya Minang jangan ditiru ya, karena tidak sesuai dengan akidah… hehe… (Don’t try this at home, it’s very very dangerous)

    Soal Hanung, sutradara ini emang sok “intelektual”, “feminis” dan “pluralis”. Aku tidak mengerti pesan apa lagi yang mau ia sampaikan setelah film “?” dan “Perempuan Berkalung Sorban”. Kupikir “Cinta tapi Beda” gak ada bedanya dengan itu (Btw ini komentar dari orang yang belum nonton). Untuk film “?” sendiri, kupikir film ini dangkal sekali. Hanung terkenal malas riset untuk membuat filmnya. Ia sekadar mengambil pandangan umum dan memfilmkannya. Sampai Banser agak marah karena penggambaran Banser di film “?” yang tidak tepat.

    Kupikir Hanung agak besar kepala setelah filmnya “Brownies” yang dapat penghargaan film terbaik Piala Citra. Film ini menurutku biasa banget, tidak layak dapat Piala Citra 2005, baik buat sutradara maupun Marcella Zalianty-nya. Ia menganggap dirinya sebagai sutradara Indonesia garis depan setelah itu.

    Kalau mau dibandingkan, aku lebih suka film Cin(T)a garapan sutradara muda Sammaria Simanjutak. Lebih nendang, dan secara artistik lebih bagus (sayang sound-nya kurang OK). Hanung mestinya bisa belajar dari dia kalau mau ngambil tema2 “liberal” seperti ini.

    Btw, nonton Homeland juga ya. Ok tuh. Udah nonton Season 2 belum? Agak maksa sih, gak se-smooth Season 1. Tapi tetap OK, terutama aktingnya. Aku mau tulis reviewnya nanti.

    • joegievano January 31, 2013 at 12:59 pm #

      mungkin ini memang penyakit film komersil kita di mana sensasi di ke depankan tetapi ceritanya masih belum matang…Iya homeland season 2 cukup solid cuman kok akhirnya jadi kaya ’24’ versi pintar? mungkin produsernya dulu sama dan udah kehabisan ide kali ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: