Mencari kemurnian di tengah tragedi

25 Feb

Poetry (2010)

 

Bagi saya Lee Chang-dong adalah salah satu penulis/sutradara Asia terbaik saat ini. Dia berasal dari Korea Selatan dan di anggap sebagai salah satu sutradara terbaik dari negara itu dan juga pernah menjadi menteri budaya yg memajukan perfilman Korea Selatan.  film-film dia cukup ambisius karena biasanya mengexplore tema-tema yg cukup kompleks. Dari soal agama, sejarah dan nilai-nilai budaya/ masyarakat Korea Selatan, Lee Chang-dong selalu ingin mengungkapkan keborokan dan kemunafikan rakyat Korea Selatan. Film-film Korea Selatan biasanya terkenal di festival film Internasional dengan cerita yg edgy dan penuh dengan kekerasan, walaupun film Lee Chang-dong yg lain mempunyai elemen kekerasan tetapi selalu dalam domain realistis dan tidak stylish/berlebihan seperti film-film Chan Wook Park (Old Boy). Lagi pula kekerasan bukan fokus utama cerita dia.

Efek cerita Lee Chang-dong lebih dalam, karena biasanya secara sistematis dan perlahan karakter-karakter utama di film dia akan selalu mengalamai perubahan total di mana mereka akan kehilangan segala-galanya sehingga membuat imbasan yg lama di perasaan penonton. Seperti puntungan cerutu yg terbakar diam-diam dan jatuh terselubung, anda tidak sadar itu terjadi sampai karpetnya terbakar.

‘Poetry’ memiliki semua elemen bahan cerita yg biasa Lee Chang-dong pakai; awal cerita yg pelan tentang kehidupan sehari-hari rakyat Korea Selatan yg sangat normal dan membosankan, karakter-karakter realistis yg berjuang sehari-hari demi memenuhi kebutuhan ekonomi dan sekilas bisa menjadi sebuah representasi yg membuat bangga pemerintah Korea Selatan. Rakyat yg patuh dan taat dengan norma-norma sosial yg ada, lingkungan yg bersih dan apik serta komunitas yg saling menghormati nilai-nilai tradisi dan budaya. Tetapi Lee Chang-dong tidak berminat untuk hanya memberikan cerita yg apik atau standard tentang Korea Selatan, dia ingin menggaruk lapisan atas yg bersih/tanpa cela dan memperlihatkan bagian yg rapuh, korup dan luka secara elegan dengan berbisik.

Opening scene film di mulai dengan suasana tenang di pinggiran sungai tempat anak-anak bermain, terusik oleh mayat gadis remaja yg mengapung dengan kalem dan menjadi fokus sentral cerita.

Seorang perempuan manula bernama Yang Mija (Yun Jung-hee) mengunjungi rumah sakit di diagnos terkena penyakit alzheimer karena dia sudah mulai lupa beberapa kata dan dokter memberikan peringatan bahwa kondisi Mija akan bertambah parah. Mija menerima kabar itu dengan sikap yg positif malah dia mendaftar ke kelas puisi karena dia ingin belajar berekspresi melalui puisi. Mija tinggal berdua dengan cucunya yg remaja, Wook, yg selalu cuek dengan Mija dan lebih peduli bermain dengan teman-temannya. Mija sendiri seorang pensiunan yg masih bekerja sambilan mengurusi seorang pria manula kaya yg terkena stroke.

Ternyata, mayat perempuan remaja yg di temukan adalah teman sekelasnya Wook dan di buku diary si perempuan, dia menulis bahwa Wook dan lima temannya memperkosa dia selama enam bulan, tidak tahan akhirnya dia bunuh diri. Bapak-bapak dari teman-teman Wook yg memperkosa berkumpul dan mengajak Mija berunding. Demi melindungi masa depan anak-anak mereka dan juga Wook, mereka bersepakat untuk patungan dan membayar si ibu anak perempuan dengan uang yg banyak supaya ‘damai’. Mereka juga berhasil membujuk pihak sekolah untuk tidak melaporkan ke polisi karena kontroversi ini akan membawa nama buruk sekolah, menyelesaikan masalah ini dengan cara ‘kekeluargaan’ sepertinya jalan yg terbaik.

Di sini kita mengikuti perjalanan Mija yg sudah mulai pikun berusaha untuk mendapatkan uang demi cucunya yg tidak tahu diri sementara Mija sendiri mengalami kesulitan berekspresi menulis puisi karena dia tidak mengerti bagaimana caranya.

Di tangan sutradara yg standard, fokus cerita biasanya akan fokus ke masalah gadis remaja yg bunuh diri dengan struktur cerita yg mudah ketebak. Lee Chang-dong malah lebih memfokuskan perjalanan Mija dalam kesulitan menulis puisi bukan karena kasus si gadis remaja tidak penting, tetapi ketika Mija menyaksikan betapa tidak peduli/kejamnya/munafiknya orang tua teman-teman Wook menyelesaikan persoalan dengan uang (yg Mija tidak punya) dan juga Wook sama sekali merasa tidak bersalah dan dengan santainya selalu main game di komputer, membuat Mija lebih putus asa untuk belajar puisi karena dia ingin berexpresi tentang keindahan dunia sebelum dia kehilangan ingatannya. Di kata lain, dia ingin mencari kemurnian di tengah-tengah dunia yg penuh dengan kelakuan orang-orang yg nilai moralitasnya sudah korup dan kotor.

Sangat sedih melihat pengorbanan Mija yg berjuang mati-matian untuk menyelamatkan cucunya dan juga perjuangan dia untuk tidak kehilangan pikirannya sementara dia mecoba untuk mengerti dunia di sekitarnya yg sudah tidak masuk akal. ‘Poetry’ memang menjadi sebuah karya yg puitis tetapi tidak mau terjerumus ke tonasi cerita yg terlalu sentimental atau melodramatis (penyakit kebanyakan film-film Asia), tetapi sebuah puisi yg kontemplatif dan juga tidak takut untuk menunjukan kekejaman.

Scene yg sangat menyentuh bagi saya ketika Mija berusaha meminjam uang tetapi tidak berhasil, dia menaiki bis ke pinggiran kota dan duduk di pinggir sungai dengan sebuah pen dan buku tulis. Mija melihat sekelilingnya dan ingin menulis puisinya tetapi dia tidak bisa menemukan kata-kata yg tepat, rintikan hujan tiba-tiba datang dan membasahi buku tulisnya. Mija hanya tertegun diam menatapi buku dengan pandangan kosong. Expresi Mija yg sepertinya tenang dari luar tetapi sebenarnya sedang mengalami kekacauan dan frustasi di dalam dirinya dengan sangat elegan dan simpel dapat di tangkap oleh Lee Chang-dong.

A picture does worth a thousand words.

tintascreenplay.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: