Ketika film sudah tidak memuaskan lagi

15 Mar
Sopranos-Season5F

The Sopranos

 

Mungkin anda sudah merasakannya, mungkin belum. Telah terjadi perubahan pelan-pelan tapi signifikan di antara film-film mainstream Hollywood dan serial TV.

Mayoritas cerita yg berkualitas, pintar dan tidak mudah ketebak sudah migrasi ke TV.

Ya, saya juga engga percaya dan pertamanya tidak mau percaya. Tetapi itu sudah terjadi.

Yup, suka atau tidak ini sudah menjadi kenyataan.

“Tapi kemarin film-film yg menang di Oscar berkualitas semua!”

Ya, tetapi film-film itu memang di desain untuk award season. Hollywood mempunyai tradisi di mana setiap studio pasti akan membuat film-film berkualitas yg fokus ke cerita yg matang dan karakter yg kompleks untuk Oscar tetapi fokus utama bisnis mereka sekarang adalah membuat film-film blockbuster yg penuh dengan CGI dan action demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Tentunya tidak semua film-film budget besar berkualitas buruk, ada juga film-film yg di dominasi CGI mempunyai visi unik dan beda tetapi rasionya sangat rendah sekali. Untungnya, serial TV lebih bersedia untuk meng- explore cerita-cerita yg lebih berani dan berkualitas karena mereka tidak mempunyai budget 100 juta+ dollar sehingga mereka tidak mempunyai tekanan untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya seperti film-film big budget.

Kita sedang berada di era keemasan serial TV selama 15 tahun terakhir di mana acara-acara seperti ‘The Sopranos’, ‘Six Feet Under’, ‘The Shield’, ‘Mad Men’, ‘The Wire’, ‘Battlestar Galactica’, ‘The Walking Dead’, ‘Game of Thrones’, ‘Breaking Bad’, ‘Girls’, ‘Homeland’ dan masih banyak lagi mendominasi serial TV dan pop culture dengan cerita-cerita yg baru, berani dan segar sehingga menjadi sukses dan mendapat pujian dari penonton dan kritikus. Di Amerika, diskusi serial TV lebih hangat dan personal karena serial TV punya banyak waktu untuk develop karakter dan cerita yg inovatif, unik dan beda sehingga penonton lebih mempunyai investment emosional yg lebih tinggi di bandingkan mayoritas film-film Hollywood mainstream yg tidak meninggalkan kesan berarti.

Hubungan antara Televisi dan film memang cukup unik dan kompleks. Ketika Televisi pertama muncul di tahun 50’an, industri perfilman merasa terancam karena mereka takut penonton tidak keluar rumah sehingga dunia perfilman melakukan gebrakan teknis seperti menciptakan 3D sinema, membuat film-film epik yg menggunakan  lensa kamera anarmorphic 70mm dan mempromosikan bintang-bintang Hollywood dengan heboh untuk menambah kesan glamor. Strategi itu berhasil dan semenjak itu Televisi di anggap seperti saudara tiri film di mana perjalanan seorang aktor/penulis/sutradara di mulai dari TV dan ‘naik kelas’ ke film di anggap normal tetapi jika seorang bintang film/penulis/sutradara balik ke TV dari film, karir mereka di anggap gagal.

Ketika era film-film CGI mulai beranjak di pertengahan 90’an dan mulai mendominasi market di tahun 2000’an sampai sekarang, banyak kualitas cerita-cerita yg lebih unik dan berani menjadi tersingkirkan di perfilman tetapi mendapatkan rumah di TV atau lebih spesifik lagi chanel cable seperti HBO di mana mereka lebih mementingkan kualitas cerita daripada hype, bintang-bintang Hollywood yg glamor dan sensasi spesial FX/CGI. Untungnya lagi, mayoritas pembuat acara serial TV biasanya mempunyai latar belakang penulis di mana mereka lebih peka dengan kualitas penulisan cerita sehingga serial TV mempunyai kultur di mana penulis-penulis sangat di hargai.

Kebanyakan pembuat acara/penulis sudah kenyang membuat acara-acara komersil dan tidak berbobot di chanel TV free to air (CBS, NBC) sehingga ketika mereka melontarkan ide-ide idealis mereka ke HBO dan di terima, era keemasan serial TV sudah di mulai. Mereka mempunyai ide dan visi yg berani dan pintar di mana mereka membuat acara yg di fokuskan untuk pasar/segmen yg terbatas dari pada membuat serial yg musti semua orang suka sementara pemikiran produser film-film blockbuster Hollywood justru kebalikan. Mereka membuat film untuk semua orang/pasar karena mentalitas blockbuster memang seperti itu.

Ketika serial seperti ‘The Sopranos’ menjadi hit dari mulut-ke mulut dan akhirnya menjadi fenomena, strategi ini menjadi sebuah contoh untuk serial-serial yg lain di mana penonton sebenarnya suka dengan cerita yg panjang dan tema berat. Penonton suka dengan karaker-karakter yg kompleks dan humanis karena terasa lebih nyata dan yg lebih penting penonton tidak merasa di rendahkan dengan cerita-cerita yg klise dan aman. Mereka suka di bawa ke dunia yg tidak familiar dan cerita yg tidak mudah ketebak.

Sekarang aktor-aktor Hollywood kelas atas atau yg dulu ngetop berbondong-bondong ingin bekerja di serial TV berkualitas, memang tidak semua berhasil tetapi ini menunjukan inidikasi bahwa kualitas cerita serial TV sudah menyaingi bahkan melebihi banyak film-film Hollywood sekarang ini.

Jadi jika anda sudah banyak kecewa dengan mayoritas kualitas cerita film-film Hollywood yg gitu-gitu aja atau sudah lelah dengan film-film CGI/super hero coba cek serial-serial TV yg unik dan berani. Definetly worth it.

tintascreenplay.com

Advertisements

13 Responses to “Ketika film sudah tidak memuaskan lagi”

  1. A Irawan March 16, 2013 at 12:33 am #

    Jujur, ane jarang dan bahkan tak pernah menyimak serial TV haha…
    tapi kebosanan dengan CGI ala Holywood sudah dirasakan sejak 3-4 tahun lalu, sebagai gantinya, pilihan film jatuh pada film2 dari eropa, yang sejauh ini masih mengedepankan ide dan gagasan daripada grafis semata 🙂

    • joegievano March 16, 2013 at 12:10 pm #

      film-film eropa/art/festival/asia akan selalu menjadi opsi lain dari hollywood cuman saya suka dengan serial TV karena dulunya sering di lecehkan tetapi justru sekarang menyaingi kualitas cerita layar lebar di hollywood. sebuah hasil yg luar biasa dan tentunya opsi hiburan lain yg berkualitas juga.

  2. zerosumo March 17, 2013 at 2:10 pm #

    Bener banget nih, serial televisi skrg udah jadi main course kedua gw sekarang kalo lagi bosen nonton film panjang, hehe, sampe sekarang aja gw masih ketagihan Person of Interest 😀

    • joegievano March 17, 2013 at 7:37 pm #

      hehe Person of interest ok ya? entar gw cobain.

      • zerosumo March 17, 2013 at 10:32 pm #

        Oke bgt sih, itu serial kayak mimpi basah si Jon Nolan buat nyiptain Batman universe ala dia sendiri, hehe, cobain aja ntr 😉

  3. Inspired Ground (@InspiredGround) March 18, 2013 at 10:03 am #

    Dulu sempat ketagihan nonton film-film Oscar karena sangat moving rata2, tapi banyak juga lama kelamaan yang ternyata ‘Oscar bait’ dan bukan pure untuk menceritakan sebuah cerita. Jadi iya, tidak memuaskan. Apalagi yang cuma mengandalkan efek CGI, flat rasanya. Makanya kadang lebih interest nonton film indie, dan iya, berpaling ke serial TV. Nice topic!

    • Swastika Saja March 18, 2013 at 10:20 am #

      Dan gara-gara seorang pria bernama Joe Gievano gue terpesona nonton Breaking Bad eps 1 terus sampai abis! hahahaha… Menurut gue Six Feet Under yg ‘mendobrak’ dan memulai era baru serial TV. Masih inget kan di episode2 awal dulu bahkan ada TVC khusus yg dipasang di ‘jeda iklan’ Six Feet Under, dimana tema iklannya juga seputar kematian?

      • joegievano March 18, 2013 at 2:13 pm #

        ahh yg penting terpesona kan? hehehe. oh iya iklan di six feet under “We put the FUN back in funeral!” gw selalu ngakak abis kalo inget itu.

    • joegievano March 18, 2013 at 2:11 pm #

      thanks! ujung-ujungnya kita suka nonton karena cerita dan karakter yg solid. Serial TV masih belum lupa sama hal yg basic ini.

  4. Oni Suryaman April 5, 2013 at 10:31 am #

    Persis seperti suara hati saya. Di saat film2 bioskop jadi kurang greget, penuh sequel, CGI, dan sekarang pada 3D semua, ditambah 21 yang sekarang hampir gak ngasih tempat bagi film di luar box office, bersyukurlah masih ada serial TV yang bermutu, plus TV kabel, plus torrent bagi yang gak punya akses TV kabel, dan tentu saja DVD seri bajakan buat kaum duafa.

    Artis2 film kelas kakap juga pada pindah ke TV tuh. Liat Claire Danes yang kemaren dapet Emmy. Belum lagi fenomene Games of Thrones, yang terus terang gak kebayang kalau dibuat film bioskop. Bisa pada dibunuh fans tuh kalau jadinya sebuah film bioskop buruk yang hanya jualan efek.

    Sebenarnya masih ada kok film2 bagus, yaitu film2 di luar Hollywood: film Eropa, Iran, dan juga Jepang, Thailand, dll. Sayangnya kita di sini sukar mengaksesnya. Mungkin mesti join kineklub.

    • joegievano April 6, 2013 at 5:41 pm #

      totally agree! sekarang memang lebih banyak opsi untuk mencari cerita film/serial TV yg bagus tinggal sebarapa jauh kita mau carinya.

  5. Rozaliana May 3, 2016 at 1:54 am #

    Baru menemukan wordpress ini (karena saya bukan pengguna wordpress hehe). Really agree! Udah males sekarang-sekarang kalo nonton di bioskop, karena udah jarang film yg ceritanya bagus, cuman menayangkan visual effect yg keren tapi alur ceritanya bisa ditebak di 20 menit pertama. Film-film jadul biasanya jadi pilihan, dan untungnya jg serial TV banyak yg menyajikan cerita yg berkualitas. Really like your posts! Kalo mau sharing film/tv series yg bagus, it would be nice wkwkwwk

  6. Atika January 6, 2017 at 11:02 am #

    Saya setuju sekali dengan tulisan ini. Saya juga sudah migrasi dari film ke tv sekitar 3 tahun terakhir. Karena saya punya selera yang ‘nyeleneh’ dan cukup kritis dalam menyaksikan apa yg saya tonton, sehingga saya sangat kecewa ketika film2 sekarang sudah kehilangan esensi ‘nyeleneh’ itu.

    Terkadang film sekarang Hanya mementingkan keuntungan lewat resep blockbuster seperti formula plot yg sama, Aktor mentereng, plot hole di mana2 namun di tambali dengan CGI super megah yg kadang memusingkan mata. Hal ini juga membuat para sineas kreatif berpikir dua kali untuk merealisasikan karyanya mengingat banyaknya Production company yg menjebloskan mereka utk bermain aman dan hanya mengandalkan resep blockbuster tadi.

    Munculnya cable network yg rata2 independen memang sangat menguntung para jiwa2 ‘kehausan’ para kreator sinema ini. Belum lagi cable network tidak akan pernah merugi jikalau tv movie/tv seriesnya ratingnya rendah. Karena cable network akan selalu memiliki paying custumer yg valuable sehingga masih bisa tertutupi. Pop culture interest di luar Indonesia juga berbeda karena mereka rata2 punya high taste. Mereka sangat kritis terhadap apa yg mereka tonton sehingga itu juga membantu perbaikan kualitas tayangan TV mereka.

    Jelas hal itu sangat berbeda jika di samakan dengan kondisi para sineas kita di Indonesia. Walaupun saya senang TV series luar semakin maju dan berkualitas, tidak demikian dengan di Indonesia.

    Mungkin anda bisa menulis tentang isu ini. Karena menurut saya cukup menarik. Toh sineas Indonesia yg bermutu banyak, hanya tidak di dorong dengan media yg sama dgn di Amerika.

    Oiya, ini Tulisan yg sangat bagus! Semoga andaa bisa terus menulis tentang film dan tv series lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: