Pentingnya sex dan kekerasan

17 Apr

Faster, Pussycat! Kill! Kill! (1965)

 

Pengetahuan saya tentang gerakan feminis untuk membuat derajat perempuan sama seperti lelaki sangat minim dan bisa di bilang terbelakang. Mungkin karena subyeknya terlalu personal seperti agama sehingga saya lebih baik berdiam diri daripada sok tau. Walaupun saya kurang mengerti detail sejarahnya tetapi saya menghormati dan mendukung kesamaan derajat perempuan dengan lelaki karena semua orang seharusnya mempunyai hak/derajat yg sama.

Membahas bagaimana sejarah sinema memandang perempuan akan selalu menjadi topik yg menarik dan cukup kompleks. Apakah perempuan selalu menjadi obyek hawa nafsu, sebagai ‘hadiah’ untuk hero lelaki di akhir cerita, sebagai pemanis semata atau sebagai individu yg mempunyai kekuatan dan kepercayaan diri untuk menentukan sendiri nasib dan takdirnya? Belum lagi nilai-nilai budaya/agama/tradisi yg sepertinya mempunyai peraturan ‘khusus’ untuk perempuan. Seberapa jauh perempuan bisa menentukan nasibnya?

Salah satu keindahan sinema adalah bisa merubah atau mencoba untuk memberi sudut pandang yg beda ke penonton tentang situasi/subyek tertentu yg mungkin sudah menjadi norma standard di saat itu. Misalnya mayoritas karakter-karakter perempuan di film tahun 50’-60’an akan mengikuti nilai-nilai standard budaya di era itu; feminin, keibuan, elegan dan selalu menjadi bayangan kaum lelaki tetapi ada juga film-film exploitasi yg terang-terangan menggunakan sosok perempuan sebagai fantasi liar pria.

 ‘Faster, Pussycat! Kill! Kill!’ adalah salah satu film exploitasi terkenal yg juga di sebut sebagai masterpiece karena menggunakan perempuan sebagai obyek fantasi pria secara sexual dan terang-terangan tetapi juga mempunyai kejutan dengan membuat karakter-karakter perempuan lebih mematikan dari pada karakter laki-laki. Penulis/Sutradara Russ Meyer di kenal sebagai pembuat film exploitasi perempuan terkenal. Obsesi dia dengan karakter perempuan berpayu dara besar yg mempunyai nafsu sexualitas yg tinggi serta doyan kekerasan sepertinya merendahkan martabat perempuan menjadi sosok kartun yg mengada-ngada dan tidak realistis. Malah para perempuan-perempuan feminis awalnya menilai filmnya Russ Meyer adalah karya B-movie sampah yg sudah masuk batas soft porn.

Memang di dunia Russ Meyer, film-filmnya seperti di planet lain. Dialog yg super campy, cerita yg tidak masuk akal, karakter-karakter yg tidak terasa nyata dan di sertai dengan konflik-konflik yg penuh kekerasan tetapi di balik itu semua Russ Meyer memberikan sesuatu yg paling berharga untuk kaum perempuan yg tidak ada di mayoritas film-film lain di era 60’an.

Perempuan yg memegang kendali cerita.

Melalui sexualitas dan kekerasan perempuan bisa mengalahkan laki-laki d dunia laki-laki. ‘Faster Pussycat! Kill! Kill!’ seperti sebuah statemen subversive di mana sex dan kekerasan adalah mata uang kekuatan untuk perempuan. Fantasi berlebihan? Mungkin. Tetapi fantasi yg brilian dan militan ini menampilkan perempuan yg tidak mau kompromi dengan dunia laki-laki yg selalu menindas perempuan.

Faster Pussycat! Kill! Kill! menceritakan tiga perempuan go-go dancer yg suka balapan mobil dan petualangan mereka dalam mendapatkan apa yg mereka mau. Pemimpin mereka bernama Varla (Tura Satana), berpakaian hitam seperti anak geng motor dengan alis kabuki style, Billie (Lori Williams) si pirang yg kuat tetapi sensitive dan Rosie (Haji) si tomboy yg punyai sifat sadis.

Mereka ketemu seorang pria yg suka balapan dan mereka bertanding tetapi sesuatu terjadi yg mengakibatkan Varla membunuh dia dengan menggunakan jurusan judo mautnya (kan saya udah bilang filmnya campy). Mereka menculik pacar si pria, Bunny (Susan Bernard) dan berencana untuk merampok harta karun seorang laki-laki pincang dengan dua anak laki-lakinya di tengah-tengah gurun pasir.

 Sudah tidak asing kita melihat perempuan menggunakan sexualitas mereka untuk mendapatkan yg mereka mau di film tetapi yg membuat Faster, Pussycat! Kill! Kill! Beda adalah tonasi sexualitas mereka di naikan secara drastic untuk mendominasi pria dengan membuat pria-pria menjadi impoten karena mereka tidak bisa berfungsi secara ‘normal’ atau karena mereka selalu kalah dalam bertarung sehingga derajat maskulinitas mereka hampir selalu punah.

Untungnya Meyer tidak pernah membuat filmnya terlalu serius karena selalu di baluti oleh imej-imej pop art fantasi (editing cepat, framing dinamis, musik pop, stylish) sehingga filmnya terkesan ‘main-main’ atau genit sehingga mayoritas laki-laki yg menonton tidak pernah merasa di ‘kecilkan’ malah menyoraki aksi-aksi Varla sehingga membuat sebuah hasil ironis di mana Meyer secara diam-diam memberikan kekuatan dan wewenang penuh ke sosok perempuan tanpa membuat laki-laki merasa di jatuhkan.

Sebuah konsep jenius.

Legacy film ini juga  masih berkesan di era pop culture sekarang. Ketika Quentin Tarantino menggunakan film ini sebagai referensi utama dia untuk filmnya ‘Grindhouse’ dan bahkan dia hampir membuat remake ‘Faster, Pussycat! Kill! Kill!’. Bahkan ada band punk  yg memakai nama yg sama. Yg paling mengejutkan adalah seorang kritikus film feminis bernama B. Ruby Rich dua puluh tahun yg lalu menilai film ini tidak lebih dari sebuah film soft porn sampah tetapi ketika dia menonton lagi di New York Film Forum, dia mengakui bahwa ternyata film ini memberikan banyak kekuatan untuk kaum wanita. Sebuah testimoni film brilian yg awalnya di pandang sebelah mata.

 tintascreenplay.com

Advertisements

2 Responses to “Pentingnya sex dan kekerasan”

  1. zerosumo April 17, 2013 at 11:50 pm #

    Baru sadar gw kalo Death Proof-nya si QT salah satu referensinya film faster pussycat kill kill ini, hehe. pantesan kayak familiar pas liat gambar pertama yang ada tiga cewek berdiri depan mobil 😀

    • joegievano April 18, 2013 at 12:26 am #

      yup! itu dia, QT sempet obses mau bikin remake tetapi gagal akhirnya dia bikin versinya sendiri- Death Proof

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: