Last Year at Marienbad: Menyatukan realita dan fantasi

2 Jan

Last Year at Marienbad (1961)

Kebanyakan orang menganggap ‘art film’ sebagai film non-mainstream, anti Hollywood dan film-film di festival. Persepsi ini tidak salah, karena art film memang di desain untuk menantang penonton untuk berpikir di luar kotak nyaman film-film Hollywood. Memang imej klise art film adalah film-film intelektual atau pembuat film yg selalu memandang rendah film-film Hollywood karena di anggap terlalu mainstream dan tidak memberi nuansa baru, tetapi inovasi art film untuk mencari ide yg baru dan radikal di perlukan sebagai pengimbang mayoritas film-film Hollywood yg terlalu aman dan klise. Dunia art film sendiri juga mempunyai momen-momen kontroversial dimana sebuah karya film bisa mengundang banyak pujian dan makian. ‘Last Year at Marienbad’ menjadi film kontroversial ketika pertama kali keluar, bukan karena unsur tema standard seperti sex, kekerasan, politik atau agama. Tetapi karena berusaha untuk berexperimen dengan struktur film sendiri sehingga membuat film lebih dari sebuah cerita yg mengikuti format struktur yg sudah ada untuk menjadi sebuah karya seni yg benar-benar mendorong limitasi film dalam bercerita ke area yg tidak pernah di explore.

Sutradara Alain Resnais selalu di ikut sertakan sebagai bagian dari gerakan French new wave di akhir 1950-awal 1960’an yg mendobrak tradisi film karena di anggap terlalu kaku dan kuno. Sutradara seperti Jean-Luc Godard dan Francois Truffaut di pilih sebagai ikon/pemimpin dalam gerakan itu untuk merubah/berexperimen dengan struktur dan narasi film.  Resnais sendiri tidak pernah merasa nyaman di jadikan bagian dari French new wave karena di banding sutradara-sutradara lain, dia cukup senior dan dia selalu menganggap dirinya lebih ke gerakan ‘Left Bank’, perkumpulan penulis dan pembuat film yg lebih fokus ke modernisme.

‘Last Year at Mariendbad’ bercerita tentang sebuah tempat istana penginapan eksklusif untuk orang-orang kaya, di mana seorang laki-laki bernama “X” (Giorgio albertazzi) mendekati seorang perempuan bernama “A” (Delphine Seyrig) dan mencoba meyakinkan “A” bahwa tahun lalu mereka bertemu, berselingkuh dan mencoba untuk lari dari “M”(Sasha Pitoeff), lelaki yg menjaga “A”. “A” bersikeras bahwa mereka tidak pernah ketemu tetapi “X” yakin sekali bahwa mereka pernah dan terus bercerita tentang detail-detail pertemuan mereka.

Yg membuat film ini kontroversial adalah ketika “X” bercerita tentang pertemuan mereka tahun lalu, visual pertemuan mereka tahun lalu dan visual mereka sekarang sering  berbolak-balik dan bercampur baur sehingga penonton tidak mengerti mana realita dan mana fantasi. Bahkan ketika “X” bercerita, cerita dia semakin lama semakin tidak konsisten sehingga dia sendiri mulai meragukan kebenarannya. Visual cerita juga di dukung erat oleh narasi suara “X” yg sangat dominan dan di ulang-ulang sehingga kita seperti berada di dalam pikiran “X”  dan kadang-kadang melompat ke pikiran “A” sehingga kita juga mempunyai cerita dari pandangan yg berbeda-beda.

Sekilas memang gampang sekali menjadi frustasi menonton film ini karena penonton sudah terbiasa dengan struktur film yg mudah di cerna, tetapi ketika kita mencoba untuk menonton ‘lepas’ dan mengikuti alur cerita dengan’pasrah’, film ini merupakan salah satu film terbaik tentang tema waktu/ruang/ingatan manusia di ambang kesadaran dan obsesi. Mungkin kalo kasarnya seperti melihat sebuah karya seni (modernisme, kubisme) atau lukisan abstract; kita tidak mengerti secara mutlak tetapi kita masih bisa merasakannya dan perasaan itu beda di setiap penonton.

Mood film yg mencekam dan represif; pergerakan kamera lambat di lorong-lorong hotel yg megah tetapi sepi, dekorasi atap/dinding model istana Perancis dari abad 17-18, ornamen/patung/dekorasi/kaca yg spektakuler membuat efek labirin yg indah tetapi kaku dan berhantu, seperti simbol obsesi “X” dengan “A” yg di ulang-ulang sepanjang masa. Apakah mereka terperangkap di sebuah waktu dan di takdirkan untuk hidup seperti itu selamanya? Mencari dan mencoba untuk mengingat siapa mereka?

LastYearAtMarienbad1TN

Kenekatan Resnais untuk meruntuhkan struktur film normal dengan mencampur adukan/melanggar batas realita/fantasi dengan waktu (masa lalu/sekarang/depan) tetapi juga masih mempunya tema cerita yg kuat tentang obsesi sifat manusia untuk memiliki satu sama lain membuat film ini sangat terbuka dengan interpertasi setiap penonton, dan ini yg membuat film menjadi kontroversial, karena di jaman itu penonton belum pernah di paksakan untuk membuat interpertasi sendiri-sendiri. Bahkan Resnais dan penulis script Alain Robbe-Grillet juga memiliki interpertasi yg sangat bertolak belakang di antara mereka berdua, sehingga perdebatan apa maksud dari film ini menjadi bertambah sengit.

‘Last Year at Marienbad’ melahirkan konsep radikal bahwa film narasi bisa di experimen secara maksimal dan masih bisa menyentuh emosi/pikiran penonton sebagai partisipan aktif dalam menentukan maksud cerita. Film ini menjadi salah satu ikon penting dalam sejarah perfilman dan di masukan di daftar film penting seperti  ‘2001: a Space Odyssey’, ‘Citizen Kane’, ‘Metropolis’ dan ‘Seven Samurai’. Bahkan film-film modern seperti ‘Inception’, ‘The Shining’ dan film-film lain yg memiliki tema “apakah ini realita/mimpi/fantasi?” berhutang budi ke ‘Last Year at Marienbad’. Being mindfucked elegantly has never felt this good.

tintascreenplay.com

Advertisements

3 Responses to “Last Year at Marienbad: Menyatukan realita dan fantasi”

  1. Yuli Duryat January 2, 2014 at 9:25 pm #

    Terima kasih atas tulisan-tulisannya, saya sangat suka menonton dan sedang belajar menulis skenario film. Asik betul membaca di sini, banyak informasi yang saya dapat. Saya mencari film yang Anda ulas, dan membaca komentar di website biasa saya mencari film lawas hingga terbaru, membuat pengetahuan saya tentang film jadi bertambah.

    • joegievano January 2, 2014 at 11:50 pm #

      Terima kasih juga Yuli senang membaca tulisan saya, saya senang Yuli mendapat informasi baru 🙂

  2. A Irawan March 8, 2014 at 3:49 pm #

    Film “gila” ini, ditelaah berapa kali pun tafsiran-tafsirannya masih terbuka. Menurut pengakuannya, Resnais saja sampai tidak tahu film ini tentang apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: