Kenapa film-film video game selalu menyedihkan?

15 Jan

Suatu waktu di jaman dulu, Hollywood pernah mencoba untuk membuat film-film adaptasi dari buku komik dan hasilnya sangat memilukan. Walaupun Superman dan Batman di anggap cukup sukses di dekade 80’an, kesuksesan mereka sangat langka di banding karakter-karakter super hero yg lain. Hollywood masih belum mengerti cara membuat film-film superhero yg serius karena mayoritas di buat asal-asalan untuk pasar anak kecil sehingga kebanyakan film superhero selalu gagal. Perubahan signifikan terjadi di awal 2000’an, ketika  Bryan Singer membuat X-Men pertama, Sam Raimi menyutradarai Spider-Man dan Batman di make over oleh Christopher Nolan. Sutradara-sutradara ini tidak menganggap karakter-karakter buku komik ini hanya untuk anak-anak kecil. Mereka menghormati dan yg paling penting mengerti bahwa cerita superhero  punya potensi untuk menjadi film serius dan tidak sembarangan. Jaman keemasan film-film superhero sudah lahir semenjak itu, film-film superhero bisa membawa keuntungan yg besar dan juga mendapat pujian dari kritikus.

Adaptasi video game untuk di jadikan film sukses juga mengalami hambatan yg sama dengan buku komik. Sampai sekarang masih belum ada film video game yg mengalami sukses finansial dan mendapat pujian kritikus bersamaan seperti film-film buku komik. Walaupun begitu, banyak pihak berpendapat bahwa kesuksesan seperti film-film superhero sebentar lagi akan terjadi dengan video game. Hollywood mulai lebih serius untuk mengadaptasi video game, judul game seperti ‘Assassin’s creed’ dan ‘Splinter Cell’ sedang di garap dengan aktor serius seperti Michael Fassbender dan Tom Hardy. Tetapi mengapa selama ini adaptasi video game ke film masih kurang sukses bahkan di anggap menyedihkan walaupun industri video game sudah melampaui pendapatan industri film dan industri buku komik yg sangat jauh di bawah industri gaming?

Masalah yg paling sering di alami video game untuk di jadikan film adalah sutradara/penulis/produser film tidak begitu mengerti dengan materi di video game sendiri, sehingga ketika di jadikan film, ceritanya melenceng jauh dari cerita di video game. Di benak kebanyakan produser film, mereka hanya melihat sebuah market di mana sebuah video game yg sukses otomatis akan menjadi film yg sukses juga. Tetapi mereka tidak mengerti dunia video game sehingga esensi filmya sangat beda dengan gamenya.

Contohnya film ‘Super Mario Bros’ pertama kali di buat mempunya bujet yg sangat tinggi di jaman itu, tetapi filmnya jeblok di pasaran karena tidak mempunyai cerita yg masuk akal dan sutradara film berbuat seenak jidat dengan ceritanya karena tidak menghormati fondasi cerita di dunia video game itu (‘Resident Evil’ di jadikan film all action padahal di game lebih ke genre ‘survival horror’). Sehingga ada sebuah jurang yg cukup lebar antara visi video game dengan filmnya.

Memang juga musti di akui cerita di mayoritas video game sendiri juga kurang kuat/lemah/tidak masuk akal karena kebanyakan penulis-penulis video game belum secanggih penulis film, tetapi jika cerita video game yg lemah tetap di paksain menjadi film akan membawa petaka sendiri. Bagaimana membuat cerita bagus dari fighting game seperti ‘Street Fighter’, ‘Double Dragon’ atau ‘Mortal Kombat’? Di mana aspek cerita tidak penting/sangat simpel karena fokus lebih ke arah interaksi game yg instan? Paling tidak buku komik sudah memilki sejarah cerita yg jelas dengan karakter-karakter yg sudah mapan sehingga lebih mudah di adaptasi.

 Interaksi gamers dengan video game yg sangat personal karena selalu aktif dua arah bukan pasif satu arah seperti menonton film  atau membaca buku juga menimbulkan masalah yg mendasar karena ketika menonton filmnya, seorang gamer tidak merasa punya ikatan emosi yg lebih dalam karena interpertasi di layar sangat beda dengan pengalaman mereka ketika bermain sehingga dukungan hardcore fans film video game tidak se-militan seorang fans film buku komik. Pernah melihat fans ‘Silent Hill’ atau ‘Tomb Raider’ berapi-api membahas filmnya seperti fans Batman/X-Men/Spider-Man? Kayanya engga pernah malah mereka mengejek filmnya karena tidak pas dengan gamenya.

Belum lagi masalah bagaimana menjual konsep film video game ke penoton awam yg bukan fans video game? Di sini para penulis/sutradara film selalu mengalami dilemma, apakah mereka lebih memuaskan fans video game dulu atau penonton awam? Sam Raimi mengerti konsep ini, ketika dia membuat film Spider-Man, dia selalu merasa sebagai fans Spider-Man dulu. Dia musti setia dengan visi cerita dan karakter Spider-Man di buku komik dari pada memuaskan orang awam. Raimi sendiri mengerti karakter Peter Parker yg seorang kutu buku yg selalu grogi di depan perempuan karena Raimi juga seorang geek yg canggung dan merasa asing ketika masa remaja.

Bryan Singer sangat mengerti esensi  X-Men sebagai orang-orang ‘outsider’ yg di kucilkan karena Singer adalah seorang gay yg sudah tidak asing dengan perlakuan diskriminasi dan ketidak adilan. Christoper Nolan sangat mengerti dengan visi Batman sebagai dark hero yg lebih realistis di banding film-film Batman yg di buat oleh Joel Schumacer sebelumnya yg sangat campy dan kekanak-kanakan.

 Film-film video game masih belum mendapat sentuhan seperti ini karena pengertian sutradara tentang esensi gamenya masih belum bisa di terapkan untuk menjadi cerita yg benar-benar menyentuh psikis penonton secara lebih dalam. Mungkin sebentar lagi hal ini akan terjadi, karena generasi-generasi pembuat video game jaman sekarang sangat mengerti dengan pentingnya cerita karena mereka sendiri besar dengan budaya film sehingga game-game seperti ‘Heavy Rain’, ‘Metal Gear’, ‘Grand Theft Auto’, ‘Half-Life’ dan ‘Fall Out’ mempunyai cerita yg memukau dan original. Tinggal tunggu seorang sutradara yg mengerti dua dunia ini untuk bisa menggabungkannya dan membuat film yg spektakuler.

tintascreenplay.com

Advertisements

2 Responses to “Kenapa film-film video game selalu menyedihkan?”

  1. Swastika Nohara January 15, 2014 at 7:03 am #

    Christoper Nolan sangat mengerti dengan visi Batman sebagai dark hero yg lebih realistis karena Nolan sendiri sudah lama seperti terobsesi dengan gelapnya alam bawah sadar manusia, seperti terlihat di film-film awalnya (his earlier works), Doodlebug dan Following.

    • joegievano January 20, 2014 at 11:09 pm #

      nice one! thanks for the info.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: