5 alasan ‘This Is Spinal Tap’ salah satu film komedi terbaik di sepanjang masa

3 Apr

 

This Is Spinal Tap (1984)

This Is Spinal Tap (1984)

 

Film cult ini selalu di nobatkan oleh hampir semua kritikus film sebagai salah satu film komedi terbaik sepanjang masa. Basis cerita film fiksi ini tentang seorang sutradara dokumenter yg mengikuti come back tour band rock favoritnya dan secara tidak terduga membuka semua masalah-masalah lucu tentang band lama yg sudah mulai pudar popularitasnya melalui “behind the scene footages”, persaingan antara lead vocal David St. Hubbins (Michael McKean) dan gitaris Nigel Tufnel (Christopher Guest) juga segala keanehan yg di alami oleh rocker-rocker ketika sedang mengalami tur yg kacau.

One of the best comedy films of all time? Nah, it’s the only best film about rock ‘n’ roll of all time!

 

1. Memaksimalkan konsep “mockumentary”

‘This Is Spinal Tap’ adalah salah satu film pioneer yg menggunakan konsep “mockumentary” (dokumenter pura-pura) secara efektif dan kreatif. Konsep ini membuat cerita fiksi seperti kisah nyata sehingga membuat film semakin lebih lucu. Melihat sifat para rocker-rocker yg sudah tua dan tidak relevan lagi bertingkah seperti anak-anak muda yg lagi trendy membuat revelasi yg sangat lucu dan juga menyedihkan. Mereka seperti stuck di sebuah time capsule di mana di pikiran mereka, existensi mereka masih punya makna berarti tetapi ketika di lihat oleh orang awam/penonton dari luar, kehidupan mereka sangat absurd dan bahkan sangat menggelikan tetapi bagi mereka sangat normal.

Jika film ini di buat seperti film biasa mungkin hasilnya kurang greget tetapi karena menggunakan konsep mockumentary justru membuat film naik ke level kelucuan yg tidak biasa. Kamera meng-capture momen-momen kecil tetapi signifikan (pandangan, reaksi kesal) di mana persaingan antara Nigel dan David karena seorang wanita (figur seperti Yoko Ono) yg membuat renggang hubungan mereka. Konsep mockumentary ini menginspirasikan serial TV ‘The Office’ di mana kelucuan karakter-karakter di capture bukan karena tipe komedi slapstick atau yg terlalu berkelebihan tetapi karena momen-momen/insiden yg membuat situasi menjadi canggung dan reaksi karakter-karakter yg mencoba keras untuk menjaga imej mereka di depan kamera tetapi akhirnya sifat asli mereka kelihatan.

 

2. Menyindir industri musik/musisi


Industri hiburan akan selalu menjadi bahan olokan yg tidak ada habisnya karena di penuhi oleh orang-orang egois/minim talenta yg merasa lebih baik/spesial dari orang awam. ‘This Is Spinal Tap’ dengan berani membuat lucu/parodi konsep rocker-rocker tua yg selalu menganggap diri mereka ‘artis/selebriti penting’ tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yg kurang intelijen dan tidak mengerti konsep realita secara utuh karena mereka sudah terlalu lama hidup dengan fantasi lifestyle rocker yg semakin lama semakin pudar.

Band Spinal Tap sendiri juga bukan band yg begitu original karena setiap dekade gaya musik mereka berubah-ubah (dari footage ‘sejarah’ band mereka) dari band yg mengikut gaya The Beatles di dekade 60’an berubah ke band gaya flower power/hippie dan akhirnya menjadi band metal di tahun 80’an, sehingga film ini membuat konklusi/menyindir industri musik bahwa band/musisi tidak perlu terlalu talenta/pintar, asal mereka bisa mengikuti jaman dan menjiplak style musik yg lagi ngetop, mereka masih bisa eksis.

 

3. Humor di film ini selalu abadi


Banyak sekali film-film komedi yg sangat ngetop di jamannya tetapi ketika di tonton ulang beberapa dekade kemudian sudah tidak lucu/tidak relevan lagi (Airplane, Police Academy, film-film Warkop di dekade 90’an). ‘This is Spinal Tap’ tidak mempunyai masalah itu. Malah film ini semakin penting karena belakangan ini banyak sekali band-band tua yg melakukan tur reuni dari yg paling ngetop seperti The Rolling Stones atau indie seperti The Pixies atau yg amburadul engga jelas seperti Guns N’ Roses.

Sehingga film ini mempunyai nilai relevansi yg tinggi karena kita secara diam-diam pingin tahu apakah band-band ini punya momen seperti Spinal Tap? Seperti jalan tersesat di basemen sebelum manggung (pernah terjadi kepada Ozzy Osbourne, Jimmy Page dan Robert Plant!) drummer gonta-ganti terus karena selalu mati secara tragis/konyol (Pearl Jam gonta-ganti 5 drumer dan mereka merasa seperti Spinal Tap), anggota band memasukan ketimun ke celana dalam karena ingin terlihat lebih ‘sexy’ (hampir semua musisi sudah pernah mencoba ini bukan?).

Mengalami masalah di set prop ketika manggung (si basis terjebak di dalam sebuah set prop yg tidak mau terbuka ketika dia musti keluar untuk manggung, hal ini juga pernah di alami band U2), mengeluarkan album cover yg warnanya hitam semua dan membuat band member berantem dengan record label (tetapi menjadi inspirasi Metallica untuk membuat “black album”). Bahkan semua band rock dari Van Halen sampai Nirvana memuja film ini.

‘This Is Spinal Tap’ bukan saja mengukuhkan konsep art imitates life tetapi justru life imitates art.

 

4. Membuat film dengan 4 halaman


Sutradara Rob Reiner dan penulis Christopher Guest, Michael McKean, Harry Shearer tidak punya script lengkap ketika membuat ‘This Is Spinal Tap’, mereka cuman punya 4 halaman treatment dan ketika shooting mereka ber-improvisasi dengan aktor-aktornya. Hal ini memang tidak di rekomendasikan ketika shooting di kebanyakan film, karena terlalu beresiko tinggi tetapi ketika improvisasi sukses hasilnya memang sangat tidak terduga. Tetapi Reiner musti selalu memastikan dia mempunyai struktrur cerita yg ketat dari awal sampai akhir, dia musti tahu garis besar cerita yg dia inginkan, sisanya di isi oleh improvisasi dengan aktor-aktor.

Untungnya Reiner bekerja dengan aktor-aktor jenius yg sangat mengerti karakter-karakter mereka dan inti cerita dengan dalam sehingga ketika melakukan improvisasi scene, mereka kurang lebih berada di halaman yg sama. Dan mereka semua sudah punya background improv komedi sehingga pengalaman mereka dalam improvisasi sudah sangat matang, disiplin dan teruji.

Intinya improvisasi bukan sebuah konsep asal-asalan tetapi musti di rencanakan dengan matang-matang dan untuk menunjukan kemampuan improvisasi mereka secara maksimal.

 

5. “These go to eleven.”


Sebuah kalimat klasik abadi yg di ucapkan oleh Nigel ketika menunjukan ampifiernya mempunyai level ekstra sampai nomor “11” (amplifier standard cuman sampai nomor “10”). That’s one more, innit? Scene ini dengan sendirinya membuat film ini menjadi instan klasik.

tintascreenplay.com

Advertisements

3 Responses to “5 alasan ‘This Is Spinal Tap’ salah satu film komedi terbaik di sepanjang masa”

  1. TimothyS April 4, 2014 at 12:25 pm #

    “ELEVEN, ELEVEN, ELEVEN, ELEVEN~~~” anjir ngakak

  2. Adhi Pambudi December 20, 2015 at 4:48 pm #

    Dan di IMDB.com pada halaman film ini, ratingnya 8/11, umumnya film2 lain cuma per sepuluh 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: