Hana-bi: Puitis kebrutalan

15 Apr

 

Hana-bi (1997)

Hana-bi (1997)

 

Mungkin satu kata yg tepat untuk men-describe Hana-bi (yg artinya kembang api) adalah bipolar atau perubahan mood yg ekstrim dalam sekejap. Dari satu scene yg minimalis dan statis tiba-tiba berubah menjadi violent, shocking dan agresif. Hana-bi adalah kreasi Takeshi “Beat” Kitano, seorang penulis/sutradara yg sangat populer di Jepang. Kitano terkenal dengan memainkan peran-peran gangster Yakuza atau polisi-polisi yg agresif seperti Dirty Harry.

Yg membuat Kitano unik dari pembuat film lain (Jepang atau luar negeri) adalah dia mempunyai keahlian observasi yg detail dalam membuat cerita secara minimalis tetapi tiba-tiba meledak dengan kekerasan yg cepat dan realistis. Anda tidak akan menemukan action dengan koreografi yg ‘indah’ dan kompleks, action di film Kitano seperti pedang Kitana; cepat, akurat dan mematikan.

Gaya dan mood film Kitano yg minimalis dengan menggunakan set up kamera yg simpel dan kebanyakan statis seperti membuat framing lukisan; semua elemen di gambar di kontrol ketat, semua ada maksud tetapi setiap saat kontrol itu bisa hilang dalam sekejap dan menjadi beringas. Kitano ingin menyampaikan sebuah ekspresi bahwa gaya dia yg khas ini mempunya kritik yg dalam tentang masyarakat Jepang. Yg dari luar kelihatan teratur, tidak emosional, rapi dan penurut tetapi selalu memendam perasaan yg bergejolak dan bisa meledak ketika tekanan terlalu berkelebihan.

Kitano memerankan Nishi, seorang polisi detektif yg baru saja kehilangan putrinya dan istrinya (Kayoko Kishimoto) sedang sekarat karena terkena leukemia. Ketika Nishi sedang mengintai seorang tersangka dengan partner detektifnya Horibe (Ren Osugi), Tanaka (Makoto Ashikawa) dan Nakamura (Susumu Terajima), Horibe menyarankan Kitano supaya menjenguk istrinya di rumah sakit karena pengintaian sedang berjalan lambat. Kitano pergi menjenguk istrinya tetapi pengintain berubah menjadi tragis sehingga menyebabkan Tanaka mati, Nakamuru luka parah dan Horibe lumpuh.

Nishi merasa bersalah karena meninggalkan partner-partnernya dan tidak terima perlakuan institusi polisi yg tidak memberikan kompensasi yg layak. Kesal, Nishi keluar dari kepolisian, meminjam uang yg besar dari Yakuza untuk membantu partnernya yg lumpuh dan membawa istrinya berlibur ke tempat terpencil sementara bayang-bayang Yakuza selalu mengincar Nishi karena dia masih berhutang ke mereka.

Gaya film yg minimalis yg menjadi trade mark Hana-bi progres ke level yg tidak terduga ketika Nishi dengan istrinya berlibur ke tempat terpencil. Di sini kehangatan hubungan mereka berdua di explore dengan lebih dalam dan bahkan sangat innocent; bermain layangan dengan anak kecil yg mereka ketemu di pantai, bermain puzzle, menembak kembang api, istri Nishi ‘mencuri’ makanan favorit Nishi dan hanya meninggalkan strawberi saja, Nishi bermain tebak-tebakan kartu dengan istrinya dan dia bisa menebak dengan benar karena Nishi melihat dari kaca di belakang istrinya tanpa sepengetahuan dia.

Momen-momen hangat dengan tonasi melankolis ini di satukan dengan momen-momen brutal ketika Nishi memukuli seseorang yg memperolok istri Nishi karena dia suka menyirami kembang yg sudah mati atau ketika Nishi dengan tiba-tiba menusuk seorang mata Yakuza dengan chopstick karena dia menagih hutang atau Nishi menembaki kepala seseorang di jarak dekat sampai kehabisan peluru membuat sebuah komposisi cerita yg bertolak belakang tetapi sangat kena karena di dunia Nishi walaupun sebentar, masih ada hal-hal yg baik/murni/bisa di kenang oleh karakter-karakter yg kehilangan harapan/arah walaupun di selimuti oleh kegelapan. Atau kasarnya, di dunia Nishi yg bipolar, anda tidak mau di ganggu dan senang menyendiri, tetapi ketika terusik, anda menyerang balik.

Untuk mengimbangi dunia yg ekstrikm ini partner Nishi yg lumpuh, Horibe menjadi simbol karakter yg stabil. Horibe menerima nasib dia yg lumpuh dengan sikap yg merendah diri sementara sikap Nishi yg tidak mau kompromi akan menuju ke kehancuran.

Horibe mencoba untuk melukis untuk mengisi waktu dan karya lukisan dia yg sepertinya primitif dan sangat mendasar; kembang api, orang dengan muka yg berbunga dan yg paling impresif sebuah lukisan besar tentang padang salju ternyata terbuat dari komposisi karakter Sinji (tulisan Jepang) yg kecil-kecil bertuliskan “salju” dan di tengah-tengah gambar ada sebuah karakter besar dengan warna merah mengusik kedamaian. Seperti simbol kembang api di Hana-bi, kehidupan Nishi menyala dan meledak sesaat di tengah-tengah ketenangan tetapi akhirnya menghilang juga.

tintascreenplay.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: