Bandit Queen: Revolusi derajat

13 Jan
Bandit Queen (1994)

Bandit Queen (1994)

Dari semua genre film yg saya paling tidak suka kemungkinan besar adalah jenis musical dan ini mungkin yg membuat saya tidak suka film-film Bollywood karena basisnya dari musical. Walaupun saya bisa mengapresiasi film-film musical karena sudah menjadi bagian dari sejarah film, saya masih cringe ketika menonton mayoritas film tipe musical. Film adalah karya sebuah ‘suspension of disbelief’ di mana kita tahu apa yg kita tonton adalah karya fiksi dan tidak nyata. Ada sebuah bagian di otak kita yg menyetop kita untuk berteriak ,”This is all bullshit! It’s fake, all fake!”

Karena kita sudah menyetel di otak walaupun film yg kita tonton adalah fiksi tetapi karena kualitas akting yg baik dan cerita yg bisa membawa kita peduli dengan karakter, kita merelakan otak kita untuk menerima ilusi itu.

Masalah utama saya dengan genre musical adalah ketika di sebuah adegan serius tiba-tiba para aktor berubah 180 derajat dan bernyanyi/menari dengan ceria. Di momen itu batasan realita/fiksi di otak saya buyar dan mulai berteriak , “This is all bullshit! It’s fake, all fake!”

Kebanyakan orang mungkin bisa menerima realita itu tetapi bagi saya semua ilusi menjadi buyar dan akhirnya saya di paksa untuk menonton adegan nyanyi dan membuat saya menjadi bosan. Belum lagi mayoritas tema film-film musical terlalu family friendly dan crowd pleasing sehingga imej mereka sebagai film ‘penghibur’ tanpa substansi (walaupun ada yg beda seperti ‘Dancer in The Dark’ atau ‘Cabaret’) untuk membuat happy penonton dengan cerita yg gitu-gitu aja sepertinya sudah ketinggalan jaman.

Mungkin karena itu saya tidak pernah suka film-film Bollywood karena mayoritas cerita mereka terlalu di buat-buat untuk menjual kehidupan fantasi ke penonton dan juga adegan musical yg terlalu too much membuat saya hilang interest. Saya bisa enjoy film Bollywood untuk novelty value di mana saya cekikikan karena akting aktor-aktornya yg berkelebihan atau action scene yg so bad its bad it becomes super bad ass, tetapi saya tidak pernah apresiasi film Bollywood karena di otak saya selalu teriak, yup sekali lagi,”This is all bullshit!”

…sampai saya menonton ‘Bandit Queen’.

‘Bandit Queen’ tidak ada adegan musical, akting yg berkelebihan atau apa pun elemen-elemen yg membuat tipe film Bollywood. Malah bisa di bilang ‘Bandit Queen’ adalah anti Bollywood karena lebih mendekati art film yg menggigit dan meninggalkan kesan yg membuat penonton tercekam tetapi lebih menyentuh daripada mayoritas film Bollywood lain.

Based on a true story, ‘Bandit Queen’ mengisahkan cerita tentang Phoolan Devi (Seema Biswas), seorang ratu bandit yg menghebohkan India di awal dekade 1980’an. Devi membuat gempar India karena dia seorang perempuan yg berasal dari kasta rendah dan berhasil menjadi seorang pemimpin geng bandit karena menteror beberapa kota. India menjadi obesi dengan figur Devi, karena mereka belum pernah melihat seorang figur perempuan yg melawan otoriter hukum dan juga memutar balikan konsep seorang perempuan di budaya India yg di jaman itu musti menjadi figur feminin dan musti selalu tunduk oleh pria.

Perjalanan Devi menjadi seorang ratu bandit tidak mudah dan penuh derita. Dia adalah salah satu anak dari enam bersaudara, berasal dari keluarga miskin dan di paksa kawin oleh orang tuanya waktu dia berumur 11 tahun demi seekor sapi dan sebuah sepeda. Dia di paksa untuk melakukan hubungan intim dengan ‘suaminya’ yg jauh lebih tua sementara ibu sang suami mendengar di kamar sebelah. Devi selalu di ingatkan bahwa dia adalah seorang perempuan yg berasal dari kasta rendah dan dia musti bersyukur karena ada laki-laki yg mau untuk menikahnya.

Devi berontak dan kabur kembali ke orang tuanya tetapi mereka menolak untuk menerima Devi dan menyuruh dia balik. Devi akhirnya bercerai dan status dia menjadi lebih rendah dari sebelumnya. Di usir dari desanya karena dia tidak mau melayani pria dari kasta lebih tinggi, Devi protes kepada polisi tetapi malah di siksa dan di perkosa. Dia di bebaskan karena di tebus oleh seorang pemimpin bandit bernama Babu Gujjar yg merasa berhak atas diri Devi.

Devi menjadi bulan-bulanan Guijar, di sekap dan di perkosa berkali-kali sampai Vikram (tangan kanan Guijar) akhirnya bersimpati dan menolong Devi dengan membunuh Guijar dan mereka berdua menjadi pemimpin geng baru. Dimana Devi menjadi seorang bandit yg sangat mahir dan balas dendam ke suaminya yg pertama. Di sini cerita dan legenda Devi di mulai…

‘Bandit Queen’ bukan film yg menghibur atau akan membuat anda nyaman. Film ini dengan berani mengkritik budaya atau gaya hidup tradisi India dengan blak-blakan di mana perempuan berkasta rendah selalu di anggap sebagai second class citizen dan menjadi bulan-bulanan pria dan kasta yg lebih tinggi. Dimana harga diri seorang perempuan bisa di tukar dengan materi dan para penindas tidak pernah merasakan konsekuensi perbuatan mereka karena nilai-nilai budaya dan hukum tidak bernah berpihak kepada kaum yg lemah.

Transformasi Devi dari seorang gadis desa yg lugu menjadi pemimpin bandit yg garang karena diri dia di abused berkali-kali oleh kaum laki-laki bukan sekedar cerita tentang female empowerement saja tetapi bagaimana rentetan kejadian degradasi yg Devi alami yg merubah dia untuk menjadi seorang bandit queen bisa menjadikan dia sebagai sosok pahlawan untuk kaum yg tertindas. Popularitas Devi seperti seorang rock star yg mengguncang budaya india di saat itu dan mengundang banyak diskusi tentang peran seorang wanita dan sistem kasta di era modern.

Visi sutradara Shekhar Kapur (‘Elizabeth’, ‘New York, I love you’) yg cadas tetapi seperti di baluti oleh puisi sedih membuat ‘Bandit Queen’ menjadi sebuah karya yg sangat luar biasa. Ketika Devi dan Vikram mulai tertarik antara satu sama lain dan ingin berhubungan intim, Devi tidak bisa mengekpresikan dirinya dengan normal. Dia hanya bisa memukul dan bersikap kasar kepada Vikram, walaupun dia ingin sekali merasakan kelembutan. Sementara Vikram hanya bisa berdiam diri dan mencoba untuk memaklumi sikap Devi. You never see a love scene like this in Bollywood movies.

tintascreenplay.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: