Archive by Author

#ALLMYMOVIES: Lebih dari film

20 Nov

Screen Shot 2015-11-20 at 2.32.30 PM

 

72 jam.

27 film.

Sebuah projek performance art di mana Shia Labeouf menonton semua film yg pernah dia kerjakan dari film terakhir sampai film pertama dan kita bisa melihat ekspresi dia menonton film melalui live stream (tidak ada suara karena masalah hak cipta dari setiap film). Kamera di arahkan ke arah Labeouf dan sedikit ke penonton. Para penonton di bioskop juga bisa menonton dengan gratis dan kalau tahan juga boleh begadang 3 hari bersama Labeouf.

Sekilas seperti sebuah projek yg cukup gampang dan terkesan sangat egois. Apa sih susahnya cuman duduk dan nonton film selama 3 hari? Engga ada kerjaan banget ya bikin statemen kaya gini? Apa poin dari semua ini?

Awalnya saya juga hanya menganggap projek ini projek narsis. Bagi saya kebanyakan konsep dan eksekusi projek performance art sangat abstrak dan tidak mempunyai struktur/narasi yg ketat. Tetapi karena projek ini berhubungan dengan film saya iseng-iseng ikut nimbrung.

Dan ternyata pengalaman ini membuka mata saya dalam hal-hal baru yg tidak saya sangka.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.34.12 PM

Shia Labeouf memang seorang aktor yg mempunyai talenta yg tajam dan sangat dedikasi dengan perannya walaupun belakangan ini dia mempunyai banyak masalah pribadi dan masalah hukum. Perjalanan mencari jati diri dia yg naik turun semakin ter-refleksi di pilihan film dia pasca ‘Transformers’. Dia selalu mencari peran yg lebih kompleks dan tidak selalu komersil, ekstensi ini di teruskan ketika dia mulai terlibat dengan kontemporer art dan projek-projek yg ‘aneh-aneh’.

#ALLMYMOVIES adalah projek yg sepertinya simple dan tidak kompleks tetapi semakin lama saya menonton Labeouf dan membaca reaksi penonton yg berkomen di twitter membuat pengalaman ini menjadi lebih kena karena kita melihat pelan-pelan Labeouf menderita karena kurang tidur dan kita para ‘pengintip’ lama-lama mempunyai investasi emosi yg cukup tinggi dengan Labeouf.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.30.40 PM

Kita melihat reaksi Labeouf tertawa ketika dia menonton ‘Surf’s up’, reaksi intens ketika menonton ‘Nymphomaniac’, malu/sebal ketika menonton ‘Transformers’ dan seperti anak kecil ketika menonton ‘The Even Stevens Movie’.

Dan apa hubungan ini semua dengan film?

Semuanya.

Menonton selalu menjadi pengalaman satu arah. Kita menonton layar. Selesai.

Tetapi ketika kita menonton seseorang yg sedang menonton film pengalaman itu berubah, tidak lagi menjadi satu dimensi. Memang kelihatannya membosankan dan tidak ada cerita tetapi justru esensi menonton film yg paling dasar menjadi lebih jelas, emosi.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.32.03 PM

Film di desain untuk ‘bermain’ dengan segala macam emosi kita; sedih, tertawa, marah, serius, ketakutan, dsb. Tetapi jarang sekali kita melihat emosi itu di penonton ketika mereka sedang menonton. Ketika kita melihat seseorang menonton film ber-emosi, kita juga merasakan sesuatu. Ini mutlak, karena kita adalah mahluk yg hidup dengan emosi.

Menonton Shia Labeouf menonton film dia seperti berjalan bareng dengan memori dia. Kita melihat emosi dia yg murni, bagaimana dia menangis ketika menonton ‘A Guide to Recognizing Your Saints’, ketiduran karena frustrasi waktu menoton ‘Transformers’ dan tersenyum ketika menonton film dia sewaktu remaja ‘Hole’.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.33.46 PM

Dan juga karena urutan film di balik dari film terakhir sampai film dia yg pertama. Kita merasakan emosi Labeouf menonton film dari yg berat sampai ringan dan film yg mempunyai nilai artistik tinggi sampai film yg komersil/kurang bagus sepertinya mengingatkan kecintaan dia terhadap film. Ini membuka dimensi yg baru karena kita melihat reaksi seseorang yg besar dan kerja di film dan juga aktor yg cukup ber-talenta melihat sejarah hidup dia melalui film. This is some heavy shit, no?

Belum lagi orang-orang di sekitar dia secara sengaja/tidak sengaja menjadi bagian dari cerita Labeouf menonton dalam 72 jam. Ada orang yg dandan mirip Kurt Cobain dan duduk di belakang Labeouf, ada orang yg dandan kaya hipster bajak laut dan duduk di sebelah, ada seorang perempuan memakai topi besar dan main hp selama menonton dan mencoba menarik perhatian (tidak di gubris, untungnya).

shia2

Lucunya, semua orang menjadi sebal sama si perempuan topi besar yg suka main hp dan selalu curi-curi pandang. Dia menjadi bahan lelucon yg kocak di twitter karena secara perlahan kita menjadi sedikit protective dengan kondisi Labeouf. Bahkan penonton yg di bioskop juga bisa melihat komen-komen di twitter karena mereka sering cek hp sehingga bisa terjadi sebuah interaksi di mana kita di twitter menyuruh mereka untuk melambai dan mereka melakukan itu

Screen Shot 2015-11-20 at 7.27.06 PM

Ketika kita yg menonton di live stream bisa komen ini di twitter dan mealui #AllMyMovies kita bisa baca komen-komen orang lain yg juga menonton live stream sehingga membuat suasana menjadi spektator global dan secara pelan-pelan terbangun sebuah komunitas yg juga ikut nonton/begadang bersama Labeouf sehingga menimbulkan sebuah hubungan yg sangat menarik antara para penonton di internet, penonton di bioskop dan tentunya Shia Labeouf juga.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.33.23 PM

Intinya konsep ini secara tidak sengaja telah menjadi sebuah gabungan hybrid antara performance art dengan experimen sosial sehingga mempunyai dampak yg unik dan tidak terduga dan benang merah dari semua ini terjadi karena kecintaan kita kepada film.

Tetapi untungnya fokus masih ke Labeouf, walaupun penonton di bioskop datang pergi dan membawa momen-momen unik, mereka adalah ‘supporting cast’ dan tidak terlalu di pikirin oleh Labeouf. Labeouf juga bersikap tenang dan fokus dengan menonton film walaupun kelihatan dia semakin letih. Dia jarang sekali berinteraksi dengan penonton di sekitarnya (tapi dia sempat bagi-bagi pizza) dan ini sangat penting karena sangat gampang sekali ketika seorang ‘selebriti’ mulai tergoda untuk berbicara banyak dengan orang sekitarnya dan pastinya akan menjadi lebih rame.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.34.59 PM

Belum lagi kalo teman-teman selebriti Labeouf ingin datang tanpa ngantri dan nongkrong bareng pasti akan membuat acara ini lebih rame tapi untungnya Labeouf menolak karena projek ini bukan acara ‘nongkrong bareng dan gaul’ tapi menjadi sebuah introspeksi diri di mana emosi Labeouf tentang karyanya menjadi terbuka secara jujur dan di dalam kejujuran itu kita melihat kerapuhan dia. Ini yg membuat projek spesial karena dia berani untuk share momen kerapuhan dia ke dunia dan kita merasakan emosi dia.

In it’s simplicity, it’s about sharing your naked emotions. It’s why we love films right?

tintascreenplay.com

 

Streaming bisa di tonton lagi di sini:

http://newhive.com/allmymovies

 

3 main criteria that makes a bad movie

25 Sep

horrified-man

When someone asks me ,”What is the worst movie you’ve ever seen?” it may seem like an easy answer at first. I could just churn out some random Michael Bay’s crap or happily points out some local Indonesian movies, add some clever comments to boot and pat my self on the back for being a film warrior.

Too easy.

First of all how do you define a bad movie?

Lets start with the obvious:

1. Bad story- Yes, the mother of all load

There is nothing more frustrating than watching a movie with bad story. A movie story that doesn’t make sense is like one of the most frustrating things in life and I take no pleasure in criticizing a bad movie (well, maybe a bit) but the point we can all agree upon is this; Story matters.

This is a something that is embedded in our DNA, we respond to good story telling, no matter what the format is.

Bad movies have bad stories, because it fails at the basic level to capture our attention and break our suspension of disbelief. Bad movies tend to have this habit of talking down at the audience instead communicating on even ground.

Maybe your version of a bad movie is different than mine. Maybe you don’t mind watching action movies with dudes breaking each other’s balls for 95 minutes, hey I enjoyed it too sometimes. It’s liberating when our primordial senses are being spoilt but eventually we want something with substance to nourish our soul or at the very least says something about the human experience.

Yes that sounds pretentious and wanky, I admit. But my point is you can’t keep watching action/gore movies all the time, can you? I can’t. For every 5 novelty “So bad, its good” movies. Eventually I crave for something with more substance to bring back the balance.

Can’t help it, this is how I roll.

2. Not caring for the characters

What is the point of watching a movie? To me, watching movie is about being taken to a different world and experiencing it from someone else’s point of view. I want to be taken to a world different than my own experience and yet I can still relate to the humanistic experiences that the characters bring.

The characters don’t have to be likeable or even good but I want to be emotionally invested in them and their journey because I want to know what happens in the end. It’s that simple. But too many filmmakers have ignored this basic rule and ended up creating half baked characters with no clear purpose or too simplistic/predictable approach and by the end you don’t give a shit if they die or survive.

And I’m not just only taking pot shots at Hollywood movies. Festival/indie/art films also have accumulated this bad habit of making shitty characters that are too self absorbed without any additional layers to make them whole. So you want to make selfish/miserable characters as your lead? Cool but show us why we want to follow these characters journey. What makes them so compelling that we can’t look away, what makes them unique? What can we learn from them that we don’t already learned from other miserable selfish characters from other movies?

I don’t care about film budgets. I can appreciate watching movies being shot on shoe string budgets with unknown actors/directors from different corners of the world but the movie has to grab me by the balls because it made me care enough about the characters.

3. Unclear theme

This may sound fairly vague but theme is also paramount to make a strong movie. The trick is you want to tell the audience what you’re trying to say without telling the audience upright. Yes, this may sound confusing but necessary. You want the audience to work out the theme themselves but in order to do that you have to give strong and clear clues on what you are trying to convey with your movie. Is it about friendship? Redemption? Unrequited love? Obsession? Greed? Whatever it is, it has to be clear. Once the clues are set, you point them to the right direction. Let the audience work it out instead of you holding their hands.

So yeah, those three main points are my criteria of what makes a bad movie. It’s pretty broad and common but many times we take those simple things for granted and ends up biting our asses in the end. For the record I can’t answer straight away what the worst movie I’ve seen (that’s a whole other topic) but I remember the last movie I walked out from the theatre. Transformers: Dark of the Moon.

tintascreenplay.com

7 Simbolisme penting di film yg anda tidak pernah perhatikan

7 Aug

Mungkin kalo berbicara simbolisme di film kedengarannya seperti hal yg berat atau intelektual. Menurut saya simbolisme di film adalah sebuah kebutuhan khusus yg membedakan film itu dari karya yg biasa dan karya yg tidak. Tentunya simbolisme bukan resep utama untuk membuat film bagus karena pastinya cerita dan karakter lebih penting. Tetapi simbolisme menjadi alat ekstensi untuk menyimpulkan apa yg si pembuat film ingin sampaikan tanpa harus menjelaskan ke penonton secara blak-blakan. Kasarnya simbolisme adalah salah satu bagian dari lapisan-lapisan imej/suara/karakter/musik/dll yg mempunyai makna yg penting.

Simbolisme di film mungkin lebih ke domain sutradara di banding penulis skenario karena otoritas sutradara untuk bermain dengan ‘kanvasnya’ lebih luas di banding dengan ‘kanvas’ penulis yg hanya bermain dengan kertas/tulisan.

Pentingkah simbolisme itu sendiri ke penonton umum?

Bagi saya itu semua tergantung dari interpertasi setiap sutradara tentang cerita yg mereka buat. Ada sutradara yg kurang peduli dengan simbolisme, ada juga yg obsesi dan ada yg kadang-kadang menggunakannya di scene-scene yg tertentu.

Apapun maksud dari simbolisme itu sendiri ujung-ujungnya di desain untuk membuat film menjadi lebih berarti walaupun penonton kasual mungkin tidak terlalu peduli tetapi kreasi simbolisme memberi sebuah kepuasan tersendiri kepada pembuat film karena membuat film menjadi lebih bermakna dan penonton/kritikus yg lebih peka dengan bahasa sinema bisa menilai bahwa film menjadi lebih berbobot karena nilai artistiknya bertambah.

1. Dr. Strangelove

drstrangelove

‘Meja Perang’ yg ikonik di film ini telah menjadi imej yg klasik dan selalu di tiru-tiru di pop culture. Arti dari meja ini sangat unik dan tersembunyi karena limitasi film yg hitam putih. Stanley Kubrick ingin membuat simbolisme tentang kesamaan mental politisi dengan mental penjudi. Warna meja perang itu sebenarnya warna hijau (karena hijau adalah warna meja poker/penjudi) tetapi karena film di shoot di hitam putih, warna hijaunya tidak kelihatan.

2. Election

tracy tracy2

paul paul2

amy

Di scene ketika ketiga kandidat sedang berpidato di depan semua murid untuk mencalonkan diri mereka sebagai presiden sekolah. Kamera cut ke beberapa shot (close up, medium shot, etc) dan sudut yg beda ketika Tracy dan Paul berpidato. Tetapi ketika Amy berpidato, kamera tidak ada cut (long take) dan fokus terus ke pidato. Ini merupakan simbol di mana Amy adalah kandidat yg jujur di banding Tracy dan Paul karena kamera tidak melakukan manipulasi ketika Amy berpidato.

3. Cool Hand Luke

CoolHandLuke_148Pyxurz

Film klasik yg menghebohkan Hollywood di dekade 1960’an karena mempunyai tema anti institusi ini mempunyai villain yg tidak terlupakan di sosok Boss Godfrey yg kejam. Dia adalah seorang sipir brutal yg suka menindas tawanan di penjara. Boss Godfrey selalu memakai kaca mata hitam dan kita tidak pernah melihat mata aslinya. Kaca mata hitam ini menjadi simbol bahwa dia adalah bagian dari institusi/rezim yg tidak manusiawi sehingga kita tidak pernah melihat matanya dan tidak menganggap dia sebagai manusia normal tetapi sebagai alat ’penindas’ dari institusi yg korup.

4. The Silence of the Lambs

clarice silence of the lambs 2

Clarice adalah seorang investigator yg baru lulus sekolah FBI dan di tugaskan untuk mewancarai Hannibal Lecter tentang kasus serial pembunuhan. Karena Clarice seorang perempuan dan juga masih hijau, dia selalu di anggap remeh oleh anggota-anggota FBI lain yg mayoritas laki-laki. Simbolisme ini terlihat beberapa kali di mana Clarice di kelilingi oleh laki-laki yg lebih besar dan terlihat Clarice seperti terintimidasi. Akhirnya Clarice belajar untuk menjadi lebih kuat dan mandiri ketika dia berani mengusir beberapa polisi laki-laki dari ruang otopsi mayat.

5. Star Wars

luke24

Luke Skywalker berpakaian hitam di ‘Return of the Jedi’ menjadi sebagai simbol bahwa kemungkinan dia akan ikut Darth Vader ke dark side. Setelah dia melawan Emperor dan menolak untuk join the dark side, pakaian Luke terbuka dan terlihat warna putih di dalamnya. Simbol ini menunjukan bahwa dari awal Luke selalu di pihak putih.

6. The Godfather

the godfather 1 - 1972 godfather1-fsc34, Photo by: Everett Collection (godfather1-fsc34)

Hampir di semua scene penting tentang kematian/pembunuhan selalu di awali oleh keberadaan buah jeruk. Apakah cuma lewat sekilas di scene atau seseorang karakter sedang makan, buah jeruk menjadi simbolisme tentang kematian. Awalnya jeruk muncul untuk membuat kontras warna lebih bright karena mayoritas nuansa film sangat datar/gelap tetapi sutradara Francis Ford Coppola menyukainya dan membuat semacam tradisi untuk menampilkan buah jeruk di hampir semua adegan kematian penting. Arti dari buah jeruk ini sangat terbuka untuk di interpertasi karena Coppola tidak pernah memberikan jawaban yg langsung.

7. Forrest Gump

The_Feather

Bulu yg terbang telah menjadi simbol yg ikonik di film ini karena melambangkan perpaduan antara keluguan Forrest Gump dan takdir. Bulu melambangkan kenaifan Forrest sementara angin yg menghembus bulu melambangkan penempatan takdir di kehidupan Forrest yg sepertinya selalu ‘terbang’ dari satu kejadian penting ke kejadian berikutnya.

tintascreenplay.com

Shogun Assassin: Lebih dari sekedar film action

9 Jul
Shogun Assassin (1980)

Shogun Assassin (1980)

Apa yg membuat film action keren? Tentu actionnya musti spektakuler dan penuh dengan adegan-adegan yg membuat penonton kagum atau si jagoan musti punya karisma yg membuat karakter itu memorable. Bagi saya walaupun mayoritas film-film action lebih mementingkan action dari pada cerita/karakter karena lebih mudah di cerna bukan berarti film action tidak bisa membuat cerita yg unik atau membuat film yg spesial. ‘Shogun Assassin’ adalah salah satu film action/samurai unik dari Jepang karya sutradara Kenji Misumi.

Di ambil dari cerita legenda manga ‘Lone Wolf and Cub’ tentang seorang samurai yg berkelana tanpa tuan dengan anaknya yg masih balita, imej Lone Wolf mendorong anaknya di kereta bayi menjelajahi daratan Jepang yg di penuhi oleh musuh-musuh telah menjadi cerita legendaris untuk rakyat Jepang. ‘Shogun Assassin’ sendiri awalnya adalah film yg di edit ulang dari film-film serial ‘Lone Wolf and Cub’ untuk di pasarkan ke Amerika dan Inggris. Aktor dan pembuat film Robert Houston melihat film-film ‘Lone Wolf and Club’ mempunyai potensi yg spesial untuk menjadi film cult yg berkualitas.

Walaupun film-film itu mempunyai adegan action yg agak hardcore untuk pasaran Amerika/Inggris (manga violence/gore), Houston melihat celah bahwa ini bisa menjadi kesempatan untuk membuat untung karena ‘Shogun Assassin’ bukan film action yg biasa. Reaksi film ini sangat ekstrim dan mengundang berbagai kecaman karena level violence/gore yg belum pernah di lihat di Amerika/Eropa. Bahkan film ini sempat di banned di Inggris. shogun2

‘Shogun Assassin’ bercerita tentang Lone Wolf/Ogami Itto, seorang jagoan samurai yg di khianati oleh masternya sehingga istri Ogami meninggal. Ogami dan anaknya yg balita-Daigoro- selamat tetapi mereka telah menjadi buronan dan Ogami musti menjadi pembunuh bayaran untuk hidup dan dia masih obsesi untuk melakukan balas dendam karena telah di khianati. Kalau Akira Kurosawa di anggap legendaris karena film-film samurainya yg terkenal. Kenji Misumi lebih di kenal sebagai sutradara cult dengan film-film serial ‘Lone Wolf and Cub’ dan ‘Zatoichi’ yg penuh dengan adegan action lebih sangar di banding Kurosawa. Mungkin perbandingan kedua orang ini seperti Kalau Kurosawa adalah sebuah novel sastra yg anggun, Misumi lebih ke buku komik manga untuk orang dewasa yg juga tidak kalah dari segi artistiknya tetapi lebih menekankan ke action yg lebih exciting untuk di lihat.

shogun3

Yg membuat ‘Shogun Assassin’ lebih unik adalah penambahan voice over dari si sang anak -Daigoro- di mana kita melihat cerita dari sudut pandang dia sehingga menimbulkan sebuah kontradiksi di mana film di narasi oleh suara anak kecil yg polos tetapi di sertai dengan adegan violence yg cukup hardcore sehingga membuat film menjadi kontradiksi puitis dengan action yg cukup brutal/indah/artistik (think manga tetapi versi live action) dan cukup groundbreaking.

Kepolosan Daigoro dalam melihat kekerasan bertubi-tubi yg datang menyerang dia dan ayahnya mungkin sekilas terlihat sebagai bentuk eksploitasi anak balita tetapi karena kekerasan/action di film sangat stylish dan sedikit over the top membuat implikasi kekerasan dari film seperti menonton film manga. Separah-parahnya action/kekerasan di film manga masih tidak se-realistis kekerasan di film seperti ‘Taxi Driver’ atau ‘Reservoir Dogs’.

shogun4

Malah narasi Daigoro membuat nuansa film menjadi lebih intim/kuat karena kita melihat ikatan ayah/Lone Wolf dan anak yg sangat kuat dalam menghadapi berbagai rintangan walaupun si ayah hampir tidak pernah menunjukan sifat penyayang seperti ayah normal tetapi tidak di pungkiri lagi bahwa si ayah sangat mencintai anaknya dan rela melakukan apa saja agar si anak tetap hidup.

Di tambah lagi dengan komposis visual yg megah oleh sinematografer Chisi Makiura; template tonasi warna hijau/coklat yg dominan di mix dengan warna kontras merah darah dan penggunaan bayang-bayang gelap yg cukup banyak membuat film mempuyai identitas visual yg sangat menonjol di banding film-film samurai yg lain dan bisa di bilang menginspirasi visual di film action era modern (‘Kill Bill’ dengan bangga menjiplak ‘Shogun Assassin’). shogun5

Audio di ‘Shogun Assassin’ juga di dub versi bahasa Inggris sehingga membuat feel film sedikit campy karena kadang-kadang suara aktor di buat sedikit over acting di banding versi bahasa Jepang. Tetapi ini sama sekali tidak mengurangi kualitas film malah membuat film menjadi lebih unik karena kombinasi antara action yg menggigit, hal-hal yg mengejutkan (kereta bayi bisa berubah menjadi senjata!), musuh-musuh yg super cool (Cewek-cewek ninja yg super sadis!), tonasi cerita yg penuh dengan heroisme, puitis dan kadang-kadang menjurus ke arah surreal tetapi juga sanggup membuat cerita menjadi emosional.

Karena pada dasarnya walaupun ini film action, kita peduli dengan nasib Daigoro dan ayahnya karena bahaya selalu mengintai mereka dari setiap sudut dan mereka tidak pernah merasakan damai. Dan ini mungkin resep paling penting yg di butuhkan untuk membuat film action lebih dari sekedar rangkaian adegan berantem/perang/kekerasan saja; untuk membuat penonton peduli dengan nasib karakter-karakter utama di cerita sehingga membuat film mempunyai dampak yg lebih emosional, memorable dan…well, super fuckin cool.

tintascreenplay.com

Wild Tales: Esensi balas dendam

26 Mar
Wild Tales (2014)

Wild Tales (2014)

‘Wild Tales’ adalah film Argentina karya sutradara Damián Szifrón yg mempunyai tema kental tentang balas dendam dan di baluti oleh black comedy tentang apa yg terjadi ketika orang-orang modern bertindak beringas dan menjadi biadab. ‘Wild Tales’ terdiri dari enam film pendek dengan cerita yg terpisah dan berbeda-beda tetapi mempunyai benang merah yg sama. Kata-kata ‘Omnibus’ sering di lontarkan dan menjadi tren ketika mendiskripsi tentang film-film pendek yg di kumpulkan dengan tema yg mirip tetapi kebanyakan film-film itu kurang maksimal atau kurang greget karena variasi kualitas yg naik turn dari setiap film membuat film secara keseluruhan menjadi tidak imbang dan tema tidak fokus.

Atau juga karena film itu mencoba untuk menjadi ‘dalam’ tetapi malah gagal total karena terlalu maksa menjadi sok artistik dan akhirnya malah membuat penonton darah tinggi. ‘Wild Tales’ tidak memiliki masalah seperti itu karena setiap cerita selalu membuat penoton penasaran, greget, tertawa dan kaget. Mungkin karena di buat oleh satu sutradara, enam film pendek ini mempunyai warna yg sama (walaupun cerita satu sama lain tidak berhubungan) dan sangat fokus dengan temanya. wildtales4   Setiap cerita sangat variatif tetapi mempunyai ‘gigitan’ yg sama. Cerita pertama, ‘Pasternak’ tentang seorang penumpang pesawat yg berbasa-basi dengan orang di sebelahnya. Mereka ternyata kenal dengan salah satu teman mereka, seorang komposer musik yg gagal dan salah satu dari mereka adalah kritikus musik yg menilai bahwa teman mereka bukan komposer musik yg handal. Seorang penumpang mendengar omongan mereka dan dia juga mengaku kenal kenal dengan orang yg di bicarakan.

Tiba-tiba seorang penumpang lain juga mendengar pembicaraan mereka dan juga mengaku kenal dengan orang yg di bicarakan. Mereka semua tidak pernah ketemu satu sama lain tetapi mereka mempunyai kesamaan bahwa mereka kenal dengan orang yg di bicarakan dan mereka pernah punya masalah dengan dia. Ternyata semua penumpang di pesawat itu kenal dengan satu orang itu dan mereka juga punya sejarah konflik. Akhir dari cerita ini cukup tidak terduga dan bagi saya sangat lucu in a black comedy sort of way.

Di cerita yg berjudul ‘Bombita’, kehidupan seorang ahli peledak bangunan pelan-pelan runtuh karena hal sepele; dia tidak membayar tilang karena parkir di tempat yg salah. Dia mencoba berkali-kali untuk beragumentasi bahwa ketika dia parkir, dia tidak melihat tanda tidak boleh parkir tetapi komplain dia tidak di gubris oleh departemen lalu lintas dan karena dia berkeras kepala untuk melawan sistem yg korup akhirnya malah menyebabkan dia kehilangan pekerjaan dan keluarganya, sehingga dia berencana untuk membalas dendam dengan mengebom departemen lalu lintas.

Di cerita ‘Road to Hell’ , Seorang laki-laki yuppie kelas atas yg membawa mobil Audi mencoba untuk menyalip sebuah mobil butut di jalanan sepi di luar kota dan mengejek si pengemudi mobil butut. Tidak lama kemudian, ban mobil Audi dia meletus dan dia musti berhenti di samping jembatan. Ketika dia sudah hampir selesai membetulkan ban, si mobil butut muncul dan konflik terjadi antara kedua pengemudi. Wild Tales_03 Atau di cerita ‘The Rats’ di mana seorang pelayan di sebuah restauran ingin membalas dendam kepada seorang politisi korup yang menghancurkan keluarganya dan si pelayan mengalami delima untuk menaruh racun tikus di makanan si politikus.

Konsep ‘Wild Tales’ memang mirip dengan ‘Twilight Zone’ atau ‘Black Mirror’ tentang film-film pendek yg mempunyai cerita yg sedikit off beat/aneh tetapi dasarnya mengkritik tentang bagaimana cara manusia hidup. Yg membedakan ‘Wild Tales’ adalah cerita bukan di domain fantasy/sci-fi tetapi tentang kehidupan masyarakat Argentina di jaman sekarang yg penuh dengan kefrustrasian karena ketidak adilan, perbedaan kelas, dan hidup di sistem negara yg korup.

Cerita ‘Bombita’ sangat jelas mengkritik sistem pemerintahan Argentina yg berbelit-belit dan birokrasi yg tidak peduli dengan rakyatnya. karena sebuah masalah sepele seperti tiket tilang, kehidupan seseorang drastis berubah total. Memang si ahli peledak juga mempunya sifat yg jelek. Dia emosian, tidak sabaran dan pernikahan dia di ujung tanduk karena dia kurang memperhatikan istrinya. Tetapi dari sudut pandang lain, apakah karena masalah tiket tilang hidup dia berantakan atau walapun tidak ada masalah karena tiket tilang, kehidupan dia akhirnya akan menjadi berantakan juga karena dia tidak bisa mengontrol emosinya? wt6

Tapi yg pasti ‘Wild Tales’ membuat poin yg jelas bahwa sistem negara yg korup dan tidak fleksibel secara langsung atau tidak akan membuat rakyatnya merana. Atau paling tidak, menjerumuskan rakyat ke situasi yg membuat hidup lebih susah karena hal yg sepele menjadi ribet sehingga membuat mereka menjadi tambah frustasi dan kefrustasian ini akhirnya bisa mendorong mereka membuat hal yg ekstrim.

Cerita ‘Road To Hell’ sendiri menjadi simbol konflik antara kelas atas dan kelas buruh dimana kedua pihak membenci satu sama lain (karena hal sepele juga) dan berentet menjadi hasil yg tragis karena masing-masing pihak mengalami frustasi karena tidak bisa berkomunikasi dengan kaum lain ataupun karena sudah mempunyai dendam kesumat yg dalam sehingga karena di picu hal sepele semua murka dan kebencian terhadap pihak lain akhirnya keluar semua.

Tetapi tidak semua cerita berakhir dengan tragis, di cerita ‘Till Death Us Do Part’ di mulai oleh sepasang pengantin yg sedang menikmati pesta perkawinan tetapi situasi berubah drastis ketika pengantin perempuan mendapatkan informasi bahwa pengantin pria berselingkuh dan pacarnya sedang berada di pesta juga. Pengantin wanita awalnya patah hati dan bahkan ingin bunuh diri tetapi akhirnya berencana untuk membalas dendam dan pelan-pelan membuat pengantin pria merana. wt7   Yg membuat cerita ini lucu adalah kita melihat pergantian situasi di mana giliran pengantin pria yg merana dan tersiksa oleh ulah pengantin perempuan tetapi dengan ending twist yg cukup tidak terduga sehingga menjadi cerita romantis versi black comedy. Dan ini memang esensi ‘Wild Tales’ walaupun garang, tidak mudah ketebak dan kadang-kadang absurd, film ini terasa dekat dan relevan.

tintascreenplay.com

Transparent: Tragedi/komedi di jati diri

26 Feb
Transparent (2014)

Transparent (2014)

 

Imej saya tentang orang-orang transeksual, kurang lebih masih misterius karena di kehidupan saya sehari-hari memang saya tidak punya kenalan dengan orang-orang seperti itu. Imej orang-orang transeksual yg sudah di buat di masyarakat kita terus terang masih belum positif, kita sebagai masyarakat masih mengganggap mereka sebagai mahluk hybrid yg cukup membingungkan atau paling gampang memasukan mereka di kotak “bencong” sebagai identitas komikal karena kita cukup nyaman dengan menjiplak mereka sebagai seorang karikatur daripada seorang karakter manusia.

Imej mereka di media juga sangat mengakar dan satu dimensi di mana karakter-karakter “bencong” hanya di gunakan sebagai comic relief. Kita tidak pernah melihat mereka sebagai manusia komplit, apakah ini karena pengaruh turun menurun dari budaya/media/masyarakat kita atau stigma dari ajaran agama posisi kaum transexual di negara ini (dan di kebanyakan negara di dunia) masih di tempatkan di pojok atau di bayang-bayang.

‘Transparent’ adalah serial TV buatan amazon.com yg menuai banyak pujian dan membuat dobrakan penting karena berani membuat serial TV dengan subyek yg sangat unik dan juga mampu memberikan sebuah pandangan humanis tentang kaum transeksual. Serial ini juga banyak di nobatkan sebagai salah satu serial terbaik di 2014.

Mort Pfeffermans (Jeffrey Tambor) adalah seorang guru lelaki intelektual di usia 70-an yg berniat untuk ‘keluar’ menjadi perempuan karena dia sudah lama merasa jadi perempuan tetapi perasaan ini terus di pendam. Sejak lama, dia diam-diam sering berpakaian seperti perempuan ketika sendirian dan hidup seperti seorang superhero yg mempunyai identitas ganda. Dia mengalami dilema bagaimana memberitahukan keluarganya. Keluarga Mort sendiri juga cukup menarik karena ketiga anaknya mempunya masalah sendiri-sendiri yg secara tidak langsung berhubungan dengan perubahan di diri Mort.

Yg membuat ‘Transparent’ sebagai serial TV modern klasik adalah menyatukan elemen komedi yg berasal dari situasi atau tempat yg menyakitkan dan membuat momen itu se-real/humanis mungkin. Ya, ‘Transparent’ memang mempunyai fokus utama ke Mort tetapi skop cerita ‘Transparent’ ternyata lebih meluas ke keluarga Mort (terutama ketiga anak-anaknya yg mempunyai masalah masing-masing). Sarah (Amy Landecker) adalah anak tertua yg mempunyai keluarga sempurna tetapi dia masih jatuh cinta kepada cinta pertamanya yg juga seorang wanita, Josh (Jay Duplass) seorang hipster yg mempunyai pekerjaan sebagai produser musik yg mempunyai trauma dalam tentang perempuan dan Ali (Gaby Hoffmann) anak paling bungsu yg tidak punya arahan hidup yg jelas.

Penulis/pencipta Jill Soloway membuat ‘Transparent’ karena terinspirasi dari kehidupan nyata di kehidupannya ketika bapak Soloway mengaku bahwa dia adalah seorang transeksual. Soloway juga dulu pernah bekerja sebagai penulis di serial HBO ‘Six Feet Under’ yg mempunyai tema tentang kehidupan keluarga yg janggal dan menyatukan tragedi dan humor secara humanis. Tonasi ‘Transparent’ memang mengikuti jejak ‘Six Feet Under’ di mana kita melihat karakter-karakter yg penuh dengan sikap dan motivasi kompleks karena mempunyai sebuah keinginan terpendam yg tidak bisa di ekspresikan secara luwes. Keinginan yg terpendam dan belum tercapai ini yg membuat hubungan keluarga mereka menjadi naik turun dengan konflik karena setiap anggota keluarga mempunyai rahasia masing-masing dan mereka memanipulasi satu sama lain –walaupun secara tidak sengaja/bukan maksud untuk menyakiti- untuk mendapatkan hal yg mereka mau/untuk menjaga rahasia mereka.

Kata-kata ‘realisme’ sering di utarkan di film-film indie/art house atau serial TV yg berbobot, tetapi realisme sendiri tidak cukup untuk membuat suatu karya yg excellent. Karya itu sendiri musti bisa ‘menghibur’ penonton dan membawa mereka ke tempat atau dunia lain yg mereka belum kenal. ‘Realisme’ dan ‘menghibur’ bukanlah sebuah hal yg eksklusif yg hanya bisa di taruh di satu tempat saja- film indie musti realistis!/film Hollywood musti menghibur! Kedua elemen ini bisa menyatu dan membuat sebuah karya yg special. Intinya, ‘Transparent’ bisa membuat cerita yg menghibur tetapi juga mempunyai bobot realisme yg mengakar sehingga sikap dan motivasi mereka terasa sangat otentik.

Melihat ekspresi Mort yg campur baur karena cemas ketika ingin memberitahu anaknya bahwa dia telah berubah menjadi perempuan sangat memilukan tetapi juga lucu karena kita mengerti rasanya ingin memberitahu seseorang tentang rahasia kita yg terdalam tetapi tidak bisa. Mort ingin terus terang tetapi masih ada sesuatu di dalam yg menahan dia untuk berterus-terang. Dan ini inti dari ‘Transparent’ , di mana kita ingin mengexpresikan identitas diri tetapi melakukannya dengan terbata-bata akhirnya menghasilkan suatu cerita yg campur baur antara lucu/sedih dan yg paling penting manusiawi.

Tetapi hal paling penting yg saya dapatkan dari ‘Transparent’ adalah saya tidak melihat Mort sebagai karikatur “bencong” lagi. Saya meihat dia sebagai manusia utuh yg mempunyai beragam lapis kompleksitas yg sangat normal dan biasa, walaupun dari penampilan luar Mort sangat tidak biasa.

tintascreenplay.com

 

15 Perfect Shots Part II

31 Jan

1. The Godfather Part II (1974)

     DoP: Gordon Willis

     Director: Francis Ford Coppola

THE GODFATHER PART II (1974) DoP- Gordon Willis | Dir- Francis Ford Coppola

 

2. The Big Blue (1988)

     DoP: Carlo Varini 

     Director: Luc Besson

Perfect shot- THE BIG BLUE (1988) DoP- Carlo Varini | Dir- Luc Besson

 

3. Saving Private Ryan (1998)

     DoP: Janusz Kaminski 

     Director: Steven Spielberg

SAVING PRIVATE RYAN (1998) DoP- Janusz Kaminski | Dir- Steven Spielberg

 

 

4. Casino (1995)

     DoP: Robert Richardson 

     Director: Martin Scorsese

CASINO (1995) DoP- Robert Richardson | Dir- Martin Scorsese

 

5. Breathless (1960)

     DoP: Raoul Coutard 

     Director: Jean-Luc Godard 

BREATHLESS (1960) Director of Photography- Raoul Coutard | Director- Jean-Luc Godard

 

6. The Last Starfighter (1984)

     DoP: King Baggot 

     Director: Nick Castle

THE LAST STARFIGHTER (1984) Director of Photography- King Baggot | Director- Nick Castle

 

7. The Searchers (1956)

     DoP: Winton C. Hoch 

     Director: John Ford

THE SEARCHERS (1956) DoP- Winton C. Hoch | Dir- John Ford

 

 

8. True Romance (1993)

     DoP: Jeffrey L. Kimball 

     Director: Tony Scott

TRUE ROMANCE (1993) DoP- Jeffrey L. Kimball | Dir- Tony Scott

 

 

9. Sympathy for Mr. Vengeance (2002)

     DoP: Byeong-il Kim 

     Director: Chan-wook Park

SYMPATHY FOR MR. VENGEANCE (2002) | DoP- Byeong-il Kim | Director- Chan-wook Park

 

10. 8 1/2 (1963)

       DoP: Gianni Di Venanzo 

       Director: Federico Fellini

8½ Film (1963) Cinematography- Gianni Di Venanzo : Director- Federico Fellini

 

11. Stand by Me (1986)

      DoP: Thomas Del Ruth 

      Director: Rob Reiner

STAND BY ME (1986) Director of Photography- Thomas Del Ruth | Director- Rob Reiner

 

12. Blade Runner (1982)

       DoP: Jordan Cronenweth

       Director: Ridley Scott 

BLADE RUNNER (1982) Director of Photography- Jordan Cronenweth | Director- Ridley Scott

 

13. Let the Right One In (2008)

       DoP: Hoyte Van Hoytema 

       Director: Tomas Alfredson

LET THE RIGHT ONE IN (2008) Director of Photography- Hoyte Van Hoytema | Director- Tomas Alfredson

 

14. Paris, Texas (1984)

       DoP: Robby Muller

       Director: Wim Wenders

paris, texas

 

15. Fallen Angels (1995)

       DoP: Christopher Doyle

       Director: Wong Kar-wai

fallen angels

 

15 Perfect Shots Part I

tintascreenplay.com

Whiplash: Obsesi mencari kesempurnaan

22 Jan
Whiplash (2014)

Whiplash (2014)

 

Film-film tentang hubungan teacher/student sudah seperti genre spesifik di perfilman. Kita sebagai penonton sudah cukup nyaman dengan tipe film jenis ini karena sudah mendarah daging di benak kita. Kita sangat familiar dengan alur cerita di mana seorang figur guru dengan tidak rela (pada awalnya) musti mengajar seorang student yg dia tidak sukai atau tidak akur. Pada awal cerita, teacher dan student tidak akur dan sering timbul konflik. Tetapi pada pertengahan cerita mereka menemukan sebuh titik di mana mereka mulai mendapat kecocokan antara satu sama lain dan menghasilkan sebuah pengertian yg akhirnya mereka musti kerja sama untuk mencapai gol.

Formula ini sepertinya sudah menjadi formula yg membuat cerita mudah ketebak walaupun ceritanya solid atau kualitas filmnya bagus. We’ve all seen these type of films before so nothing is really suprising anymore, tapi ‘Whiplash’ mempunyai warna tersendiri yg membuat tonasi cerita beda. ‘Whiplash’ merubah klise hubungan teacher/student dan menjadi sensasi hit di Sundance Film Festival 2014, memenangkan audience dan grand jury awards. Film ini juga di nominasi untuk Oscar di kategori ‘Adapted Screenplay’.

Andrew Neiman (Miles Teller) adalah seorang pelajar jazz drummer berusia 19 tahun yg belajar di sekolah musik elit. Dia ingin menjadi salah satu pemain drum jazz terbaik di generasi dia. Dedikasi Neiman untuk latihan siang dan malam medapat perhatian Terence Fletcher (J.K. Simmons). Fletcher adalah salah satu guru terbaik di sekolah itu dan prestasi dia memenangkan kompetisi musik sudah tidak di pungkiri lagi.

whiplash-scream

Fletcher mengundang Neiman untuk menjadi back up drummer di band dia. Merasa bangga karena terpilih, Neiman dengan yakin akan menggantikan posisi drummer senior tetapi ketika latihan di mulai Neiman merasakan gaya Fletcher mengajar bukan seperti guru normal yg lain tapi melalui gaya manipulatif yg sangat abusive. Mood Fletcher bisa berubah drastis dari orang yg kalem dan supportive menjadi murka dan abusive. Neiman di lempar kursi karena melakukan ketukan yg salah, di hina-hina di depan student yg lain karena masih hijau dan sering melakukan kesalahan.

Tetapi masalah ini semua membuat Neiman lebih bertekad untuk kerja lebih keras supaya dia terpilih oleh Fletcher sebagai drummer tetap dan akhirnya menimbulkan konsekuensi yg fatal.

Yg membuat beda ‘Whiplash’ dengan film lain yg mempunyai cerita mirip adalah absennya momen sentimental atau ‘uplifting’ antara Neiman dan Fletcher sehingga membuat cerita tidak mudah ketebak. Saya lebih melihat hubungan mereka berdua seperti sebuah psychological warfare atau adu perang mental karena pribadi mereka yg kompleks, keras kepala dan masing-masing sangat ambisius.

whip-6

Neiman walaupun awalnya seperti orang pemalu yg kuper tetapi mempunyai sebuah tekad yg bulat untuk menjadi drummer terbaik dan obsesi dia merusak hubungan dia dengan pacarnya, Nicole. Karena menurut Neiman, Nicole akan membuat dia tidak fokus. Padahal di awal cerita, Neiman dengan gugup mengajak Nicole kencan. Di versi film standard, usaha Neiman untuk mendapatkan Nicole biasanya di bikin-bikin untuk menambahkan unsur romantis yg klise dan bertele-tele karena Neiman adalah the ‘cute but nerdy guy’ yg merasa bersyukur bisa mendapatkan Nicole. Di versi ‘Whiplash’, Neiman is the ‘asshole nerdy guy’ (mirip karakter Mark Zuckerberg di ‘Social Network’) yg merasa diri dia lebih superior dari Nicole karena dia tahu apa yg dia mau sementara Nicole tidak fokus dengan sekolahnya.

Sementara Fletcher sendiri mempunyai pribadi yg kompleks di mana dia bisa menangis di depan student-student ketika sedang latihan karena mendengar berita bahwa salah satu bekas murid dia meninggal karena kecelakaan atau bisa menjadi seorang yg lembut dan memberikan semangat yg membangun.

‘Whiplash’ mempunyai tema yg sangat jelas tentang obsesi untuk mengejar kesempurnaan dan tidak memikirkan konsekuensi terhadap orang lain yg tidak mengerti kenapa musik sangat penting bagi Neiman dan Fletcher. Ketika obsesi kedua karakter ini tidak menemui pengertian antara satu sama lain, cerita menjadi lebih intens karena telah berubah menjadi power struggle antara Neiman dan Fletcher.

Whiplash-4

Neiman merasa lebih jago dari pada drummer senior dan Fletcher tidak mau memberikan Neiman kepuasaan itu. Setiap kemajuan yg Neiman alami, dia musti melalui halangan dan abuse dari Fletcher. Karena Fletcher tidak suka dengan gaya mengajar yg menggunakan positive reinforcement dan kalaupun di gunakan hanya untuk memanipulasi Neiman.

Fletcher: “There are no two words in the English language more harmful than ‘good job’.”

Menonton ‘Whiplash’ mengejar tema mencari kesempurnaan ibarat seperti melihat pisau yg sudah tajam di asah berulang-ulang kali tetapi ketajaman itu tidak pernah cukup karena akhirnya obsesi mencari kesempurnaan adalah ilusi. Walaupun ilusi itu terasa sangat tajam dan sangat nyata.

tintascreenplay.com

Bandit Queen: Revolusi derajat

13 Jan
Bandit Queen (1994)

Bandit Queen (1994)

Dari semua genre film yg saya paling tidak suka kemungkinan besar adalah jenis musical dan ini mungkin yg membuat saya tidak suka film-film Bollywood karena basisnya dari musical. Walaupun saya bisa mengapresiasi film-film musical karena sudah menjadi bagian dari sejarah film, saya masih cringe ketika menonton mayoritas film tipe musical. Film adalah karya sebuah ‘suspension of disbelief’ di mana kita tahu apa yg kita tonton adalah karya fiksi dan tidak nyata. Ada sebuah bagian di otak kita yg menyetop kita untuk berteriak ,”This is all bullshit! It’s fake, all fake!”

Karena kita sudah menyetel di otak walaupun film yg kita tonton adalah fiksi tetapi karena kualitas akting yg baik dan cerita yg bisa membawa kita peduli dengan karakter, kita merelakan otak kita untuk menerima ilusi itu.

Masalah utama saya dengan genre musical adalah ketika di sebuah adegan serius tiba-tiba para aktor berubah 180 derajat dan bernyanyi/menari dengan ceria. Di momen itu batasan realita/fiksi di otak saya buyar dan mulai berteriak , “This is all bullshit! It’s fake, all fake!”

Kebanyakan orang mungkin bisa menerima realita itu tetapi bagi saya semua ilusi menjadi buyar dan akhirnya saya di paksa untuk menonton adegan nyanyi dan membuat saya menjadi bosan. Belum lagi mayoritas tema film-film musical terlalu family friendly dan crowd pleasing sehingga imej mereka sebagai film ‘penghibur’ tanpa substansi (walaupun ada yg beda seperti ‘Dancer in The Dark’ atau ‘Cabaret’) untuk membuat happy penonton dengan cerita yg gitu-gitu aja sepertinya sudah ketinggalan jaman.

Mungkin karena itu saya tidak pernah suka film-film Bollywood karena mayoritas cerita mereka terlalu di buat-buat untuk menjual kehidupan fantasi ke penonton dan juga adegan musical yg terlalu too much membuat saya hilang interest. Saya bisa enjoy film Bollywood untuk novelty value di mana saya cekikikan karena akting aktor-aktornya yg berkelebihan atau action scene yg so bad its bad it becomes super bad ass, tetapi saya tidak pernah apresiasi film Bollywood karena di otak saya selalu teriak, yup sekali lagi,”This is all bullshit!”

…sampai saya menonton ‘Bandit Queen’.

‘Bandit Queen’ tidak ada adegan musical, akting yg berkelebihan atau apa pun elemen-elemen yg membuat tipe film Bollywood. Malah bisa di bilang ‘Bandit Queen’ adalah anti Bollywood karena lebih mendekati art film yg menggigit dan meninggalkan kesan yg membuat penonton tercekam tetapi lebih menyentuh daripada mayoritas film Bollywood lain.

Based on a true story, ‘Bandit Queen’ mengisahkan cerita tentang Phoolan Devi (Seema Biswas), seorang ratu bandit yg menghebohkan India di awal dekade 1980’an. Devi membuat gempar India karena dia seorang perempuan yg berasal dari kasta rendah dan berhasil menjadi seorang pemimpin geng bandit karena menteror beberapa kota. India menjadi obesi dengan figur Devi, karena mereka belum pernah melihat seorang figur perempuan yg melawan otoriter hukum dan juga memutar balikan konsep seorang perempuan di budaya India yg di jaman itu musti menjadi figur feminin dan musti selalu tunduk oleh pria.

Perjalanan Devi menjadi seorang ratu bandit tidak mudah dan penuh derita. Dia adalah salah satu anak dari enam bersaudara, berasal dari keluarga miskin dan di paksa kawin oleh orang tuanya waktu dia berumur 11 tahun demi seekor sapi dan sebuah sepeda. Dia di paksa untuk melakukan hubungan intim dengan ‘suaminya’ yg jauh lebih tua sementara ibu sang suami mendengar di kamar sebelah. Devi selalu di ingatkan bahwa dia adalah seorang perempuan yg berasal dari kasta rendah dan dia musti bersyukur karena ada laki-laki yg mau untuk menikahnya.

Devi berontak dan kabur kembali ke orang tuanya tetapi mereka menolak untuk menerima Devi dan menyuruh dia balik. Devi akhirnya bercerai dan status dia menjadi lebih rendah dari sebelumnya. Di usir dari desanya karena dia tidak mau melayani pria dari kasta lebih tinggi, Devi protes kepada polisi tetapi malah di siksa dan di perkosa. Dia di bebaskan karena di tebus oleh seorang pemimpin bandit bernama Babu Gujjar yg merasa berhak atas diri Devi.

Devi menjadi bulan-bulanan Guijar, di sekap dan di perkosa berkali-kali sampai Vikram (tangan kanan Guijar) akhirnya bersimpati dan menolong Devi dengan membunuh Guijar dan mereka berdua menjadi pemimpin geng baru. Dimana Devi menjadi seorang bandit yg sangat mahir dan balas dendam ke suaminya yg pertama. Di sini cerita dan legenda Devi di mulai…

‘Bandit Queen’ bukan film yg menghibur atau akan membuat anda nyaman. Film ini dengan berani mengkritik budaya atau gaya hidup tradisi India dengan blak-blakan di mana perempuan berkasta rendah selalu di anggap sebagai second class citizen dan menjadi bulan-bulanan pria dan kasta yg lebih tinggi. Dimana harga diri seorang perempuan bisa di tukar dengan materi dan para penindas tidak pernah merasakan konsekuensi perbuatan mereka karena nilai-nilai budaya dan hukum tidak bernah berpihak kepada kaum yg lemah.

Transformasi Devi dari seorang gadis desa yg lugu menjadi pemimpin bandit yg garang karena diri dia di abused berkali-kali oleh kaum laki-laki bukan sekedar cerita tentang female empowerement saja tetapi bagaimana rentetan kejadian degradasi yg Devi alami yg merubah dia untuk menjadi seorang bandit queen bisa menjadikan dia sebagai sosok pahlawan untuk kaum yg tertindas. Popularitas Devi seperti seorang rock star yg mengguncang budaya india di saat itu dan mengundang banyak diskusi tentang peran seorang wanita dan sistem kasta di era modern.

Visi sutradara Shekhar Kapur (‘Elizabeth’, ‘New York, I love you’) yg cadas tetapi seperti di baluti oleh puisi sedih membuat ‘Bandit Queen’ menjadi sebuah karya yg sangat luar biasa. Ketika Devi dan Vikram mulai tertarik antara satu sama lain dan ingin berhubungan intim, Devi tidak bisa mengekpresikan dirinya dengan normal. Dia hanya bisa memukul dan bersikap kasar kepada Vikram, walaupun dia ingin sekali merasakan kelembutan. Sementara Vikram hanya bisa berdiam diri dan mencoba untuk memaklumi sikap Devi. You never see a love scene like this in Bollywood movies.

tintascreenplay.com

Why Marvel is slowly killing the X-Men

12 Oct

x-men-first-class-sequel-is-days-of-future-past

With the influx of superhero movies that have been enjoying a great renaissance period in the last decade, the average Joes don’t really care which studios produce which super hero movies. They only care about the finishing product.  Here’s where things get interesting, to the comic book fans who are more invested with the superheroes they root for, they are far more aware of what’s happening behind the scenes than the average movie goers.

Most people know the big two of the comic book industry are DC and Marvel. But within each company itself there are divisions among fans about which super heroes they root for. In the Marvel universe you get your own set of hard core fans rooting for the X-Men, The Avengers, Spider-Man, Daredevil, etc. I’m not saying one fan only goes exclusively for one superhero book, that’s silly BUT it is also highly unlikely one fan likes all the superheroes DC/Marvel has.

The Avengers fans usually keep to themselves as the X-Men fans as well. The main reason for this is taste (and money). There are a bunch of Avengers books out there as well as X-Men books. It would be downright expensive to buy all the new issues of Avengers or X-Men coming out. Not to mention each one has enormous wealth of background history within their worlds; consisting of supporting characters, main/minor supervillains, relationship between main/supporting superheroes, etc. It is fairly a daunting task to jump in to a new superhero team book. That is why most comic book readers are picky with what they read.

For a long time, the X-Men have always been cream of the crop of the Marvel universe ever since Chris Claremont era in the 1970’s. The notion of a superhero team consisting of mutants who are born different and sworn to protect the very people who hate them is such an original and downright brilliant/romantic concept. The Avengers compared to the X-Men have always been vanilla. I’m not trying to start a war with Avengers fans but the X-Men stories are far more dramatic and engaging due to this basic brilliant concept.

xmentop50

X-Men popularity has never been higher in the 1990’s backed by solid writers and brilliant artists. There was also good animation show that brought in younger generation and teaching kids the themes of prejudice, racism and intolerance, it was a pretty cool stuff for an animation show. But the roof fell down when it was announced Marvel was in financial troubles in the late 1990’s, to avoid bankruptcy Marvel had to sell the movie rights of their popular characters. They sold Spider-Man to Sony, X-Men/Fantastic Four/Daredevil to Fox. The Avengers at the time was mediocre and held no interest to major studios so they were back with Marvel.

Ironically selling off their popular characters to other studios forced Marvel to restructure their own Marvel studios to self finance their own movies to keep future rights and profits in house. It also created a strong system and culture like what Pixar did; focusing on getting to know the characters really well and making sure the stories are well developed/structured. The system in place worked so well that by their tenth film (Guardians of the Galaxy), Marvel Studios are so confident they do not need a single show runner to keep their high quality movies in check.

Other studios dropped the ball when the successful team left the franchise. When Sam Raimi left the Spider-Man franchise and Marc Webb took over, it all went to shit. When Bryan Singer left the X-Men franchise for one movie (X-Men: The Last Stand) and Brett Ratner took over, it was deemed the worst X-Men movie ever made. Now try to imagine if Christopher Nolan left the Batman and Superman franchise, Warner Bros would’ve shit blood in their pants. Marvel studios never had that problem.

Marvel relationship with Fox took turn for the worse (not so much with Sony) due to some licensing rights, that Marvel is willing to sabotage their own products in order to not helping Fox promote their next Marvel superhero movies. Marvel will cancel all The Fantastic Four comic books in 2015, due to the reason of poor sales. This argument is hard to swallow for a lot of fans. It’s true The Fantastic Four has never been a big seller compared to Spider-Man or X-Men but The Fantastic Four was the first book Stan Lee created under Marvel and the historical significance is immensely important. Pulling the plug on The Fantastic Four is basically Marvel putting up it’s middle finger at Fox and hoping the movie fails so the rights will go back to Marvel (Like Daredevil did- now Marvel is producing the TV series).

Same thing is happening with the X-Men but Marvel is going through a dilemma. It doesn’t want to piss of the hardcore comic books fans (X-Men books are still selling very well) but it doesn’t want to give Fox any help either. What Marvel can do at the moment is phasing out its support of X-Men (no animation shows, lessening merchandise/promotion, etc) but making sure the comic books fans are happy enough by giving them excellent creative teams. But is this enough?

Nowadays you need multiple media outlets to create a strong brand identity be it through a TV show, merchandising, movies, comics, etc. Marvel half assed attempt effort to promote X-Men is visible and the X-Men fans are starting to notice. Marvel is marketing hard on the Avengers/Guardians of the Galaxy/Inhumans phase at the moment, any characters licensed to Fox is an afterthought. I mean look at the upcoming 75th anniversary Marvel main magazine cover. There is no single mutant visible. No Wolverine, Cyclops, Storm, Night Crawler, Professor Xavier, etc. None.

Marvel-75-7d388

Instead we have a lot of Avengers, Spider-Man and three Guardians of the Galaxy. THREE characters that was two years ago no one even heard of.

Business wise, it makes sense. There is no reason promoting products in which rival studios will benefit profit from but from X-Men fans perspective, this leaves a sour taste and a sign of huge disrespect to Marvel’s own history.

I get that completely, I’m a Marvel kid since I was 13 yrs old. I grew up reading the X-Men and found them to be the most compelling and relatable superhero group. Relatable not in terms of having awesome powers but because the X-Men was the first mainstream superhero group that also had the balls to be the first multi racial superhero group that fought and bled for the people who hated them  and condemned to being an outcast as well.

Being an Asian kid, living in Australia at the time, also staying in a boarding school in an almost all white students environment brought me face to face to experiencing a lot of first hand racism, intolerance and alienation.

I never pitied myself, never ran to teachers and complained. Whatever shit I took, I faced them head on and fought them. Every. Single. Time.

The X-Men became a symbol of my struggle against bigotry, bullies, ignorance and being a minority. To this day the fight continues, even though I’m back in my own country, it has it’s own problems of religious intolerance where radicalism exist to persecute those who are in the minority.

xmen6-41

No other superhero groups have that effect on me.

Yeah sure, The Avengers is a pretty cool movie and I’m happy they are getting the spotlight but they hold no special place inside me. They’re just a bunch of super dudes with powers saving the world and basking in the glory of being the knights in shining armors instead of working in secrecy/shadows like the X-Men.

They are still vanilla as hell though and even worse they are now trying to copy what the X-Men did decades ago (as do many other superhero groups) by going the diversity/brooding/dark route.

Ultimately I just find it surreal/ironic that the parent company has been treating the X-Men like shit. Then again, it’s never been the X-Men way to be treated fairly. And this makes me love them even more.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: