Whiplash: Obsesi mencari kesempurnaan

22 Jan
Whiplash (2014)

Whiplash (2014)

 

Film-film tentang hubungan teacher/student sudah seperti genre spesifik di perfilman. Kita sebagai penonton sudah cukup nyaman dengan tipe film jenis ini karena sudah mendarah daging di benak kita. Kita sangat familiar dengan alur cerita di mana seorang figur guru dengan tidak rela (pada awalnya) musti mengajar seorang student yg dia tidak sukai atau tidak akur. Pada awal cerita, teacher dan student tidak akur dan sering timbul konflik. Tetapi pada pertengahan cerita mereka menemukan sebuh titik di mana mereka mulai mendapat kecocokan antara satu sama lain dan menghasilkan sebuah pengertian yg akhirnya mereka musti kerja sama untuk mencapai gol.

Formula ini sepertinya sudah menjadi formula yg membuat cerita mudah ketebak walaupun ceritanya solid atau kualitas filmnya bagus. We’ve all seen these type of films before so nothing is really suprising anymore, tapi ‘Whiplash’ mempunyai warna tersendiri yg membuat tonasi cerita beda. ‘Whiplash’ merubah klise hubungan teacher/student dan menjadi sensasi hit di Sundance Film Festival 2014, memenangkan audience dan grand jury awards. Film ini juga di nominasi untuk Oscar di kategori ‘Adapted Screenplay’.

Andrew Neiman (Miles Teller) adalah seorang pelajar jazz drummer berusia 19 tahun yg belajar di sekolah musik elit. Dia ingin menjadi salah satu pemain drum jazz terbaik di generasi dia. Dedikasi Neiman untuk latihan siang dan malam medapat perhatian Terence Fletcher (J.K. Simmons). Fletcher adalah salah satu guru terbaik di sekolah itu dan prestasi dia memenangkan kompetisi musik sudah tidak di pungkiri lagi.

whiplash-scream

Fletcher mengundang Neiman untuk menjadi back up drummer di band dia. Merasa bangga karena terpilih, Neiman dengan yakin akan menggantikan posisi drummer senior tetapi ketika latihan di mulai Neiman merasakan gaya Fletcher mengajar bukan seperti guru normal yg lain tapi melalui gaya manipulatif yg sangat abusive. Mood Fletcher bisa berubah drastis dari orang yg kalem dan supportive menjadi murka dan abusive. Neiman di lempar kursi karena melakukan ketukan yg salah, di hina-hina di depan student yg lain karena masih hijau dan sering melakukan kesalahan.

Tetapi masalah ini semua membuat Neiman lebih bertekad untuk kerja lebih keras supaya dia terpilih oleh Fletcher sebagai drummer tetap dan akhirnya menimbulkan konsekuensi yg fatal.

Yg membuat beda ‘Whiplash’ dengan film lain yg mempunyai cerita mirip adalah absennya momen sentimental atau ‘uplifting’ antara Neiman dan Fletcher sehingga membuat cerita tidak mudah ketebak. Saya lebih melihat hubungan mereka berdua seperti sebuah psychological warfare atau adu perang mental karena pribadi mereka yg kompleks, keras kepala dan masing-masing sangat ambisius.

whip-6

Neiman walaupun awalnya seperti orang pemalu yg kuper tetapi mempunyai sebuah tekad yg bulat untuk menjadi drummer terbaik dan obsesi dia merusak hubungan dia dengan pacarnya, Nicole. Karena menurut Neiman, Nicole akan membuat dia tidak fokus. Padahal di awal cerita, Neiman dengan gugup mengajak Nicole kencan. Di versi film standard, usaha Neiman untuk mendapatkan Nicole biasanya di bikin-bikin untuk menambahkan unsur romantis yg klise dan bertele-tele karena Neiman adalah the ‘cute but nerdy guy’ yg merasa bersyukur bisa mendapatkan Nicole. Di versi ‘Whiplash’, Neiman is the ‘asshole nerdy guy’ (mirip karakter Mark Zuckerberg di ‘Social Network’) yg merasa diri dia lebih superior dari Nicole karena dia tahu apa yg dia mau sementara Nicole tidak fokus dengan sekolahnya.

Sementara Fletcher sendiri mempunyai pribadi yg kompleks di mana dia bisa menangis di depan student-student ketika sedang latihan karena mendengar berita bahwa salah satu bekas murid dia meninggal karena kecelakaan atau bisa menjadi seorang yg lembut dan memberikan semangat yg membangun.

‘Whiplash’ mempunyai tema yg sangat jelas tentang obsesi untuk mengejar kesempurnaan dan tidak memikirkan konsekuensi terhadap orang lain yg tidak mengerti kenapa musik sangat penting bagi Neiman dan Fletcher. Ketika obsesi kedua karakter ini tidak menemui pengertian antara satu sama lain, cerita menjadi lebih intens karena telah berubah menjadi power struggle antara Neiman dan Fletcher.

Whiplash-4

Neiman merasa lebih jago dari pada drummer senior dan Fletcher tidak mau memberikan Neiman kepuasaan itu. Setiap kemajuan yg Neiman alami, dia musti melalui halangan dan abuse dari Fletcher. Karena Fletcher tidak suka dengan gaya mengajar yg menggunakan positive reinforcement dan kalaupun di gunakan hanya untuk memanipulasi Neiman.

Fletcher: “There are no two words in the English language more harmful than ‘good job’.”

Menonton ‘Whiplash’ mengejar tema mencari kesempurnaan ibarat seperti melihat pisau yg sudah tajam di asah berulang-ulang kali tetapi ketajaman itu tidak pernah cukup karena akhirnya obsesi mencari kesempurnaan adalah ilusi. Walaupun ilusi itu terasa sangat tajam dan sangat nyata.

tintascreenplay.com

Advertisements

Bandit Queen: Revolusi derajat

13 Jan
Bandit Queen (1994)

Bandit Queen (1994)

Dari semua genre film yg saya paling tidak suka kemungkinan besar adalah jenis musical dan ini mungkin yg membuat saya tidak suka film-film Bollywood karena basisnya dari musical. Walaupun saya bisa mengapresiasi film-film musical karena sudah menjadi bagian dari sejarah film, saya masih cringe ketika menonton mayoritas film tipe musical. Film adalah karya sebuah ‘suspension of disbelief’ di mana kita tahu apa yg kita tonton adalah karya fiksi dan tidak nyata. Ada sebuah bagian di otak kita yg menyetop kita untuk berteriak ,”This is all bullshit! It’s fake, all fake!”

Karena kita sudah menyetel di otak walaupun film yg kita tonton adalah fiksi tetapi karena kualitas akting yg baik dan cerita yg bisa membawa kita peduli dengan karakter, kita merelakan otak kita untuk menerima ilusi itu.

Masalah utama saya dengan genre musical adalah ketika di sebuah adegan serius tiba-tiba para aktor berubah 180 derajat dan bernyanyi/menari dengan ceria. Di momen itu batasan realita/fiksi di otak saya buyar dan mulai berteriak , “This is all bullshit! It’s fake, all fake!”

Kebanyakan orang mungkin bisa menerima realita itu tetapi bagi saya semua ilusi menjadi buyar dan akhirnya saya di paksa untuk menonton adegan nyanyi dan membuat saya menjadi bosan. Belum lagi mayoritas tema film-film musical terlalu family friendly dan crowd pleasing sehingga imej mereka sebagai film ‘penghibur’ tanpa substansi (walaupun ada yg beda seperti ‘Dancer in The Dark’ atau ‘Cabaret’) untuk membuat happy penonton dengan cerita yg gitu-gitu aja sepertinya sudah ketinggalan jaman.

Mungkin karena itu saya tidak pernah suka film-film Bollywood karena mayoritas cerita mereka terlalu di buat-buat untuk menjual kehidupan fantasi ke penonton dan juga adegan musical yg terlalu too much membuat saya hilang interest. Saya bisa enjoy film Bollywood untuk novelty value di mana saya cekikikan karena akting aktor-aktornya yg berkelebihan atau action scene yg so bad its bad it becomes super bad ass, tetapi saya tidak pernah apresiasi film Bollywood karena di otak saya selalu teriak, yup sekali lagi,”This is all bullshit!”

…sampai saya menonton ‘Bandit Queen’.

‘Bandit Queen’ tidak ada adegan musical, akting yg berkelebihan atau apa pun elemen-elemen yg membuat tipe film Bollywood. Malah bisa di bilang ‘Bandit Queen’ adalah anti Bollywood karena lebih mendekati art film yg menggigit dan meninggalkan kesan yg membuat penonton tercekam tetapi lebih menyentuh daripada mayoritas film Bollywood lain.

Based on a true story, ‘Bandit Queen’ mengisahkan cerita tentang Phoolan Devi (Seema Biswas), seorang ratu bandit yg menghebohkan India di awal dekade 1980’an. Devi membuat gempar India karena dia seorang perempuan yg berasal dari kasta rendah dan berhasil menjadi seorang pemimpin geng bandit karena menteror beberapa kota. India menjadi obesi dengan figur Devi, karena mereka belum pernah melihat seorang figur perempuan yg melawan otoriter hukum dan juga memutar balikan konsep seorang perempuan di budaya India yg di jaman itu musti menjadi figur feminin dan musti selalu tunduk oleh pria.

Perjalanan Devi menjadi seorang ratu bandit tidak mudah dan penuh derita. Dia adalah salah satu anak dari enam bersaudara, berasal dari keluarga miskin dan di paksa kawin oleh orang tuanya waktu dia berumur 11 tahun demi seekor sapi dan sebuah sepeda. Dia di paksa untuk melakukan hubungan intim dengan ‘suaminya’ yg jauh lebih tua sementara ibu sang suami mendengar di kamar sebelah. Devi selalu di ingatkan bahwa dia adalah seorang perempuan yg berasal dari kasta rendah dan dia musti bersyukur karena ada laki-laki yg mau untuk menikahnya.

Devi berontak dan kabur kembali ke orang tuanya tetapi mereka menolak untuk menerima Devi dan menyuruh dia balik. Devi akhirnya bercerai dan status dia menjadi lebih rendah dari sebelumnya. Di usir dari desanya karena dia tidak mau melayani pria dari kasta lebih tinggi, Devi protes kepada polisi tetapi malah di siksa dan di perkosa. Dia di bebaskan karena di tebus oleh seorang pemimpin bandit bernama Babu Gujjar yg merasa berhak atas diri Devi.

Devi menjadi bulan-bulanan Guijar, di sekap dan di perkosa berkali-kali sampai Vikram (tangan kanan Guijar) akhirnya bersimpati dan menolong Devi dengan membunuh Guijar dan mereka berdua menjadi pemimpin geng baru. Dimana Devi menjadi seorang bandit yg sangat mahir dan balas dendam ke suaminya yg pertama. Di sini cerita dan legenda Devi di mulai…

‘Bandit Queen’ bukan film yg menghibur atau akan membuat anda nyaman. Film ini dengan berani mengkritik budaya atau gaya hidup tradisi India dengan blak-blakan di mana perempuan berkasta rendah selalu di anggap sebagai second class citizen dan menjadi bulan-bulanan pria dan kasta yg lebih tinggi. Dimana harga diri seorang perempuan bisa di tukar dengan materi dan para penindas tidak pernah merasakan konsekuensi perbuatan mereka karena nilai-nilai budaya dan hukum tidak bernah berpihak kepada kaum yg lemah.

Transformasi Devi dari seorang gadis desa yg lugu menjadi pemimpin bandit yg garang karena diri dia di abused berkali-kali oleh kaum laki-laki bukan sekedar cerita tentang female empowerement saja tetapi bagaimana rentetan kejadian degradasi yg Devi alami yg merubah dia untuk menjadi seorang bandit queen bisa menjadikan dia sebagai sosok pahlawan untuk kaum yg tertindas. Popularitas Devi seperti seorang rock star yg mengguncang budaya india di saat itu dan mengundang banyak diskusi tentang peran seorang wanita dan sistem kasta di era modern.

Visi sutradara Shekhar Kapur (‘Elizabeth’, ‘New York, I love you’) yg cadas tetapi seperti di baluti oleh puisi sedih membuat ‘Bandit Queen’ menjadi sebuah karya yg sangat luar biasa. Ketika Devi dan Vikram mulai tertarik antara satu sama lain dan ingin berhubungan intim, Devi tidak bisa mengekpresikan dirinya dengan normal. Dia hanya bisa memukul dan bersikap kasar kepada Vikram, walaupun dia ingin sekali merasakan kelembutan. Sementara Vikram hanya bisa berdiam diri dan mencoba untuk memaklumi sikap Devi. You never see a love scene like this in Bollywood movies.

tintascreenplay.com

Why Marvel is slowly killing the X-Men

12 Oct

x-men-first-class-sequel-is-days-of-future-past

With the influx of superhero movies that have been enjoying a great renaissance period in the last decade, the average Joes don’t really care which studios produce which super hero movies. They only care about the finishing product.  Here’s where things get interesting, to the comic book fans who are more invested with the superheroes they root for, they are far more aware of what’s happening behind the scenes than the average movie goers.

Most people know the big two of the comic book industry are DC and Marvel. But within each company itself there are divisions among fans about which super heroes they root for. In the Marvel universe you get your own set of hard core fans rooting for the X-Men, The Avengers, Spider-Man, Daredevil, etc. I’m not saying one fan only goes exclusively for one superhero book, that’s silly BUT it is also highly unlikely one fan likes all the superheroes DC/Marvel has.

The Avengers fans usually keep to themselves as the X-Men fans as well. The main reason for this is taste (and money). There are a bunch of Avengers books out there as well as X-Men books. It would be downright expensive to buy all the new issues of Avengers or X-Men coming out. Not to mention each one has enormous wealth of background history within their worlds; consisting of supporting characters, main/minor supervillains, relationship between main/supporting superheroes, etc. It is fairly a daunting task to jump in to a new superhero team book. That is why most comic book readers are picky with what they read.

For a long time, the X-Men have always been cream of the crop of the Marvel universe ever since Chris Claremont era in the 1970’s. The notion of a superhero team consisting of mutants who are born different and sworn to protect the very people who hate them is such an original and downright brilliant/romantic concept. The Avengers compared to the X-Men have always been vanilla. I’m not trying to start a war with Avengers fans but the X-Men stories are far more dramatic and engaging due to this basic brilliant concept.

xmentop50

X-Men popularity has never been higher in the 1990’s backed by solid writers and brilliant artists. There was also good animation show that brought in younger generation and teaching kids the themes of prejudice, racism and intolerance, it was a pretty cool stuff for an animation show. But the roof fell down when it was announced Marvel was in financial troubles in the late 1990’s, to avoid bankruptcy Marvel had to sell the movie rights of their popular characters. They sold Spider-Man to Sony, X-Men/Fantastic Four/Daredevil to Fox. The Avengers at the time was mediocre and held no interest to major studios so they were back with Marvel.

Ironically selling off their popular characters to other studios forced Marvel to restructure their own Marvel studios to self finance their own movies to keep future rights and profits in house. It also created a strong system and culture like what Pixar did; focusing on getting to know the characters really well and making sure the stories are well developed/structured. The system in place worked so well that by their tenth film (Guardians of the Galaxy), Marvel Studios are so confident they do not need a single show runner to keep their high quality movies in check.

Other studios dropped the ball when the successful team left the franchise. When Sam Raimi left the Spider-Man franchise and Marc Webb took over, it all went to shit. When Bryan Singer left the X-Men franchise for one movie (X-Men: The Last Stand) and Brett Ratner took over, it was deemed the worst X-Men movie ever made. Now try to imagine if Christopher Nolan left the Batman and Superman franchise, Warner Bros would’ve shit blood in their pants. Marvel studios never had that problem.

Marvel relationship with Fox took turn for the worse (not so much with Sony) due to some licensing rights, that Marvel is willing to sabotage their own products in order to not helping Fox promote their next Marvel superhero movies. Marvel will cancel all The Fantastic Four comic books in 2015, due to the reason of poor sales. This argument is hard to swallow for a lot of fans. It’s true The Fantastic Four has never been a big seller compared to Spider-Man or X-Men but The Fantastic Four was the first book Stan Lee created under Marvel and the historical significance is immensely important. Pulling the plug on The Fantastic Four is basically Marvel putting up it’s middle finger at Fox and hoping the movie fails so the rights will go back to Marvel (Like Daredevil did- now Marvel is producing the TV series).

Same thing is happening with the X-Men but Marvel is going through a dilemma. It doesn’t want to piss of the hardcore comic books fans (X-Men books are still selling very well) but it doesn’t want to give Fox any help either. What Marvel can do at the moment is phasing out its support of X-Men (no animation shows, lessening merchandise/promotion, etc) but making sure the comic books fans are happy enough by giving them excellent creative teams. But is this enough?

Nowadays you need multiple media outlets to create a strong brand identity be it through a TV show, merchandising, movies, comics, etc. Marvel half assed attempt effort to promote X-Men is visible and the X-Men fans are starting to notice. Marvel is marketing hard on the Avengers/Guardians of the Galaxy/Inhumans phase at the moment, any characters licensed to Fox is an afterthought. I mean look at the upcoming 75th anniversary Marvel main magazine cover. There is no single mutant visible. No Wolverine, Cyclops, Storm, Night Crawler, Professor Xavier, etc. None.

Marvel-75-7d388

Instead we have a lot of Avengers, Spider-Man and three Guardians of the Galaxy. THREE characters that was two years ago no one even heard of.

Business wise, it makes sense. There is no reason promoting products in which rival studios will benefit profit from but from X-Men fans perspective, this leaves a sour taste and a sign of huge disrespect to Marvel’s own history.

I get that completely, I’m a Marvel kid since I was 13 yrs old. I grew up reading the X-Men and found them to be the most compelling and relatable superhero group. Relatable not in terms of having awesome powers but because the X-Men was the first mainstream superhero group that also had the balls to be the first multi racial superhero group that fought and bled for the people who hated them  and condemned to being an outcast as well.

Being an Asian kid, living in Australia at the time, also staying in a boarding school in an almost all white students environment brought me face to face to experiencing a lot of first hand racism, intolerance and alienation.

I never pitied myself, never ran to teachers and complained. Whatever shit I took, I faced them head on and fought them. Every. Single. Time.

The X-Men became a symbol of my struggle against bigotry, bullies, ignorance and being a minority. To this day the fight continues, even though I’m back in my own country, it has it’s own problems of religious intolerance where radicalism exist to persecute those who are in the minority.

xmen6-41

No other superhero groups have that effect on me.

Yeah sure, The Avengers is a pretty cool movie and I’m happy they are getting the spotlight but they hold no special place inside me. They’re just a bunch of super dudes with powers saving the world and basking in the glory of being the knights in shining armors instead of working in secrecy/shadows like the X-Men.

They are still vanilla as hell though and even worse they are now trying to copy what the X-Men did decades ago (as do many other superhero groups) by going the diversity/brooding/dark route.

Ultimately I just find it surreal/ironic that the parent company has been treating the X-Men like shit. Then again, it’s never been the X-Men way to be treated fairly. And this makes me love them even more.

tintascreenplay.com

Fires on the Plain: Salah satu film anti-perang terbaik

3 Oct

Fires on the Plain (1959)

 

“War is hell.” adalah sebuah kata-kata klise yg sering di utarkan di kebanyakan film perang tetapi makna dari kata-kata itu sendiri tidak berarti apa-apa karena akhirnya film itu lebih fokus untuk menghibur penonton  melalui bagian action dengan efek yg spektakuler  atau sering di baluti oleh pesan propaganda tentang patriotisme sehingga penonton jarang melihat sisi kebrutalan perang yg sebenarnya. Sutradara ternama Jepang Kon Ichikawa tidak interest untuk membuat film dengan visi glamor atau di bumbui dengan hanya adegan-adegan perang saja dan drama-drama perang yg standard. Dia ingin memperlihatkan sisi perang (atau anti perang) yg jarang di temui di kebanyakan film perang, dia ingin membuat film yg memperlihatkan degradasi kondisi manusia ketika mereka berada di poin yg paling rendah.

‘Fires On The Plain’ (Nobi), adalah salah satu film anti perang terbaik/ground breaking tentang kondisi neraka perang yg sebenarnya. Visi Ichikawa yg gelap, frontal dan grafis (untuk dekade 1950’an) mengundang banyak perhatian karena film perang bukan semata untuk hiburan yg penuh adegan action saja tetapi bisa memberikan sisi pandang beda di mana konsekuensi perang bukan semata hanya siapa yg menang dan kalah tetapi redupnya sisi kemanusiaan kita.

Cerita ‘Fires on the Plain’ tentang satu serdadu Jepang bernama Tamura (Eiji Funakoshi) yg bertugas di Filipina ketika Jepang berada di ambang kekalahan. Tamura di suruh oleh atasannya untuk mengungsi ke rumah sakit karena dia terinfeksi oleh TBC, dia dilarang bergabung dengan unitnya karena mereka takut akan terinfeksi oleh TBC juga. Ternyata Tamura tidak di terima di rumah sakit karena menurut dokter kondisi dia belum terlalu parah. Bingung, Tamura akhirnya bergabung dengan beberapa serdadu yg mengalami nasib yg sama dengan Tamura. Di keluarkan dari unit mereka tetapi tidak di terima di rumah sakit. Mereka akhirnya menunggu di pinggiran rumah sakit sembari nongkrong bareng dan berkenalan.

Ketika rumah sakit di bom dan hancur, Tamura dan teman-teman barunya musti mengungsi mundur. Tamura terpisah dari mereka dan tertinggal seorang diri. Dia musti melakukan perjalanan untuk mencari teman-temanya dan mengungsi ke tempat yg lebih aman. Di perjalanan, Tamura bertemu dengan bermacam karakter dari orang-orang lokal dan serdadu-serdadu Jepang lain secara acak.

Dari awal frame pertama film, serdadu-serdadu Jepang terlihat menderita karena kelaparan, gusi gigi yg membusuk meyebabkan gigi rontok, kekurangan alat dan terlihat compang-camping. Kematian dan keputusasaan selalu berada di sekitar Tamura. Kemitosan tentang tentara Jepang yg disiplin/berdedikasi ke emperor/atasan dan tidak pernah menyerah di robek lebar-lebar oleh film ini. Mereka suka komplain, pesimis dan ingin sekali menyerah ke tentara Amerika karena mereka yakin pasti dapat makanan yg layak. Mereka saling argumentasi antara satu sama lain karena hal sepele, mereka saling curiga antara satu sama lain karena setiap serdadu suka umpetin makanandan tidak mau berbagi. Ichikawa ingin membuat suatu kesimpulan yg direct; bahwa di situasi yg sangat tidak manusiawi, kemanusiaan lambat laut akan lenyap.

Puncak kesimpulan ini terjadi ketika Tamura harus berhadapan dengan temannya Nagamatsu (Mickey Curtis)dan Yasuda (Osamu Takizawa) yg menjadi kanibal dan memburu serdadu Jepang yg lain. Nagamatu sendiri yg sudah sekarat dengan TBC dan kelaparan harus memilih, apakah dia rela untuk melenyapkan kemanusiaannya untuk memburu dan memakan daging manusia juga dan bertahan hidup? atau mencoba untuk tetap waras dan mencegah Nagamatsu dan Yasuda?

Tetapi Ichikawa tidak hanya fokus saja ke tema yg kelam saja, dia juga ingin memberikan dimensi-dimensi lain dalam perjalanan Tamura. Ichikawa menampilakan framing/pemandangan natural yg indah di dalam perjalan Tamura. Pegunungan yg megah, pantai yg indah, burung-burung terbang dengan bebas dan liar, seolah Ichikawa membuat statemen yg kontras bahwa walaupun manusia berada di alam yg indah, kita selalu membuat neraka sendiri.

Juga dengan humor yg ironis, di mana Nagamatsu dan Yasuda berdebat tentang bahaya merokok sementara mereka tidak merasa ada masalah memakan manusia.

Film ini juga secara tidak langsung mengkritik Amerika, bahwa mereka juga sama biadabnya dengan tentara Jepang. Amerika menghancurkan rumah sakit Jepang dengan membabi buta dan ketika ada tentara Jepang yg ingin menyerah mereka selalu di bunuh oleh pejuang Filipina dan tidak bisa di cegah oleh tentara Amerika.

Tetapi justru dengan film yg seperti mimpi buruk yg tidak pernah reda ini, Ichikawa ingin mengingatkan kepada kita bahwa visi neraka ini sebenarnya bisa di cegah tetapi sayangnya perang sudah terlalu mendarah daging di dalam manusia.

tintascreenplay.com

Harold and Maude: Pelopor film komedi indie unik

8 Sep
Harold and Maude (1971)

Harold and Maude (1971)

 

Kalo kita ngebahas film-film komedi indie yg unik/quirky seperti ‘Juno’ atau’ Little Miss Sunshine’ pasti kebanyakan orang bilang Wes Anderson (‘The Grand Budapest Hotel’, ‘The Life Aquatic With Steve Zissou’, ‘Rushmore’) adalah masternya. Malah kebanyakan fans dia secara fanatik meng-klaim Anderson yg mempelopori genre itu. Wes Anderson memang berada di posisi unik karena di banding Quentin Tarantino dia tidak pernah mendapat masalah di tuduh menjiplak film orang lain atau menjiplak film-film yg dia kagumi dan juga figur Anderson tidak se-kontroversial/agresif Tarantino sehingga dia tidak banyak mengundang perhatian.

Walaupun sebenarnya Anderson tidak beda jauh dengan Tarantino dalam menjiplak film-film favorit dia dari jaman dulu, dan film ‘Harold and Maude’ adalah film jiplakan Anderson yg paling penting karena melalui ‘Harold and Maude’ semua style estetika Anderson berasal dari film ini; black humor, retro pop music, karakter-karakter/realita yg aneh, tema/filosofi yg kental tentang hidup keasingan, framing adegan seperti kita menonton sebuah pentasan teater (kaku & kebanyakan di wide shot).

‘Harold and Maude’ adalah film cult indie yg sangat underrated walaupun film ini yg mempelopori genre quirky indie comedy. Penulis Colin Higgins dan sutradara Hal Ashby membuat film ini di tahun 1971 ketika Amerika sedang mengalami perubahan sosial yg signifikan dan ketidak percayaan kaum muda kepada pemerintah karena perang Vietnam di puncak tinggi sehingga kaum muda banyak membuat karya-karya art yg memberontak. ‘Harold and Maude’ adalah salah satu karya yg menantang nilai-nilai “moral standard” di era 1970’an karena filmnya tentang seorang anak muda berumur 19 tahun yg jatuh cinta kepada perempuan berumur 79 tahun.

Harold (Bud Cort) adalah seorang pemuda pendiam yg berasal dari keluarga kaya tetapi mempunyai pandangan hidup yg sangat kelam. Dia terobsesi dengan melakukan adegan bunuh diri (walaupun tidak pernah berani untuk benar-benar melakukannya), bahkan ibu Harold yg sangat dominan dan cerewet sudah biasa dengan aksi Harold yg pura-pura bunuh diri. Ibu Harold sudah melakukan berbagai macam cara untuk membantu dia dengan menyuruh Harold bertemu dengan dokter spesialis dan pendeta tetapi Harold tidak berubah. Harold hanya punya satu hobi, mengunjungi pemakaman orang-orang asing. Di sana dia bertemu dengan Maude (Ruth Gordon) perempuan lansia yg juga punya hobi yg sama.

Mulai dari situ hubungan mereka terjalin dengan erat walaupun mereka berasal dari dua sisi yg ekstrim. Harold obsesi dengan kematian sementara Maude obsesi dengan kehidupan. Harold tertutup dan introvert sementara Maude sangat terbuka dan periang. Harold berasal dari keluarga yg kaya dan kaku sementara Maude seorang eksentrik yg hidup di gerbong kereta api seorang diri. Tetapi mereka mempunyai satu hal yg sama yg yg membuat mereka dekat, mereka tidak suka figur otoriter dan selalu berontak.

Harold selalu berontak kepada ibunya dan Maude berontak dengan tidak mengikuti aturan masyarakat (dia selalu mencuri/gonta ganti mobil seenak jidat atau menjadi model telanjang untuk para pelukis). Ketika ibu Harold memaksa Harold untuk menjodohkan dia dengan beberapa calon istri (melalui proses komputer yg sangat tidak personal seperti membeli daging di pasar) Harold tambah berontak, dia melakukan adegan-adegan bunuh diri di depan calon-calon istrinya sehingga membuat mereka takut dan kabur. Harold justru lebih bertambah dekat ke Maude dan pelan-pelan dia mulai mengerti arti sebenarnya untuk tidak menyia-nyiakan hidup dan keluar dari pandangan tentang hidup yg sangat tertutup dan suram, karena pandangan Maude tentang kehidupan adalah, kita bisa membentuk kehidupan seperti yg kita mau dan hidup itu adalah sangat berharga.

harold-and-maude2

 

Visi ‘Harold and Maude’ yg dari awal sepertinya sangat sensasional karena melibatkan asmara antara dua manusia yg mempunyai perbedaan umur yg jauh bukan semata untuk mengejutkan penonton dari sisi humor/sensasi saja tetapi mengejutkan karena hubungan mereka berdua di buat menjadi sangat murni dan lembut sehingga kita tidak melihat mereka sebagai pasangan yg canggung tetapi justru menjadi pasangan yg komplit untuk sesama.

Mungkin kalau dari sisi filosofinya; Harold adalah kematian, Maude adalah kehidupan. Di gabung mereka membuat siklus hidup menjadi komplit.

Poin ini di simpulkan di scene yg sangat menyentuh ketika Maude menerangkan ke Harold tentang bunga matahari.

Maude: “I think much of the world’s sorrow is from people who think they’re this, but allow themselves to be treated as that.”

Maude dan Harold ternyata berdiri di lapangan bunga matahari di tengah-tengah kuburan.

Klasik.

tintascreenplay.com

19 timeless Robin Williams quotes

19 Aug

1.”You’re only given one little spark of madness. You mustn’t lose it.”

 

2. “Do you think God gets stoned? I think so … look at the platypus.”

 

3. “See, the problem is that God gives men a brain and a penis, and only enough blood to run one at a time.”

 

4. “When in doubt, go for the dick joke.”

rw2

5. “We don’t read and write poetry because it’s cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering – these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love – these are what we stay alive for.” (John Keating- Dead Poets Society)

 

6. “You could talk about same-sex marriage, but people who have been married say ‘It’s the same sex all the time.'”

 

7. “Never fight with an ugly person, they’ve got nothing to lose.”

 

8. “Comedy is acting out optimism.”

 

9. “No matter what people tell you, words and ideas can change the world.” (John Keating- Dead Poets Society)

rw6

10. “In America they really do mythologise people when they die.”

 

11. “Reality is just a crutch for people who can’t cope with drugs.”

 

12. “Cocaine is God’s way of saying you’re making too much money.”

rw4

13. “It’s a wonderful feeling when your father becomes not a god but a man to you- when he comes down from the mountain and you see he’s this man with weaknesses. And you love him as this whole being, not as a figurehead.”

 

14. “But only in their dreams can men be truly free. It was always thus and always thus will be.” (John Keating- Dead Poets Society)

 

15. “I believe that once we are all gone, Keith Richards will still be here…with 5 cockroaches saying ‘you know I smoked your uncle, did you know that?'”

rw3

16. “People say satire is dead. It’s not dead; it’s alive and living in the White House.”

 

17. “You will have bad times, but they will always wake you up to the stuff you weren’t paying attention to.”

 

18. “I used to think the worst thing in life was to end up all alone, it’s not. The worst thing in life is to end up with people who make you feel alone.”

 

19. rw5

tintascreenplay.com

 

Return to Nuke ‘Em High Volume 1: Film cult sakit

6 Aug
Return to Nuke 'Em High Volume 1 (2013)

Return to Nuke ‘Em High Volume 1 (2013)

 

‘Return to Nuke ‘Em High Volume 1’ adalah sebuah film lanjutan dari film ‘Nuke’Em High’ (1986). Film ini adalah kreasi sutradara/penulis Llyod Kaufman, seorang maestro film-film cult low budget yg berfokus ke genre horror, sex, comedy dan gore (melalui perusahaan dia Troma studios). Kalau anda pingin nonton film trashy yg so bad its good…film-film Kaufman sangat cocok untuk itu.

Tetapi kontribusi Llyod Kaufman untuk sinema sebagai pembuat film cult (‘The Toxic Avenger’, ‘Squeeze Play!’) bukan saja karena membuat film yg dia mau tanpa peduli pasar mainstream tetapi juga karena menginspirasikan generasi filmmaker berikutnya seperti James Gunn (‘Guardians of the Galaxy’, ‘Super’, ‘Slither’). Sebelum James Gunn sukses dengan ‘Guardians of the Galaxy’ dia bekerja lama sebagai penulis untuk film-film Llyod Kaufman. Seperti maestro-maestro film cult lainnya (Roger Corman, John Waters, Russ Meyer) yg juga menginspirasi atau membimbing sutradara-sutradara yg akan merubah mainstream seperti Martin Scorsese, Francis Ford Coppola dan Michael Moore. Humor Kaufman yg sedikit sadis/absurd dan watak yg sangat independent sudah menjadi bagian dari Gunn juga.

‘Return to Nuke ‘Em High Volume 1’ sendiri memang melanjutkan konsep film ‘Nuke ‘Em High’ yg sangat trashy dan over the top. Sebuah perusahaan tenaga nuklir bereksperimen dengan makanan toxic dan memberikannya ke pelajar-pelajar di sekolah. Ternyata makanan yg terkontaminasi itu membuat pelajar-pelajar berubah menjadi karakter/karakter yg bermutasi. Beberapa pelajar culun dari glee club (ya, menyindir glee serial TV) berubah menjadi mutan-mutan punk yg sangar bernama Cretins dan menteror Tromaville High School. Bisakah sepasang pelajar lesbian Chrissy (Asta paredes) dan Lauren (Catherine Corcoran) menyelamatkan situasi?

Bagi saya, visi Kaufman yg anarkis dan tidak beraturan ternyata mempunyai visi yg cukup kritikal tentang budaya Amerika. Dari obsesi remaja amerika dengan sex & violence, perbedaan kasta di sekolah, perusahaan energi yg tidak peduli lingkungan sampai hal-hal yg tabu seperti kejadian penembakan yg di lakukan oleh remaja-remaja di Amerika di jadikan sebagai guyon menyindir. Kalau film-film parodi seperti ‘Scary Movie’ memang di anggap sebagai sampah yg tidak ada nilai karena candaannya terlalu maksa dan memang tidak lucu, ‘Return to Nuke ‘Em high Volume 1’ adalah film parodi yg lebih berani dan lebih offensive karena sangat absurd, hyperreal dan ultimately memang benar-benar sakit.

B-movie ini mempunyai sebuah karisma yg bagi saya sudah jarang di dapati di film-film era sekarang. Karisma tentang the joy of filmmaking. Energi Kaufman yg maniak sangat terasa di karya ini dan sepertinya menular ke aktor-aktornya.

Yes, it’s trashy. Yes, it’s over the top cheesy. Yes, it’s offensive with cartoon violence and gore. But damn, it’s an anarchist kinda fun.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: