Fargo: Cerita rakyat versi modern

26 Jul

fargo

 

Pertama kali saya mendengar film klasik Coen Brothers ‘Fargo’ akan di jadikan serial TV, reaksi pertama saya cukup pesimis dan menggerutu. Kenapa musti ‘Fargo’? Hollywood Kehabisan ide lagi? Saya tidak mempunyai ekspektasi, malah menunggu worst case scenario di mana serial itu akan jadi bahan olokan dan di bantai kritik.Tetapi sesuatu yg tidak terduga terjadi, serial TV ‘Fargo’ malah mempunyai identitas sendiri yg kuat dan menjadi pujaan kritikus sebagai salah satu serial TV terbaik di 2014. Ketika saya menonton, saya terpukau dan mengerti, ‘Fargo’ memang di takdirkan untuk menjadi serial TV yg brilian.

Di era keemasan serial TV di mana cerita yg original dan karakter yg kompleks kebanyakan hijrah ke TV dan bukan ke sinema lagi, ‘Fargo’ berada di momen yg tepat. Film-film Coen Brothers yg dari dulu tidak pernah mau tunduk dengan mainstream sinema dan cerita-cerita yg lagi trendy selalu membuat karya-karya mereka seperti orang terasing, tetapi justru di jaman sekarang mendapatakan tempat yg cocok di cable TV.

Perbedaan Fargo the movie dan Fargo TV series tidak terlalu menonjol bahkan Fargo TV series seperti menjadi sebuah ekstensi dari dunia Fargo the movie (walaupun cerita dan karakternya tidak ada hubungan antara film dan TV). Semua trademark Coen Brothers yg khas terasa di serial ini; dark humor, karaker-karakter yg unik, tonasi cerita yg kelam dan twist-twist yg mengejutkan serta tema tentang sifat manusia yg penuh kontradiksi di perdalam di serial Fargo.

Fargo5

Basis cerita’ Fargo’ cukup simpel dan familiar di awal cerita, seorang loser bernama Lester Nygaard (Martin Freeman) terjebak dengan kehidupan monoton, pernikahan yg buntu dan tidak pernah sukses. Istrinya secara pasif/agresif selalu mengecilkan Lester, dia sering membandingkan kehidupan Lester yg pas-pasan dengan adik Lester yg sukses. Ketika Lester bertemu dengan seseorang dari masa lalunya, seorang bully yg sering menyiksa Lester sewaktu jaman sekolah. Pertemuan mereka membuat Lester masuk rumah sakit (dengan cara twist Coen yg klasik dan tidak terduga).

Ketika Lester menunggu di emergency room dengan hidung yg patah, dia bertemu dengan Lorne Malvo (Billy Bob Thornton). Seorang pembunuh bayaran dari luar kota yg kebetulan sedang melakukan sebuah ‘job’ dan kebetulan ingin membantu Lester. Malvo dengan tenang menawarkan jasanya untuk membereskan si bully. Dalam dilema sesaat, Lester membuat keputusan yg merubah hidupnya sejak saat itu.

Sepertinya ‘Fargo’ mempunyai sedikit kesamaan dengan ‘Breaking Bad’ di mana seorang guru kemistri yg culun merubah nasibnya dengan menjadi pembuat drugs. Lester sendiri melewati garis ‘moralitas’ ketika dia membunuh istrinya dan dengan tidak sengaja membantu Malvo membunuh seorang polisi di waktu yg bersamaan. Ironisnya Kehidupan Lester justru semakin baik ketika dia melakukan hal-hal yg illegal, dia mendapatkan promosi, istri kedua yg lebih suportif, dia semakin percaya diri,dsb.

Fargo2

Kalau nuansa ‘Breaking Bad’ lebih dekat dengan bagaimana seorang individu bisa merubah nasibnya karena kerja keras dengan menggunakan talenta briliannya melalui ilmu modern (kemistri, logika, pengetahuan) dan kepercayaan diri. ‘Fargo’ mempunyai nuansa ‘cerita rakyat’ modern. Di mana sepertinya ada sebuah kekuatan yg tidak terlihat menentukan nasib Lester untuk bertemu dengan Malvo; di mana kekuatan murni yg jahat seperti Malvo datang ke kota kecil di mana Lester tinggal dan memporak-porandakan kehidupan karakter-karakter di situ seperti takdir untuk membuat sebuah kisah/cerita peringatan.

Tetapi ‘Fargo’ tidak mempunyai unsur supernatural yg blak-blakan karena itu bukan gaya Coen Brothers. Di dunia Coen Brothers, kehidupan karakter-karakter mereka yg sepertinya bertemu secara acak/kacau mempunyai sebuah makna yg dalam, there is a pattern in the middle of chaos. Kejadian yg acak mempunyai sebuah makna yg tertentu. Dan ini yg membuat ‘Fargo’ mempunyai tema yg lebih luas. Kenapa orang jahat selalu menang? Kenapa sukses musti berarti orang bersikap brutal? Kapan kekuatan baik mengimbangi kekuatan jahat? Apa yg orang baik musti lakukan ketika kegelapan datang dan menyelimuti mereka?

Mungkin ini sedikit membingungkan kenapa saya membandingkan ‘Fargo’ dengan ‘Breaking Bad’ tetapi bagi saya penting karena perbandingan ini yg membuat awal cerita mereka berangkat dari tempat yg sama tetapi sampai di tujuan yg berbeda. Kita sebagai penonton sudah terbiasa dengan konsep “anti-hero” di mana si hero melakukan hal yg tidak mulia untuk kepentingan yg lebih besar. Walter White di ‘Breaking Bad’ menjadi pembuat drugs/kriminal karena dia terkena kanker dan ingin mengumpulkan uang untuk keluarganya sebelum dia mati. Kita mengerti dengan motivasi dia karena jika keadaan mendesak, kebanyakan dari kita juga melakukan hal yg sama.

Fargo4

Di ‘Fargo’ awalnya kita bersimpati dengan Lester, karena dia seorang loser yg selalu tidak beruntung selama hidupnya. Kita menjagoi Lester ketika dia di bully sama teman sekolahnya, kita senang melihat si bully di bantai Malvo, kita bahkan masih mengerti motivasi Lester ketika dia membunuh istrinya karena dia sudah bertahun-tahun di tindas. Tetapi Ketika Lester semakin terlibat dengan Malvo dan setiap masalah di selesaikan dengan licik oleh Lester demi kepentingan dia pribadi, kesimpatian kita terhadap Lester semakin berkurang dan esensi Lester yg paling dasar ternyata adalah seorang pengecut yg membuat kita mual.

Semakin Lester sukses karena kelicikannya semakin kita membenci Lester dan ini membuat ‘Fargo’ brilian. Kita benci Lester tetapi kita tidak bisa tidak melihat Lester karena kita ingin tahu seberapa jauh Lester bisa bertahan hidup? Apalagi ketika dia merasa tidak perlu Malvo lagi dan dengan belagu menantangnya.

Mungkin juga kesuksesan ‘Fargo’ di mulai dari pengertian unsur yg lebih dasar di mana kekuatan cerita mempunyai efek yg powerful semenjak manusia bisa berimajinasi dan berkomunikasi. Dimana cerita rakyat seperti Malin Kundang telah menjadi sebuah legenda cerita yg tidak pernah punah karena menjadi sebuah cerita peringatan. Di era sekarang, ‘Fargo’ masih bisa membuat cerita rakyat dengan versi modern tetapi langsung terasa intim karena ceritanya terasa abadi karena mungkin kita sudah pernah mendengarnya.

tintascreenplay.com

Advertisements

8 film klasik yg hampir tidak jadi

13 Jun

Bicara blak-blakan, industri film adalah salah satu industri yg paling tidak bisa di prediksi. ‘Formula’ untuk membuat film sukses memang banyak di terapkan dalam pembuatan film (Cerita yg menarik, sutradara handal, aktor yg sedang terkenal, dsb) tetapi ini masih belum garansi bahwa film itu akan menjadi sukses.  Intinya membuat film adalah tebak-tebakan. Kebanyakan film yg tayang di bioskop tidak untung dan banyak sekali elemen yg membuat film gagal (Script yg lemah, akting yg terbatas, cerita yg standard, distribusi yg tidak sehat, film tidak punya visi, campur tangan investor, masalah personal, dsb). Tetapi kadang-kadang, perjalanan sebuah film yg nyaris tidak terjadi karena beragam masalah justru membuahkan hasil karya yg menjadi klasik dan membuat film itu legendaris.

 

1. Citizen Kane (1941)

Film yg selalu di nobatkan sebagai film terbaik di sepanjang masa ini hampir tidak tayang karena perseteruan antara sutradara/penulis/aktor Orson Welles dengan konglomert media di jaman itu, William Randolph Hearst. Background Welles adalah seorang sutradara teater jenius dan ‘Citizen Kane’ adalah film debut pertama dia. Welles mendapat inspirasi untuk membuat ‘Citizen Kane’ setelah bertemu dengan Hearst. Ketika ‘Citizen Kane’ akan tayang, Hearst mendapatkan masukan bahwa film ini menyindir sosok Hearst. Tersinggung, Hearst mencoba untuk membeli ‘Citizen Kane’ dan memboikot penayangan film. Hearst juga memerintah seluruh media masa milik dia (surat kabar, radio) untuk melakukan black campaign. Walaupun ‘Citizen Kane’ mendapatkan sembilan nominasi Oscar, film ini anjlok karena mendapatkan kampanye negatif dari Hearst. Untungnya film ini di tayang kembali di tahun 1950’an dan statusnya sebagai film masterpiece akan selalu abadi.

 

2. Breakfast at Tiffany’s (1961)

Film yg membuat Audrey Hepburn menjadi bintang ini hampir gagal produksi karena masalah awal di  casting. ‘Breakfast at Tiffany’s awalnya adalah sebuah novel laris karangan Truman Capote tentang cerita seorang ‘wanita malam’. Capote menyarankan Marilyn Monroe sebagai peran utama, Monroe menolak karena tema filmnya terlalu kontroversial untuk dia. Ketika Hepburn terpilih, Capote sangat marah dan tidak setuju. Produksi menjadi kacau, beberapa sutradara dan penulis di pecat, lagu ‘Moon River’ yg klasik hampir tidak terjadi dan Capote bahkan sempat bersikeras ingin menjadi pemeran utama laki-laki. Sebuah keajaiban film ini akhirnya selesai produksi dan menjadi sukses.

 

3. Batman (1989)

Di tahun 1979, produser dan fans berat buku komik Michael Uslan membeli hak cipta untuk membuat film Batman. Dia mempunyai visi bahwa Batman adalah seorang hero yg dark dan serius tetapi studio-studio Hollywood di saat itu menganggap ide film superhero yg dark dan lebih dewasa adalah ide konyol. Mereka lebih suka versi Batman TV seri yg campy dan di desain untuk anak kecil. Uslan tidak menyerah dan dia berjuang gigih selama sepuluh tahun untuk membuat versi Tim Burton. Walaupun versi Nolan lebih greget dan modern, Tim Burton yg membuka jalan terlebih dahulu bahwa film superhero bisa sukses walaupun lebih dark dan edgy.

 

4. Apocalypse Now (1979)

 

Salah satu film terbaik tentang perang Vietnam ini hampir tidak selesai. Francis Ford Coppola menggadaikan seluruh hartanya untuk membuat film ini karena over budget dan studio tidak mau menambahkan budget. Harvey Keitel di pecat dari pemeran utama di tengah produksi dan di gantikan oleh Martin Sheen sehingga must shoot ulang. Sheen mengalami serangan jantung dan nyawanya sempat terancam. Bencana seperti badai taifun dan kebakaran menghancurkan set film. Pemerintah Filipina tiba-tiba menarik helikopter-helikopter yg sedang shooting karena ada situasi darurat di mana tentara Filipina sedang berperang melawan pemberontak. Coppola mengalami nervous breakdown berkali-kali. Crew film dan aktor-aktor mulai sering memakai alkohol dan drugs. Coppola sendiri mengatakan,”We were in the jungle, there were too many of us, we had access to too much money, too much equipment, and little by little, we went insane.”

 

5. Toy Story (1995)

Tekanan di pihak Pixar untuk membuat film animasi CGI pertama sangat berat karena pihak Disney tidak suka dengan film rough cut pendek yg di presentasikan. Karakter Woody dan Buzz Lightyear awalnya sangat tidak bersahabat bahkan cukup kejam dan menyebalkan sehingga Disney hampir memutuskan untuk tidak melanjutkan produksi karena biayanya terlalu mahal dan masih dalam tahap experimen. Untungnya, Pixar mendapatkan kesempatan kedua dan beberapa bulan kemudian mereka membuat karakter Woody dan Buzz lightyear lebih bersahabat seperti yg di versi film sekarang. Sukses ‘Toy Story’ melahirkan film-film generasi animasi baru yg murni dari computer generated dan membuat Pixar menjadi trend setter.

 

6. China Town (1974)

Cerita ini cukup unik karena lebih tentang masalah pribadi. Sutradara Roman Polanski mendapat dukungan penuh dari studio, aktor Jack Nicholson dan juga produser-produser lain. Cerita musti di shooting di Los Angeles dan Polanski hampir tidak  mau. Beberapa tahun sebelumnya, istri Polanski, Sharon Tate (yg sedang hamil) dan beberapa temanya secara brutal di bunuh oleh Charles Manson dan kelompok cultnya. Kejadian ini menggemparkan Hollywood/Amerika dan tentunya membuat Polanski trauma. Setelah berpikir lama, Polanski akhrinya mau shooting di Los Angeles dan hasilnya ‘China Town’ menjadi film Polanski yg paling terkenal.

 

7. The Wizard of Oz (1939)

Wizard-of-Oz-Caps-the-wizard-of-oz-1739011-720-536

 

Masalah produksi yg berbelit-belit hampir membuat film ini gagal. Script film ini di revisi berulang-ulang oleh 16 penulis yg berbeda-beda. Ketika film selesai, empat sutradara telah bekerja di film ini. Aktor pertama yg memainkan The Tin Man musti masuk rumah sakit karena make up warna perak yg menghiasi mukanya masuk ke dalam paru-paru. Aktor yg memerankan peran Wicked Witch mengalami luka bakar yg cukup serius di adegan ketika dia memasuki  awan yg berasap, belum lagi rumor tentang salah satu karakter Munchkin yg menggantungkan diri di set film.

 

8. The Avengers (2012)

 

avengers

Ok, mungkin cerita ini agak sedikit menyimpang tetapi bagi saya sangat unik. Kita tahu Stan Lee (dan juga Jack Kirby) adalah pencipta karakter-karakter Marvel yg ikonik. Sebelum karakter-karakter Marvel lahir, Stan Lee memang sudah bekerja di perusahaan buku komik tetapi dia membenci pekerjaannya karena cerita dan karakter-karakternya sangat pasaran dan bosnya Stan Lee di saat itu memang tidak punya imajinasi yg lebih kreatif. Stan Lee ingin membuat karya-karya novel yg lebih serius dan dia sudah bertekad untuk mengundurkan diri dari industri penerbitan buku komik.

Ketika Stan Lee bercerita ke istrinya, si istri menyarankan Stan Lee untuk mencoba menulis satu judul lagi tetapi tulis yg Stan Lee mau bukan mengikut perintah bos. Stan Lee berpikir sesaat dan mau mencoba. Walaupun nanti hasilnya tidak memuaskan dan dia di pecat, paling tidak Stan Lee sudah mencoba sesuatu yg dia mau. Stan Lee menulis Fantastic Four dan ternyata laku keras. Kesuksesan Fantastic Four membuat Stan Lee menulis The Avengers, Spider-Man, The Hulk, Daredevil, X-Men dan akhirnya merevolusi industri buku komik.

tintascreenplay.com

A letter to Eva (Neon Genesis Evangelion)

18 May

 

Hey Eva, I just want to say it’s been ages since I’ve seen you. I don’t know why I’m writing to you, I just want to say you’re an awesome anime series. I’m not pretending I’m some kind of otaku geek because I’m not but I do know that your series is considered one of the best anime series ever made (even being studied by scholars) because it took something that’s familiar and turned it over it’s head and fucked with a lot of people’s heads.

It would be impossible and not practical for me to write everything I like about you but I’m just lucky to have seen you and you basically made a believer out of me that anime series could have serious weight in the kind of story being told without resorting to the same old things being rehashed over and over again.

First time I saw you, I thought it was gonna be a standard typical story about giant mechas fighting monsters. After watching the first episode, I knew you’re not a typical anime series. There was something a bit off about you but it was unique and after watching the last episode, I was suffering from a permanent mindfucked.

Before watching you, I tried to immerse myself with Japanese anime and even went to a weekly screening at UWA (University of Western Australia) where they showed the latest anime series from Japan. I liked the experience, it was cool and geeky and filled with a lot of hardcore fans. They showed all kinds of stuff but for some fucking reason they kept showing lots of fucking Sailor Moon stuff, fucking hell…I never understood people’s fixation with pubescent school girls showing their knickers while fighting monsters. I wanted to see some crazy manga shit not some overtly cutesy girly shit that made me nauseous. Hey some people like that stuff, good for them. Some people also like to put their finger up their butt and sniffing it to give them natural high.

The thing is even the cool stuff like ‘Akira’, ‘Ghost In The Shell’, ‘Fist of North Star’, ‘Ninja Scroll’ and many more were great and exciting but they never really took the story to an uncharted territory like you did. I know the guy that made you had some sort of nervous breakdown/mental problems, and it really showed through. Maybe I’m damaged and screwed up for liking fucked up stuff but to me there is something truthful and pure about fucked up things. It’s when you look at movies/art or reading novels/comics or listening to music that is not afraid to explore vulnerable and fragile things, it makes you feel alive because it feels honest and honesty in pop culture is a rarity.

I guess anime would be the last place you’d expect to experience such a high degree of sophisticated complex view on the fragility of the human mind but Eva you pulled it off.

I know that through the main protagonist, Shinji, a lot of your creator’s anxiety is reflected through him. I know that in the basic rule of anime, the main protagonist usually is full of fire, brave, optimistic and high spirited. But Shinji is not like that isn’t he? He is meek, full of doubts and angst ridden and has a fucked up relationship with his father which stems a lot of his high insecurities.

Unfortunately, Shinji has a unique synchronization with an EVA unit which makes him one of the few people in this world who can pilot an EVA and he doesn’t want that responsibility. Who does? If you’re an unstable and emotionally wrecked 14 yr old who is being forced to pilot a mecha because the fate of the world depends on you and you have to fight badass alien monsters every week, would you feel optimistic and brave? Fuck no. You’d feel the weight of the world on your shoulder, that’s a given.

This unique approach to anime practically revolutionized how stories can be told. Your main protagonist doesn’t have to be good/pure/kind/brave all the time, they can be screwed up and filled with doubts and anxieties but still manage to tell compelling stories because they feel and act like a human being not just some cool looking anime characters who are invincible. And I guess that’s what’s being missing from a lot of anime series is the lack of humane quality characters.

Warning: Spoiler ahead.

And of course, talking about Neon Genesis Evangelion wouldn’t be complete without mentioning Rei Ayanami. You know how some people got unhealthy obsession with anime characters like I mentioned earlier? Well it almost happened to me with Rei. It’s not exactly clear what it is about her that made people tick. She doesn’t exude flirty sexuality like a lot of female anime characters, far from it. She is aloof, distant and shows no emotions. She has no past, no identity. She pilots an EVA unit but she’s also not a go getter type of fighter. She is obedient, efficient and a clone of Shinji’s dead mother.

Yes, a teenage clone version.

Apparently Shinji’s father also clones EVA pilot from his dead wife. To top it off Shinji develops feelings towards Rei and it leads to a complicated sexual Oedipus tensions. I’ve never seen a more original love story in anime than here.

I guess she is cool because she’s an enigma and mysterious and something is not completely right about her and yet we like her because we want a better life for her and we also think Shinji’s father is a complete asshole. But ultimately we like her because we want her and Shinji to feel less alone, we want her to be complete and normal for a bit. We want them to be free, because they deserve it.

So Eva, thanks for sharing us your vision. I still haven’t seen anime series since yours with so much depth in exploring characters struggling with their fragile psyches and at times it felt like watching some deep poetic art films only with cool mechas and crazy ass monsters thrown in the mix. When I do, I’ll always compare it to you, that’s a given.

tintascreenplay.com

15 Perfect Shots

11 May

1. Contempt (1963)

     DoP: Raoul Coutard

     Director: Jean-Luc Godard

ps31

 

2. Aliens (1986)

     DoP: Adrian Biddle

     Director: James Cameron

ps19

 

3. Days of Heaven (1978)

     DoP: Néstor Almendros

    Director: Terrence Malick

ps12

 

4. Enter the Dragon (1973)

     DoP: Gil Hubbs

     Director: Robert Clouse

ps7

 

5. Cool Hand Luke (1967)

     DoP: Conrad L. Hall

     Director: Stuart Rosenberg

ps11

 

6. Planet of the Apes (1968)

     DoP: Leon Shamroy

     Director: Franklin J. Schaffner

ps16

 

7. Blow-Up (1966)

      DoP: Carlo Di Palma

      Director: Michelangelo Antonioni

ps18

 

8. Goodfellas (1990)

     DoP: Michael Ballhaus

     Director: Martin Scorsese

ps25

 

9. Carrie (1976)

      DoP: Mario Tosi

      Director: Brian De Palma

ps4

 

10. The Dark Knight (2008)

        DoP: Wally Pfister

        Director: Christoper Nolan

ps5

 

11. Psycho (1960)

       DoP: John L. Russell 

       Director: Alfred Hitchcock

ps2

 

12. He Got Game (1998)

        DoP: Ellen Kuras and Malik Hassan Sayeed 

        Director: Spike Lee

ps6

 

13. The Apartment (1960)

        DoP: Joseph LaShelle

        Director: Billy Wilder

 

14. Lost in Translation (2003)

        DoP: Lance Acord

        Director: Sofia Coppola

ps9

 

15. Fight Club (1999)

       DoP: Jeff Cronenweth

       Director: David Fincher

Source: Perfect Shots

tintascreenplay.com

The Bicycle Thief: Refleksi kenyataan tanpa menggurui

2 May

The Bicycle Thief (1948)

 

Banyak orang berpendapat menonton film adalah sebuah hiburan semata, tidak lebih-tidak kurang. Banyak orang berpendapat menonton film musti punya banyak action/special fx/super hero, karena mereka tidak mau melihat realita di film. Ada juga yg berpendapat film musti realistis dan penuh dengan pesan-pesan ‘mendidik’ dan menggurui sehingga menghantam penonton bertubi-tubi dengan pesan-pesan moral yg mendekati propaganda. Ada juga yg berpendapat film bisa menjadi sebuah alat untuk membuat cerita yg sangat inspiratif, berbobot dan menjadi refleksi kehidupan yg nyata tanpa musti jatuh ke jurang ‘menggurui’ atau terlalu di buat-buat. ‘The Bicycle Thief’ adalah film yg termasuk di kategori terakhir.

‘The Bicycle Thief’ di sebut sebagai salah satu film penting/terbaik dari gerakan Italian neorealism atau gerakan film yg mencoba untuk membuat cerita se-realistis mungkin (fokus ke kaum buruh/kelas bawah) setelah pasca perang dunia II. Itali pasca perang dunia II (dan kebanyakan negara di eropa) mengalami fase kehancuran di semua bidang. Politik yg tidak stabil, ekonomi yg nyaris lumpuh, kelaparan di mana-mana dan minimnya lapangan kerja sehingga membuat rakyatnya putus asa.

Cerita ‘The Bicycle Thief’ awalnya kelihatan sangat simpel (seorang bapak mencari sepedanya yg hilang) dan tidak menarik. Tetapi film ini sanggup menggugah hati penonton sampai frame terakhir karena perjuangan si bapak untuk menghidupi keluarganya tergantung kepada sepedanya yg hilang/tercuri. Dan juga visi sutradara Vittorio De Sica yg dengan lihai dan sensitif memperlihatkan situasi/keputusasaan rakyat Itali di masa itu (khususnya kaum kelas bawah) bukan dengan cerita yg sok semangat untuk ‘menginspirasikan’ bangsa tetapi inspiratif karena memperlihatkan kondisi manusia yg kompleks dan sebenarnya di saat-saat genting.

Ricci (Lamberto Maggiorani) seorang pengangguran yg selalu mengantri untuk mencari pekerjaan kasar setiap hari mendapat kesempatan untuk bekerja, syaratnya dia musti mempuyai sepeda. Ricci dengan semangat menyatakan dia punya sepeda dan mendapatkan kerjaan. Sebenarnya sepeda Ricci di gadaikan untuk sementara, Ricci dengan gembira memberikan kabar baik ke istrinya, Maria (Lianella Carell). Untuk menebus sepeda, Maria musti menggadaikan sprei tempat tidur (harta mereka terakhir). Ricci mulai bekerja sebagai pemasang poster film di berbagai tempat di Roma, tetapi di suatu saat sepedanya di curi. Ricci membawa anaknya yg masih kecil, Bruno (Enzo Staiola) untuk membantu mencari pencuri/sepeda mereka di kota Roma yg liar.

Visi De Sica yg ingin membuat dunia se-otentik mungkin sehingga dia menggunakan orang-orang awam yg tidak mempunyai pengalaman berakting sebagai aktor dan shooting di lokasi yg nyata tanpa menggunakan studio/rekonstruksi set. Yg juga ironis, pekerjaan Ricci memasang poster film-film Hollywood yg glamor sangat berbeda dengan visi neorealism yg suram. Sehingga ketika kita mengikuti perjalanan Ricci dan Bruno bertemu dengan bermacam lapisan masyarakat (polisi yg tidak simpatik, pemukim di rumah bordil, orang-orang sedang berdoa di gereja, orang-orang berkonsulatsi dengan ‘orang pintar’), mereka seperti sepasang ‘tour guide’ di mana melalui mereka kita benar-benar memahami psikis masyarakat buruh Itali ketika sedang mengalami musim yg berat.

Dimana karena ganasnya kehidupan, mereka musti berlomba-l0mba/nyikut menyikut satu sama lain untuk berjuang hidup atau berbondong-bondong menemui orang pintar (di scene yg sangat familiar untuk orang kita) untuk mendapatkan harapan palsu atau menyerah pasrah dengan ekspresi yg letih di gereja.

Yg membuat film ini menjadi sebuah karya klasik adalah tema di film ini sangat tersembunyi dan ketika penonton mengerti maksud sebenarnya membuat film ini jauh lebih powerful. Di satu sisi, film ini secara blak-blakan memberikan gambaran yg jelas tentang perbedaan kelas di mana kaum buruh Itali pasca perang dunia II mengalami masalah ekonomi yg sangat sulit. Di suatu scene yg tidak terduga, Ricci sudah muak dengan mencari sepeda tiba-tiba membawa Bruno ke restoran untuk menikmati makanan yg nikmat dengan uang mereka yg terakhir. Bruno memandang ke meja sebelah di mana sebuah keluarga yg berkecukupan menikmati makan malam mereka seperti sesuatu hal yg biasa, sementara bagi Bruno dan Ricci ini mungkin terakhir kali mereka makan.

Di sisi yg lebih tersembunyi lagi, film ini mempunyai statement yg kuat tentang kemiskinan; manusia bisa kehilangan sisi kemanusiaannya dan ini lebih berbahaya. Tema ini di simbolkan oleh Ricci di mana semakin frustasi dia mencari sepedanya, semakin galak perlakuan dia kepada Bruno. Fokus Ricci untuk mencari sepeda (materi) membuat dia mengabaikan hal yg jauh lebih penting yaitu anaknya. Sementara Bruno seperti malaikat mungil yg selalu membantu Ricci atau sebagai suara hati nurani Ricci yg masih baik.

Tentunya De Sica menyembunyikan hal ini dengan pintar karena dia menolak untuk membuat hubungan bapak dan anak menjadi sesuatu hal yg melodramatis atau terlalu di buat-buat, malah De Sica membuat hubungan mereka menjadi sebuah simbol perjuangan hidup yg sangat nyata dan bukan versi Hollywood di mana mayoritas cerita kebanyakan di baluti oleh tonasi yg terlalu sentimental atau terlalu manis. Di versi neorealism, semua aksi dan konsekuensi di dunia ‘The Bicycle Thief’ selalu menghasilkan hasil datar yg memilukan tetapi nyata dan sangat manusiawi. Tidak lebih, tidak kurang.

tintascreenplay.com

Hana-bi: Puitis kebrutalan

15 Apr

 

Hana-bi (1997)

Hana-bi (1997)

 

Mungkin satu kata yg tepat untuk men-describe Hana-bi (yg artinya kembang api) adalah bipolar atau perubahan mood yg ekstrim dalam sekejap. Dari satu scene yg minimalis dan statis tiba-tiba berubah menjadi violent, shocking dan agresif. Hana-bi adalah kreasi Takeshi “Beat” Kitano, seorang penulis/sutradara yg sangat populer di Jepang. Kitano terkenal dengan memainkan peran-peran gangster Yakuza atau polisi-polisi yg agresif seperti Dirty Harry.

Yg membuat Kitano unik dari pembuat film lain (Jepang atau luar negeri) adalah dia mempunyai keahlian observasi yg detail dalam membuat cerita secara minimalis tetapi tiba-tiba meledak dengan kekerasan yg cepat dan realistis. Anda tidak akan menemukan action dengan koreografi yg ‘indah’ dan kompleks, action di film Kitano seperti pedang Kitana; cepat, akurat dan mematikan.

Gaya dan mood film Kitano yg minimalis dengan menggunakan set up kamera yg simpel dan kebanyakan statis seperti membuat framing lukisan; semua elemen di gambar di kontrol ketat, semua ada maksud tetapi setiap saat kontrol itu bisa hilang dalam sekejap dan menjadi beringas. Kitano ingin menyampaikan sebuah ekspresi bahwa gaya dia yg khas ini mempunya kritik yg dalam tentang masyarakat Jepang. Yg dari luar kelihatan teratur, tidak emosional, rapi dan penurut tetapi selalu memendam perasaan yg bergejolak dan bisa meledak ketika tekanan terlalu berkelebihan.

Kitano memerankan Nishi, seorang polisi detektif yg baru saja kehilangan putrinya dan istrinya (Kayoko Kishimoto) sedang sekarat karena terkena leukemia. Ketika Nishi sedang mengintai seorang tersangka dengan partner detektifnya Horibe (Ren Osugi), Tanaka (Makoto Ashikawa) dan Nakamura (Susumu Terajima), Horibe menyarankan Kitano supaya menjenguk istrinya di rumah sakit karena pengintaian sedang berjalan lambat. Kitano pergi menjenguk istrinya tetapi pengintain berubah menjadi tragis sehingga menyebabkan Tanaka mati, Nakamuru luka parah dan Horibe lumpuh.

Nishi merasa bersalah karena meninggalkan partner-partnernya dan tidak terima perlakuan institusi polisi yg tidak memberikan kompensasi yg layak. Kesal, Nishi keluar dari kepolisian, meminjam uang yg besar dari Yakuza untuk membantu partnernya yg lumpuh dan membawa istrinya berlibur ke tempat terpencil sementara bayang-bayang Yakuza selalu mengincar Nishi karena dia masih berhutang ke mereka.

Gaya film yg minimalis yg menjadi trade mark Hana-bi progres ke level yg tidak terduga ketika Nishi dengan istrinya berlibur ke tempat terpencil. Di sini kehangatan hubungan mereka berdua di explore dengan lebih dalam dan bahkan sangat innocent; bermain layangan dengan anak kecil yg mereka ketemu di pantai, bermain puzzle, menembak kembang api, istri Nishi ‘mencuri’ makanan favorit Nishi dan hanya meninggalkan strawberi saja, Nishi bermain tebak-tebakan kartu dengan istrinya dan dia bisa menebak dengan benar karena Nishi melihat dari kaca di belakang istrinya tanpa sepengetahuan dia.

Momen-momen hangat dengan tonasi melankolis ini di satukan dengan momen-momen brutal ketika Nishi memukuli seseorang yg memperolok istri Nishi karena dia suka menyirami kembang yg sudah mati atau ketika Nishi dengan tiba-tiba menusuk seorang mata Yakuza dengan chopstick karena dia menagih hutang atau Nishi menembaki kepala seseorang di jarak dekat sampai kehabisan peluru membuat sebuah komposisi cerita yg bertolak belakang tetapi sangat kena karena di dunia Nishi walaupun sebentar, masih ada hal-hal yg baik/murni/bisa di kenang oleh karakter-karakter yg kehilangan harapan/arah walaupun di selimuti oleh kegelapan. Atau kasarnya, di dunia Nishi yg bipolar, anda tidak mau di ganggu dan senang menyendiri, tetapi ketika terusik, anda menyerang balik.

Untuk mengimbangi dunia yg ekstrikm ini partner Nishi yg lumpuh, Horibe menjadi simbol karakter yg stabil. Horibe menerima nasib dia yg lumpuh dengan sikap yg merendah diri sementara sikap Nishi yg tidak mau kompromi akan menuju ke kehancuran.

Horibe mencoba untuk melukis untuk mengisi waktu dan karya lukisan dia yg sepertinya primitif dan sangat mendasar; kembang api, orang dengan muka yg berbunga dan yg paling impresif sebuah lukisan besar tentang padang salju ternyata terbuat dari komposisi karakter Sinji (tulisan Jepang) yg kecil-kecil bertuliskan “salju” dan di tengah-tengah gambar ada sebuah karakter besar dengan warna merah mengusik kedamaian. Seperti simbol kembang api di Hana-bi, kehidupan Nishi menyala dan meledak sesaat di tengah-tengah ketenangan tetapi akhirnya menghilang juga.

tintascreenplay.com

5 alasan ‘This Is Spinal Tap’ salah satu film komedi terbaik di sepanjang masa

3 Apr

 

This Is Spinal Tap (1984)

This Is Spinal Tap (1984)

 

Film cult ini selalu di nobatkan oleh hampir semua kritikus film sebagai salah satu film komedi terbaik sepanjang masa. Basis cerita film fiksi ini tentang seorang sutradara dokumenter yg mengikuti come back tour band rock favoritnya dan secara tidak terduga membuka semua masalah-masalah lucu tentang band lama yg sudah mulai pudar popularitasnya melalui “behind the scene footages”, persaingan antara lead vocal David St. Hubbins (Michael McKean) dan gitaris Nigel Tufnel (Christopher Guest) juga segala keanehan yg di alami oleh rocker-rocker ketika sedang mengalami tur yg kacau.

One of the best comedy films of all time? Nah, it’s the only best film about rock ‘n’ roll of all time!

 

1. Memaksimalkan konsep “mockumentary”

‘This Is Spinal Tap’ adalah salah satu film pioneer yg menggunakan konsep “mockumentary” (dokumenter pura-pura) secara efektif dan kreatif. Konsep ini membuat cerita fiksi seperti kisah nyata sehingga membuat film semakin lebih lucu. Melihat sifat para rocker-rocker yg sudah tua dan tidak relevan lagi bertingkah seperti anak-anak muda yg lagi trendy membuat revelasi yg sangat lucu dan juga menyedihkan. Mereka seperti stuck di sebuah time capsule di mana di pikiran mereka, existensi mereka masih punya makna berarti tetapi ketika di lihat oleh orang awam/penonton dari luar, kehidupan mereka sangat absurd dan bahkan sangat menggelikan tetapi bagi mereka sangat normal.

Jika film ini di buat seperti film biasa mungkin hasilnya kurang greget tetapi karena menggunakan konsep mockumentary justru membuat film naik ke level kelucuan yg tidak biasa. Kamera meng-capture momen-momen kecil tetapi signifikan (pandangan, reaksi kesal) di mana persaingan antara Nigel dan David karena seorang wanita (figur seperti Yoko Ono) yg membuat renggang hubungan mereka. Konsep mockumentary ini menginspirasikan serial TV ‘The Office’ di mana kelucuan karakter-karakter di capture bukan karena tipe komedi slapstick atau yg terlalu berkelebihan tetapi karena momen-momen/insiden yg membuat situasi menjadi canggung dan reaksi karakter-karakter yg mencoba keras untuk menjaga imej mereka di depan kamera tetapi akhirnya sifat asli mereka kelihatan.

 

2. Menyindir industri musik/musisi


Industri hiburan akan selalu menjadi bahan olokan yg tidak ada habisnya karena di penuhi oleh orang-orang egois/minim talenta yg merasa lebih baik/spesial dari orang awam. ‘This Is Spinal Tap’ dengan berani membuat lucu/parodi konsep rocker-rocker tua yg selalu menganggap diri mereka ‘artis/selebriti penting’ tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yg kurang intelijen dan tidak mengerti konsep realita secara utuh karena mereka sudah terlalu lama hidup dengan fantasi lifestyle rocker yg semakin lama semakin pudar.

Band Spinal Tap sendiri juga bukan band yg begitu original karena setiap dekade gaya musik mereka berubah-ubah (dari footage ‘sejarah’ band mereka) dari band yg mengikut gaya The Beatles di dekade 60’an berubah ke band gaya flower power/hippie dan akhirnya menjadi band metal di tahun 80’an, sehingga film ini membuat konklusi/menyindir industri musik bahwa band/musisi tidak perlu terlalu talenta/pintar, asal mereka bisa mengikuti jaman dan menjiplak style musik yg lagi ngetop, mereka masih bisa eksis.

 

3. Humor di film ini selalu abadi


Banyak sekali film-film komedi yg sangat ngetop di jamannya tetapi ketika di tonton ulang beberapa dekade kemudian sudah tidak lucu/tidak relevan lagi (Airplane, Police Academy, film-film Warkop di dekade 90’an). ‘This is Spinal Tap’ tidak mempunyai masalah itu. Malah film ini semakin penting karena belakangan ini banyak sekali band-band tua yg melakukan tur reuni dari yg paling ngetop seperti The Rolling Stones atau indie seperti The Pixies atau yg amburadul engga jelas seperti Guns N’ Roses.

Sehingga film ini mempunyai nilai relevansi yg tinggi karena kita secara diam-diam pingin tahu apakah band-band ini punya momen seperti Spinal Tap? Seperti jalan tersesat di basemen sebelum manggung (pernah terjadi kepada Ozzy Osbourne, Jimmy Page dan Robert Plant!) drummer gonta-ganti terus karena selalu mati secara tragis/konyol (Pearl Jam gonta-ganti 5 drumer dan mereka merasa seperti Spinal Tap), anggota band memasukan ketimun ke celana dalam karena ingin terlihat lebih ‘sexy’ (hampir semua musisi sudah pernah mencoba ini bukan?).

Mengalami masalah di set prop ketika manggung (si basis terjebak di dalam sebuah set prop yg tidak mau terbuka ketika dia musti keluar untuk manggung, hal ini juga pernah di alami band U2), mengeluarkan album cover yg warnanya hitam semua dan membuat band member berantem dengan record label (tetapi menjadi inspirasi Metallica untuk membuat “black album”). Bahkan semua band rock dari Van Halen sampai Nirvana memuja film ini.

‘This Is Spinal Tap’ bukan saja mengukuhkan konsep art imitates life tetapi justru life imitates art.

 

4. Membuat film dengan 4 halaman


Sutradara Rob Reiner dan penulis Christopher Guest, Michael McKean, Harry Shearer tidak punya script lengkap ketika membuat ‘This Is Spinal Tap’, mereka cuman punya 4 halaman treatment dan ketika shooting mereka ber-improvisasi dengan aktor-aktornya. Hal ini memang tidak di rekomendasikan ketika shooting di kebanyakan film, karena terlalu beresiko tinggi tetapi ketika improvisasi sukses hasilnya memang sangat tidak terduga. Tetapi Reiner musti selalu memastikan dia mempunyai struktrur cerita yg ketat dari awal sampai akhir, dia musti tahu garis besar cerita yg dia inginkan, sisanya di isi oleh improvisasi dengan aktor-aktor.

Untungnya Reiner bekerja dengan aktor-aktor jenius yg sangat mengerti karakter-karakter mereka dan inti cerita dengan dalam sehingga ketika melakukan improvisasi scene, mereka kurang lebih berada di halaman yg sama. Dan mereka semua sudah punya background improv komedi sehingga pengalaman mereka dalam improvisasi sudah sangat matang, disiplin dan teruji.

Intinya improvisasi bukan sebuah konsep asal-asalan tetapi musti di rencanakan dengan matang-matang dan untuk menunjukan kemampuan improvisasi mereka secara maksimal.

 

5. “These go to eleven.”


Sebuah kalimat klasik abadi yg di ucapkan oleh Nigel ketika menunjukan ampifiernya mempunyai level ekstra sampai nomor “11” (amplifier standard cuman sampai nomor “10”). That’s one more, innit? Scene ini dengan sendirinya membuat film ini menjadi instan klasik.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: