True Detective: 24 greatest Rust Cohle’s quotes

20 Mar

rust-cohle-fan-art01

 

1. “It’s Thursday and it’s past noon. Thursday is one of my days off. On my days off I start drinking at noon. You don’t get to interrupt that.”

 

2. “This is a world where nothing is solved. You know, someone once told me time is a flat circle. Everything we’ve ever done or will do, we’re gonna do over and over and over again.”

 

3. “People incapable of guilt, usually do have a good time.”

 

4. “…to realize that all your life, all your love, all your hate, all your memory, all your pain, it was all the same thing. It was all the same dream you had inside a locked room- a dream about being a person. And like a lot of dreams, there’s a monster at the end of it.”

rust-cohle-true-detective-03

5. “The world needs bad men. We keep other bad men from the door.”

 

6. “I think about my daughter now, and what she was spared. Sometimes I feel grateful. The doctor said she didn’t feel a thing; went straight into coma. Then, somewhere in that blackness, she slipped off into another deeper kind. Isn’t that a beautiful way to go out, painlessly as a happy child? Trouble with dying later is you’ve already grown up. The damage is done, it’s too late.”

 

7. “I know who I am. And after all these years, there’s a victory in that.”

 

8. “People out here, it’s like they don’t even know the outside world exists. Might as well be living on the fucking moon.”

 

9. “I think the honorable thing for our species to do is deny our programming. Stop reproducing. Walk hand in hand into extinction, one last midnight. Brothers and sisters opting out of a raw deal.”

rust-cohle-true-detective-05

10. “There is no such thing as forgiveness. People just have short memories.”

 

11. “I see a propensity for obesity. Poverty. A yearn for fairy tales. Folks puttin’ what few bucks they do have into a little wicker basket being passed around. I think it’s safe to say nobody here’s gonna be splitting the atom, Marty.”

 

12. “I contemplate the moment in the garden, the idea of allowing your own crucifixion.”

 

13. “Look, as sentient meat, however illusory our identities are, we craft those identities by making value judgements. Everybody judges all the time. Now, you got a problem with that, you’re living wrong.”

 

14. “I sure hope that old lady was wrong. About death not being the end of it.”

 

15. “My life’s been a circle of violence and degradation as long as I can remember. I’m ready to tie it off.”

rust-cohle-true-detective-04

16. “I’ll send you a letter. Yeah. Fuck this. Fuck this world. Nice hook, Marty.”

 

17. “And you could just let go. Finally know that you didn’t have to hold on so tight.”

 

18. “In eternity, where there is no time, nothing can grow. Nothing can become. Nothing changes. So death created time to grow the things that it would kill and you are reborn but into the same life that you’ve always born into. I mean, how many times have we had this conversation, detectives? Well, who knows? When you can’t remember your lives, you can’t change your lives, and that is the terrible and secret fate of all life. You’re trapped, by that nightmare you keep waking up into.”

rust-cohle-true-detective-06

19. “Life’s barely long enough to get good at one thing. So be careful what you get good at.”

 

20. “This place is like somebody’s memory of a town, and the memory is fading. It’s like there was never anything here but jungle.”

 

21. “The newspapers are gonna be tough on you. And prison is very, very hard on people who hurt kids. If you get the opportunity, you should kill yourself.”

 

22. “Well, once there was always dark. If you ask me, the light’s winning.”

rust-cohle-quote-true-detective-02

23. “I’m through talking to you like a man.”

 

24. “I don’t sleep. I just dream.”

tintascreenplay.com

Repulsion: Horor di pikiran lebih mengerikan

13 Mar

Repulsion (1965)

Seorang perempuan cantik yg selalu mengundang perhatian berjalan dengan mata kosong. Pria-pria selalu terpesona,  perempuan- perempuan lain merasa minder berada di sampingnya. Semua terkagum-kagum oleh kecantikannya, kecuali si perempuan cantik sendiri. Dia seorang yg sopan dan pemalu bahkan sering menyendiri,  melamun dan pikirannya melayang entah kemana. Ada sesuatu yg aneh tentang dia, sesuatu yg kurang ‘pas’ bahkan bisa di bilang rusak secara permanen di dalamnya karena sudah terpendam terlalu lama. Begitu di keluarkan, hasilnya sangat menakutkan dan mematikan.

Selamat datang ke dunia Roman Polanski, seorang sutradara jenius/master dengan tema horror psikologi, suspense, thriller dan paranoia.  Obsesi Polanski dengan tema itu bisa di bilang bisa menyaingi Alfred Hitchcock bahkan lebih berani meng-explore ke tempat-tempat yg lebih gelap.

Kalau Hitchcock di umpamakan sebagai The Beatles, Polanski adalah The Velvet Underground; lebih dalam dan lebih kotor.

Sebelum Polanski menguasai Hollywood dengan ‘Rosemary’s Baby’ dan ‘China Town’, film pertama dia berbahasa Inggris (dan di produksi di Inggris) adalah ‘Repulsion’. Di shooting secara low budget dan di backing oleh sebuah perusahaan kecil karena studio-studio besar tidak berminat, ‘Repulsion’ mengukuhkan Polanski sebagai sutradara Polandia berkelas tinggi karena mempunyai visi yg beda dan baru. Polanski mempunyai talenta unik karena bisa menggabungkan taste/background dia yg ‘art film’ dengan mainstream sinema sehingga menghasilkan karya yg sukses tapi tidak pasaran.

‘Repulsion’ adalah salah satu karya Polanski yg masterpiece tetapi bisa di bilang underrated karena selalu di bayang-bayangi oleh  kesuksesan ‘Rosemary’s Baby’ dan ‘China Town’ yg di produksi di Hollywood. Tetapi secara kualitas, ‘Repulsion’ tidak kalah walaupun di buat secara low budget.

‘Repulsion’ bercerita tentang seorang pekerja salon yg cantik bernama Carol (Catherine Deneuve) yg tinggal bersama kakaknya, Helen (Yvonne Furneaux) di sebuah apartemen di London. Helen berselingkuh dengan suami orang, Michael (Ian Hendry) dan mereka sering tidur bareng di kamar Helen. Suara-suara dari hubungan intim mereka selalu membuat Carol tidak bisa tidur dan frustasi.  Carol bahkan tidak begitu suka dengan Michael dan selalu bersikap dingin. Awalnya kita hanya mengira Carol cuman punya masalah dengan Michael. Tetapi ketika seorang pria yg baik dan lembut, Colin (John Fraser) mencoba mendekati Carol, dia juga mendapatkan perlakuan yg sama seperti Michael. Carol seperti trauma ketika di dekati laki-laki dan sangat tidak suka di sentuh, dia juga sering melamun dan terpaku dengan pikirannya sendiri.

Masalah timbul ketika Helen dan Michael pergi liburan dan meninggalkan Carol seorang diri. Carol menjadi cemas dan ketakutan dan memohon Helen untuk tidak pergi tetapi Helen tidak peduli. Ketika Carol di tinggal sendiri, dia mulai merasa bahwa ada seseorang yg selalu datang malam-malam ke apartemen dan menteror dia.

Dunia Carol mulai menjadi berantakan karena di teror setiap malam. Mental dan pikiran Carol yg dari pertama sudah lemah menjadi paranoia sehingga pandangan dia tentang realita semakin kacau dan bertambah distorsi. Apakah orang yg menteror dia adalah bagian imajinasi Carol atau memang benar-benar nyata? Dan kenapa Carol sangat trauma dengan laki-laki?

Tragisnya, paranoia Carol akhirnya mendorong dia menjadi pembunuh kejam yg sudah kehilangan akal sehat secara total.

Memang konsep cerita ini sudah kita lihat berkali-kali di jaman sekarang bahkan menjadi cerita standarad. Tetapi di tahun 1965, konsep ini sangat original dan tentunya di tangan Polanski membuat cerita menjadi lebih mencekam.

Di tangan sutradara pasaran, cerita ini pasti akan gagal karena cerita tidak mengandalkan unsur hantu/supernatural atau violence/gore yg berkelebihan, belum lagi limitasi ruangan (shooting kebanyakan di apartemen) dan minimnya interaksi Carol dengan karakter-karakter lain mulai dari pertengahan cerita. Bagaimana mungkin membuat cerita yg mengerikan dengan menggunakan satu karakter di apartemen?

Kejeniusan Polanski dalam membangun mood cerita secara perlahan-lahan tetapi dengan pasti menuju poin klimaks/revelasi yg tidak terduga di mulai dengan membuat dunia yg serealistis mungkin di awal cerita dan secara sistematis di runtuhkan. Dari hal sepele seperti pegangan pintu bergerak pelan-pelan atau simbolisme daging kelinci yg di biarkan di meja sehingga membusuk, sebuah foto keluarga yg mempunyai arti yg mengerikan, dinding apartemen tiba-tiba retak lebar dan tangan-tangan muncul dari dinding dan menarik Carol (juga di dukung oleh penggunaan sound fx yg penting dan dominan).

Semua ini menjadi lebih intens dan di ulang berkali-kali untuk membuat dunia/mental Carol yg semakin lama semakin sempit/tertekan/terasingkan akhirnya meluap dan merubah dia menjadi pembunuh adalah sebuah kreasi sinema yg menakjubkan dan hanya bisa di buat murni oleh film, karena Polanski menggunakan semua elemen sinema dari visual, suara dan akting secara maksimal. Polanski seperti perlahan-lahan memberikan setengah clue untuk sebuah puzzle tetapi membiarkan kita untuk mencari clue yg setengahnya lagi. Sehingga ketika kita berhasil melihat puzzle secara utuh, hasilnya sangat powerful.

‘Repulsion’ telah menjadi film klasik yg ceritanya tidak terhitung telah di jiplak berkali-kali. Bahkan jika di banding film-film horor psikologi/thriller jaman sekarang seperti ‘Black Swan’ yg jelas-jelas mengambil inspirasi dari ‘Repulsion’, karya Polanski masih jauh lebih superior dan lebih penuh greget. Karena Polanski dari awal sudah mengerti bahwa konsep horor yg paling menakutkan sebenarnya sudah berada di dalam pikiran kita.

tintascreenplay.com

Big Bad Wolves: Pembenaran penyiksaan?

5 Mar

Big Bad Wolves (2013)

Di tahun 2013 Busan Film Festival, Quentin Tarantino dengan berani mendeklarasikan film Israel ‘Big Bad Wolves’ sebagai film terbaik di 2013. Mungkin karena ‘Big Bad Wolves’ dengan bangga menjiplak gaya film Tarantino yg penuh dengan blood, violence dan black comedy sehingga Tarantino mungkin terasa tersanjung dengan film ini. Apapun maksudnya, ‘Big Bad Wolves’ sukses mendeliver semua ekspektasi itu.

Seperti jenis-jenis genre film Tarantino, you either hate ‘em or love ‘em. Tidak bisa setengah-setengah. Jadi jika anda suka film-film yg sedikit sakit dengan adegan torture porn yg agak lama dan di bumbui dengan black comedy, film ini cocok untuk anda, tapi jika anda kurang suka sama film-film sejenis ini, yah anda pasti akan mual dan membenci film ini. Se-simpel itu.

‘Big Bad Wolves’ mempunyai premis yg mirip dengan film ‘Prisoners’ di mana seorang tersangka pedofil di culik dan di siksa oleh keluarga korban. Tetapi kalau ‘Prisoners’ di mainkan dengan gaya drama yg lurus dan serius, ‘Big Bad Wolves’ lebih ke arah black comedy yg bisa memancing tawa di saat-saat yg genting atau saat-saat yg absurd.

Cerita ‘Big Bad Wolves’ di mulai ketika seorang guru agama culun bernama Dror (Rotem Keinan) di pukuli/interogasi oleh seorang polisi bernama Miki (Lior Ashkenazi). Miki percaya bahwa Dror adalah pelaku serial pedofil yg menculik/memperkosa/membunuh beberapa anak kecil, tetapi dia tidak bisa membuktikannya. Aksi interogasi kejam Miki di rekam dan di sebarkan di internet sehingga Miki turun jabatan dan Dror di pecat dari kerjaannya.

Tidak peduli, Miki terus mengintai/obsesi dengan Dror, walaupun Dror hidup secara normal. Keadaan bertambah kompleks ketika salah satu ayah dari korban Gidi (Tzahi Grad) juga mulai mengintai Dror. Ketika Miki mengejar Dror sampai pinggiran hutan dan menodong dia untuk mendapatkan pengakuan, Gidi muncul, melumpuhkan Miki dan Dror. Dia menculik Miki dan Dror ke kabin terpencil dimana dia berencana untuk melakukan aksi yg lebih ekstrim.

Mulai dari segmen ini, kelihatan sekali influence Pulp Fiction Tarantino di karya sutradara Aharon Keshales dan Navot Papushado semakin kental. Adegan penyiksaan dengan tempo yg lambat di iringi oleh dialog yg banyak dan detail tentang misi Gidi. Juga banteran humor yg tidak di sengaja antara Gidi dan Miki ketika Gidi mengajak Miki untuk menyiksa Dror membuat antisipasi penonton dengan adegan penyiksaan semakin gelisah, iba di campur tawa dengan nasib Dror.

Ketika level setiap adegan penyiksaan yg grafis (kuku kaki di cabut, setiap jari di patahin dengan palu) semakin sadis tetapi Dror masih tidak mau mengaku. Ini membuat Miki ragu apakah Dror benar-benar bersalah dan Gidi sepertinya tidak peduli karena dia hanya ingin melampiaskan kemarahannya ke seseorang. Sehingga membuat hubungan segitiga unik di antara mereka bertiga karena persekutuan di antara mereka selalu berubah-rubah dan tidak bisa di tebak sampai akhir cerita.

Tetapi bagian yg paling menarik bagi saya lebih kepada kultur orang-orang Israel di mana kekerasan/konflik sudah menjadi bagian dari hidup mereka turun menurun karena situasi negara mereka yg penuh dengan konflik di timur tengah dan apakah kekerasan ekstrim adalah solusi pertahanan yg ampuh untuk melawan terror/masalah yg tidak bisa di pecahkan secara hukum?

Poin ini di simbolkan  oleh munculnya ayah Gidi secara tiba-tiba dengan membawa titipan sup dari ibu Gidi karena khawatir Gidi sakit dan tidak ada yg merawat dia. Gidi khawatir jika ayahnya akan menemukan Dror di ruangan siksa di bawah tanah, dia akan melapor ke polisi tetapi ayah Gidi malah mendukung aksi menyiksa Dror bahkan memberikan tips kepada Gidi cara menyiksa yg lebih efisien dengan menggunakan obor las (yg dia dapati dari wajib militer). Sehingga membuat adegan yg lucu/disturbing tentang family bonding melalui penyiksaan.

Mungkin kalau film ini ber-setting di Amerika hasilnya tidak terlalu menonjol karena tidak mempunyai sisi pandang budaya yg unik seperti dari Israel tetapi dasar cerita ini mempunyai tema yg sangat universal di mana menggunakan kekerasan yg ekstrim demi menyelamatkan anak kita akan selalu menjadi area yg abu-abu dan kompleks.

tintascreenplay.com

her: A real look at unreal relationship

25 Feb

her (2013)

her (2013)

 

When I first heard the premise story of ‘her’ about a guy who falls in love with his OS, the first thing that came to my mind was, “What a fucking hipster story.” But when I heard it was done by Spike Jonze, I thought it was worth checking it out. Spike Jonze, the writer/director of ‘her’ is a household name among hipsters. Hell, he was a fucking hipster way back in the 90’s (making underground skateboarding  & cool music videos) before hipster became such a derogative term as it is today, but at least he is the OG (older guy) of hipster and he is actually very talented.

The thing with Jonze is that he’s not ‘the gritty guy’ who tries to impress you with violence or death or trying to be controversial like many of his contemporaries from the 90’s. He always marched to the beat of his own drum. I remember watching his first music video for Weezer’s ‘Undone-The Sweater  Song’, and it was so different and unique but at the same time you could feel the sincerity/emotion behind it. Back then most music videos looked the same; it had a dirty sephia grungy look, fast editing, it purposely looked depressing/like shit because it was the in thing to do.

Seeing Jonze’s music videos was literally a breath of fresh air (who can topped Beastie Boys’ ‘Sabotage’?) in the suffocating ghetto of shitty grunge/depressing videos. For that alone, Jonze will always be an inspiration.

From an outset, ‘her’ is simply a story about wanting to find that human connection, to be heard/not be judged and be understood. Although some people were focusing too much on the technology side of an evolving OS who tried to emulate human emotions, for me personally it’s an unflinching story about relationship in all it’s glorious highs and heartaches.  And that’s what makes it work.

You meet someone special, you fall in love, whatever they do is endearing, you can’t see their faults, then you start to experience the tedious side of relationship, familiarity breeds contempt, you start to evolve, you start to expect things, you become insecure/greedy and you start picking on them/take them for granted, eventually it will all go to shit.

It’s hard to make a love story that really works and sincere because most movies don’t want to deal with the grey area, we are so accustomed to seeing crappy rom-coms or Hollywood extravaganza happy endings that in the end it left us feeling numb inside. Like being forced fed too much sweet, albeit expensive ones.

‘her’ shares the same peripheral vision as ‘Eternal Sunshine of The Spotless Mind’ in which both their cores share the same unflinching and raw look on relationship but are covered in lo sci-fi templates to make their points stronger. One deals with memory, the other with connection.

Jonze’s vision of the future is not dystopia or even utopia (Like Michel Gondry’s Eternal Sunshine), it’s just a neutral existence where men and technology gently exist alongside each other. The machines won’t enslave you but it doesn’t solve all your problems either. Although Jonze made a gentle nudge about our preoccupation with technology in a scene where Theodore (Joaquin Phoenix) rides the train and everyone is occupied with their phones or the bit about hooking up digitally with random stranger when you’re alone, bored and horny; it feels more like mild jab and not menacing.

 Joaquin Phoenix’s portrayal of Theodore is both heartfelt and restrained at the same time like what Jim Carrey did on Eternal Sunshine. And of course Scarlett Johansson portrayal of Samantha as the OS who is programmed to emulate human emotions might be too good, by halfway through, I forgot she was even meant to be a computer and to me the story somehow evolved into two people who are involved in a long distance relationship.

‘her’ works tremendously because of it’s openness to reveal the vulnerability and fragility of relationship; that good things eventually turn sour and by taking it’s time to get to know each character and the way they evolved in the opposite direction. He gets too attached to her, she finally outgrows him from being programmed to solely pleasing him to discover a higher self awareness that eventually over taking her ‘humanity’ and renders him obsolete. But it was a great journey for both, filled with blissfulness, soul connection and all the treacherous pitfalls of doubts, jealousy and final separation. Just like in real life.

tintascreenplay.com

7 buku komik yg patut di jadikan film/serial TV

28 Jan

Hollywood sedang obesi dengan film-film/Serial TV superhero dan efek CGI karena telah menjadi pendapatan utama mereka yg paling menguntungkan dan membuat penonton terbuai oleh banyaknya opsi superhero. Untuk saat ini Marvel dan DC mendominasi genre-genre film superhero dan buku komik tetapi ada juga beberapa buku komik yg lebih greget dan original di banding hero-hero mainstream.

 Penulis/penggambar ini mempunyai visi yg tidak mau kompromi sehingga menghasilkan sebuah karya yg inovatif, menakjubkan dan mendobrak limitasi buku komik lebih sekedar dari cerita superhero yg aman/standard. List buku komik di bawah mempunyai kriteria-kriteria ground breaking dan beberapa bahkan sedang dalam proses negosiasi panjang untuk di jadikan film/serial TV. Untungnya para pencipta tidak gegabah langsung terima deal dari Hollywood karena mereka sangat selektif dengan visi interpertasi film/serial TV.

1. Crossed

‘Crossed’ bisa di bilang sebagai versi ‘The Walking Dead’ yg lebih brutal dan nihilistic. Kalau batas-batas garis moralitas ‘The Walking Dead’ masih jelas dan secara pelan-pelan di pertanyakan, ‘Crossed’ tidak membuang waktu, garis batasan mereka lebih jauh melampaui ‘The Walking Dead’ dari awal. ‘Crossed’ benar-benar mendorong limitasi buku komik dengan representasi kekerasan/sexual/horor yg grafis  dan juga konsep standard zombie- di mana para manusia-manusia normal melakukan hal-hal yg sangat kejam demi keselamatan mereka- di naikan ke level-level yg lebih hardcore. Garth Ennis adalah penulis yg terkenal dengan membuat karya-karya buku komik yg kontroversial (‘Preacher’, ‘The Boys’, ‘Punisher Max’).

Ennis lebih interest dengan menciptakan dunia yg sangat brutal pasca kehancuran karena di visi dia, kebiadaban manusia ironisnya justru yg akan menyelamatkan kaum manusia dari kepunahan total. Zombie ‘Crossed’ sendiri juga lebih original karena mereka lebih ke arah “infected” di mana ketika seseorang ketularan (melalui gigitan, darah keciprat, di perkosa) mereka masih berfungsi sebagai manusia (bisa berkomunikasi, masih punya ingatan) tetapi mereka tidak bisa menahan semua nafsu kebingasan mereka karena virus itu membuat mereka tidak terkendali sehingga membuat mereka lebih mengerikan di banding zombie biasa.

2. X-Statix

Kalau ‘X-Men’ adalah anak emas Marvel yg penuh dengan cerita drama opera sabun, ‘X-Statix’ adalah anjing gila Marvel yg kena rabies dan musti di asingkan karena banyak membuat orang khawatir.

Padahal konsep ‘X-Statix’ sendiri sangat brilian dan original.

Kalau cerita ‘X-Men’ sebagai grup mutant superhero yg merasa di kucilkan tetapi selalu menyelamatkan kaum manusia yg membenci mereka mengundang romantisme underdog, ‘X-Statix’ adalah representasi realita yg sinikal jika sebuah grup superhero benar-benar ada; mereka akan menjadi kaum selebriti yg selalu menjadi sensasi media setiap saat. Hidup mereka akan menjadi reality show, mereka mempunyai fans yg selalu obsesi. Mereka lebih peduli dengan kepentingan sponsor dari pada melakukan kebaikan yg murni.

Penulis Peter Milligan dengan pintar sudah memprediksi lebih dari satu dekade yg lalu obsesi kita dengan dunia selebriti, media dan konsumerisme akan mencapai titik yg mengkhawatirkan. ‘X-Statix’ menjadi sebuah simbol satirikal di mana kreasi grup superhero di ciptakan untuk menjadi sebuah mesin pencetak uang, kepopularitasan dan permainan politik. Belum lagi setiap saat hero-hero bisa mati secara tragis (tanpa pandang bulu apakah itu hero penting atau bukan) membuat grup ini cukup labil dan mengundang murka pembaca komik yg sudah terbiasa dengan buku superhero yg nyaman.

3. Saga

saga

‘Saga’ adalah pemenang Eisner award 2013 (award tertinggi seperti Oscar untuk industri buku komik). Cerita ‘Saga’ adalah gabungan space opera/fantasi ala ‘Star Wars’ dengan unsur konsep edgy seperti ‘Game of Thrones’ dan elemen-elemen fantasi dari ‘The Lord of The Rings’, membuahkan cerita adventure dengan twist yg tidak ketebak/mengejutkan, penuh dengan humor yg menggigit, karakter-karakter yg karismastik dan konsep dunia yg benar-benar ‘What the fuck?!’ (Kapal angkasa terbuat dari kayu, bayi raksasa lahir dari dalam planet, magic spell yg hanya bisa terjadi jika anda menyebut rahasia anda yg orang lain belum tahu).

Cerita mirip juga dengan Romeo dan Juliet di mana sepasang kekasih yg berbeda ras (walaupun ras mereka selalu perang antara satu sama lain) mempunyai anak dan anak itu di buru oleh kedua belah pihak. Keluarga itu musti melarikan diri dan mencoba untuk membesarkan si anak. It really is putting the fun back in reading comics again while still maintaining originality, edginess and makes you laugh. Like Joss Whedon on crack.

4. Maus

Di tahun 1986-87 ada tiga buku komik yg mengubah persepsi dunia komik untuk selama-lamanya dari industri untuk anak-anak menjadi industri untuk orang dewasa juga dan melahirkan konsep “graphic novel”.

Tiga buku komik itu adalah ‘Watchmen’, ‘The Dark Knight Returns’ dan ‘Maus’.

‘Maus’ tidak fokus ke konsep superhero tetapi ke konsep cerita yg lebih nyata/tragis, tentang pembantaian kaum Yahudi di bawah Hitler tetapi dalam animasi karakter-karakter binatang. Pengarang ‘Maus’ adalah Art Spiegelman, dia menceritakan kisah nyata bapaknya ketika melewati masa kekejaman Hitler dan mencoba untuk hidup. Orang Yahudi di gambar sebagai tikus sementara orang Jerman sebagai kucing dan orang Polandia sebagai babi menjadi simbol ikonik yg mempunyai makna yg dalam di cerita Spiegelman yg kompleks, menyentuh, mengerikan dan humanis.

‘Maus’ juga memenangkan Eisner award dan Pulitzer Prize.

5. Stray Bullets

Penulis/penggambar David Lapham adalah salah satu ikon independent comic book creator yg penting. Masterpiece dia ‘Stray Bullets’(yg juga menang Eisner award) menceritakan tentang satu kumpulan grup atau komunitas orang-orang kriminalitas/terasingkan di tahun 1970’an sampai 1990’an. Setiap issue selalu menceritakan karakter yg beda-beda tetapi saling terkoneksi dengan yg lain. Lapham bisa membuat cerita-cerita yg simpel tetapi brilian tentang karakter-karakter kriminal karena dia mengerti setiap karakter mempunyai pribadi yg kompleks dan humanis.

Bahwa mereka bukan semua orang jahat tetapi orang-orang biasa yg kadang-kadang membuat keputusan ceroboh sehingga menjadi tragis membuat ‘Stray Bullets’ lebih dari sekedar buku komik dan menjadi cerita yg tidak terlupakan karena mempunyai efek yg sangat powerful ke pembaca lama setelah menutup buku.

6. Rising Stars

Penulis J. Michael Straczynski adalah seorang penulis multi talenta di berbagai medium. Dia penulis skenario film (The Changeling, Angelina Jolie), dia menciptakan serial TV (Babylon 5), dia juga seorang jurnalis dan penulis buku komik (Spiderman, Midnight Nation). ‘Rising Stars’ mempunyai visi yg mirip seperti ‘Watchmen’, men-dekonstruksi arti dan mengexplorasi mitos superhero.

Di tahun 1969, sebuah cahaya muncul di kota kecil Pederson, Illinois dan memberikan efek super power ke 113 bayi yg masih di kandungan. 113 bayi itu besar dan di sebut sebagai “Specials” dan setiap anak mempunyai power yg berbeda dengan level yg berbeda juga. Kenapa 113 anak itu terpilih dan untuk maksud apa?

Ketika mereka besar, setiap individu mulai memilih jalan hidup masing-masing. Ada yg ingin menjadi orang biasa-biasa saja, ada yg jadi pamor, ada yg kerja untuk perusahaan, polisi, dsb. Masalah muncul ketika ada yg membunuh mereka satu demi satu dan terjadi perang saudara di antara “Specials” yg merubah dunia. Kalau visi ‘Watchmen’ lebih sinikal dan pesimis, ‘Rising Stars’ juga memiliki momen-momen itu tetapi statemen ‘Rising Stars’ akhirnya lebih megah dan luas sehingga membuat  mitos superhero menjadi lebih dalam dan bahkan sedikit spiritual.

7. Scud: The Disposable Assassin

Funky hyperkinetic humorous world.

C-3PO look alike assassin you can buy from vending machine.

 A bounty freelancer with robot fetish.

Voodoo Benjamin Franklin who can summon zombies and dinosaurs.

Cyborg mafia family.

A bizarre side kick who can summon anything (Doraemon style) from his inside.

What more do you want?

tintascreenplay.com

The Wolf of Wall Street: Kembalinya seorang master

19 Jan

The Wolf of Wall Street (2013)

Martin Scorsese is back! Setelah lebih dari satu dekade melanglang buana dengan membuat film-film variatif dengan hasil yg standard; membuat film crowd pleasing ala Steven Spielberg (‘Hugo’, what the fuck was that?), mencoba membuat film noir dengan  twist ending yg sok pintar/shocking (‘Shutter Island’) tetapi malah membuat penonton frustrasi, atau mencoba membuat film biopic ambisius tentang seorang ikon Amerika, Howard Hughes (‘The Aviator’) dengan hasil yg lumayan tetapi tidak ada style greget Scorsese yg membuat dia legendaris.

Banyak yg sudah menilai (termasuk saya) bahwa karir Scorsese sudah menurun di ambang pensiun dan film-filmnya sudah menjadi terlalu sopan atau mencoba terlalu keras untuk jadi ‘pasaran’ di Hollywood. Sehingga saya dengan setengah hati menonton film-filmnya tetapi merasa sedih karena masa kejayaan Scorsese sudah lewat dan terus terang film-filmnya 10 tahun terakhir sangat biasa bagi seorang filmmaker sekaliber dia.

And then out of nowhere, he gave us the big ‘FUCK YOU’ with ‘The Wolf of Wall Street’.

Tidak ada sutradara yg bisa melewati keahlian Scorsese dalam mengungkit tema excess atau hidup yg terlalu berkelebihan seperti dia. Banyak sutradara yg mencoba dan bahkan mengikuti style dia, Paul Thomas Anderson mencoba dengan ‘Boogie Nights’ dan David O. Russell mencoba juga melalui ‘American Hustle’, tetapi Scorsese is still the master. Kalau Stanley Kubrick adalah seorang master dengan tema ‘controlled chaos’, Wong Kar-wai dengan tema melankolis, Martin Scorsese adalah ‘living in excess’.

Kita semua sudah familiar dengan cerita ‘The Wolf of Wall Street’, di mana kita mengikuti cerita seorang stockbroker  bernama Jordan Belfort (Leonardo Dicaprio). Dari awal yg sederhana sampai menjadi salah satu orang paling sukses di Wall Street dengan menipu klien-kliennya. Film-film dengan tema kejahatan kerah putih bukan sesuatu hal yg baru tetapi versi Scorsese yg membuat beda dari ratusan film lainnya adalah dia berani menunjukan kehidupan gemilang seorang stockbroker penipu dengan segala keglamoran yg berkelebihan melalui drugs, sex orgies, uang, materi dan power. Ratusan film lain tentang kejahatan kerah putih kurang berhasil karena film-film mereka terlalu membosankan, serius, sok intelektual atau kurang berani dalam mengexpose dunia kriminal kerah putih.

Di era modern di mana kejahatan kerah putih lebih sangar karena bisa lebih instan menghancurkan  kehidupan orang-orang normal di banding aksi kriminalitas lainnya (mafia, drug dealer) bukannya lebih masuk akal dengan mengexplorasi sisi gelap kerah putih dengan bertanya, what’s the reward?

Sudah menjadi fakta lama sejak dekade 80’an pemakai drugs dan penyewa prostitusi terbanyak adalah pekerja-pekerja di Wall Street. Sudah menjadi fakta lama penipu terberat adalah pekerja-pekerja Wall Street. Tetapi kenapa belum ada film yg berani menunjukan itu secara terang-terangan? Sejarah Scrosese dengan tema-tema excess sudah cukup familiar dengan film-film dia tentang mobser Itali melalui ‘Goodfellas’ atau ‘Casino’, di mana kehidupan materi berkelebihan, membunuh/merampok adalah sesuatu hal yg biasa di kalangan mobster.

Film-film Scorsese sangat unik karena dia mengundang penonton untuk menjadi bagian intim inner circle keluarga-keluarga mobster karena mereka bukan orang-orang biasa. Di dunia mereka, apa yg normal untuk mereka sangat tidak normal untuk orang-orang seperti kita. Cara mereka berpikir/melakukan sesuatu/tradisi/gaya hidup mereka sangat bertolak belakang dengan orang-orang normal. Scorsese mengaplikasi template ini ke ‘The Wolf of Wall Street’ dan kita benar-benar bisa  merasakan mindset atau cara berpikir Belfort kenapa dia melakuan hal-hal ini tanpa pikir panjang konsekuensi tindakakan dia. Obsesi Belfort dengan materi, drugs dan sex mungkin sudah transparan tetapi Scorsese tidak hanya fokus ke hal itu. Scorsese melihat Belfort sebagai seorang individu yg percaya dengan the American dream, jika kamu kerja keras, membuat inovasi dan mencetak jalan kamu sendiri, semua impian kamu akan terwujudkan. Pertanyaannya adalah sampai berapa jauh kamu ingin berkorban untuk hal itu?

Film ini mengundang banyak kontroversi karena banyaknya adegan drugs dan sex dan fokus ke hal-hal materi/kekayaan sepertinya membuat gaya hidup Belfort glamor. Emm, memang itu poinnya bukan? Kita melihat dunia dari sudut pandang Belfort, kita di undang untuk sesaat untuk nongkrong di dunia dia dan dunia dia memang dahsyat dan sangat menggoda. Untuk mengerti sikap mereka kita musti melihat kehidupan mereka dan memang dunia mereka sangat menarik karena mereka tidak mengikuti aturan, mereka ambil yg mereka mau, mereka melakukan hal yg mereka mau. Film ini bukan pelajaran moral atau ceramah tentang kebenaran atau tentang korban-korban Belfort yg tertipu sehingga uang tabungan mereka ludes. Film ini tentang perjalanan seorang bernama Jordan Belfort di mana dia memilih pilihan radikal ‘do or die’ untuk mencapai mimpinya. Simpelnya, film ini tentang pengalaman manusia dari sisi yg ekstrim. Suka atau tidak, itu pilihan anda.

Seperti film-film Scorsese klasik yg lain seperti ‘Taxi Driver’, ‘Raging Bull’ dan ‘Goodfellas’, Scorsese tidak interest dengan explorasi karakter yg sok suci/good guys. Dia lebih tertarik untuk mengekplorasi karakter-karakter yg di ambang abu-abu karena mereka lebih menarik, lebih kompleks, lebih mengejutkan, lebih rapuh dan yg paling penting lebih manusiawi. Di salah satu scene yg cukup menyentuh di mana Belfort sedang berpidato berapi-api ke ratusan karyawannya, dia membuat revelasi yg sangat personal. ketika perusahaan Belfort baru mulai dan dia baru punya 20 karyawan, seorang perempuan yg sedang stress dan tak di kenal tiba-tiba datang menemui Belfort dan meminta pekerjaan. Perempuan itu seorang Ibu tunggal, yg tidak mempunyai pengalaman sebagai stockbroker. Putus asa dan tidak punya uang, dia dengan berani meminta pekerjaan dan meminjam $5,000 sebagai uang muka supaya dia tidak di usir dari tempat sewaanya dan untuk makan. Belfort memberi dia $25,000, alasannya?

”I Believed in her. Like I believe in all of you.”

Welcome home Scorsese.

tintascreenplay.com

Kenapa film-film video game selalu menyedihkan?

15 Jan

Suatu waktu di jaman dulu, Hollywood pernah mencoba untuk membuat film-film adaptasi dari buku komik dan hasilnya sangat memilukan. Walaupun Superman dan Batman di anggap cukup sukses di dekade 80’an, kesuksesan mereka sangat langka di banding karakter-karakter super hero yg lain. Hollywood masih belum mengerti cara membuat film-film superhero yg serius karena mayoritas di buat asal-asalan untuk pasar anak kecil sehingga kebanyakan film superhero selalu gagal. Perubahan signifikan terjadi di awal 2000’an, ketika  Bryan Singer membuat X-Men pertama, Sam Raimi menyutradarai Spider-Man dan Batman di make over oleh Christopher Nolan. Sutradara-sutradara ini tidak menganggap karakter-karakter buku komik ini hanya untuk anak-anak kecil. Mereka menghormati dan yg paling penting mengerti bahwa cerita superhero  punya potensi untuk menjadi film serius dan tidak sembarangan. Jaman keemasan film-film superhero sudah lahir semenjak itu, film-film superhero bisa membawa keuntungan yg besar dan juga mendapat pujian dari kritikus.

Adaptasi video game untuk di jadikan film sukses juga mengalami hambatan yg sama dengan buku komik. Sampai sekarang masih belum ada film video game yg mengalami sukses finansial dan mendapat pujian kritikus bersamaan seperti film-film buku komik. Walaupun begitu, banyak pihak berpendapat bahwa kesuksesan seperti film-film superhero sebentar lagi akan terjadi dengan video game. Hollywood mulai lebih serius untuk mengadaptasi video game, judul game seperti ‘Assassin’s creed’ dan ‘Splinter Cell’ sedang di garap dengan aktor serius seperti Michael Fassbender dan Tom Hardy. Tetapi mengapa selama ini adaptasi video game ke film masih kurang sukses bahkan di anggap menyedihkan walaupun industri video game sudah melampaui pendapatan industri film dan industri buku komik yg sangat jauh di bawah industri gaming?

Masalah yg paling sering di alami video game untuk di jadikan film adalah sutradara/penulis/produser film tidak begitu mengerti dengan materi di video game sendiri, sehingga ketika di jadikan film, ceritanya melenceng jauh dari cerita di video game. Di benak kebanyakan produser film, mereka hanya melihat sebuah market di mana sebuah video game yg sukses otomatis akan menjadi film yg sukses juga. Tetapi mereka tidak mengerti dunia video game sehingga esensi filmya sangat beda dengan gamenya.

Contohnya film ‘Super Mario Bros’ pertama kali di buat mempunya bujet yg sangat tinggi di jaman itu, tetapi filmnya jeblok di pasaran karena tidak mempunyai cerita yg masuk akal dan sutradara film berbuat seenak jidat dengan ceritanya karena tidak menghormati fondasi cerita di dunia video game itu (‘Resident Evil’ di jadikan film all action padahal di game lebih ke genre ‘survival horror’). Sehingga ada sebuah jurang yg cukup lebar antara visi video game dengan filmnya.

Memang juga musti di akui cerita di mayoritas video game sendiri juga kurang kuat/lemah/tidak masuk akal karena kebanyakan penulis-penulis video game belum secanggih penulis film, tetapi jika cerita video game yg lemah tetap di paksain menjadi film akan membawa petaka sendiri. Bagaimana membuat cerita bagus dari fighting game seperti ‘Street Fighter’, ‘Double Dragon’ atau ‘Mortal Kombat’? Di mana aspek cerita tidak penting/sangat simpel karena fokus lebih ke arah interaksi game yg instan? Paling tidak buku komik sudah memilki sejarah cerita yg jelas dengan karakter-karakter yg sudah mapan sehingga lebih mudah di adaptasi.

 Interaksi gamers dengan video game yg sangat personal karena selalu aktif dua arah bukan pasif satu arah seperti menonton film  atau membaca buku juga menimbulkan masalah yg mendasar karena ketika menonton filmnya, seorang gamer tidak merasa punya ikatan emosi yg lebih dalam karena interpertasi di layar sangat beda dengan pengalaman mereka ketika bermain sehingga dukungan hardcore fans film video game tidak se-militan seorang fans film buku komik. Pernah melihat fans ‘Silent Hill’ atau ‘Tomb Raider’ berapi-api membahas filmnya seperti fans Batman/X-Men/Spider-Man? Kayanya engga pernah malah mereka mengejek filmnya karena tidak pas dengan gamenya.

Belum lagi masalah bagaimana menjual konsep film video game ke penoton awam yg bukan fans video game? Di sini para penulis/sutradara film selalu mengalami dilemma, apakah mereka lebih memuaskan fans video game dulu atau penonton awam? Sam Raimi mengerti konsep ini, ketika dia membuat film Spider-Man, dia selalu merasa sebagai fans Spider-Man dulu. Dia musti setia dengan visi cerita dan karakter Spider-Man di buku komik dari pada memuaskan orang awam. Raimi sendiri mengerti karakter Peter Parker yg seorang kutu buku yg selalu grogi di depan perempuan karena Raimi juga seorang geek yg canggung dan merasa asing ketika masa remaja.

Bryan Singer sangat mengerti esensi  X-Men sebagai orang-orang ‘outsider’ yg di kucilkan karena Singer adalah seorang gay yg sudah tidak asing dengan perlakuan diskriminasi dan ketidak adilan. Christoper Nolan sangat mengerti dengan visi Batman sebagai dark hero yg lebih realistis di banding film-film Batman yg di buat oleh Joel Schumacer sebelumnya yg sangat campy dan kekanak-kanakan.

 Film-film video game masih belum mendapat sentuhan seperti ini karena pengertian sutradara tentang esensi gamenya masih belum bisa di terapkan untuk menjadi cerita yg benar-benar menyentuh psikis penonton secara lebih dalam. Mungkin sebentar lagi hal ini akan terjadi, karena generasi-generasi pembuat video game jaman sekarang sangat mengerti dengan pentingnya cerita karena mereka sendiri besar dengan budaya film sehingga game-game seperti ‘Heavy Rain’, ‘Metal Gear’, ‘Grand Theft Auto’, ‘Half-Life’ dan ‘Fall Out’ mempunyai cerita yg memukau dan original. Tinggal tunggu seorang sutradara yg mengerti dua dunia ini untuk bisa menggabungkannya dan membuat film yg spektakuler.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: