Tag Archives: art

#ALLMYMOVIES: Lebih dari film

20 Nov

Screen Shot 2015-11-20 at 2.32.30 PM

 

72 jam.

27 film.

Sebuah projek performance art di mana Shia Labeouf menonton semua film yg pernah dia kerjakan dari film terakhir sampai film pertama dan kita bisa melihat ekspresi dia menonton film melalui live stream (tidak ada suara karena masalah hak cipta dari setiap film). Kamera di arahkan ke arah Labeouf dan sedikit ke penonton. Para penonton di bioskop juga bisa menonton dengan gratis dan kalau tahan juga boleh begadang 3 hari bersama Labeouf.

Sekilas seperti sebuah projek yg cukup gampang dan terkesan sangat egois. Apa sih susahnya cuman duduk dan nonton film selama 3 hari? Engga ada kerjaan banget ya bikin statemen kaya gini? Apa poin dari semua ini?

Awalnya saya juga hanya menganggap projek ini projek narsis. Bagi saya kebanyakan konsep dan eksekusi projek performance art sangat abstrak dan tidak mempunyai struktur/narasi yg ketat. Tetapi karena projek ini berhubungan dengan film saya iseng-iseng ikut nimbrung.

Dan ternyata pengalaman ini membuka mata saya dalam hal-hal baru yg tidak saya sangka.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.34.12 PM

Shia Labeouf memang seorang aktor yg mempunyai talenta yg tajam dan sangat dedikasi dengan perannya walaupun belakangan ini dia mempunyai banyak masalah pribadi dan masalah hukum. Perjalanan mencari jati diri dia yg naik turun semakin ter-refleksi di pilihan film dia pasca ‘Transformers’. Dia selalu mencari peran yg lebih kompleks dan tidak selalu komersil, ekstensi ini di teruskan ketika dia mulai terlibat dengan kontemporer art dan projek-projek yg ‘aneh-aneh’.

#ALLMYMOVIES adalah projek yg sepertinya simple dan tidak kompleks tetapi semakin lama saya menonton Labeouf dan membaca reaksi penonton yg berkomen di twitter membuat pengalaman ini menjadi lebih kena karena kita melihat pelan-pelan Labeouf menderita karena kurang tidur dan kita para ‘pengintip’ lama-lama mempunyai investasi emosi yg cukup tinggi dengan Labeouf.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.30.40 PM

Kita melihat reaksi Labeouf tertawa ketika dia menonton ‘Surf’s up’, reaksi intens ketika menonton ‘Nymphomaniac’, malu/sebal ketika menonton ‘Transformers’ dan seperti anak kecil ketika menonton ‘The Even Stevens Movie’.

Dan apa hubungan ini semua dengan film?

Semuanya.

Menonton selalu menjadi pengalaman satu arah. Kita menonton layar. Selesai.

Tetapi ketika kita menonton seseorang yg sedang menonton film pengalaman itu berubah, tidak lagi menjadi satu dimensi. Memang kelihatannya membosankan dan tidak ada cerita tetapi justru esensi menonton film yg paling dasar menjadi lebih jelas, emosi.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.32.03 PM

Film di desain untuk ‘bermain’ dengan segala macam emosi kita; sedih, tertawa, marah, serius, ketakutan, dsb. Tetapi jarang sekali kita melihat emosi itu di penonton ketika mereka sedang menonton. Ketika kita melihat seseorang menonton film ber-emosi, kita juga merasakan sesuatu. Ini mutlak, karena kita adalah mahluk yg hidup dengan emosi.

Menonton Shia Labeouf menonton film dia seperti berjalan bareng dengan memori dia. Kita melihat emosi dia yg murni, bagaimana dia menangis ketika menonton ‘A Guide to Recognizing Your Saints’, ketiduran karena frustrasi waktu menoton ‘Transformers’ dan tersenyum ketika menonton film dia sewaktu remaja ‘Hole’.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.33.46 PM

Dan juga karena urutan film di balik dari film terakhir sampai film dia yg pertama. Kita merasakan emosi Labeouf menonton film dari yg berat sampai ringan dan film yg mempunyai nilai artistik tinggi sampai film yg komersil/kurang bagus sepertinya mengingatkan kecintaan dia terhadap film. Ini membuka dimensi yg baru karena kita melihat reaksi seseorang yg besar dan kerja di film dan juga aktor yg cukup ber-talenta melihat sejarah hidup dia melalui film. This is some heavy shit, no?

Belum lagi orang-orang di sekitar dia secara sengaja/tidak sengaja menjadi bagian dari cerita Labeouf menonton dalam 72 jam. Ada orang yg dandan mirip Kurt Cobain dan duduk di belakang Labeouf, ada orang yg dandan kaya hipster bajak laut dan duduk di sebelah, ada seorang perempuan memakai topi besar dan main hp selama menonton dan mencoba menarik perhatian (tidak di gubris, untungnya).

shia2

Lucunya, semua orang menjadi sebal sama si perempuan topi besar yg suka main hp dan selalu curi-curi pandang. Dia menjadi bahan lelucon yg kocak di twitter karena secara perlahan kita menjadi sedikit protective dengan kondisi Labeouf. Bahkan penonton yg di bioskop juga bisa melihat komen-komen di twitter karena mereka sering cek hp sehingga bisa terjadi sebuah interaksi di mana kita di twitter menyuruh mereka untuk melambai dan mereka melakukan itu

Screen Shot 2015-11-20 at 7.27.06 PM

Ketika kita yg menonton di live stream bisa komen ini di twitter dan mealui #AllMyMovies kita bisa baca komen-komen orang lain yg juga menonton live stream sehingga membuat suasana menjadi spektator global dan secara pelan-pelan terbangun sebuah komunitas yg juga ikut nonton/begadang bersama Labeouf sehingga menimbulkan sebuah hubungan yg sangat menarik antara para penonton di internet, penonton di bioskop dan tentunya Shia Labeouf juga.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.33.23 PM

Intinya konsep ini secara tidak sengaja telah menjadi sebuah gabungan hybrid antara performance art dengan experimen sosial sehingga mempunyai dampak yg unik dan tidak terduga dan benang merah dari semua ini terjadi karena kecintaan kita kepada film.

Tetapi untungnya fokus masih ke Labeouf, walaupun penonton di bioskop datang pergi dan membawa momen-momen unik, mereka adalah ‘supporting cast’ dan tidak terlalu di pikirin oleh Labeouf. Labeouf juga bersikap tenang dan fokus dengan menonton film walaupun kelihatan dia semakin letih. Dia jarang sekali berinteraksi dengan penonton di sekitarnya (tapi dia sempat bagi-bagi pizza) dan ini sangat penting karena sangat gampang sekali ketika seorang ‘selebriti’ mulai tergoda untuk berbicara banyak dengan orang sekitarnya dan pastinya akan menjadi lebih rame.

Screen Shot 2015-11-20 at 2.34.59 PM

Belum lagi kalo teman-teman selebriti Labeouf ingin datang tanpa ngantri dan nongkrong bareng pasti akan membuat acara ini lebih rame tapi untungnya Labeouf menolak karena projek ini bukan acara ‘nongkrong bareng dan gaul’ tapi menjadi sebuah introspeksi diri di mana emosi Labeouf tentang karyanya menjadi terbuka secara jujur dan di dalam kejujuran itu kita melihat kerapuhan dia. Ini yg membuat projek spesial karena dia berani untuk share momen kerapuhan dia ke dunia dan kita merasakan emosi dia.

In it’s simplicity, it’s about sharing your naked emotions. It’s why we love films right?

tintascreenplay.com

 

Streaming bisa di tonton lagi di sini:

http://newhive.com/allmymovies

 

Advertisements

The lost art of conversation

26 Jun

 Sebagai penulis screenplay, ada peraturan umum di mana ketika kita menulis dialog musti di minimaliskan. Malah ada beberapa screenwriter fundamentalis yg berpikir  kalau dialog line melebihi tiga baris maka ini adalah dosa besar karena di mata mereka, penonton akan ketiduran karena musti mendengar dialog berlebihan. Ada juga  writer/director/producer yg insist bahwa karena film adalah medium visual, dialog musti di kurangi atau bahkan di jadikan anak tiri.

Saya tidak mengerti sejak kapan dialog musti di permasalahkan. Saya paham maksud mereka kalau penulis yg coba berdialog banyak bukannya membuat script mereka kuat  tetapi jadi tidak fokus. Saya tahu argumen itu, tetapi menjadikan itu sebagai hukum yg tidak bisa di tawar? No, thank you.

Banyak sekali film-film classic yg menggunakan banyak dialog di film mereka. Film-film sepert His girl friday, It happened one night, A bout de souffle, Annie Hall menggunakan dialog sebagai salah satu kekuatan dari film mereka. Dengan berdialog, aktor bisa menemukan ritme karakter mereka, karena dialog yg bagus dan pintar bisa reveal the mindset of the character secara lebih jelas dan itu membuat karakter menjadi tidak terlupakan. Bagi saya ketika Michel bersembunyi di apartemen Patricia (A bout de souffle) dan mereka berkonversasi  adalah one of the greatest dialog scene in the history of cinema. Percakapan mereka mungkin kelihatannya innocent, witty dan playful, tetapi kalau anda sudah menonton film itu dan menonton ulang lagi bagi saya scene ini sangat heartbreaking karena tanda-tanda hubungan mereka tidak akan mempunyai happy ending sudah ada indikasinya di sini.

Michel & Patricia. A bout de souffle (1960)

Konversasi mereka mengungkapkan bahwa mereka adalah dua karakter yg  bertolak belakang dan sangat beda. Yg satu dreamer-yg satu praktikal, yg satu sensitive- yg satu realist, tetapi mereka bisa menemukan koneksi di mana untuk sesaat  mereka adalah dua manusia yg sedang jatuh cinta dan menemukan sesama. Dan kita sebagai penonton merasakan itu, kita merasakan mereka benar-benar jatuh cinta tetapi masalah besar akan selalu mengikuti mereka. Kita mau mereka berhasil dan pergi berdua riding into the sunset but it ain’t gonna happen….

Scene ini juga bisa di bilang cukup lama, sekitar 10 menit atau lebih. Di era modern, tidak banyak film yg mau berdialog intens secara 10 menit kecuali kalau yg bikin adalah Wody Allen, Tarantino, Paul Thomas Anderson, Judd apatow  atau Lars von trier. Most filmmakers nowadays take the safe way out.

Kalo saya sendiri, itu tergantung dari skill set individu penulis. Kalo memang suka dialog panjang, ya coba latihan terus. mungkin di awal-awal scene yg anda bikin tidak menarik tetapi karena banyak latihan , anda akan menemukan sebuah pattern atau strukur dalam berdialog panjang. Saya tidak masalah film yg berdialog panjang, malah saya cukup suka tetapi memang di butuhkan skill penulis yg cukup tinggi supaya scene itu tidak membosankan. Inti untuk berdialog panjang selalu kembali ke karakter. Dialog reveals who the character is. Apa yg anda ingin komunikasikan tentang karakter anda ke penonton? Apakah karakter anda orangnya lucu, periang, pintar, cerewet, paranoid? Itu semua ada di tangan anda. Bagi saya dialog panjang selalu akan menjadi bagian dari sinema dan di gunakan untuk sebuah style yg unik.

tintascreenplay.com

 

%d bloggers like this: