Tag Archives: comedy

Wild Tales: Esensi balas dendam

26 Mar
Wild Tales (2014)

Wild Tales (2014)

‘Wild Tales’ adalah film Argentina karya sutradara Damián Szifrón yg mempunyai tema kental tentang balas dendam dan di baluti oleh black comedy tentang apa yg terjadi ketika orang-orang modern bertindak beringas dan menjadi biadab. ‘Wild Tales’ terdiri dari enam film pendek dengan cerita yg terpisah dan berbeda-beda tetapi mempunyai benang merah yg sama. Kata-kata ‘Omnibus’ sering di lontarkan dan menjadi tren ketika mendiskripsi tentang film-film pendek yg di kumpulkan dengan tema yg mirip tetapi kebanyakan film-film itu kurang maksimal atau kurang greget karena variasi kualitas yg naik turn dari setiap film membuat film secara keseluruhan menjadi tidak imbang dan tema tidak fokus.

Atau juga karena film itu mencoba untuk menjadi ‘dalam’ tetapi malah gagal total karena terlalu maksa menjadi sok artistik dan akhirnya malah membuat penonton darah tinggi. ‘Wild Tales’ tidak memiliki masalah seperti itu karena setiap cerita selalu membuat penoton penasaran, greget, tertawa dan kaget. Mungkin karena di buat oleh satu sutradara, enam film pendek ini mempunyai warna yg sama (walaupun cerita satu sama lain tidak berhubungan) dan sangat fokus dengan temanya. wildtales4   Setiap cerita sangat variatif tetapi mempunyai ‘gigitan’ yg sama. Cerita pertama, ‘Pasternak’ tentang seorang penumpang pesawat yg berbasa-basi dengan orang di sebelahnya. Mereka ternyata kenal dengan salah satu teman mereka, seorang komposer musik yg gagal dan salah satu dari mereka adalah kritikus musik yg menilai bahwa teman mereka bukan komposer musik yg handal. Seorang penumpang mendengar omongan mereka dan dia juga mengaku kenal kenal dengan orang yg di bicarakan.

Tiba-tiba seorang penumpang lain juga mendengar pembicaraan mereka dan juga mengaku kenal dengan orang yg di bicarakan. Mereka semua tidak pernah ketemu satu sama lain tetapi mereka mempunyai kesamaan bahwa mereka kenal dengan orang yg di bicarakan dan mereka pernah punya masalah dengan dia. Ternyata semua penumpang di pesawat itu kenal dengan satu orang itu dan mereka juga punya sejarah konflik. Akhir dari cerita ini cukup tidak terduga dan bagi saya sangat lucu in a black comedy sort of way.

Di cerita yg berjudul ‘Bombita’, kehidupan seorang ahli peledak bangunan pelan-pelan runtuh karena hal sepele; dia tidak membayar tilang karena parkir di tempat yg salah. Dia mencoba berkali-kali untuk beragumentasi bahwa ketika dia parkir, dia tidak melihat tanda tidak boleh parkir tetapi komplain dia tidak di gubris oleh departemen lalu lintas dan karena dia berkeras kepala untuk melawan sistem yg korup akhirnya malah menyebabkan dia kehilangan pekerjaan dan keluarganya, sehingga dia berencana untuk membalas dendam dengan mengebom departemen lalu lintas.

Di cerita ‘Road to Hell’ , Seorang laki-laki yuppie kelas atas yg membawa mobil Audi mencoba untuk menyalip sebuah mobil butut di jalanan sepi di luar kota dan mengejek si pengemudi mobil butut. Tidak lama kemudian, ban mobil Audi dia meletus dan dia musti berhenti di samping jembatan. Ketika dia sudah hampir selesai membetulkan ban, si mobil butut muncul dan konflik terjadi antara kedua pengemudi. Wild Tales_03 Atau di cerita ‘The Rats’ di mana seorang pelayan di sebuah restauran ingin membalas dendam kepada seorang politisi korup yang menghancurkan keluarganya dan si pelayan mengalami delima untuk menaruh racun tikus di makanan si politikus.

Konsep ‘Wild Tales’ memang mirip dengan ‘Twilight Zone’ atau ‘Black Mirror’ tentang film-film pendek yg mempunyai cerita yg sedikit off beat/aneh tetapi dasarnya mengkritik tentang bagaimana cara manusia hidup. Yg membedakan ‘Wild Tales’ adalah cerita bukan di domain fantasy/sci-fi tetapi tentang kehidupan masyarakat Argentina di jaman sekarang yg penuh dengan kefrustrasian karena ketidak adilan, perbedaan kelas, dan hidup di sistem negara yg korup.

Cerita ‘Bombita’ sangat jelas mengkritik sistem pemerintahan Argentina yg berbelit-belit dan birokrasi yg tidak peduli dengan rakyatnya. karena sebuah masalah sepele seperti tiket tilang, kehidupan seseorang drastis berubah total. Memang si ahli peledak juga mempunya sifat yg jelek. Dia emosian, tidak sabaran dan pernikahan dia di ujung tanduk karena dia kurang memperhatikan istrinya. Tetapi dari sudut pandang lain, apakah karena masalah tiket tilang hidup dia berantakan atau walapun tidak ada masalah karena tiket tilang, kehidupan dia akhirnya akan menjadi berantakan juga karena dia tidak bisa mengontrol emosinya? wt6

Tapi yg pasti ‘Wild Tales’ membuat poin yg jelas bahwa sistem negara yg korup dan tidak fleksibel secara langsung atau tidak akan membuat rakyatnya merana. Atau paling tidak, menjerumuskan rakyat ke situasi yg membuat hidup lebih susah karena hal yg sepele menjadi ribet sehingga membuat mereka menjadi tambah frustasi dan kefrustasian ini akhirnya bisa mendorong mereka membuat hal yg ekstrim.

Cerita ‘Road To Hell’ sendiri menjadi simbol konflik antara kelas atas dan kelas buruh dimana kedua pihak membenci satu sama lain (karena hal sepele juga) dan berentet menjadi hasil yg tragis karena masing-masing pihak mengalami frustasi karena tidak bisa berkomunikasi dengan kaum lain ataupun karena sudah mempunyai dendam kesumat yg dalam sehingga karena di picu hal sepele semua murka dan kebencian terhadap pihak lain akhirnya keluar semua.

Tetapi tidak semua cerita berakhir dengan tragis, di cerita ‘Till Death Us Do Part’ di mulai oleh sepasang pengantin yg sedang menikmati pesta perkawinan tetapi situasi berubah drastis ketika pengantin perempuan mendapatkan informasi bahwa pengantin pria berselingkuh dan pacarnya sedang berada di pesta juga. Pengantin wanita awalnya patah hati dan bahkan ingin bunuh diri tetapi akhirnya berencana untuk membalas dendam dan pelan-pelan membuat pengantin pria merana. wt7   Yg membuat cerita ini lucu adalah kita melihat pergantian situasi di mana giliran pengantin pria yg merana dan tersiksa oleh ulah pengantin perempuan tetapi dengan ending twist yg cukup tidak terduga sehingga menjadi cerita romantis versi black comedy. Dan ini memang esensi ‘Wild Tales’ walaupun garang, tidak mudah ketebak dan kadang-kadang absurd, film ini terasa dekat dan relevan.

tintascreenplay.com

Advertisements

19 timeless Robin Williams quotes

19 Aug

1.”You’re only given one little spark of madness. You mustn’t lose it.”

 

2. “Do you think God gets stoned? I think so … look at the platypus.”

 

3. “See, the problem is that God gives men a brain and a penis, and only enough blood to run one at a time.”

 

4. “When in doubt, go for the dick joke.”

rw2

5. “We don’t read and write poetry because it’s cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering – these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love – these are what we stay alive for.” (John Keating- Dead Poets Society)

 

6. “You could talk about same-sex marriage, but people who have been married say ‘It’s the same sex all the time.'”

 

7. “Never fight with an ugly person, they’ve got nothing to lose.”

 

8. “Comedy is acting out optimism.”

 

9. “No matter what people tell you, words and ideas can change the world.” (John Keating- Dead Poets Society)

rw6

10. “In America they really do mythologise people when they die.”

 

11. “Reality is just a crutch for people who can’t cope with drugs.”

 

12. “Cocaine is God’s way of saying you’re making too much money.”

rw4

13. “It’s a wonderful feeling when your father becomes not a god but a man to you- when he comes down from the mountain and you see he’s this man with weaknesses. And you love him as this whole being, not as a figurehead.”

 

14. “But only in their dreams can men be truly free. It was always thus and always thus will be.” (John Keating- Dead Poets Society)

 

15. “I believe that once we are all gone, Keith Richards will still be here…with 5 cockroaches saying ‘you know I smoked your uncle, did you know that?'”

rw3

16. “People say satire is dead. It’s not dead; it’s alive and living in the White House.”

 

17. “You will have bad times, but they will always wake you up to the stuff you weren’t paying attention to.”

 

18. “I used to think the worst thing in life was to end up all alone, it’s not. The worst thing in life is to end up with people who make you feel alone.”

 

19. rw5

tintascreenplay.com

 

Beda tetapi sama

30 Dec
The Breakfast Club (1985)

The Breakfast Club (1985)

 

“When you grow up, your heart dies.” – Allison

 

Film yg di atas rata-rata atau yg exceptionally great mempunyai sebuah benang merah yg sama. Mereka meninggalkan kesan yg lebih dalam setelah film selesai. Contohnya film Sci-fi yg brilliant (2001: A Space Odyssey) bukan hanya sekedar mengandalkan special FX atau action atau big budget saja tetapi musti mempunyai tema/ide yg lebih berani/beda sehingga meninggalkan bekas yg unik di pikiran penonton. ‘The Breakfast Club’ adalah salah satu film yg di anggap exceptionally great dan di anggap sebagai ‘one of the greatest high school films of all time’.

Writer/director John Hughes memang di sebut sebagai pioneer dalam membuat film-film high school comedy karena selucu-lucunya film dia, dia juga selalu fokus untuk membuat karakter-karakternya terasa humanis dan nyata. Sebuah visi yg sangat beda dan jarang di era ’80 an di mana fim-film Hollywood teen comedies hanya fokus ke karakter-karakter klise/dua dimensi, aspek komedi yg terlalu di buat-buat.  Sex/ menjadi tenar/pesta pora di jadikan gol/impian standard karakter-karakter di film teen. Sementara  hal yg mereka lupakan justru hal yg paling penting untuk membuat film yg menyentuh: hati.

Ya, bahkan film komedi membutuhkan hati untuk membuat film itu bukan hanya sekedar good tetapi great.

‘The Breakfast Club’ mempunyai visi yg sangat unik dan beda karena berani untuk meng-ekplorasi karakter-karakter high school yg klise dan memutar balikan konvensi itu. Ceritanya sangat simple, tentang karakter-karakter klise yg musti meluangkan waktu di sabtu pagi di perpustakaan sekolah karena mereka di hukum. Ada Andrew (Sport star), John (Rebel), Brian (Nerd), Claire (Rich popular girl) dan Allison (Weirdo). Walaupun mereka kenal satu sama lain tetapi mereka tidak peduli antara sesama karena mereka punya  ‘geng’ masing-masing.

Tetapi semakin lama mereka mengenal satu sama lain (Melalui proses yg panjang/lucu/penuh konflik tentunya) semakin mereka melihat bahwa siapa mereka di luar belum tentu bahwa itu sebenarnya jati diri mereka di dalam dan mereka menemukan bahwa ternyata mereka mempunyai lebih banyak persamaan walaupun sekilas atau dari luar mereka sangat beda. Mereka sama-sama mengalamai tekanan dari keluarga/teman, tidak akur sama orang tua, merasa tidak percaya diri, bahkan ada yg sempat memikirkan bunuh diri.

Awalnya John memfokuskan untuk mengejek Claire dan Andrew karena mereka murid-murid populer. Claire merasa terasingkan dari orang tuanya, Andrew ingin sekali untuk bisa argumentasi dengan bapaknya yg terlalu banyak ngatur tetapi dia tidak pernah mempunyai keberanian, John berasal dari keluarga yg abusive di mana bapaknya sering memukuli dia. Mereka bertiga berpikir Brian mempunyai keluarga yg sempurna tetapi dia justru mempunyai keinginan yg sangat kelam sementara Allison mempunyai dunia sendiri seperti binatang liar yg menyendiri.

John Bender: [after Claire performs her lipstick trick]
[claps sarcastically]

John Bender: Wow, Claire. That was great. My image of you is totally blown.

Allison Reynolds: You’re a shit. Don’t do that to her, you swore to God you wouldn’t laugh.

John Bender: Am I laughing?

Andrew Clark: [shouts angrily] You fuckin’ prick!

John Bender: What do you care what I think anyway? I don’t even count… Right? I could disappear forever and it wouldn’t make any difference. I might as well not even exist at this school, remember?
[turns to Claire]

John Bender: And you… don’t like me anyway.

Claire Standish: You know, I have just as, many feelings as you do and, it hurts so much, when someone steps all over them.

John Bender: God! You’re so pathetic. Don’t you ever, *ever* compare yourself to me, okay. You got everything, and I got shit. Fuckin’ Repunzel, right? School would probably, fuckin’ shut down if you didn’t show up. Queenie, isn’t here. I like those earrings, Claire.

Claire Standish: Shut up.

John Bender: Are those, real diamonds Claire?

John Bender: Shut up.

John Bender: I bet, they are. Did you work, for the money, for those earrings?

Claire Standish: Shut, your mouth.

John Bender: Or , did your daddy, buy those for you?

Claire Standish: [shouts] SHUT UP!

John Bender: I’ll bet he bought those for you. I bet those were a Christmas gift. Right? You know what I got for Christmas? Oh, it was a banner fucking year at the old Bender family. I got a carton of cigarettes. The old man grabbed me and said, “Hey, smoke up Johnny.” Alright? So go home and cry to your Daddy. Don’t cry here, okay?

Andrew Clark: My God, are we gonna be like, our parents?

Claire Standish: Not me. Ever.

Lama kelamaan, mereka akhirnya bisa membuka diri dan menemukan bahwa untuk sesaat mereka tidak sendiri dan kesamaan sesaat ini bahkan membuat mereka untuk berbagi rahasia masing-masing yg mereka tidak pernah kasih tahu orang lain. Walaupun dari luar mereka sangat bertolak belakang antara satu sama lain tetapi di dalam, mereka sama-sama takut/kebingungan untuk mengerti dunia mereka.

John Hughes bisa menangkap fase remaja yg kompleks/membingungkan ini yg selalu di hadapi oleh setiap anak remaja dan membuat karakter-karakter mereka menjadi lebih komplit seperti manusia nyata. Hughes juga tidak mau memberikan solusi yg di buat-buat (Mereka akan menjadi teman abadi selamanya!)  karena dia tahu walaupun untuk hari ini sepertinya mereka lebih dekat dan bisa di bilang menjadi teman, tetapi apakah di hari senin nanti ketika mereka ketemu lagi, mereka saling berpapasan?

90% scene di ‘The Breakfast Club’ di shooting di perpustakaan untuk membuat interaksi karakter mereka semakin intens dan penonton bisa merasakan untuk sesaat dunia sempit yg mereka tempati atau juga semacam simbolisme bahwa hidup mereka seperti di penjara. Bisa di bilang film ini sangat heavy di dialog tetapi dengan script Hughes yg sangat hidup/tajam dan di dukung oleh akting  yg sangat mendalami, ‘The Breakfast Club’ tidak pernah terasa bosan atau asing malah dengan limitasi ruangan/waktu itu John Hughes bisa membuat film dunia remaja yg penuh dengan ‘kedangkalan’ menjadi sangat terbuka, kompleks, dekat dan lucu. Dan untuk sesaat, it’s the coolest place to be.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: