Tag Archives: hollywood

3 perubahan radikal yg akan terjadi di Hollywood dan merubah cara menonton film

2 Jul

Perubahan cara menonton dan mendistribusi film di masa depan akan berubah drastis, bahkan sudah banyak yg beragumentasi bahwa perubahan itu sudah terjadi. Apakah perubahan yg terjadi di Hollywood akan merambat ke setiap negara? Ini masih tanda tanya besar tetapi pastinya akan mempunyai efek yg besar ke setiap negara karena dominasi Hollywood di dunia sudah tidak bisa di pungkiri lagi.

 

1. Tidak akan ada lagi film low/medium budget di bioskop mainstream

Studio-studio film akan konsentrasi ke produksi film-film budget besar dengan mengandalkan CGI, action dan sekuel-sekuel  film franchise. Studio tidak akan memproduksi film-film low/medium budget karena mereka ingin memaksimalkan profit sebanyak-banyaknya. Salah satu alasannya (selain mental block buster yg sudah mendarah daging di studio) adalah penjualan DVD yg merosot karena illegal/legal downloading dan streaming dari internet telah membuat studio antipati dengan proyek film-film yg di nilai tidak komersil atau terlalu ‘sulit’ di cerna penonton. Penjualan DVD telah menjadi salah satu sumber income terbesar untuk studio. Maraknya illegal/legal downloading/streaming telah membuat keuntungan studio-studio berkurang sehingga 50%! Studio-studio besar musti bertanggung jawab kepada investor/bank/pemegang saham untuk memberikan mereka profit sebanyak-banyaknya. Merosotnya profit dari penjualan DVD membuat studio-studio untuk memangkas film-film low/medium budget karena di anggap tidak mengguntungkan sehingga mereka hanya berkonsentrasi dengan film-film big budget yg mempunyai commercial appeal yg paling aman/besar.

 

2. Harga tiket bisa mencapai $25-50

Steven Spielberg memprediksi model bioskop masa depan akan menirukan sistem teater broadway di mana durasi masa tayang di bioskop bisa berbulan-bulan dengan harga mahal demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya karena bujet untuk produksi film akan semakin naik. Diam-diam hal ini sudah mulai terjadi di Indonesia, di mana premiere 21 mematok harga Rp150.000 untuk menonton di weekend. Mungkin nanti jika anda menonton ‘The Fast and Furious 25’ anda akan mendapatkan pernik-pernik seperti copy-an digital filmnya, merchandise, t-shirt dengan paket hemat makanan? Di Amerika, ini sudah terjadi.

 

3. Film low-medium budget/indie/festival akan hijrah ke internet/cable TV

Pembuat film yg mempunyai visi unik/indie atau film-film budget rendah masih bisa bertahan dengan berhijrah ke internet atau cable TV. Situs seperti netflix, iTunes, Amazon, VOD akan menjadi sarana penting untuk pembuat film-film indie di mana distribusi film mereka lebih menguntungkan daripada melalui sistem studio. Bahkan sutradara seperti Steven Spielberg dan George Lucas sendiri (yg menciptakan konsep blockbuster) mengalami kesulitan dengan distribusi film mereka di bioskop. Film Spielberg ‘Lincoln’ hampir tidak masuk ke bioskop dan hanya akan tayang di HBO. Sementara film George Lucas ‘Red Tails’ hampir tidak main di bioskop.

Cable TV seperti HBO, amc, FX akan lebih fokus dengan cerita-cerita berkualitas di mana penulisan cerita akan lebih panjang, dalam dan kompleks. Mungkin juga budget produksi untuk serial-serial TV berkualitas akan naik untuk lebih menarik perhatian penonton. Sutradara unik seperti David Lynch, Steven Soderbergh atau Gus Van Sant juga akan lebih banyak berkarya dengan membuat serial TV karena mereka mendapatkan kebebasan ber-expresi yg lebih nyaman di banding menghadapi tekanan studio yg lebih berat.

 tintascreenplay.com

Advertisements

Ketika film sudah tidak memuaskan lagi

15 Mar
Sopranos-Season5F

The Sopranos

 

Mungkin anda sudah merasakannya, mungkin belum. Telah terjadi perubahan pelan-pelan tapi signifikan di antara film-film mainstream Hollywood dan serial TV.

Mayoritas cerita yg berkualitas, pintar dan tidak mudah ketebak sudah migrasi ke TV.

Ya, saya juga engga percaya dan pertamanya tidak mau percaya. Tetapi itu sudah terjadi.

Yup, suka atau tidak ini sudah menjadi kenyataan.

“Tapi kemarin film-film yg menang di Oscar berkualitas semua!”

Ya, tetapi film-film itu memang di desain untuk award season. Hollywood mempunyai tradisi di mana setiap studio pasti akan membuat film-film berkualitas yg fokus ke cerita yg matang dan karakter yg kompleks untuk Oscar tetapi fokus utama bisnis mereka sekarang adalah membuat film-film blockbuster yg penuh dengan CGI dan action demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Tentunya tidak semua film-film budget besar berkualitas buruk, ada juga film-film yg di dominasi CGI mempunyai visi unik dan beda tetapi rasionya sangat rendah sekali. Untungnya, serial TV lebih bersedia untuk meng- explore cerita-cerita yg lebih berani dan berkualitas karena mereka tidak mempunyai budget 100 juta+ dollar sehingga mereka tidak mempunyai tekanan untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya seperti film-film big budget.

Kita sedang berada di era keemasan serial TV selama 15 tahun terakhir di mana acara-acara seperti ‘The Sopranos’, ‘Six Feet Under’, ‘The Shield’, ‘Mad Men’, ‘The Wire’, ‘Battlestar Galactica’, ‘The Walking Dead’, ‘Game of Thrones’, ‘Breaking Bad’, ‘Girls’, ‘Homeland’ dan masih banyak lagi mendominasi serial TV dan pop culture dengan cerita-cerita yg baru, berani dan segar sehingga menjadi sukses dan mendapat pujian dari penonton dan kritikus. Di Amerika, diskusi serial TV lebih hangat dan personal karena serial TV punya banyak waktu untuk develop karakter dan cerita yg inovatif, unik dan beda sehingga penonton lebih mempunyai investment emosional yg lebih tinggi di bandingkan mayoritas film-film Hollywood mainstream yg tidak meninggalkan kesan berarti.

Hubungan antara Televisi dan film memang cukup unik dan kompleks. Ketika Televisi pertama muncul di tahun 50’an, industri perfilman merasa terancam karena mereka takut penonton tidak keluar rumah sehingga dunia perfilman melakukan gebrakan teknis seperti menciptakan 3D sinema, membuat film-film epik yg menggunakan  lensa kamera anarmorphic 70mm dan mempromosikan bintang-bintang Hollywood dengan heboh untuk menambah kesan glamor. Strategi itu berhasil dan semenjak itu Televisi di anggap seperti saudara tiri film di mana perjalanan seorang aktor/penulis/sutradara di mulai dari TV dan ‘naik kelas’ ke film di anggap normal tetapi jika seorang bintang film/penulis/sutradara balik ke TV dari film, karir mereka di anggap gagal.

Ketika era film-film CGI mulai beranjak di pertengahan 90’an dan mulai mendominasi market di tahun 2000’an sampai sekarang, banyak kualitas cerita-cerita yg lebih unik dan berani menjadi tersingkirkan di perfilman tetapi mendapatkan rumah di TV atau lebih spesifik lagi chanel cable seperti HBO di mana mereka lebih mementingkan kualitas cerita daripada hype, bintang-bintang Hollywood yg glamor dan sensasi spesial FX/CGI. Untungnya lagi, mayoritas pembuat acara serial TV biasanya mempunyai latar belakang penulis di mana mereka lebih peka dengan kualitas penulisan cerita sehingga serial TV mempunyai kultur di mana penulis-penulis sangat di hargai.

Kebanyakan pembuat acara/penulis sudah kenyang membuat acara-acara komersil dan tidak berbobot di chanel TV free to air (CBS, NBC) sehingga ketika mereka melontarkan ide-ide idealis mereka ke HBO dan di terima, era keemasan serial TV sudah di mulai. Mereka mempunyai ide dan visi yg berani dan pintar di mana mereka membuat acara yg di fokuskan untuk pasar/segmen yg terbatas dari pada membuat serial yg musti semua orang suka sementara pemikiran produser film-film blockbuster Hollywood justru kebalikan. Mereka membuat film untuk semua orang/pasar karena mentalitas blockbuster memang seperti itu.

Ketika serial seperti ‘The Sopranos’ menjadi hit dari mulut-ke mulut dan akhirnya menjadi fenomena, strategi ini menjadi sebuah contoh untuk serial-serial yg lain di mana penonton sebenarnya suka dengan cerita yg panjang dan tema berat. Penonton suka dengan karaker-karakter yg kompleks dan humanis karena terasa lebih nyata dan yg lebih penting penonton tidak merasa di rendahkan dengan cerita-cerita yg klise dan aman. Mereka suka di bawa ke dunia yg tidak familiar dan cerita yg tidak mudah ketebak.

Sekarang aktor-aktor Hollywood kelas atas atau yg dulu ngetop berbondong-bondong ingin bekerja di serial TV berkualitas, memang tidak semua berhasil tetapi ini menunjukan inidikasi bahwa kualitas cerita serial TV sudah menyaingi bahkan melebihi banyak film-film Hollywood sekarang ini.

Jadi jika anda sudah banyak kecewa dengan mayoritas kualitas cerita film-film Hollywood yg gitu-gitu aja atau sudah lelah dengan film-film CGI/super hero coba cek serial-serial TV yg unik dan berani. Definetly worth it.

tintascreenplay.com

4 alasan George Lucas dan Steven Spielberg merubah dunia perfilman menjadi lebih buruk

19 Feb
steven&george2

George Lucas & Steven Spielberg

 

Siapa tidak kenal George Lucas dan Steven Spielberg? Kedua sutradara ini telah merubah dunia perfilman dengan film-film mereka yg blockbuster dan sangat crowd pleasing. Mereka juga menginspirasikan banyak sekali generasi penonton dan pembuat film sehingga  merubah kebiasaan cara kita menonton dan cara industri film bekerja. Tetapi apakah perubahan yg mereka buat mempunyai efek positif untuk jangka panjang atau membawa Hollywood ke era yg lebih gelap? Walaupun saya penggemar film-film mereka, tetapi saya juga merasakan tidak semua perubahan yg mereka bawa mempunyai efek yg positif.

 

4. Mereka menciptakan kultur blockbuster

 Di awal tahun 70’an, Lucas dan Spielberg adalah dua orang sahabat/pelajar film yg baru kelar kuliah dan masih sangat hijau. Mereka memang pencinta film/pop culture uber geek sejati dari generasi baby boomer (lahir setelah perang dunia ke II, dimana terjadi pelonjakan tajam kelahiran bayi-bayi) di mana mereka tumbuh di era jaman keemasan Amerika di tahun 50’an. Inovasi dan optimisme di era itu membuahkan budaya televisi yg berkembang cepat di mana Spielberg dan Lucas tumbuh dengan acara-acara televisi yg mempunyai mass appeal (selera masa) yg kuat sehingga meninggalkan bekas yg kuat di benak mereka (satu keluarga menonton acara TV bareng-bareng dengan sangat entusias). Belum lagi kecintaan mereka terhadap buku komik, rock n roll, fast food dan film (dengan inovasi movie drive-in) membuat mereka sangat peka dengan selera budaya pop culture Amerika.

Mereka juga mencintai film-film dari Eropa/Jepang/art films sehingga mereka mempunyai pengetahuan komplit tentang beragam macam film. Perbedaan mereka dengan alumni teman-teman sutradara yg lain (Martin Scorsese, Francis Ford Coppola, Brian De Palma) adalah mereka suka membuat film yg mempunyai mass appeal sementara Scorsese, Coppola dan De Palma lebih suka membuat film-film yg lebih personal/edgy. Makanya ketika film Spielberg ‘Jaws’ muncul dan sukses berat di kalangan anak muda/remaja terjadi di era summer (musim panas) ketika sedang liburan sekolah, sehingga terjadi perkataan ‘summer blockbuster’.  Lucas membawa konsep itu dan memecahkan rekor ‘Jaws’ dengan membuat ‘Star Wars’ menjadi fenomena dunia. Sejak saat itu era blocbuster telah lahir.

Masalahnya adalah ketika Hollywood terkena momentum blockbuster hit, mereka menjadi ketagihan dan ini menjadi tanda kematian bagi pembuat-pembuat film seperti Scorsese dan Coppola yg membuat film dengan cerita lebih berani dan kompleks. Prioritas studio-studio di Hollywood sekarang sudah menjadi profit oriented di mana mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya lebih penting daripada membuat film yg berkualitas dan intelligent. Marketing dan hype menjadi priortias utama untuk promosi film, bahkan bujet promosi semakin tahun-semakin naik drastis karena studio mengeluarkan banyak uang untuk promosi ke semua media.  Tentunya film-film yg di promosikan musti mempunyai mass appeal yg kuat sehingga cerita yg unik dan berkualitas di korbankan supaya semua orang mengerti dengan cerita-cerita yg klise dan aman.

 

3. Mereka menciptakan kultur CGI/Special FX/Digital film

 Progres dan inovasi adalah hal yg mutlak dan pasti terjadi di industri film tetapi jika kualitas cerita di korbankan demi hal teknis akan membawa dampak negatif terhadap industri film sendiri. Berapa kali kita terbawa oleh hype karena film mepromosikan visual/special FX/CGI yg canggih tetapi setelah menonton filmnya seperti tidak ada meninggalkan kesan yg berarti malah kita terasa seperti di exploitasi karena di paksa menonton visual menarik selama dua jam tetapi cerita yg dangkal/klise/bahkan merendahkan penonton. Spesial FX/CGI musti di gunakan untuk mendukung cerita bukan sebaliknya, hal yg simple ini sering di abaikan pembuat film di era sekarang karena mayoritas pembuat film sudah terlalmpau jatuh cinta dengan hal teknis tetapi melupakan esensi cerita sehingga merugikan penonton.

Lucas bisa di bilang sebagai salah satu pencetus inovator CGI utama dengan perusahaan dia ILM (Industrial Light and Magic) dan era film-film CGI melonjak drastis di awal tahun 2000’an, di mulai dengan film Lucas sendiri ‘The Phantom Menace’, dan kita tahu sendiri dengan hasil film itu. Di kritik habis-habisan karena terlalu fokus dengan CGI tetapi tidak mempunyai fondasi cerita yg solid. Lucas sendiri mengakui bahwa menulis screenplay adalah hal yg paling dia tidak sukai karena dia lebih doyan dengan teknis visual. Intinya. Walaupun film itu di anggap film Star Wars terburuk tetapi masih menghasilkan box office hit sehingga menciptakan sebuah kultur di mana walaupun film mempunyai cerita jelek tetapi masih menghasilkan untung karena mempunyai visual yg menarik.

Belum lagi inovasi Lucas dengan menggunakan kamera digital yg merevolusi industri film dan media. Memang shooting dengan digital memudahkan proses teknis di mana tidak di perlukan proses pencucian film secara analog tetapi secara visual film masih lebih superior di bandingkan digital. Mayoritas director of photography di Hollywood masih lebih suka menggunakan film karena looknya jauh lebih natural dan variatif sementara digital lebih flat dan kaku. Pastinya teknologi digital akan selalu berkembang dan menyamai kualitas film cuman ironis sekali di masa depan yg cukup dekat, film akan punah tetapi kita masih menyebutnya sebagai ‘film’.

 

2. Mereka menciptakan Michael Bay (dan replikanya)

 Memang tidak secara langsung tetapi tidak di pungkiri lagi generasi-generasi sutradara Hollywood berikutnya sudah familiar dengan konsep blockbuster dan sudah di jadikan sebagai pedoman di hidup mereka. Untuk setiap sutradara unik seperti Christopher Nolan, David Fincher, Tim Burton, Peter Jackson dan Quentin Tarantino yg peduli dengan segala aspek di film dan mempunyai visi yg beda dan personal. Akan ada sepuluh Michael Bay dan bahkan replika Michael Bay lainnya yg hanya peduli dengan membuat film action/sensasi yg berkualitas junk food dan membuat sekuel atau remake yg tidak ada habisnya. Sehingga rasio film jelek/biasa/sampah akan selalu lebih banyak daripada film berkualitas.

 

1. Mereka telah menjadi bagian dari insitusi yg dulu mereka benci

steven&george

 Spielberg dan Lucas adalah orang-orang  yg sangat keras kepala dan mandiri. Ketika pertama kali mereka memulai karir sutradara, mereka sangat benci dengan institusi studio Hollywood yg terlalu mengatur film mereka. Mereka selalu bertempur mati-matian untuk mendapatkan kontrol untuk film-film mereka. Ketika, kesuksesan tercapai dan mereka telah menjadi bagian dari institusi itu sendiri apa yg terjadi? Yg pasti mereka ingin mempertahankan posisi mereka di status quo dan melanjutkan membuat film-film yg mempunyai mass appeal. Karir Spielberg mungkin lebih variatif dari Lucas karena dia lebih banyak membuat film dengan genre yg berbeda tetapi cangkupan Spielberg sebagai sutradara, produser film dan produser di beragam acara Televisi membuat dia sebagai salah satu orang berpengaruh di Hollywood dan menjadi bagian penting dari institusi yg dulu dia benci. Otomatis menjadikan dia sebagai pembisnis film yg ulung dan tahu cara mengexploitasi pasar demi keuntungan.

Sementar Lucas sendiri telah menjadi seorang Emperor seperti karakter di Star Wars dan dia juga mengakui itu:

“What I was trying to do was stay independent so that I could make the movies I wanted to make,” Lucas says in the 2004 documentary “Empire of Dreams.” “But now I’ve found myself being the head of a corporation … I have become the very thing that I was trying to avoid.”

Mungkin salah satu alasan kenapa Lucas menjual perusahaannya ke Disney karena dia sudah capek di rongrong terus oleh Hollywood untuk membuat sekuel-sekuel Star Wars berikutnya. Sementara Spielberg sendiri memutuskan untuk tidak membuat film action lagi karena sudah jenuh dan dia ingin membuat film-film biopic seperti’ Lincoln’:

 “I knew I could do the action in my sleep at this point in my career. In my life, the action doesn’t hold any – it doesn’t attract me anymore.”

Mereka mungkin sudah jenuh tetapi dampak dari tindakan mereka sudah mendarah daging di Hollywood.

Yg paling ironis juga adalah di tahun awal 70’an, studio-studio Hollywood terancam bangkrut karena tidak bisa mengikuti perkembangan jaman lagi karena di era itu sedang terjadi pergumulan perubahan sosial yg radikal di Amerika di mana gerakan perempuan yg ingin berstatus sama, gerakan anti pemerintah dan gerakan orang kulit hitam yg juga ingin kesamaan menilai Hollywood adalah institusi hiburan yg tidak berarti karena tidak bisa merefleksikan jaman yg berubah. Spielberg dan Lucas berhasil menyelamatkan Hollywood dan karena mereka Hollywood bertambah kuat dan berhasil mendominasi dunia.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: