Tag Archives: indie

Harold and Maude: Pelopor film komedi indie unik

8 Sep
Harold and Maude (1971)

Harold and Maude (1971)

 

Kalo kita ngebahas film-film komedi indie yg unik/quirky seperti ‘Juno’ atau’ Little Miss Sunshine’ pasti kebanyakan orang bilang Wes Anderson (‘The Grand Budapest Hotel’, ‘The Life Aquatic With Steve Zissou’, ‘Rushmore’) adalah masternya. Malah kebanyakan fans dia secara fanatik meng-klaim Anderson yg mempelopori genre itu. Wes Anderson memang berada di posisi unik karena di banding Quentin Tarantino dia tidak pernah mendapat masalah di tuduh menjiplak film orang lain atau menjiplak film-film yg dia kagumi dan juga figur Anderson tidak se-kontroversial/agresif Tarantino sehingga dia tidak banyak mengundang perhatian.

Walaupun sebenarnya Anderson tidak beda jauh dengan Tarantino dalam menjiplak film-film favorit dia dari jaman dulu, dan film ‘Harold and Maude’ adalah film jiplakan Anderson yg paling penting karena melalui ‘Harold and Maude’ semua style estetika Anderson berasal dari film ini; black humor, retro pop music, karakter-karakter/realita yg aneh, tema/filosofi yg kental tentang hidup keasingan, framing adegan seperti kita menonton sebuah pentasan teater (kaku & kebanyakan di wide shot).

‘Harold and Maude’ adalah film cult indie yg sangat underrated walaupun film ini yg mempelopori genre quirky indie comedy. Penulis Colin Higgins dan sutradara Hal Ashby membuat film ini di tahun 1971 ketika Amerika sedang mengalami perubahan sosial yg signifikan dan ketidak percayaan kaum muda kepada pemerintah karena perang Vietnam di puncak tinggi sehingga kaum muda banyak membuat karya-karya art yg memberontak. ‘Harold and Maude’ adalah salah satu karya yg menantang nilai-nilai “moral standard” di era 1970’an karena filmnya tentang seorang anak muda berumur 19 tahun yg jatuh cinta kepada perempuan berumur 79 tahun.

Harold (Bud Cort) adalah seorang pemuda pendiam yg berasal dari keluarga kaya tetapi mempunyai pandangan hidup yg sangat kelam. Dia terobsesi dengan melakukan adegan bunuh diri (walaupun tidak pernah berani untuk benar-benar melakukannya), bahkan ibu Harold yg sangat dominan dan cerewet sudah biasa dengan aksi Harold yg pura-pura bunuh diri. Ibu Harold sudah melakukan berbagai macam cara untuk membantu dia dengan menyuruh Harold bertemu dengan dokter spesialis dan pendeta tetapi Harold tidak berubah. Harold hanya punya satu hobi, mengunjungi pemakaman orang-orang asing. Di sana dia bertemu dengan Maude (Ruth Gordon) perempuan lansia yg juga punya hobi yg sama.

Mulai dari situ hubungan mereka terjalin dengan erat walaupun mereka berasal dari dua sisi yg ekstrim. Harold obsesi dengan kematian sementara Maude obsesi dengan kehidupan. Harold tertutup dan introvert sementara Maude sangat terbuka dan periang. Harold berasal dari keluarga yg kaya dan kaku sementara Maude seorang eksentrik yg hidup di gerbong kereta api seorang diri. Tetapi mereka mempunyai satu hal yg sama yg yg membuat mereka dekat, mereka tidak suka figur otoriter dan selalu berontak.

Harold selalu berontak kepada ibunya dan Maude berontak dengan tidak mengikuti aturan masyarakat (dia selalu mencuri/gonta ganti mobil seenak jidat atau menjadi model telanjang untuk para pelukis). Ketika ibu Harold memaksa Harold untuk menjodohkan dia dengan beberapa calon istri (melalui proses komputer yg sangat tidak personal seperti membeli daging di pasar) Harold tambah berontak, dia melakukan adegan-adegan bunuh diri di depan calon-calon istrinya sehingga membuat mereka takut dan kabur. Harold justru lebih bertambah dekat ke Maude dan pelan-pelan dia mulai mengerti arti sebenarnya untuk tidak menyia-nyiakan hidup dan keluar dari pandangan tentang hidup yg sangat tertutup dan suram, karena pandangan Maude tentang kehidupan adalah, kita bisa membentuk kehidupan seperti yg kita mau dan hidup itu adalah sangat berharga.

harold-and-maude2

 

Visi ‘Harold and Maude’ yg dari awal sepertinya sangat sensasional karena melibatkan asmara antara dua manusia yg mempunyai perbedaan umur yg jauh bukan semata untuk mengejutkan penonton dari sisi humor/sensasi saja tetapi mengejutkan karena hubungan mereka berdua di buat menjadi sangat murni dan lembut sehingga kita tidak melihat mereka sebagai pasangan yg canggung tetapi justru menjadi pasangan yg komplit untuk sesama.

Mungkin kalau dari sisi filosofinya; Harold adalah kematian, Maude adalah kehidupan. Di gabung mereka membuat siklus hidup menjadi komplit.

Poin ini di simpulkan di scene yg sangat menyentuh ketika Maude menerangkan ke Harold tentang bunga matahari.

Maude: “I think much of the world’s sorrow is from people who think they’re this, but allow themselves to be treated as that.”

Maude dan Harold ternyata berdiri di lapangan bunga matahari di tengah-tengah kuburan.

Klasik.

tintascreenplay.com

Advertisements

Fargo: Cerita rakyat versi modern

26 Jul

fargo

 

Pertama kali saya mendengar film klasik Coen Brothers ‘Fargo’ akan di jadikan serial TV, reaksi pertama saya cukup pesimis dan menggerutu. Kenapa musti ‘Fargo’? Hollywood Kehabisan ide lagi? Saya tidak mempunyai ekspektasi, malah menunggu worst case scenario di mana serial itu akan jadi bahan olokan dan di bantai kritik.Tetapi sesuatu yg tidak terduga terjadi, serial TV ‘Fargo’ malah mempunyai identitas sendiri yg kuat dan menjadi pujaan kritikus sebagai salah satu serial TV terbaik di 2014. Ketika saya menonton, saya terpukau dan mengerti, ‘Fargo’ memang di takdirkan untuk menjadi serial TV yg brilian.

Di era keemasan serial TV di mana cerita yg original dan karakter yg kompleks kebanyakan hijrah ke TV dan bukan ke sinema lagi, ‘Fargo’ berada di momen yg tepat. Film-film Coen Brothers yg dari dulu tidak pernah mau tunduk dengan mainstream sinema dan cerita-cerita yg lagi trendy selalu membuat karya-karya mereka seperti orang terasing, tetapi justru di jaman sekarang mendapatakan tempat yg cocok di cable TV.

Perbedaan Fargo the movie dan Fargo TV series tidak terlalu menonjol bahkan Fargo TV series seperti menjadi sebuah ekstensi dari dunia Fargo the movie (walaupun cerita dan karakternya tidak ada hubungan antara film dan TV). Semua trademark Coen Brothers yg khas terasa di serial ini; dark humor, karaker-karakter yg unik, tonasi cerita yg kelam dan twist-twist yg mengejutkan serta tema tentang sifat manusia yg penuh kontradiksi di perdalam di serial Fargo.

Fargo5

Basis cerita’ Fargo’ cukup simpel dan familiar di awal cerita, seorang loser bernama Lester Nygaard (Martin Freeman) terjebak dengan kehidupan monoton, pernikahan yg buntu dan tidak pernah sukses. Istrinya secara pasif/agresif selalu mengecilkan Lester, dia sering membandingkan kehidupan Lester yg pas-pasan dengan adik Lester yg sukses. Ketika Lester bertemu dengan seseorang dari masa lalunya, seorang bully yg sering menyiksa Lester sewaktu jaman sekolah. Pertemuan mereka membuat Lester masuk rumah sakit (dengan cara twist Coen yg klasik dan tidak terduga).

Ketika Lester menunggu di emergency room dengan hidung yg patah, dia bertemu dengan Lorne Malvo (Billy Bob Thornton). Seorang pembunuh bayaran dari luar kota yg kebetulan sedang melakukan sebuah ‘job’ dan kebetulan ingin membantu Lester. Malvo dengan tenang menawarkan jasanya untuk membereskan si bully. Dalam dilema sesaat, Lester membuat keputusan yg merubah hidupnya sejak saat itu.

Sepertinya ‘Fargo’ mempunyai sedikit kesamaan dengan ‘Breaking Bad’ di mana seorang guru kemistri yg culun merubah nasibnya dengan menjadi pembuat drugs. Lester sendiri melewati garis ‘moralitas’ ketika dia membunuh istrinya dan dengan tidak sengaja membantu Malvo membunuh seorang polisi di waktu yg bersamaan. Ironisnya Kehidupan Lester justru semakin baik ketika dia melakukan hal-hal yg illegal, dia mendapatkan promosi, istri kedua yg lebih suportif, dia semakin percaya diri,dsb.

Fargo2

Kalau nuansa ‘Breaking Bad’ lebih dekat dengan bagaimana seorang individu bisa merubah nasibnya karena kerja keras dengan menggunakan talenta briliannya melalui ilmu modern (kemistri, logika, pengetahuan) dan kepercayaan diri. ‘Fargo’ mempunyai nuansa ‘cerita rakyat’ modern. Di mana sepertinya ada sebuah kekuatan yg tidak terlihat menentukan nasib Lester untuk bertemu dengan Malvo; di mana kekuatan murni yg jahat seperti Malvo datang ke kota kecil di mana Lester tinggal dan memporak-porandakan kehidupan karakter-karakter di situ seperti takdir untuk membuat sebuah kisah/cerita peringatan.

Tetapi ‘Fargo’ tidak mempunyai unsur supernatural yg blak-blakan karena itu bukan gaya Coen Brothers. Di dunia Coen Brothers, kehidupan karakter-karakter mereka yg sepertinya bertemu secara acak/kacau mempunyai sebuah makna yg dalam, there is a pattern in the middle of chaos. Kejadian yg acak mempunyai sebuah makna yg tertentu. Dan ini yg membuat ‘Fargo’ mempunyai tema yg lebih luas. Kenapa orang jahat selalu menang? Kenapa sukses musti berarti orang bersikap brutal? Kapan kekuatan baik mengimbangi kekuatan jahat? Apa yg orang baik musti lakukan ketika kegelapan datang dan menyelimuti mereka?

Mungkin ini sedikit membingungkan kenapa saya membandingkan ‘Fargo’ dengan ‘Breaking Bad’ tetapi bagi saya penting karena perbandingan ini yg membuat awal cerita mereka berangkat dari tempat yg sama tetapi sampai di tujuan yg berbeda. Kita sebagai penonton sudah terbiasa dengan konsep “anti-hero” di mana si hero melakukan hal yg tidak mulia untuk kepentingan yg lebih besar. Walter White di ‘Breaking Bad’ menjadi pembuat drugs/kriminal karena dia terkena kanker dan ingin mengumpulkan uang untuk keluarganya sebelum dia mati. Kita mengerti dengan motivasi dia karena jika keadaan mendesak, kebanyakan dari kita juga melakukan hal yg sama.

Fargo4

Di ‘Fargo’ awalnya kita bersimpati dengan Lester, karena dia seorang loser yg selalu tidak beruntung selama hidupnya. Kita menjagoi Lester ketika dia di bully sama teman sekolahnya, kita senang melihat si bully di bantai Malvo, kita bahkan masih mengerti motivasi Lester ketika dia membunuh istrinya karena dia sudah bertahun-tahun di tindas. Tetapi Ketika Lester semakin terlibat dengan Malvo dan setiap masalah di selesaikan dengan licik oleh Lester demi kepentingan dia pribadi, kesimpatian kita terhadap Lester semakin berkurang dan esensi Lester yg paling dasar ternyata adalah seorang pengecut yg membuat kita mual.

Semakin Lester sukses karena kelicikannya semakin kita membenci Lester dan ini membuat ‘Fargo’ brilian. Kita benci Lester tetapi kita tidak bisa tidak melihat Lester karena kita ingin tahu seberapa jauh Lester bisa bertahan hidup? Apalagi ketika dia merasa tidak perlu Malvo lagi dan dengan belagu menantangnya.

Mungkin juga kesuksesan ‘Fargo’ di mulai dari pengertian unsur yg lebih dasar di mana kekuatan cerita mempunyai efek yg powerful semenjak manusia bisa berimajinasi dan berkomunikasi. Dimana cerita rakyat seperti Malin Kundang telah menjadi sebuah legenda cerita yg tidak pernah punah karena menjadi sebuah cerita peringatan. Di era sekarang, ‘Fargo’ masih bisa membuat cerita rakyat dengan versi modern tetapi langsung terasa intim karena ceritanya terasa abadi karena mungkin kita sudah pernah mendengarnya.

tintascreenplay.com

3 perubahan radikal yg akan terjadi di Hollywood dan merubah cara menonton film

2 Jul

Perubahan cara menonton dan mendistribusi film di masa depan akan berubah drastis, bahkan sudah banyak yg beragumentasi bahwa perubahan itu sudah terjadi. Apakah perubahan yg terjadi di Hollywood akan merambat ke setiap negara? Ini masih tanda tanya besar tetapi pastinya akan mempunyai efek yg besar ke setiap negara karena dominasi Hollywood di dunia sudah tidak bisa di pungkiri lagi.

 

1. Tidak akan ada lagi film low/medium budget di bioskop mainstream

Studio-studio film akan konsentrasi ke produksi film-film budget besar dengan mengandalkan CGI, action dan sekuel-sekuel  film franchise. Studio tidak akan memproduksi film-film low/medium budget karena mereka ingin memaksimalkan profit sebanyak-banyaknya. Salah satu alasannya (selain mental block buster yg sudah mendarah daging di studio) adalah penjualan DVD yg merosot karena illegal/legal downloading dan streaming dari internet telah membuat studio antipati dengan proyek film-film yg di nilai tidak komersil atau terlalu ‘sulit’ di cerna penonton. Penjualan DVD telah menjadi salah satu sumber income terbesar untuk studio. Maraknya illegal/legal downloading/streaming telah membuat keuntungan studio-studio berkurang sehingga 50%! Studio-studio besar musti bertanggung jawab kepada investor/bank/pemegang saham untuk memberikan mereka profit sebanyak-banyaknya. Merosotnya profit dari penjualan DVD membuat studio-studio untuk memangkas film-film low/medium budget karena di anggap tidak mengguntungkan sehingga mereka hanya berkonsentrasi dengan film-film big budget yg mempunyai commercial appeal yg paling aman/besar.

 

2. Harga tiket bisa mencapai $25-50

Steven Spielberg memprediksi model bioskop masa depan akan menirukan sistem teater broadway di mana durasi masa tayang di bioskop bisa berbulan-bulan dengan harga mahal demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya karena bujet untuk produksi film akan semakin naik. Diam-diam hal ini sudah mulai terjadi di Indonesia, di mana premiere 21 mematok harga Rp150.000 untuk menonton di weekend. Mungkin nanti jika anda menonton ‘The Fast and Furious 25’ anda akan mendapatkan pernik-pernik seperti copy-an digital filmnya, merchandise, t-shirt dengan paket hemat makanan? Di Amerika, ini sudah terjadi.

 

3. Film low-medium budget/indie/festival akan hijrah ke internet/cable TV

Pembuat film yg mempunyai visi unik/indie atau film-film budget rendah masih bisa bertahan dengan berhijrah ke internet atau cable TV. Situs seperti netflix, iTunes, Amazon, VOD akan menjadi sarana penting untuk pembuat film-film indie di mana distribusi film mereka lebih menguntungkan daripada melalui sistem studio. Bahkan sutradara seperti Steven Spielberg dan George Lucas sendiri (yg menciptakan konsep blockbuster) mengalami kesulitan dengan distribusi film mereka di bioskop. Film Spielberg ‘Lincoln’ hampir tidak masuk ke bioskop dan hanya akan tayang di HBO. Sementara film George Lucas ‘Red Tails’ hampir tidak main di bioskop.

Cable TV seperti HBO, amc, FX akan lebih fokus dengan cerita-cerita berkualitas di mana penulisan cerita akan lebih panjang, dalam dan kompleks. Mungkin juga budget produksi untuk serial-serial TV berkualitas akan naik untuk lebih menarik perhatian penonton. Sutradara unik seperti David Lynch, Steven Soderbergh atau Gus Van Sant juga akan lebih banyak berkarya dengan membuat serial TV karena mereka mendapatkan kebebasan ber-expresi yg lebih nyaman di banding menghadapi tekanan studio yg lebih berat.

 tintascreenplay.com

%d bloggers like this: