Tag Archives: kekerasan

Shogun Assassin: Lebih dari sekedar film action

9 Jul
Shogun Assassin (1980)

Shogun Assassin (1980)

Apa yg membuat film action keren? Tentu actionnya musti spektakuler dan penuh dengan adegan-adegan yg membuat penonton kagum atau si jagoan musti punya karisma yg membuat karakter itu memorable. Bagi saya walaupun mayoritas film-film action lebih mementingkan action dari pada cerita/karakter karena lebih mudah di cerna bukan berarti film action tidak bisa membuat cerita yg unik atau membuat film yg spesial. ‘Shogun Assassin’ adalah salah satu film action/samurai unik dari Jepang karya sutradara Kenji Misumi.

Di ambil dari cerita legenda manga ‘Lone Wolf and Cub’ tentang seorang samurai yg berkelana tanpa tuan dengan anaknya yg masih balita, imej Lone Wolf mendorong anaknya di kereta bayi menjelajahi daratan Jepang yg di penuhi oleh musuh-musuh telah menjadi cerita legendaris untuk rakyat Jepang. ‘Shogun Assassin’ sendiri awalnya adalah film yg di edit ulang dari film-film serial ‘Lone Wolf and Cub’ untuk di pasarkan ke Amerika dan Inggris. Aktor dan pembuat film Robert Houston melihat film-film ‘Lone Wolf and Club’ mempunyai potensi yg spesial untuk menjadi film cult yg berkualitas.

Walaupun film-film itu mempunyai adegan action yg agak hardcore untuk pasaran Amerika/Inggris (manga violence/gore), Houston melihat celah bahwa ini bisa menjadi kesempatan untuk membuat untung karena ‘Shogun Assassin’ bukan film action yg biasa. Reaksi film ini sangat ekstrim dan mengundang berbagai kecaman karena level violence/gore yg belum pernah di lihat di Amerika/Eropa. Bahkan film ini sempat di banned di Inggris. shogun2

‘Shogun Assassin’ bercerita tentang Lone Wolf/Ogami Itto, seorang jagoan samurai yg di khianati oleh masternya sehingga istri Ogami meninggal. Ogami dan anaknya yg balita-Daigoro- selamat tetapi mereka telah menjadi buronan dan Ogami musti menjadi pembunuh bayaran untuk hidup dan dia masih obsesi untuk melakukan balas dendam karena telah di khianati. Kalau Akira Kurosawa di anggap legendaris karena film-film samurainya yg terkenal. Kenji Misumi lebih di kenal sebagai sutradara cult dengan film-film serial ‘Lone Wolf and Cub’ dan ‘Zatoichi’ yg penuh dengan adegan action lebih sangar di banding Kurosawa. Mungkin perbandingan kedua orang ini seperti Kalau Kurosawa adalah sebuah novel sastra yg anggun, Misumi lebih ke buku komik manga untuk orang dewasa yg juga tidak kalah dari segi artistiknya tetapi lebih menekankan ke action yg lebih exciting untuk di lihat.

shogun3

Yg membuat ‘Shogun Assassin’ lebih unik adalah penambahan voice over dari si sang anak -Daigoro- di mana kita melihat cerita dari sudut pandang dia sehingga menimbulkan sebuah kontradiksi di mana film di narasi oleh suara anak kecil yg polos tetapi di sertai dengan adegan violence yg cukup hardcore sehingga membuat film menjadi kontradiksi puitis dengan action yg cukup brutal/indah/artistik (think manga tetapi versi live action) dan cukup groundbreaking.

Kepolosan Daigoro dalam melihat kekerasan bertubi-tubi yg datang menyerang dia dan ayahnya mungkin sekilas terlihat sebagai bentuk eksploitasi anak balita tetapi karena kekerasan/action di film sangat stylish dan sedikit over the top membuat implikasi kekerasan dari film seperti menonton film manga. Separah-parahnya action/kekerasan di film manga masih tidak se-realistis kekerasan di film seperti ‘Taxi Driver’ atau ‘Reservoir Dogs’.

shogun4

Malah narasi Daigoro membuat nuansa film menjadi lebih intim/kuat karena kita melihat ikatan ayah/Lone Wolf dan anak yg sangat kuat dalam menghadapi berbagai rintangan walaupun si ayah hampir tidak pernah menunjukan sifat penyayang seperti ayah normal tetapi tidak di pungkiri lagi bahwa si ayah sangat mencintai anaknya dan rela melakukan apa saja agar si anak tetap hidup.

Di tambah lagi dengan komposis visual yg megah oleh sinematografer Chisi Makiura; template tonasi warna hijau/coklat yg dominan di mix dengan warna kontras merah darah dan penggunaan bayang-bayang gelap yg cukup banyak membuat film mempuyai identitas visual yg sangat menonjol di banding film-film samurai yg lain dan bisa di bilang menginspirasi visual di film action era modern (‘Kill Bill’ dengan bangga menjiplak ‘Shogun Assassin’). shogun5

Audio di ‘Shogun Assassin’ juga di dub versi bahasa Inggris sehingga membuat feel film sedikit campy karena kadang-kadang suara aktor di buat sedikit over acting di banding versi bahasa Jepang. Tetapi ini sama sekali tidak mengurangi kualitas film malah membuat film menjadi lebih unik karena kombinasi antara action yg menggigit, hal-hal yg mengejutkan (kereta bayi bisa berubah menjadi senjata!), musuh-musuh yg super cool (Cewek-cewek ninja yg super sadis!), tonasi cerita yg penuh dengan heroisme, puitis dan kadang-kadang menjurus ke arah surreal tetapi juga sanggup membuat cerita menjadi emosional.

Karena pada dasarnya walaupun ini film action, kita peduli dengan nasib Daigoro dan ayahnya karena bahaya selalu mengintai mereka dari setiap sudut dan mereka tidak pernah merasakan damai. Dan ini mungkin resep paling penting yg di butuhkan untuk membuat film action lebih dari sekedar rangkaian adegan berantem/perang/kekerasan saja; untuk membuat penonton peduli dengan nasib karakter-karakter utama di cerita sehingga membuat film mempunyai dampak yg lebih emosional, memorable dan…well, super fuckin cool.

tintascreenplay.com

Advertisements

7 buku komik yg patut di jadikan film/serial TV

28 Jan

Hollywood sedang obesi dengan film-film/Serial TV superhero dan efek CGI karena telah menjadi pendapatan utama mereka yg paling menguntungkan dan membuat penonton terbuai oleh banyaknya opsi superhero. Untuk saat ini Marvel dan DC mendominasi genre-genre film superhero dan buku komik tetapi ada juga beberapa buku komik yg lebih greget dan original di banding hero-hero mainstream.

 Penulis/penggambar ini mempunyai visi yg tidak mau kompromi sehingga menghasilkan sebuah karya yg inovatif, menakjubkan dan mendobrak limitasi buku komik lebih sekedar dari cerita superhero yg aman/standard. List buku komik di bawah mempunyai kriteria-kriteria ground breaking dan beberapa bahkan sedang dalam proses negosiasi panjang untuk di jadikan film/serial TV. Untungnya para pencipta tidak gegabah langsung terima deal dari Hollywood karena mereka sangat selektif dengan visi interpertasi film/serial TV.

1. Crossed

‘Crossed’ bisa di bilang sebagai versi ‘The Walking Dead’ yg lebih brutal dan nihilistic. Kalau batas-batas garis moralitas ‘The Walking Dead’ masih jelas dan secara pelan-pelan di pertanyakan, ‘Crossed’ tidak membuang waktu, garis batasan mereka lebih jauh melampaui ‘The Walking Dead’ dari awal. ‘Crossed’ benar-benar mendorong limitasi buku komik dengan representasi kekerasan/sexual/horor yg grafis  dan juga konsep standard zombie- di mana para manusia-manusia normal melakukan hal-hal yg sangat kejam demi keselamatan mereka- di naikan ke level-level yg lebih hardcore. Garth Ennis adalah penulis yg terkenal dengan membuat karya-karya buku komik yg kontroversial (‘Preacher’, ‘The Boys’, ‘Punisher Max’).

Ennis lebih interest dengan menciptakan dunia yg sangat brutal pasca kehancuran karena di visi dia, kebiadaban manusia ironisnya justru yg akan menyelamatkan kaum manusia dari kepunahan total. Zombie ‘Crossed’ sendiri juga lebih original karena mereka lebih ke arah “infected” di mana ketika seseorang ketularan (melalui gigitan, darah keciprat, di perkosa) mereka masih berfungsi sebagai manusia (bisa berkomunikasi, masih punya ingatan) tetapi mereka tidak bisa menahan semua nafsu kebingasan mereka karena virus itu membuat mereka tidak terkendali sehingga membuat mereka lebih mengerikan di banding zombie biasa.

2. X-Statix

Kalau ‘X-Men’ adalah anak emas Marvel yg penuh dengan cerita drama opera sabun, ‘X-Statix’ adalah anjing gila Marvel yg kena rabies dan musti di asingkan karena banyak membuat orang khawatir.

Padahal konsep ‘X-Statix’ sendiri sangat brilian dan original.

Kalau cerita ‘X-Men’ sebagai grup mutant superhero yg merasa di kucilkan tetapi selalu menyelamatkan kaum manusia yg membenci mereka mengundang romantisme underdog, ‘X-Statix’ adalah representasi realita yg sinikal jika sebuah grup superhero benar-benar ada; mereka akan menjadi kaum selebriti yg selalu menjadi sensasi media setiap saat. Hidup mereka akan menjadi reality show, mereka mempunyai fans yg selalu obsesi. Mereka lebih peduli dengan kepentingan sponsor dari pada melakukan kebaikan yg murni.

Penulis Peter Milligan dengan pintar sudah memprediksi lebih dari satu dekade yg lalu obsesi kita dengan dunia selebriti, media dan konsumerisme akan mencapai titik yg mengkhawatirkan. ‘X-Statix’ menjadi sebuah simbol satirikal di mana kreasi grup superhero di ciptakan untuk menjadi sebuah mesin pencetak uang, kepopularitasan dan permainan politik. Belum lagi setiap saat hero-hero bisa mati secara tragis (tanpa pandang bulu apakah itu hero penting atau bukan) membuat grup ini cukup labil dan mengundang murka pembaca komik yg sudah terbiasa dengan buku superhero yg nyaman.

3. Saga

saga

‘Saga’ adalah pemenang Eisner award 2013 (award tertinggi seperti Oscar untuk industri buku komik). Cerita ‘Saga’ adalah gabungan space opera/fantasi ala ‘Star Wars’ dengan unsur konsep edgy seperti ‘Game of Thrones’ dan elemen-elemen fantasi dari ‘The Lord of The Rings’, membuahkan cerita adventure dengan twist yg tidak ketebak/mengejutkan, penuh dengan humor yg menggigit, karakter-karakter yg karismastik dan konsep dunia yg benar-benar ‘What the fuck?!’ (Kapal angkasa terbuat dari kayu, bayi raksasa lahir dari dalam planet, magic spell yg hanya bisa terjadi jika anda menyebut rahasia anda yg orang lain belum tahu).

Cerita mirip juga dengan Romeo dan Juliet di mana sepasang kekasih yg berbeda ras (walaupun ras mereka selalu perang antara satu sama lain) mempunyai anak dan anak itu di buru oleh kedua belah pihak. Keluarga itu musti melarikan diri dan mencoba untuk membesarkan si anak. It really is putting the fun back in reading comics again while still maintaining originality, edginess and makes you laugh. Like Joss Whedon on crack.

4. Maus

Di tahun 1986-87 ada tiga buku komik yg mengubah persepsi dunia komik untuk selama-lamanya dari industri untuk anak-anak menjadi industri untuk orang dewasa juga dan melahirkan konsep “graphic novel”.

Tiga buku komik itu adalah ‘Watchmen’, ‘The Dark Knight Returns’ dan ‘Maus’.

‘Maus’ tidak fokus ke konsep superhero tetapi ke konsep cerita yg lebih nyata/tragis, tentang pembantaian kaum Yahudi di bawah Hitler tetapi dalam animasi karakter-karakter binatang. Pengarang ‘Maus’ adalah Art Spiegelman, dia menceritakan kisah nyata bapaknya ketika melewati masa kekejaman Hitler dan mencoba untuk hidup. Orang Yahudi di gambar sebagai tikus sementara orang Jerman sebagai kucing dan orang Polandia sebagai babi menjadi simbol ikonik yg mempunyai makna yg dalam di cerita Spiegelman yg kompleks, menyentuh, mengerikan dan humanis.

‘Maus’ juga memenangkan Eisner award dan Pulitzer Prize.

5. Stray Bullets

Penulis/penggambar David Lapham adalah salah satu ikon independent comic book creator yg penting. Masterpiece dia ‘Stray Bullets’(yg juga menang Eisner award) menceritakan tentang satu kumpulan grup atau komunitas orang-orang kriminalitas/terasingkan di tahun 1970’an sampai 1990’an. Setiap issue selalu menceritakan karakter yg beda-beda tetapi saling terkoneksi dengan yg lain. Lapham bisa membuat cerita-cerita yg simpel tetapi brilian tentang karakter-karakter kriminal karena dia mengerti setiap karakter mempunyai pribadi yg kompleks dan humanis.

Bahwa mereka bukan semua orang jahat tetapi orang-orang biasa yg kadang-kadang membuat keputusan ceroboh sehingga menjadi tragis membuat ‘Stray Bullets’ lebih dari sekedar buku komik dan menjadi cerita yg tidak terlupakan karena mempunyai efek yg sangat powerful ke pembaca lama setelah menutup buku.

6. Rising Stars

Penulis J. Michael Straczynski adalah seorang penulis multi talenta di berbagai medium. Dia penulis skenario film (The Changeling, Angelina Jolie), dia menciptakan serial TV (Babylon 5), dia juga seorang jurnalis dan penulis buku komik (Spiderman, Midnight Nation). ‘Rising Stars’ mempunyai visi yg mirip seperti ‘Watchmen’, men-dekonstruksi arti dan mengexplorasi mitos superhero.

Di tahun 1969, sebuah cahaya muncul di kota kecil Pederson, Illinois dan memberikan efek super power ke 113 bayi yg masih di kandungan. 113 bayi itu besar dan di sebut sebagai “Specials” dan setiap anak mempunyai power yg berbeda dengan level yg berbeda juga. Kenapa 113 anak itu terpilih dan untuk maksud apa?

Ketika mereka besar, setiap individu mulai memilih jalan hidup masing-masing. Ada yg ingin menjadi orang biasa-biasa saja, ada yg jadi pamor, ada yg kerja untuk perusahaan, polisi, dsb. Masalah muncul ketika ada yg membunuh mereka satu demi satu dan terjadi perang saudara di antara “Specials” yg merubah dunia. Kalau visi ‘Watchmen’ lebih sinikal dan pesimis, ‘Rising Stars’ juga memiliki momen-momen itu tetapi statemen ‘Rising Stars’ akhirnya lebih megah dan luas sehingga membuat  mitos superhero menjadi lebih dalam dan bahkan sedikit spiritual.

7. Scud: The Disposable Assassin

Funky hyperkinetic humorous world.

C-3PO look alike assassin you can buy from vending machine.

 A bounty freelancer with robot fetish.

Voodoo Benjamin Franklin who can summon zombies and dinosaurs.

Cyborg mafia family.

A bizarre side kick who can summon anything (Doraemon style) from his inside.

What more do you want?

tintascreenplay.com

5 film kontroversial di sepanjang masa

22 Nov

Membuat list film kontroversial  adalah sesuatu hal yg susah-susah gampang karena banyak sekali pilihan/kombinasi atau alasan kenapa film itu bisa menjadi kontroversial.  Karena unsur kekerasan? Politik? Sex? Agama? Kombinasi dari semua? Seberapa shocking film itu? Belum lagi karena perubahan jaman, Film ‘Psycho’ ketika keluar di tahun 1960 di anggap sangat kontroversial, groundbreaking  dan shocking. Tetapi untuk ukuran kekerasan di film jaman sekarang sangat biasa bahkan cukup lunak. Akhirnya setelah saya melakukan sedikit research , 5 film ini sering sekali di masukan di dalam list film kontroversial di peringkat yg selalu cukup tinggi karena kontroversi film ini masih mempunyai efek yg powerful hingga saat ini.

5. I Spit On Your Grave (1978)

Film ber-genre revenge ini bercerita tentang Jennifer (Camille Keaton), seorang wanita penulis yg ingin mengisolasikan diri di sebuah kabin terpencil karena ingin menulis novelnya dengan tenang. Ketika dia di serang dan di perkosa oleh beberapa laki-laki lokal, dia bertekad untuk tetap tinggal di kabin dan menyusun rencana untuk membalas dendam dan membunuh mereka. Di berikan rating ‘X’ dan di banned di Inggris dan Jerman karena adegan pemerkosaan yg memilukan dan juga adegan kekerasan yg cukup brutal. Film ini mengundang kontroversi karena banyak yg memandang film ini merendahkan martabat perempuan tetapi banyak juga yg menilai bahwa film tentang kekuatan perempuan karena Jennifer berhasil membalas dendam.

4. The Exorcist (1973)

Di nobatkan oleh banyak kritikus film sebagai film horor terseram, film ini juga mengundang banyak kontroversi karena cerita tentang  Regan, gadis berumur 13 tahun yg kemasukan setan ini menunjukan adegan masturbasi dengan menggunakan salib dan memaki-maki Tuhan. Banyak pemimpin agama yg mengutuk film ini sebagai penyebar setan (walaupun tema film ini tentang perjalanan keyakinan dari tempat yg gelap ke terang) karena mereka belum pernah menonton film horor seperti ini. Film ini sempat di banned di beberapa kota di Inggris ketika pertama kali keluar dan Linda Blair, yg memerankan Regan sempat di kawal oleh body guard selama berbulan-bulan setelah film tayang karena mendapat ancaman dari pihak-pihak yg percaya bahwa dia kemasukan setan dan ingin menculiknya.

3. Salo or the 120 days of Sodom (1975)

Film-film modern yg mengaku bangga dengan sebutan ‘torture porn’ berhutang budi kepada film ini. Mungkin sebutan lebih tepat untuk salo adalah ‘intelectual torture porn’ karena film ini sangat berat dengan simbolisme-simbolisme sadis tentang orang-orang berkuasa yg sadis/menyiksa/memperagakan adegan sexual abnormal kepada 18 remaja. Empat orang berkuasa (Presiden, tokoh agama, tokoh hukum dan tokoh bangsawan) bertemu di sebuah istana dan menculik 18 remaja. Mereka berbuat sesuka hati dengan remaja-remaja ini, memuaskan segala hasrat abnormal yg mereka miliki.

Film ini tidak mempunyai struktur atau narasi film yg normal. Tidak ada karaker development atau progres cerita yg normal. Mungkin lebih seperti menonton sirkus yg di penuhi orang-orang freak, menonton sifat-sifat kerendahan manusia yg paling rendah. Film ini di banned di kebanyakan negara sampai hari ini tetapi di anggap sebagai film art house penting karena mempunyai statemen yg explicit tentang fasisme dan orang-orang berkuasa; absolute power corrupts.

2. Cannibal Holocaust (1980)

Film ini di sebut sebagai pencetus genre “found footage” atau “documentary style” ala ‘The Blair Witch Project’ dan ‘Paranormal activity’. Sebuah tim pembuat film dokumenter tentang suku kanibal menghilang, ketika film mereka ‘di temukan’ kita mengikuti cerita mereka dari pembuat film dokumenter normal yg merekam kehidupan suku kanibal sehari-hari menjadi pembuat film sensasi yg mengexploitasi suku itu sehingga mereka di bunuh secara sadis oleh suku kanibal. Film explotasi ini tidak hanya membuat shock penonton karena adegan kekerasan/kanibal yg sangat grafik dan juga adegan-adegan pemerkosaan yg brutal tetapi penonton mengira bahwa film ini nyata karena menggunakan konsep dokumenter. Ketika film tayang pertama kali di Itali, pemerintah lokal menangkap sutradara Ruggero Deodato karena mereka menuduh bahwa aktor-aktor di film benar-benar mati. Deodato musti membawa aktor-aktor ke depan publik untuk membuktikan bahwa mereka masih hidup. Film ini juga di banned di banyak negara.

1.  The Clock Work Orange (1971)

Film Stanley Kubrick ini mengundang banyak kontroversi karena adegan kekerasan, pemerkosaan dan tema yg mengkritik tentang masa depan bangsa Inggris yg suram karena di bawah pemerintahan fasisme. Yg membuat kontroversi semakin panas adalah karena beberapa kasus kriminalitas/pembunuhan nyata yg di lakukan anak-anak muda karena mereka terinspirasi dengan filmnya, pers Inggris membuat sensasi besar-besaran dan mengkritik Kubrick habis-habisan. Ketika keluarga Kubrick mendapatkan ancaman, dia meminta Warner Bros yg mendistribusi filmnya untuk menghentikan penayangan ‘The Clock Work Orange’ karena dia takut keadaan akan melewati batas. Ironisnya, anak-anak muda yg melakukan kriminalitas/pembunuhan belum pernah menonton filmnya tetapi karena sensasi pers tabloid Inggris yg berlebihan membuat Kubrick muak dengan hal ini semua sehingga dia menghentikan peredaran film di Inggris.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: