Tag Archives: klasik

Fires on the Plain: Salah satu film anti-perang terbaik

3 Oct

Fires on the Plain (1959)

 

“War is hell.” adalah sebuah kata-kata klise yg sering di utarkan di kebanyakan film perang tetapi makna dari kata-kata itu sendiri tidak berarti apa-apa karena akhirnya film itu lebih fokus untuk menghibur penonton  melalui bagian action dengan efek yg spektakuler  atau sering di baluti oleh pesan propaganda tentang patriotisme sehingga penonton jarang melihat sisi kebrutalan perang yg sebenarnya. Sutradara ternama Jepang Kon Ichikawa tidak interest untuk membuat film dengan visi glamor atau di bumbui dengan hanya adegan-adegan perang saja dan drama-drama perang yg standard. Dia ingin memperlihatkan sisi perang (atau anti perang) yg jarang di temui di kebanyakan film perang, dia ingin membuat film yg memperlihatkan degradasi kondisi manusia ketika mereka berada di poin yg paling rendah.

‘Fires On The Plain’ (Nobi), adalah salah satu film anti perang terbaik/ground breaking tentang kondisi neraka perang yg sebenarnya. Visi Ichikawa yg gelap, frontal dan grafis (untuk dekade 1950’an) mengundang banyak perhatian karena film perang bukan semata untuk hiburan yg penuh adegan action saja tetapi bisa memberikan sisi pandang beda di mana konsekuensi perang bukan semata hanya siapa yg menang dan kalah tetapi redupnya sisi kemanusiaan kita.

Cerita ‘Fires on the Plain’ tentang satu serdadu Jepang bernama Tamura (Eiji Funakoshi) yg bertugas di Filipina ketika Jepang berada di ambang kekalahan. Tamura di suruh oleh atasannya untuk mengungsi ke rumah sakit karena dia terinfeksi oleh TBC, dia dilarang bergabung dengan unitnya karena mereka takut akan terinfeksi oleh TBC juga. Ternyata Tamura tidak di terima di rumah sakit karena menurut dokter kondisi dia belum terlalu parah. Bingung, Tamura akhirnya bergabung dengan beberapa serdadu yg mengalami nasib yg sama dengan Tamura. Di keluarkan dari unit mereka tetapi tidak di terima di rumah sakit. Mereka akhirnya menunggu di pinggiran rumah sakit sembari nongkrong bareng dan berkenalan.

Ketika rumah sakit di bom dan hancur, Tamura dan teman-teman barunya musti mengungsi mundur. Tamura terpisah dari mereka dan tertinggal seorang diri. Dia musti melakukan perjalanan untuk mencari teman-temanya dan mengungsi ke tempat yg lebih aman. Di perjalanan, Tamura bertemu dengan bermacam karakter dari orang-orang lokal dan serdadu-serdadu Jepang lain secara acak.

Dari awal frame pertama film, serdadu-serdadu Jepang terlihat menderita karena kelaparan, gusi gigi yg membusuk meyebabkan gigi rontok, kekurangan alat dan terlihat compang-camping. Kematian dan keputusasaan selalu berada di sekitar Tamura. Kemitosan tentang tentara Jepang yg disiplin/berdedikasi ke emperor/atasan dan tidak pernah menyerah di robek lebar-lebar oleh film ini. Mereka suka komplain, pesimis dan ingin sekali menyerah ke tentara Amerika karena mereka yakin pasti dapat makanan yg layak. Mereka saling argumentasi antara satu sama lain karena hal sepele, mereka saling curiga antara satu sama lain karena setiap serdadu suka umpetin makanandan tidak mau berbagi. Ichikawa ingin membuat suatu kesimpulan yg direct; bahwa di situasi yg sangat tidak manusiawi, kemanusiaan lambat laut akan lenyap.

Puncak kesimpulan ini terjadi ketika Tamura harus berhadapan dengan temannya Nagamatsu (Mickey Curtis)dan Yasuda (Osamu Takizawa) yg menjadi kanibal dan memburu serdadu Jepang yg lain. Nagamatu sendiri yg sudah sekarat dengan TBC dan kelaparan harus memilih, apakah dia rela untuk melenyapkan kemanusiaannya untuk memburu dan memakan daging manusia juga dan bertahan hidup? atau mencoba untuk tetap waras dan mencegah Nagamatsu dan Yasuda?

Tetapi Ichikawa tidak hanya fokus saja ke tema yg kelam saja, dia juga ingin memberikan dimensi-dimensi lain dalam perjalanan Tamura. Ichikawa menampilakan framing/pemandangan natural yg indah di dalam perjalan Tamura. Pegunungan yg megah, pantai yg indah, burung-burung terbang dengan bebas dan liar, seolah Ichikawa membuat statemen yg kontras bahwa walaupun manusia berada di alam yg indah, kita selalu membuat neraka sendiri.

Juga dengan humor yg ironis, di mana Nagamatsu dan Yasuda berdebat tentang bahaya merokok sementara mereka tidak merasa ada masalah memakan manusia.

Film ini juga secara tidak langsung mengkritik Amerika, bahwa mereka juga sama biadabnya dengan tentara Jepang. Amerika menghancurkan rumah sakit Jepang dengan membabi buta dan ketika ada tentara Jepang yg ingin menyerah mereka selalu di bunuh oleh pejuang Filipina dan tidak bisa di cegah oleh tentara Amerika.

Tetapi justru dengan film yg seperti mimpi buruk yg tidak pernah reda ini, Ichikawa ingin mengingatkan kepada kita bahwa visi neraka ini sebenarnya bisa di cegah tetapi sayangnya perang sudah terlalu mendarah daging di dalam manusia.

tintascreenplay.com

8 film klasik yg hampir tidak jadi

13 Jun

Bicara blak-blakan, industri film adalah salah satu industri yg paling tidak bisa di prediksi. ‘Formula’ untuk membuat film sukses memang banyak di terapkan dalam pembuatan film (Cerita yg menarik, sutradara handal, aktor yg sedang terkenal, dsb) tetapi ini masih belum garansi bahwa film itu akan menjadi sukses.  Intinya membuat film adalah tebak-tebakan. Kebanyakan film yg tayang di bioskop tidak untung dan banyak sekali elemen yg membuat film gagal (Script yg lemah, akting yg terbatas, cerita yg standard, distribusi yg tidak sehat, film tidak punya visi, campur tangan investor, masalah personal, dsb). Tetapi kadang-kadang, perjalanan sebuah film yg nyaris tidak terjadi karena beragam masalah justru membuahkan hasil karya yg menjadi klasik dan membuat film itu legendaris.

 

1. Citizen Kane (1941)

Film yg selalu di nobatkan sebagai film terbaik di sepanjang masa ini hampir tidak tayang karena perseteruan antara sutradara/penulis/aktor Orson Welles dengan konglomert media di jaman itu, William Randolph Hearst. Background Welles adalah seorang sutradara teater jenius dan ‘Citizen Kane’ adalah film debut pertama dia. Welles mendapat inspirasi untuk membuat ‘Citizen Kane’ setelah bertemu dengan Hearst. Ketika ‘Citizen Kane’ akan tayang, Hearst mendapatkan masukan bahwa film ini menyindir sosok Hearst. Tersinggung, Hearst mencoba untuk membeli ‘Citizen Kane’ dan memboikot penayangan film. Hearst juga memerintah seluruh media masa milik dia (surat kabar, radio) untuk melakukan black campaign. Walaupun ‘Citizen Kane’ mendapatkan sembilan nominasi Oscar, film ini anjlok karena mendapatkan kampanye negatif dari Hearst. Untungnya film ini di tayang kembali di tahun 1950’an dan statusnya sebagai film masterpiece akan selalu abadi.

 

2. Breakfast at Tiffany’s (1961)

Film yg membuat Audrey Hepburn menjadi bintang ini hampir gagal produksi karena masalah awal di  casting. ‘Breakfast at Tiffany’s awalnya adalah sebuah novel laris karangan Truman Capote tentang cerita seorang ‘wanita malam’. Capote menyarankan Marilyn Monroe sebagai peran utama, Monroe menolak karena tema filmnya terlalu kontroversial untuk dia. Ketika Hepburn terpilih, Capote sangat marah dan tidak setuju. Produksi menjadi kacau, beberapa sutradara dan penulis di pecat, lagu ‘Moon River’ yg klasik hampir tidak terjadi dan Capote bahkan sempat bersikeras ingin menjadi pemeran utama laki-laki. Sebuah keajaiban film ini akhirnya selesai produksi dan menjadi sukses.

 

3. Batman (1989)

Di tahun 1979, produser dan fans berat buku komik Michael Uslan membeli hak cipta untuk membuat film Batman. Dia mempunyai visi bahwa Batman adalah seorang hero yg dark dan serius tetapi studio-studio Hollywood di saat itu menganggap ide film superhero yg dark dan lebih dewasa adalah ide konyol. Mereka lebih suka versi Batman TV seri yg campy dan di desain untuk anak kecil. Uslan tidak menyerah dan dia berjuang gigih selama sepuluh tahun untuk membuat versi Tim Burton. Walaupun versi Nolan lebih greget dan modern, Tim Burton yg membuka jalan terlebih dahulu bahwa film superhero bisa sukses walaupun lebih dark dan edgy.

 

4. Apocalypse Now (1979)

 

Salah satu film terbaik tentang perang Vietnam ini hampir tidak selesai. Francis Ford Coppola menggadaikan seluruh hartanya untuk membuat film ini karena over budget dan studio tidak mau menambahkan budget. Harvey Keitel di pecat dari pemeran utama di tengah produksi dan di gantikan oleh Martin Sheen sehingga must shoot ulang. Sheen mengalami serangan jantung dan nyawanya sempat terancam. Bencana seperti badai taifun dan kebakaran menghancurkan set film. Pemerintah Filipina tiba-tiba menarik helikopter-helikopter yg sedang shooting karena ada situasi darurat di mana tentara Filipina sedang berperang melawan pemberontak. Coppola mengalami nervous breakdown berkali-kali. Crew film dan aktor-aktor mulai sering memakai alkohol dan drugs. Coppola sendiri mengatakan,”We were in the jungle, there were too many of us, we had access to too much money, too much equipment, and little by little, we went insane.”

 

5. Toy Story (1995)

Tekanan di pihak Pixar untuk membuat film animasi CGI pertama sangat berat karena pihak Disney tidak suka dengan film rough cut pendek yg di presentasikan. Karakter Woody dan Buzz Lightyear awalnya sangat tidak bersahabat bahkan cukup kejam dan menyebalkan sehingga Disney hampir memutuskan untuk tidak melanjutkan produksi karena biayanya terlalu mahal dan masih dalam tahap experimen. Untungnya, Pixar mendapatkan kesempatan kedua dan beberapa bulan kemudian mereka membuat karakter Woody dan Buzz lightyear lebih bersahabat seperti yg di versi film sekarang. Sukses ‘Toy Story’ melahirkan film-film generasi animasi baru yg murni dari computer generated dan membuat Pixar menjadi trend setter.

 

6. China Town (1974)

Cerita ini cukup unik karena lebih tentang masalah pribadi. Sutradara Roman Polanski mendapat dukungan penuh dari studio, aktor Jack Nicholson dan juga produser-produser lain. Cerita musti di shooting di Los Angeles dan Polanski hampir tidak  mau. Beberapa tahun sebelumnya, istri Polanski, Sharon Tate (yg sedang hamil) dan beberapa temanya secara brutal di bunuh oleh Charles Manson dan kelompok cultnya. Kejadian ini menggemparkan Hollywood/Amerika dan tentunya membuat Polanski trauma. Setelah berpikir lama, Polanski akhrinya mau shooting di Los Angeles dan hasilnya ‘China Town’ menjadi film Polanski yg paling terkenal.

 

7. The Wizard of Oz (1939)

Wizard-of-Oz-Caps-the-wizard-of-oz-1739011-720-536

 

Masalah produksi yg berbelit-belit hampir membuat film ini gagal. Script film ini di revisi berulang-ulang oleh 16 penulis yg berbeda-beda. Ketika film selesai, empat sutradara telah bekerja di film ini. Aktor pertama yg memainkan The Tin Man musti masuk rumah sakit karena make up warna perak yg menghiasi mukanya masuk ke dalam paru-paru. Aktor yg memerankan peran Wicked Witch mengalami luka bakar yg cukup serius di adegan ketika dia memasuki  awan yg berasap, belum lagi rumor tentang salah satu karakter Munchkin yg menggantungkan diri di set film.

 

8. The Avengers (2012)

 

avengers

Ok, mungkin cerita ini agak sedikit menyimpang tetapi bagi saya sangat unik. Kita tahu Stan Lee (dan juga Jack Kirby) adalah pencipta karakter-karakter Marvel yg ikonik. Sebelum karakter-karakter Marvel lahir, Stan Lee memang sudah bekerja di perusahaan buku komik tetapi dia membenci pekerjaannya karena cerita dan karakter-karakternya sangat pasaran dan bosnya Stan Lee di saat itu memang tidak punya imajinasi yg lebih kreatif. Stan Lee ingin membuat karya-karya novel yg lebih serius dan dia sudah bertekad untuk mengundurkan diri dari industri penerbitan buku komik.

Ketika Stan Lee bercerita ke istrinya, si istri menyarankan Stan Lee untuk mencoba menulis satu judul lagi tetapi tulis yg Stan Lee mau bukan mengikut perintah bos. Stan Lee berpikir sesaat dan mau mencoba. Walaupun nanti hasilnya tidak memuaskan dan dia di pecat, paling tidak Stan Lee sudah mencoba sesuatu yg dia mau. Stan Lee menulis Fantastic Four dan ternyata laku keras. Kesuksesan Fantastic Four membuat Stan Lee menulis The Avengers, Spider-Man, The Hulk, Daredevil, X-Men dan akhirnya merevolusi industri buku komik.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: