Tag Archives: komedi

Wild Tales: Esensi balas dendam

26 Mar
Wild Tales (2014)

Wild Tales (2014)

‘Wild Tales’ adalah film Argentina karya sutradara Damián Szifrón yg mempunyai tema kental tentang balas dendam dan di baluti oleh black comedy tentang apa yg terjadi ketika orang-orang modern bertindak beringas dan menjadi biadab. ‘Wild Tales’ terdiri dari enam film pendek dengan cerita yg terpisah dan berbeda-beda tetapi mempunyai benang merah yg sama. Kata-kata ‘Omnibus’ sering di lontarkan dan menjadi tren ketika mendiskripsi tentang film-film pendek yg di kumpulkan dengan tema yg mirip tetapi kebanyakan film-film itu kurang maksimal atau kurang greget karena variasi kualitas yg naik turn dari setiap film membuat film secara keseluruhan menjadi tidak imbang dan tema tidak fokus.

Atau juga karena film itu mencoba untuk menjadi ‘dalam’ tetapi malah gagal total karena terlalu maksa menjadi sok artistik dan akhirnya malah membuat penonton darah tinggi. ‘Wild Tales’ tidak memiliki masalah seperti itu karena setiap cerita selalu membuat penoton penasaran, greget, tertawa dan kaget. Mungkin karena di buat oleh satu sutradara, enam film pendek ini mempunyai warna yg sama (walaupun cerita satu sama lain tidak berhubungan) dan sangat fokus dengan temanya. wildtales4   Setiap cerita sangat variatif tetapi mempunyai ‘gigitan’ yg sama. Cerita pertama, ‘Pasternak’ tentang seorang penumpang pesawat yg berbasa-basi dengan orang di sebelahnya. Mereka ternyata kenal dengan salah satu teman mereka, seorang komposer musik yg gagal dan salah satu dari mereka adalah kritikus musik yg menilai bahwa teman mereka bukan komposer musik yg handal. Seorang penumpang mendengar omongan mereka dan dia juga mengaku kenal kenal dengan orang yg di bicarakan.

Tiba-tiba seorang penumpang lain juga mendengar pembicaraan mereka dan juga mengaku kenal dengan orang yg di bicarakan. Mereka semua tidak pernah ketemu satu sama lain tetapi mereka mempunyai kesamaan bahwa mereka kenal dengan orang yg di bicarakan dan mereka pernah punya masalah dengan dia. Ternyata semua penumpang di pesawat itu kenal dengan satu orang itu dan mereka juga punya sejarah konflik. Akhir dari cerita ini cukup tidak terduga dan bagi saya sangat lucu in a black comedy sort of way.

Di cerita yg berjudul ‘Bombita’, kehidupan seorang ahli peledak bangunan pelan-pelan runtuh karena hal sepele; dia tidak membayar tilang karena parkir di tempat yg salah. Dia mencoba berkali-kali untuk beragumentasi bahwa ketika dia parkir, dia tidak melihat tanda tidak boleh parkir tetapi komplain dia tidak di gubris oleh departemen lalu lintas dan karena dia berkeras kepala untuk melawan sistem yg korup akhirnya malah menyebabkan dia kehilangan pekerjaan dan keluarganya, sehingga dia berencana untuk membalas dendam dengan mengebom departemen lalu lintas.

Di cerita ‘Road to Hell’ , Seorang laki-laki yuppie kelas atas yg membawa mobil Audi mencoba untuk menyalip sebuah mobil butut di jalanan sepi di luar kota dan mengejek si pengemudi mobil butut. Tidak lama kemudian, ban mobil Audi dia meletus dan dia musti berhenti di samping jembatan. Ketika dia sudah hampir selesai membetulkan ban, si mobil butut muncul dan konflik terjadi antara kedua pengemudi. Wild Tales_03 Atau di cerita ‘The Rats’ di mana seorang pelayan di sebuah restauran ingin membalas dendam kepada seorang politisi korup yang menghancurkan keluarganya dan si pelayan mengalami delima untuk menaruh racun tikus di makanan si politikus.

Konsep ‘Wild Tales’ memang mirip dengan ‘Twilight Zone’ atau ‘Black Mirror’ tentang film-film pendek yg mempunyai cerita yg sedikit off beat/aneh tetapi dasarnya mengkritik tentang bagaimana cara manusia hidup. Yg membedakan ‘Wild Tales’ adalah cerita bukan di domain fantasy/sci-fi tetapi tentang kehidupan masyarakat Argentina di jaman sekarang yg penuh dengan kefrustrasian karena ketidak adilan, perbedaan kelas, dan hidup di sistem negara yg korup.

Cerita ‘Bombita’ sangat jelas mengkritik sistem pemerintahan Argentina yg berbelit-belit dan birokrasi yg tidak peduli dengan rakyatnya. karena sebuah masalah sepele seperti tiket tilang, kehidupan seseorang drastis berubah total. Memang si ahli peledak juga mempunya sifat yg jelek. Dia emosian, tidak sabaran dan pernikahan dia di ujung tanduk karena dia kurang memperhatikan istrinya. Tetapi dari sudut pandang lain, apakah karena masalah tiket tilang hidup dia berantakan atau walapun tidak ada masalah karena tiket tilang, kehidupan dia akhirnya akan menjadi berantakan juga karena dia tidak bisa mengontrol emosinya? wt6

Tapi yg pasti ‘Wild Tales’ membuat poin yg jelas bahwa sistem negara yg korup dan tidak fleksibel secara langsung atau tidak akan membuat rakyatnya merana. Atau paling tidak, menjerumuskan rakyat ke situasi yg membuat hidup lebih susah karena hal yg sepele menjadi ribet sehingga membuat mereka menjadi tambah frustasi dan kefrustasian ini akhirnya bisa mendorong mereka membuat hal yg ekstrim.

Cerita ‘Road To Hell’ sendiri menjadi simbol konflik antara kelas atas dan kelas buruh dimana kedua pihak membenci satu sama lain (karena hal sepele juga) dan berentet menjadi hasil yg tragis karena masing-masing pihak mengalami frustasi karena tidak bisa berkomunikasi dengan kaum lain ataupun karena sudah mempunyai dendam kesumat yg dalam sehingga karena di picu hal sepele semua murka dan kebencian terhadap pihak lain akhirnya keluar semua.

Tetapi tidak semua cerita berakhir dengan tragis, di cerita ‘Till Death Us Do Part’ di mulai oleh sepasang pengantin yg sedang menikmati pesta perkawinan tetapi situasi berubah drastis ketika pengantin perempuan mendapatkan informasi bahwa pengantin pria berselingkuh dan pacarnya sedang berada di pesta juga. Pengantin wanita awalnya patah hati dan bahkan ingin bunuh diri tetapi akhirnya berencana untuk membalas dendam dan pelan-pelan membuat pengantin pria merana. wt7   Yg membuat cerita ini lucu adalah kita melihat pergantian situasi di mana giliran pengantin pria yg merana dan tersiksa oleh ulah pengantin perempuan tetapi dengan ending twist yg cukup tidak terduga sehingga menjadi cerita romantis versi black comedy. Dan ini memang esensi ‘Wild Tales’ walaupun garang, tidak mudah ketebak dan kadang-kadang absurd, film ini terasa dekat dan relevan.

tintascreenplay.com

Transparent: Tragedi/komedi di jati diri

26 Feb
Transparent (2014)

Transparent (2014)

 

Imej saya tentang orang-orang transeksual, kurang lebih masih misterius karena di kehidupan saya sehari-hari memang saya tidak punya kenalan dengan orang-orang seperti itu. Imej orang-orang transeksual yg sudah di buat di masyarakat kita terus terang masih belum positif, kita sebagai masyarakat masih mengganggap mereka sebagai mahluk hybrid yg cukup membingungkan atau paling gampang memasukan mereka di kotak “bencong” sebagai identitas komikal karena kita cukup nyaman dengan menjiplak mereka sebagai seorang karikatur daripada seorang karakter manusia.

Imej mereka di media juga sangat mengakar dan satu dimensi di mana karakter-karakter “bencong” hanya di gunakan sebagai comic relief. Kita tidak pernah melihat mereka sebagai manusia komplit, apakah ini karena pengaruh turun menurun dari budaya/media/masyarakat kita atau stigma dari ajaran agama posisi kaum transexual di negara ini (dan di kebanyakan negara di dunia) masih di tempatkan di pojok atau di bayang-bayang.

‘Transparent’ adalah serial TV buatan amazon.com yg menuai banyak pujian dan membuat dobrakan penting karena berani membuat serial TV dengan subyek yg sangat unik dan juga mampu memberikan sebuah pandangan humanis tentang kaum transeksual. Serial ini juga banyak di nobatkan sebagai salah satu serial terbaik di 2014.

Mort Pfeffermans (Jeffrey Tambor) adalah seorang guru lelaki intelektual di usia 70-an yg berniat untuk ‘keluar’ menjadi perempuan karena dia sudah lama merasa jadi perempuan tetapi perasaan ini terus di pendam. Sejak lama, dia diam-diam sering berpakaian seperti perempuan ketika sendirian dan hidup seperti seorang superhero yg mempunyai identitas ganda. Dia mengalami dilema bagaimana memberitahukan keluarganya. Keluarga Mort sendiri juga cukup menarik karena ketiga anaknya mempunya masalah sendiri-sendiri yg secara tidak langsung berhubungan dengan perubahan di diri Mort.

Yg membuat ‘Transparent’ sebagai serial TV modern klasik adalah menyatukan elemen komedi yg berasal dari situasi atau tempat yg menyakitkan dan membuat momen itu se-real/humanis mungkin. Ya, ‘Transparent’ memang mempunyai fokus utama ke Mort tetapi skop cerita ‘Transparent’ ternyata lebih meluas ke keluarga Mort (terutama ketiga anak-anaknya yg mempunyai masalah masing-masing). Sarah (Amy Landecker) adalah anak tertua yg mempunyai keluarga sempurna tetapi dia masih jatuh cinta kepada cinta pertamanya yg juga seorang wanita, Josh (Jay Duplass) seorang hipster yg mempunyai pekerjaan sebagai produser musik yg mempunyai trauma dalam tentang perempuan dan Ali (Gaby Hoffmann) anak paling bungsu yg tidak punya arahan hidup yg jelas.

Penulis/pencipta Jill Soloway membuat ‘Transparent’ karena terinspirasi dari kehidupan nyata di kehidupannya ketika bapak Soloway mengaku bahwa dia adalah seorang transeksual. Soloway juga dulu pernah bekerja sebagai penulis di serial HBO ‘Six Feet Under’ yg mempunyai tema tentang kehidupan keluarga yg janggal dan menyatukan tragedi dan humor secara humanis. Tonasi ‘Transparent’ memang mengikuti jejak ‘Six Feet Under’ di mana kita melihat karakter-karakter yg penuh dengan sikap dan motivasi kompleks karena mempunyai sebuah keinginan terpendam yg tidak bisa di ekspresikan secara luwes. Keinginan yg terpendam dan belum tercapai ini yg membuat hubungan keluarga mereka menjadi naik turun dengan konflik karena setiap anggota keluarga mempunyai rahasia masing-masing dan mereka memanipulasi satu sama lain –walaupun secara tidak sengaja/bukan maksud untuk menyakiti- untuk mendapatkan hal yg mereka mau/untuk menjaga rahasia mereka.

Kata-kata ‘realisme’ sering di utarkan di film-film indie/art house atau serial TV yg berbobot, tetapi realisme sendiri tidak cukup untuk membuat suatu karya yg excellent. Karya itu sendiri musti bisa ‘menghibur’ penonton dan membawa mereka ke tempat atau dunia lain yg mereka belum kenal. ‘Realisme’ dan ‘menghibur’ bukanlah sebuah hal yg eksklusif yg hanya bisa di taruh di satu tempat saja- film indie musti realistis!/film Hollywood musti menghibur! Kedua elemen ini bisa menyatu dan membuat sebuah karya yg special. Intinya, ‘Transparent’ bisa membuat cerita yg menghibur tetapi juga mempunyai bobot realisme yg mengakar sehingga sikap dan motivasi mereka terasa sangat otentik.

Melihat ekspresi Mort yg campur baur karena cemas ketika ingin memberitahu anaknya bahwa dia telah berubah menjadi perempuan sangat memilukan tetapi juga lucu karena kita mengerti rasanya ingin memberitahu seseorang tentang rahasia kita yg terdalam tetapi tidak bisa. Mort ingin terus terang tetapi masih ada sesuatu di dalam yg menahan dia untuk berterus-terang. Dan ini inti dari ‘Transparent’ , di mana kita ingin mengexpresikan identitas diri tetapi melakukannya dengan terbata-bata akhirnya menghasilkan suatu cerita yg campur baur antara lucu/sedih dan yg paling penting manusiawi.

Tetapi hal paling penting yg saya dapatkan dari ‘Transparent’ adalah saya tidak melihat Mort sebagai karikatur “bencong” lagi. Saya meihat dia sebagai manusia utuh yg mempunyai beragam lapis kompleksitas yg sangat normal dan biasa, walaupun dari penampilan luar Mort sangat tidak biasa.

tintascreenplay.com

 

Harold and Maude: Pelopor film komedi indie unik

8 Sep
Harold and Maude (1971)

Harold and Maude (1971)

 

Kalo kita ngebahas film-film komedi indie yg unik/quirky seperti ‘Juno’ atau’ Little Miss Sunshine’ pasti kebanyakan orang bilang Wes Anderson (‘The Grand Budapest Hotel’, ‘The Life Aquatic With Steve Zissou’, ‘Rushmore’) adalah masternya. Malah kebanyakan fans dia secara fanatik meng-klaim Anderson yg mempelopori genre itu. Wes Anderson memang berada di posisi unik karena di banding Quentin Tarantino dia tidak pernah mendapat masalah di tuduh menjiplak film orang lain atau menjiplak film-film yg dia kagumi dan juga figur Anderson tidak se-kontroversial/agresif Tarantino sehingga dia tidak banyak mengundang perhatian.

Walaupun sebenarnya Anderson tidak beda jauh dengan Tarantino dalam menjiplak film-film favorit dia dari jaman dulu, dan film ‘Harold and Maude’ adalah film jiplakan Anderson yg paling penting karena melalui ‘Harold and Maude’ semua style estetika Anderson berasal dari film ini; black humor, retro pop music, karakter-karakter/realita yg aneh, tema/filosofi yg kental tentang hidup keasingan, framing adegan seperti kita menonton sebuah pentasan teater (kaku & kebanyakan di wide shot).

‘Harold and Maude’ adalah film cult indie yg sangat underrated walaupun film ini yg mempelopori genre quirky indie comedy. Penulis Colin Higgins dan sutradara Hal Ashby membuat film ini di tahun 1971 ketika Amerika sedang mengalami perubahan sosial yg signifikan dan ketidak percayaan kaum muda kepada pemerintah karena perang Vietnam di puncak tinggi sehingga kaum muda banyak membuat karya-karya art yg memberontak. ‘Harold and Maude’ adalah salah satu karya yg menantang nilai-nilai “moral standard” di era 1970’an karena filmnya tentang seorang anak muda berumur 19 tahun yg jatuh cinta kepada perempuan berumur 79 tahun.

Harold (Bud Cort) adalah seorang pemuda pendiam yg berasal dari keluarga kaya tetapi mempunyai pandangan hidup yg sangat kelam. Dia terobsesi dengan melakukan adegan bunuh diri (walaupun tidak pernah berani untuk benar-benar melakukannya), bahkan ibu Harold yg sangat dominan dan cerewet sudah biasa dengan aksi Harold yg pura-pura bunuh diri. Ibu Harold sudah melakukan berbagai macam cara untuk membantu dia dengan menyuruh Harold bertemu dengan dokter spesialis dan pendeta tetapi Harold tidak berubah. Harold hanya punya satu hobi, mengunjungi pemakaman orang-orang asing. Di sana dia bertemu dengan Maude (Ruth Gordon) perempuan lansia yg juga punya hobi yg sama.

Mulai dari situ hubungan mereka terjalin dengan erat walaupun mereka berasal dari dua sisi yg ekstrim. Harold obsesi dengan kematian sementara Maude obsesi dengan kehidupan. Harold tertutup dan introvert sementara Maude sangat terbuka dan periang. Harold berasal dari keluarga yg kaya dan kaku sementara Maude seorang eksentrik yg hidup di gerbong kereta api seorang diri. Tetapi mereka mempunyai satu hal yg sama yg yg membuat mereka dekat, mereka tidak suka figur otoriter dan selalu berontak.

Harold selalu berontak kepada ibunya dan Maude berontak dengan tidak mengikuti aturan masyarakat (dia selalu mencuri/gonta ganti mobil seenak jidat atau menjadi model telanjang untuk para pelukis). Ketika ibu Harold memaksa Harold untuk menjodohkan dia dengan beberapa calon istri (melalui proses komputer yg sangat tidak personal seperti membeli daging di pasar) Harold tambah berontak, dia melakukan adegan-adegan bunuh diri di depan calon-calon istrinya sehingga membuat mereka takut dan kabur. Harold justru lebih bertambah dekat ke Maude dan pelan-pelan dia mulai mengerti arti sebenarnya untuk tidak menyia-nyiakan hidup dan keluar dari pandangan tentang hidup yg sangat tertutup dan suram, karena pandangan Maude tentang kehidupan adalah, kita bisa membentuk kehidupan seperti yg kita mau dan hidup itu adalah sangat berharga.

harold-and-maude2

 

Visi ‘Harold and Maude’ yg dari awal sepertinya sangat sensasional karena melibatkan asmara antara dua manusia yg mempunyai perbedaan umur yg jauh bukan semata untuk mengejutkan penonton dari sisi humor/sensasi saja tetapi mengejutkan karena hubungan mereka berdua di buat menjadi sangat murni dan lembut sehingga kita tidak melihat mereka sebagai pasangan yg canggung tetapi justru menjadi pasangan yg komplit untuk sesama.

Mungkin kalau dari sisi filosofinya; Harold adalah kematian, Maude adalah kehidupan. Di gabung mereka membuat siklus hidup menjadi komplit.

Poin ini di simpulkan di scene yg sangat menyentuh ketika Maude menerangkan ke Harold tentang bunga matahari.

Maude: “I think much of the world’s sorrow is from people who think they’re this, but allow themselves to be treated as that.”

Maude dan Harold ternyata berdiri di lapangan bunga matahari di tengah-tengah kuburan.

Klasik.

tintascreenplay.com

Return to Nuke ‘Em High Volume 1: Film cult sakit

6 Aug
Return to Nuke 'Em High Volume 1 (2013)

Return to Nuke ‘Em High Volume 1 (2013)

 

‘Return to Nuke ‘Em High Volume 1’ adalah sebuah film lanjutan dari film ‘Nuke’Em High’ (1986). Film ini adalah kreasi sutradara/penulis Llyod Kaufman, seorang maestro film-film cult low budget yg berfokus ke genre horror, sex, comedy dan gore (melalui perusahaan dia Troma studios). Kalau anda pingin nonton film trashy yg so bad its good…film-film Kaufman sangat cocok untuk itu.

Tetapi kontribusi Llyod Kaufman untuk sinema sebagai pembuat film cult (‘The Toxic Avenger’, ‘Squeeze Play!’) bukan saja karena membuat film yg dia mau tanpa peduli pasar mainstream tetapi juga karena menginspirasikan generasi filmmaker berikutnya seperti James Gunn (‘Guardians of the Galaxy’, ‘Super’, ‘Slither’). Sebelum James Gunn sukses dengan ‘Guardians of the Galaxy’ dia bekerja lama sebagai penulis untuk film-film Llyod Kaufman. Seperti maestro-maestro film cult lainnya (Roger Corman, John Waters, Russ Meyer) yg juga menginspirasi atau membimbing sutradara-sutradara yg akan merubah mainstream seperti Martin Scorsese, Francis Ford Coppola dan Michael Moore. Humor Kaufman yg sedikit sadis/absurd dan watak yg sangat independent sudah menjadi bagian dari Gunn juga.

‘Return to Nuke ‘Em High Volume 1’ sendiri memang melanjutkan konsep film ‘Nuke ‘Em High’ yg sangat trashy dan over the top. Sebuah perusahaan tenaga nuklir bereksperimen dengan makanan toxic dan memberikannya ke pelajar-pelajar di sekolah. Ternyata makanan yg terkontaminasi itu membuat pelajar-pelajar berubah menjadi karakter/karakter yg bermutasi. Beberapa pelajar culun dari glee club (ya, menyindir glee serial TV) berubah menjadi mutan-mutan punk yg sangar bernama Cretins dan menteror Tromaville High School. Bisakah sepasang pelajar lesbian Chrissy (Asta paredes) dan Lauren (Catherine Corcoran) menyelamatkan situasi?

Bagi saya, visi Kaufman yg anarkis dan tidak beraturan ternyata mempunyai visi yg cukup kritikal tentang budaya Amerika. Dari obsesi remaja amerika dengan sex & violence, perbedaan kasta di sekolah, perusahaan energi yg tidak peduli lingkungan sampai hal-hal yg tabu seperti kejadian penembakan yg di lakukan oleh remaja-remaja di Amerika di jadikan sebagai guyon menyindir. Kalau film-film parodi seperti ‘Scary Movie’ memang di anggap sebagai sampah yg tidak ada nilai karena candaannya terlalu maksa dan memang tidak lucu, ‘Return to Nuke ‘Em high Volume 1’ adalah film parodi yg lebih berani dan lebih offensive karena sangat absurd, hyperreal dan ultimately memang benar-benar sakit.

B-movie ini mempunyai sebuah karisma yg bagi saya sudah jarang di dapati di film-film era sekarang. Karisma tentang the joy of filmmaking. Energi Kaufman yg maniak sangat terasa di karya ini dan sepertinya menular ke aktor-aktornya.

Yes, it’s trashy. Yes, it’s over the top cheesy. Yes, it’s offensive with cartoon violence and gore. But damn, it’s an anarchist kinda fun.

tintascreenplay.com

5 alasan ‘This Is Spinal Tap’ salah satu film komedi terbaik di sepanjang masa

3 Apr

 

This Is Spinal Tap (1984)

This Is Spinal Tap (1984)

 

Film cult ini selalu di nobatkan oleh hampir semua kritikus film sebagai salah satu film komedi terbaik sepanjang masa. Basis cerita film fiksi ini tentang seorang sutradara dokumenter yg mengikuti come back tour band rock favoritnya dan secara tidak terduga membuka semua masalah-masalah lucu tentang band lama yg sudah mulai pudar popularitasnya melalui “behind the scene footages”, persaingan antara lead vocal David St. Hubbins (Michael McKean) dan gitaris Nigel Tufnel (Christopher Guest) juga segala keanehan yg di alami oleh rocker-rocker ketika sedang mengalami tur yg kacau.

One of the best comedy films of all time? Nah, it’s the only best film about rock ‘n’ roll of all time!

 

1. Memaksimalkan konsep “mockumentary”

‘This Is Spinal Tap’ adalah salah satu film pioneer yg menggunakan konsep “mockumentary” (dokumenter pura-pura) secara efektif dan kreatif. Konsep ini membuat cerita fiksi seperti kisah nyata sehingga membuat film semakin lebih lucu. Melihat sifat para rocker-rocker yg sudah tua dan tidak relevan lagi bertingkah seperti anak-anak muda yg lagi trendy membuat revelasi yg sangat lucu dan juga menyedihkan. Mereka seperti stuck di sebuah time capsule di mana di pikiran mereka, existensi mereka masih punya makna berarti tetapi ketika di lihat oleh orang awam/penonton dari luar, kehidupan mereka sangat absurd dan bahkan sangat menggelikan tetapi bagi mereka sangat normal.

Jika film ini di buat seperti film biasa mungkin hasilnya kurang greget tetapi karena menggunakan konsep mockumentary justru membuat film naik ke level kelucuan yg tidak biasa. Kamera meng-capture momen-momen kecil tetapi signifikan (pandangan, reaksi kesal) di mana persaingan antara Nigel dan David karena seorang wanita (figur seperti Yoko Ono) yg membuat renggang hubungan mereka. Konsep mockumentary ini menginspirasikan serial TV ‘The Office’ di mana kelucuan karakter-karakter di capture bukan karena tipe komedi slapstick atau yg terlalu berkelebihan tetapi karena momen-momen/insiden yg membuat situasi menjadi canggung dan reaksi karakter-karakter yg mencoba keras untuk menjaga imej mereka di depan kamera tetapi akhirnya sifat asli mereka kelihatan.

 

2. Menyindir industri musik/musisi


Industri hiburan akan selalu menjadi bahan olokan yg tidak ada habisnya karena di penuhi oleh orang-orang egois/minim talenta yg merasa lebih baik/spesial dari orang awam. ‘This Is Spinal Tap’ dengan berani membuat lucu/parodi konsep rocker-rocker tua yg selalu menganggap diri mereka ‘artis/selebriti penting’ tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yg kurang intelijen dan tidak mengerti konsep realita secara utuh karena mereka sudah terlalu lama hidup dengan fantasi lifestyle rocker yg semakin lama semakin pudar.

Band Spinal Tap sendiri juga bukan band yg begitu original karena setiap dekade gaya musik mereka berubah-ubah (dari footage ‘sejarah’ band mereka) dari band yg mengikut gaya The Beatles di dekade 60’an berubah ke band gaya flower power/hippie dan akhirnya menjadi band metal di tahun 80’an, sehingga film ini membuat konklusi/menyindir industri musik bahwa band/musisi tidak perlu terlalu talenta/pintar, asal mereka bisa mengikuti jaman dan menjiplak style musik yg lagi ngetop, mereka masih bisa eksis.

 

3. Humor di film ini selalu abadi


Banyak sekali film-film komedi yg sangat ngetop di jamannya tetapi ketika di tonton ulang beberapa dekade kemudian sudah tidak lucu/tidak relevan lagi (Airplane, Police Academy, film-film Warkop di dekade 90’an). ‘This is Spinal Tap’ tidak mempunyai masalah itu. Malah film ini semakin penting karena belakangan ini banyak sekali band-band tua yg melakukan tur reuni dari yg paling ngetop seperti The Rolling Stones atau indie seperti The Pixies atau yg amburadul engga jelas seperti Guns N’ Roses.

Sehingga film ini mempunyai nilai relevansi yg tinggi karena kita secara diam-diam pingin tahu apakah band-band ini punya momen seperti Spinal Tap? Seperti jalan tersesat di basemen sebelum manggung (pernah terjadi kepada Ozzy Osbourne, Jimmy Page dan Robert Plant!) drummer gonta-ganti terus karena selalu mati secara tragis/konyol (Pearl Jam gonta-ganti 5 drumer dan mereka merasa seperti Spinal Tap), anggota band memasukan ketimun ke celana dalam karena ingin terlihat lebih ‘sexy’ (hampir semua musisi sudah pernah mencoba ini bukan?).

Mengalami masalah di set prop ketika manggung (si basis terjebak di dalam sebuah set prop yg tidak mau terbuka ketika dia musti keluar untuk manggung, hal ini juga pernah di alami band U2), mengeluarkan album cover yg warnanya hitam semua dan membuat band member berantem dengan record label (tetapi menjadi inspirasi Metallica untuk membuat “black album”). Bahkan semua band rock dari Van Halen sampai Nirvana memuja film ini.

‘This Is Spinal Tap’ bukan saja mengukuhkan konsep art imitates life tetapi justru life imitates art.

 

4. Membuat film dengan 4 halaman


Sutradara Rob Reiner dan penulis Christopher Guest, Michael McKean, Harry Shearer tidak punya script lengkap ketika membuat ‘This Is Spinal Tap’, mereka cuman punya 4 halaman treatment dan ketika shooting mereka ber-improvisasi dengan aktor-aktornya. Hal ini memang tidak di rekomendasikan ketika shooting di kebanyakan film, karena terlalu beresiko tinggi tetapi ketika improvisasi sukses hasilnya memang sangat tidak terduga. Tetapi Reiner musti selalu memastikan dia mempunyai struktrur cerita yg ketat dari awal sampai akhir, dia musti tahu garis besar cerita yg dia inginkan, sisanya di isi oleh improvisasi dengan aktor-aktor.

Untungnya Reiner bekerja dengan aktor-aktor jenius yg sangat mengerti karakter-karakter mereka dan inti cerita dengan dalam sehingga ketika melakukan improvisasi scene, mereka kurang lebih berada di halaman yg sama. Dan mereka semua sudah punya background improv komedi sehingga pengalaman mereka dalam improvisasi sudah sangat matang, disiplin dan teruji.

Intinya improvisasi bukan sebuah konsep asal-asalan tetapi musti di rencanakan dengan matang-matang dan untuk menunjukan kemampuan improvisasi mereka secara maksimal.

 

5. “These go to eleven.”


Sebuah kalimat klasik abadi yg di ucapkan oleh Nigel ketika menunjukan ampifiernya mempunyai level ekstra sampai nomor “11” (amplifier standard cuman sampai nomor “10”). That’s one more, innit? Scene ini dengan sendirinya membuat film ini menjadi instan klasik.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: