Tag Archives: paranoia

Repulsion: Horor di pikiran lebih mengerikan

13 Mar

Repulsion (1965)

Seorang perempuan cantik yg selalu mengundang perhatian berjalan dengan mata kosong. Pria-pria selalu terpesona,  perempuan- perempuan lain merasa minder berada di sampingnya. Semua terkagum-kagum oleh kecantikannya, kecuali si perempuan cantik sendiri. Dia seorang yg sopan dan pemalu bahkan sering menyendiri,  melamun dan pikirannya melayang entah kemana. Ada sesuatu yg aneh tentang dia, sesuatu yg kurang ‘pas’ bahkan bisa di bilang rusak secara permanen di dalamnya karena sudah terpendam terlalu lama. Begitu di keluarkan, hasilnya sangat menakutkan dan mematikan.

Selamat datang ke dunia Roman Polanski, seorang sutradara jenius/master dengan tema horror psikologi, suspense, thriller dan paranoia.  Obsesi Polanski dengan tema itu bisa di bilang bisa menyaingi Alfred Hitchcock bahkan lebih berani meng-explore ke tempat-tempat yg lebih gelap.

Kalau Hitchcock di umpamakan sebagai The Beatles, Polanski adalah The Velvet Underground; lebih dalam dan lebih kotor.

Sebelum Polanski menguasai Hollywood dengan ‘Rosemary’s Baby’ dan ‘China Town’, film pertama dia berbahasa Inggris (dan di produksi di Inggris) adalah ‘Repulsion’. Di shooting secara low budget dan di backing oleh sebuah perusahaan kecil karena studio-studio besar tidak berminat, ‘Repulsion’ mengukuhkan Polanski sebagai sutradara Polandia berkelas tinggi karena mempunyai visi yg beda dan baru. Polanski mempunyai talenta unik karena bisa menggabungkan taste/background dia yg ‘art film’ dengan mainstream sinema sehingga menghasilkan karya yg sukses tapi tidak pasaran.

‘Repulsion’ adalah salah satu karya Polanski yg masterpiece tetapi bisa di bilang underrated karena selalu di bayang-bayangi oleh  kesuksesan ‘Rosemary’s Baby’ dan ‘China Town’ yg di produksi di Hollywood. Tetapi secara kualitas, ‘Repulsion’ tidak kalah walaupun di buat secara low budget.

‘Repulsion’ bercerita tentang seorang pekerja salon yg cantik bernama Carol (Catherine Deneuve) yg tinggal bersama kakaknya, Helen (Yvonne Furneaux) di sebuah apartemen di London. Helen berselingkuh dengan suami orang, Michael (Ian Hendry) dan mereka sering tidur bareng di kamar Helen. Suara-suara dari hubungan intim mereka selalu membuat Carol tidak bisa tidur dan frustasi.  Carol bahkan tidak begitu suka dengan Michael dan selalu bersikap dingin. Awalnya kita hanya mengira Carol cuman punya masalah dengan Michael. Tetapi ketika seorang pria yg baik dan lembut, Colin (John Fraser) mencoba mendekati Carol, dia juga mendapatkan perlakuan yg sama seperti Michael. Carol seperti trauma ketika di dekati laki-laki dan sangat tidak suka di sentuh, dia juga sering melamun dan terpaku dengan pikirannya sendiri.

Masalah timbul ketika Helen dan Michael pergi liburan dan meninggalkan Carol seorang diri. Carol menjadi cemas dan ketakutan dan memohon Helen untuk tidak pergi tetapi Helen tidak peduli. Ketika Carol di tinggal sendiri, dia mulai merasa bahwa ada seseorang yg selalu datang malam-malam ke apartemen dan menteror dia.

Dunia Carol mulai menjadi berantakan karena di teror setiap malam. Mental dan pikiran Carol yg dari pertama sudah lemah menjadi paranoia sehingga pandangan dia tentang realita semakin kacau dan bertambah distorsi. Apakah orang yg menteror dia adalah bagian imajinasi Carol atau memang benar-benar nyata? Dan kenapa Carol sangat trauma dengan laki-laki?

Tragisnya, paranoia Carol akhirnya mendorong dia menjadi pembunuh kejam yg sudah kehilangan akal sehat secara total.

Memang konsep cerita ini sudah kita lihat berkali-kali di jaman sekarang bahkan menjadi cerita standarad. Tetapi di tahun 1965, konsep ini sangat original dan tentunya di tangan Polanski membuat cerita menjadi lebih mencekam.

Di tangan sutradara pasaran, cerita ini pasti akan gagal karena cerita tidak mengandalkan unsur hantu/supernatural atau violence/gore yg berkelebihan, belum lagi limitasi ruangan (shooting kebanyakan di apartemen) dan minimnya interaksi Carol dengan karakter-karakter lain mulai dari pertengahan cerita. Bagaimana mungkin membuat cerita yg mengerikan dengan menggunakan satu karakter di apartemen?

Kejeniusan Polanski dalam membangun mood cerita secara perlahan-lahan tetapi dengan pasti menuju poin klimaks/revelasi yg tidak terduga di mulai dengan membuat dunia yg serealistis mungkin di awal cerita dan secara sistematis di runtuhkan. Dari hal sepele seperti pegangan pintu bergerak pelan-pelan atau simbolisme daging kelinci yg di biarkan di meja sehingga membusuk, sebuah foto keluarga yg mempunyai arti yg mengerikan, dinding apartemen tiba-tiba retak lebar dan tangan-tangan muncul dari dinding dan menarik Carol (juga di dukung oleh penggunaan sound fx yg penting dan dominan).

Semua ini menjadi lebih intens dan di ulang berkali-kali untuk membuat dunia/mental Carol yg semakin lama semakin sempit/tertekan/terasingkan akhirnya meluap dan merubah dia menjadi pembunuh adalah sebuah kreasi sinema yg menakjubkan dan hanya bisa di buat murni oleh film, karena Polanski menggunakan semua elemen sinema dari visual, suara dan akting secara maksimal. Polanski seperti perlahan-lahan memberikan setengah clue untuk sebuah puzzle tetapi membiarkan kita untuk mencari clue yg setengahnya lagi. Sehingga ketika kita berhasil melihat puzzle secara utuh, hasilnya sangat powerful.

‘Repulsion’ telah menjadi film klasik yg ceritanya tidak terhitung telah di jiplak berkali-kali. Bahkan jika di banding film-film horor psikologi/thriller jaman sekarang seperti ‘Black Swan’ yg jelas-jelas mengambil inspirasi dari ‘Repulsion’, karya Polanski masih jauh lebih superior dan lebih penuh greget. Karena Polanski dari awal sudah mengerti bahwa konsep horor yg paling menakutkan sebenarnya sudah berada di dalam pikiran kita.

tintascreenplay.com

Black Mirror: Menteror generasi facebook

30 Nov

Black Mirror

Black Mirror

Kecintaan dan ketergantungan kita kepada teknologi di masa kini sudah tidak di pungkiri lagi. Smart phone, tablet, internet, laptop, software, update, upgrade, social media, dsbnya-dsbnya sudah menjadi bagian esensial di kehidupan kita sehari-hari. Bahkan sudah ada generasi post-milenium yg tidak pernah mengalami kehidupan tanpa tetek bengek gadget, sehingga ketika mereka mendengar cerita bahwa suatu waktu yg lalu- kalo mau janji ketemuan di luar musti benar-benar di rencanakan matang-matang – ada sebuah pandangan hampa  mengerikan di mata mereka yg tidak bisa di ungkap dengan kata-kata, abis itu buru-buru cek time line di gadget supaya dunia mereka kembali menjadi normal.

‘Black Mirror’ adalah serial TV brilian dari Inggris yg mengexplorasi obsesi kita dengan kehidupan modern dan menyindir kenyamanan kita dengan teknologi bahwa semua itu musti kita bayar dengan harga yg sangat mahal, bukan dengan uang tetapi sisi kemanusiaan kita. ‘Black Mirror’ sendiri artinya kaca hitam yg ada di gadget kita; kaca monitor di computer, kaca monitor di hp, TV, memandang/mencerminkan sisi kegelapan kita melalui teknologi. Untuk saat ini, ‘Black Mirror’ baru tayang dua season dan uniknya setiap season hanya mempunyai tiga episode dan setiap episode beda-beda atau satu cerita per episode. Yup, enam episode ini sangat kuat dan berkualitas seperti enam film individu yg sangat unik bukan serial TV sehingga cerita/karakter lebih flexibel dan tidak mudah di tebak.

Kecuali satu-dua episode yg berada di batasan sci-fi, episode yg lain fokus ke era teknologi hari ini atau tidak jauh di masa depan sehingga mempunyai tema yg sangat relevan tentang cara hidup kita di saat ini. Anda tidak akan menemukan gadget-gadget yg terlalu spektakuler seperti di film-film sci-fi fantasi yg sudah terbiasa kita lihat dari film Hollywood. Fokus ‘Black Mirror’ bukan ke gadget tetapi konsekuensi dari gadget itu yg merubah cara kita berpikir/bereaksi/berinteraksi dengan sesama/sendiri/masyarakat dan tidak memberikan jawaban/solusi yg nyaman malah lebih condong ke arah yg suram dan bahkan shocking. Seperti serial TV ‘The Twilight Zone’ untuk generasi facebook.

Setiap episode ‘Black Mirror’ mempunyai ide yg besar tetapi juga di dukung oleh karakter yg kuat dan sangat realisitis sehingga dampak dari setiap cerita lebih kena ke penonton karena situasinya dan reaksi karakter tidak jauh beda dengan situasi nyata kita. Di episode ‘National Anthem’ , seorang puteri dari royal family kebanggaan Inggris yg populer di culik. Si penculik mempunyai permintaan yg simpel untuk membebaskan si  puteri; dalam beberapa jam, perdana menteri Inggris musti tampil live di televisi dan melakukan hubungan intim dengan seekor babi…yup benar, seekor babi hidup.

 Tetapi poin utama dari episode itu adalah reaksi rakyat Inggris dalam menggunakan sosial media yg menentukan keputusan perdana menteri. Jika dia tidak melakukannya apa reaksi rakyat Inggris? Belum lagi si perdana menteri mengalami banyak tekanan dari partai sendiri karena mereka takut kepopularitas partai akan jatuh jika dia tidak melakukannya. Di sini pasang surut dukungan rakyat ke dia melalui sosial media sangat signifikan karena menjadi refleksi nyata di jaman sekarang; dampak opini masa yg menghakimi nasib seseorang tanpa berpikir panjang walaupun secara individu kelihatannya tidak signifikan tetapi jika di gabung menjadi sebuah mahluk hidup yg menyeramkan. Dan kita semua pernah melakukan ini.

Di Episode ‘White Bear’, seorang wanita bangun di sebuah rumah yg kosong dan dia tidak ingat siapa diri dia. Ketika dia keluar rumah, dia melihat beberapa orang merekam dia dengan menggunakan hp tetapi selalu menjaga jarak dan tidak mau berkomunikasi. Tiba-tiba datang beberapa orang membawa senjata dan memburu dia sementara banyak orang merekam adegan itu tanpa membantu si perempuan. Kenapa mereka ada di situ? Kenapa mereka tidak membantu si perempuan? Walaupun awal premis cerita ini sangat klise dan sudah di ulang berjuta-juta kali (Hero bangun, mengalami amnesia dan di teror oleh orang yg tidak di kenal), ‘Black Miror’ memutarbalikan konsep klise itu untuk membuat sebuah statemen yg lebih sangar/shocking.

Tetapi bagi saya episode yg masterpiece adalah ‘The Entire History of You’ di mana semua orang bisa merekam apa yg mereka lihat dari bayi hingga sekarang dan semua data visual bisa di simpan di otak kita sehingga setiap saat kita dapat mengakses imej memori kita di monitor TV. Ketika seorang pengacara curiga bahwa istrinya menyembunyikan sesuatu dari dia, dia mulai terobsesi untuk mencari kebenaran. Dia mulai mengakses imej memorinya berjam-jam untuk mencari petunjuk sekecil apapun.

Bukannya sangat berguna sekali mempunyai akses di mana kita dapat merekam apa yg kita lihat dua hari lalu pada jam 4 sore? kita bisa rewind/fast forward/replay/erase/freeze frame/focus/zoom semua imej yg mata kita pernah rekam, sehingga memori kita selalu jelas dengan kualitas HD dan tidak ada ketidakpastian. Tetapi semakin dia terobsesi untuk mencari kebenaran semakin kacau hubungan dia dengan istrinya dan ini poin ‘Black Mirror’ yg paling intim, teknologi tidak membuat hidup kita lebih baik, teknologi tidak ‘menyatukan’ kita dengan orang lain dan teknologi akan merubah habit kita ke arah yg lebih paranoia.

Bahkan aktor ternama Robert Downey Jr. (Iron Man) sangat terkesima dengan episode ini, dia membeli hak ciptanya untuk di develop menjadi film layar lebar.

Jadi jika anda sudah muak dengan slogan-slogan perusahaan teknologi/media/hp/provider/computer/games yg mengobar janji-janji kosong tentang bagaimana teknologi akan memperkaya hidup anda karena mereka ‘mengerti’ bahwa anda adalah seorang ‘individu’ yg berharga, nonton ‘Black Mirror’, because it will cut through the bullshit and seek the truth.

In the end, you’re just a target market.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: