Tag Archives: screenplay

21 aturan Pixar dalam membuat cerita

13 Dec

Keunikan Pixar dalam membuat film-film animasi sukses membuat banyak pihak penasaran apa rahasia mereka? Kebanyakan pihak berpendapat, sukses mereka karena inovasi Pixar di teknologi animasi tetapi  hal yg paling sering di lewatkan justru kepedulian Pixar kepada hal yg paling mendasar di pembuatan film, pembuatan script.

Bagi Pixar, cerita lebih penting daripada inovasi teknologi karena mereka mengerti, jika film mereka tidak bisa menyentuh penonton secara emosional-seberapa pun canggihnya animasi mereka, film mereka akan gagal. Obsesi Pixar untuk membuat cerita sebagus-bagusnya menjadi legendaris, mereka membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat screenplay bahkan tidak kalah lamanya dengan pembuatan segi teknis animasi. Dari pengalaman mereka hampir tiga dekade, mereka mempunyai  21 aturan dalam pembuatan cerita. 21 aturan ini adalah hasil dari proses gabungan antara pengalaman penulis, sutradara, produser yg bekerja di Pixar dan campuran ilmu aturan penulisan screenplay yg sudah ada.

1. Anda lebih menyukai karakter anda karena mereka terus mencoba untuk sukses dari pada kesuksesan mereka.

2. Apa yang menarik bagi penonton belum tentu menarik bagi penulis, dua hal ini sangat beda.

3. Mencari tema adalah sangat penting, tetapi kamu tidak bisa melihat itu sampai akhir cerita. Sekarang tulis ulang lagi.

4. Suatu waktu lalu ada___. Setiap hari,___. Suatu hari___. Karena itu, ___. Karena itu, ___. Sampai akhirnya ___.

5. Buat cerita simpel. Fokus. Edit hal yg bertele-tele. Anda musti keji.

6. Karakter kamu jago di hal apa? Mereka nyaman di situasi apa? Lemparkan mereka di situasi yg bertolak belakang. Kasih mereka rintangan. Apa reaksi mereka?

7. Cari tau akhir cerita anda sebelum anda memikirkan bagian tengah. Serius. Akhir cerita susah sekali, kerjakan ini dulu.

8. Kelarin cerita anda. Lepaskan walaupun tidak sempurna. Di dunia sempurna, anda mempunyai dua-duanya tapi anda musti move on. Lain kali bikin lebih bagus.

9. Ketika anda sedang kehabisan ide di satu scene, buat sebuah list di mana hal itu tidak masuk akal untuk scene itu. Suatu waktu, list itu bisa membantu anda di scene-scene berikutnya.

10. Tarik elemen yg paling anda suka dari cerita anda karena ini bagian dari diri anda, anda musti mengenalinya sebelum anda menggunakannya.

11. Mengeluarkan ide di atas kertas lebih penting daripada di tinggal di pikiran anda karena bisa lebih di perbaiki dan di share.

12. Hilangkan habit menulis- apa yg terlalu gampang ketebak. Coba ide ke dua, tiga, empat, lima…kejutkan diri anda.

13. Berikan karakter anda opini kuat. Karakter terlalu pasif mungkin mudah di tulis karena anda suka tetapi menjadi racun ke penonton.

14. Kenapa anda musti menulis cerita INI? Apa yg membuat anda membara-bara untuk menulisnya? Ini intinya.

15. Kalau anda adalah karakter anda, di situasi ini, apa perasaan anda? Kejujuran bisa membuat cerita masuk akal, walapun di situasi yg tidak normal.

16. Apa taruhannya? Kasih kita alasan kenapa kita musti dukung karakter anda. Apa yg terjadi jika mereka gagal? Buat situasi mereka sulit.

17. Menulis bukan usaha sia-sia. Jika tidak berhasil, jalan terus dan kembali lagi nanti.

18. Anda musti tahu diri anda: perbedaan antara membuat yg terbaik dan terlalu khawatir dengan detail-detail kecil.

19. Kejadian kebetulan untuk membuat karakter anda dalam masalah adalah bagus, kejadian kebetulan untuk membuat mereka keluar dari masalah adalah curang.

20. Latihan: Cari sebuah film yg anda tidak suka. Sekarang apa yg ingin anda rubah supaya anda SUKA film itu?

21. Apa esensi cerita anda? Jika anda bisa menjelaskan semua poin cerita penting anda dalam tiga kalimat dan membuat orang tertarik, anda di jalur yg benar.

tintascreenplay.com

Advertisements

Tips menulis skenario film biasa/jelek

26 Sep

 

Banyaknya film biasa/jelek  di dalam negeri membuat saya berpikir, pada kemana penulis skenario berkualitas? Kebanyakan penulis film kita terbagi di dua kelompok. Film komersil atau film festival. Mayoritas penulis film komersil biasanya tidak mempunyai visi yg kuat, tidak mengerti psikis orang Indonesia secara detail dan tidak mengerti fundamental penulisan screenplay. Mayoritas penulis film festival biasanya mempunyai visi yg cukup menarik tetapi tidak mempunyai fondasi kuat untuk membuat cerita yg solid; ide menarik saja tidak cukup untuk membuat film yg memukau penonton selama dua jam. Ide menarik musti di dukung oleh pengertian struktur cerita yg fokus, karakter solid dan tema yg kuat. Banyak sekali penulis film ”artistic” terbawa dengan arus cerita yg tidak masuk akal dan bertele-tele sehingga membuat cerita yg sering membuat penonton frustasi. Film’ intelektual’ atau film komersil akan sama jeleknya jika basis cerita mereka biasa/jelek. Ini beberapa tipsnya:

– Jangan membuat cerita yg menyentuh

– Jangan menulis cerita yg tidak populer

– Jangan membuat cerita yg mempunyai relevansi kuat dengan kenyataan

– Jangan membuat karakter yg unik atau mempunyai karakter manusiawi yg kompleks

– Jangan pernah mengambil resiko

– Jangan peduli dengan struktur screenplay

– Jangan peduli dengan ekspektasi penonton

– Jangan peduli dengan cerita yg simpel tetapi kuat

– Jangan percaya dengan diri anda

– Jangan banyak membaca screenplay film-film berkualitas

– Jangan pernah diskusi secara dalam bersama sutradara/produser

– Jangan punya visi individu semua musti di proses oleh komite

– Jangan pernah menulis dengan jujur

– Jangan menulis dengan hati

– Jangan pernah mau belajar dari penulis yg lebih handal

– Jangan peduli dengan struktur penulisan screenplay karena anda adalah seorang artistik pemberontak

– Jangan pernah berpikir penonton bisa berpikir sendiri

– Selalu untuk menyenangkan semua pihak

– Selalu membuat cerita yg lagi trendy

– Selalu menulis plot cerita yg berbelit-belit dan tidak matang

– Selalu menulis karakter yg banyak sehingga film anda tidak mempunyai protagonis yg jelas

– Selalu puas dengan hasil anda

– Selalu cari cara solusi gampang untuk menyelesaikan konflik di cerita anda

– Selalu membuat cerita yg bertele-tele dan tidak fokus

– Selalu menulis screenplay seperti struktur novel yg anda sukai

– Selalu mempunyai pesan moral yg bertubi-tubi

– Selalu membuat cerita yg hanya anda seorang yg mengerti

– Yg berduit selalu benar

 

tintascreenplay.com

The lost art of conversation

26 Jun

 Sebagai penulis screenplay, ada peraturan umum di mana ketika kita menulis dialog musti di minimaliskan. Malah ada beberapa screenwriter fundamentalis yg berpikir  kalau dialog line melebihi tiga baris maka ini adalah dosa besar karena di mata mereka, penonton akan ketiduran karena musti mendengar dialog berlebihan. Ada juga  writer/director/producer yg insist bahwa karena film adalah medium visual, dialog musti di kurangi atau bahkan di jadikan anak tiri.

Saya tidak mengerti sejak kapan dialog musti di permasalahkan. Saya paham maksud mereka kalau penulis yg coba berdialog banyak bukannya membuat script mereka kuat  tetapi jadi tidak fokus. Saya tahu argumen itu, tetapi menjadikan itu sebagai hukum yg tidak bisa di tawar? No, thank you.

Banyak sekali film-film classic yg menggunakan banyak dialog di film mereka. Film-film sepert His girl friday, It happened one night, A bout de souffle, Annie Hall menggunakan dialog sebagai salah satu kekuatan dari film mereka. Dengan berdialog, aktor bisa menemukan ritme karakter mereka, karena dialog yg bagus dan pintar bisa reveal the mindset of the character secara lebih jelas dan itu membuat karakter menjadi tidak terlupakan. Bagi saya ketika Michel bersembunyi di apartemen Patricia (A bout de souffle) dan mereka berkonversasi  adalah one of the greatest dialog scene in the history of cinema. Percakapan mereka mungkin kelihatannya innocent, witty dan playful, tetapi kalau anda sudah menonton film itu dan menonton ulang lagi bagi saya scene ini sangat heartbreaking karena tanda-tanda hubungan mereka tidak akan mempunyai happy ending sudah ada indikasinya di sini.

Michel & Patricia. A bout de souffle (1960)

Konversasi mereka mengungkapkan bahwa mereka adalah dua karakter yg  bertolak belakang dan sangat beda. Yg satu dreamer-yg satu praktikal, yg satu sensitive- yg satu realist, tetapi mereka bisa menemukan koneksi di mana untuk sesaat  mereka adalah dua manusia yg sedang jatuh cinta dan menemukan sesama. Dan kita sebagai penonton merasakan itu, kita merasakan mereka benar-benar jatuh cinta tetapi masalah besar akan selalu mengikuti mereka. Kita mau mereka berhasil dan pergi berdua riding into the sunset but it ain’t gonna happen….

Scene ini juga bisa di bilang cukup lama, sekitar 10 menit atau lebih. Di era modern, tidak banyak film yg mau berdialog intens secara 10 menit kecuali kalau yg bikin adalah Wody Allen, Tarantino, Paul Thomas Anderson, Judd apatow  atau Lars von trier. Most filmmakers nowadays take the safe way out.

Kalo saya sendiri, itu tergantung dari skill set individu penulis. Kalo memang suka dialog panjang, ya coba latihan terus. mungkin di awal-awal scene yg anda bikin tidak menarik tetapi karena banyak latihan , anda akan menemukan sebuah pattern atau strukur dalam berdialog panjang. Saya tidak masalah film yg berdialog panjang, malah saya cukup suka tetapi memang di butuhkan skill penulis yg cukup tinggi supaya scene itu tidak membosankan. Inti untuk berdialog panjang selalu kembali ke karakter. Dialog reveals who the character is. Apa yg anda ingin komunikasikan tentang karakter anda ke penonton? Apakah karakter anda orangnya lucu, periang, pintar, cerewet, paranoid? Itu semua ada di tangan anda. Bagi saya dialog panjang selalu akan menjadi bagian dari sinema dan di gunakan untuk sebuah style yg unik.

tintascreenplay.com

 

%d bloggers like this: