Tag Archives: spielberg

15 Perfect Shots Part II

31 Jan

1. The Godfather Part II (1974)

     DoP: Gordon Willis

     Director: Francis Ford Coppola

THE GODFATHER PART II (1974) DoP- Gordon Willis | Dir- Francis Ford Coppola

 

2. The Big Blue (1988)

     DoP: Carlo Varini 

     Director: Luc Besson

Perfect shot- THE BIG BLUE (1988) DoP- Carlo Varini | Dir- Luc Besson

 

3. Saving Private Ryan (1998)

     DoP: Janusz Kaminski 

     Director: Steven Spielberg

SAVING PRIVATE RYAN (1998) DoP- Janusz Kaminski | Dir- Steven Spielberg

 

 

4. Casino (1995)

     DoP: Robert Richardson 

     Director: Martin Scorsese

CASINO (1995) DoP- Robert Richardson | Dir- Martin Scorsese

 

5. Breathless (1960)

     DoP: Raoul Coutard 

     Director: Jean-Luc Godard 

BREATHLESS (1960) Director of Photography- Raoul Coutard | Director- Jean-Luc Godard

 

6. The Last Starfighter (1984)

     DoP: King Baggot 

     Director: Nick Castle

THE LAST STARFIGHTER (1984) Director of Photography- King Baggot | Director- Nick Castle

 

7. The Searchers (1956)

     DoP: Winton C. Hoch 

     Director: John Ford

THE SEARCHERS (1956) DoP- Winton C. Hoch | Dir- John Ford

 

 

8. True Romance (1993)

     DoP: Jeffrey L. Kimball 

     Director: Tony Scott

TRUE ROMANCE (1993) DoP- Jeffrey L. Kimball | Dir- Tony Scott

 

 

9. Sympathy for Mr. Vengeance (2002)

     DoP: Byeong-il Kim 

     Director: Chan-wook Park

SYMPATHY FOR MR. VENGEANCE (2002) | DoP- Byeong-il Kim | Director- Chan-wook Park

 

10. 8 1/2 (1963)

       DoP: Gianni Di Venanzo 

       Director: Federico Fellini

8½ Film (1963) Cinematography- Gianni Di Venanzo : Director- Federico Fellini

 

11. Stand by Me (1986)

      DoP: Thomas Del Ruth 

      Director: Rob Reiner

STAND BY ME (1986) Director of Photography- Thomas Del Ruth | Director- Rob Reiner

 

12. Blade Runner (1982)

       DoP: Jordan Cronenweth

       Director: Ridley Scott 

BLADE RUNNER (1982) Director of Photography- Jordan Cronenweth | Director- Ridley Scott

 

13. Let the Right One In (2008)

       DoP: Hoyte Van Hoytema 

       Director: Tomas Alfredson

LET THE RIGHT ONE IN (2008) Director of Photography- Hoyte Van Hoytema | Director- Tomas Alfredson

 

14. Paris, Texas (1984)

       DoP: Robby Muller

       Director: Wim Wenders

paris, texas

 

15. Fallen Angels (1995)

       DoP: Christopher Doyle

       Director: Wong Kar-wai

fallen angels

 

15 Perfect Shots Part I

tintascreenplay.com

Advertisements

4 alasan George Lucas dan Steven Spielberg merubah dunia perfilman menjadi lebih buruk

19 Feb
steven&george2

George Lucas & Steven Spielberg

 

Siapa tidak kenal George Lucas dan Steven Spielberg? Kedua sutradara ini telah merubah dunia perfilman dengan film-film mereka yg blockbuster dan sangat crowd pleasing. Mereka juga menginspirasikan banyak sekali generasi penonton dan pembuat film sehingga  merubah kebiasaan cara kita menonton dan cara industri film bekerja. Tetapi apakah perubahan yg mereka buat mempunyai efek positif untuk jangka panjang atau membawa Hollywood ke era yg lebih gelap? Walaupun saya penggemar film-film mereka, tetapi saya juga merasakan tidak semua perubahan yg mereka bawa mempunyai efek yg positif.

 

4. Mereka menciptakan kultur blockbuster

 Di awal tahun 70’an, Lucas dan Spielberg adalah dua orang sahabat/pelajar film yg baru kelar kuliah dan masih sangat hijau. Mereka memang pencinta film/pop culture uber geek sejati dari generasi baby boomer (lahir setelah perang dunia ke II, dimana terjadi pelonjakan tajam kelahiran bayi-bayi) di mana mereka tumbuh di era jaman keemasan Amerika di tahun 50’an. Inovasi dan optimisme di era itu membuahkan budaya televisi yg berkembang cepat di mana Spielberg dan Lucas tumbuh dengan acara-acara televisi yg mempunyai mass appeal (selera masa) yg kuat sehingga meninggalkan bekas yg kuat di benak mereka (satu keluarga menonton acara TV bareng-bareng dengan sangat entusias). Belum lagi kecintaan mereka terhadap buku komik, rock n roll, fast food dan film (dengan inovasi movie drive-in) membuat mereka sangat peka dengan selera budaya pop culture Amerika.

Mereka juga mencintai film-film dari Eropa/Jepang/art films sehingga mereka mempunyai pengetahuan komplit tentang beragam macam film. Perbedaan mereka dengan alumni teman-teman sutradara yg lain (Martin Scorsese, Francis Ford Coppola, Brian De Palma) adalah mereka suka membuat film yg mempunyai mass appeal sementara Scorsese, Coppola dan De Palma lebih suka membuat film-film yg lebih personal/edgy. Makanya ketika film Spielberg ‘Jaws’ muncul dan sukses berat di kalangan anak muda/remaja terjadi di era summer (musim panas) ketika sedang liburan sekolah, sehingga terjadi perkataan ‘summer blockbuster’.  Lucas membawa konsep itu dan memecahkan rekor ‘Jaws’ dengan membuat ‘Star Wars’ menjadi fenomena dunia. Sejak saat itu era blocbuster telah lahir.

Masalahnya adalah ketika Hollywood terkena momentum blockbuster hit, mereka menjadi ketagihan dan ini menjadi tanda kematian bagi pembuat-pembuat film seperti Scorsese dan Coppola yg membuat film dengan cerita lebih berani dan kompleks. Prioritas studio-studio di Hollywood sekarang sudah menjadi profit oriented di mana mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya lebih penting daripada membuat film yg berkualitas dan intelligent. Marketing dan hype menjadi priortias utama untuk promosi film, bahkan bujet promosi semakin tahun-semakin naik drastis karena studio mengeluarkan banyak uang untuk promosi ke semua media.  Tentunya film-film yg di promosikan musti mempunyai mass appeal yg kuat sehingga cerita yg unik dan berkualitas di korbankan supaya semua orang mengerti dengan cerita-cerita yg klise dan aman.

 

3. Mereka menciptakan kultur CGI/Special FX/Digital film

 Progres dan inovasi adalah hal yg mutlak dan pasti terjadi di industri film tetapi jika kualitas cerita di korbankan demi hal teknis akan membawa dampak negatif terhadap industri film sendiri. Berapa kali kita terbawa oleh hype karena film mepromosikan visual/special FX/CGI yg canggih tetapi setelah menonton filmnya seperti tidak ada meninggalkan kesan yg berarti malah kita terasa seperti di exploitasi karena di paksa menonton visual menarik selama dua jam tetapi cerita yg dangkal/klise/bahkan merendahkan penonton. Spesial FX/CGI musti di gunakan untuk mendukung cerita bukan sebaliknya, hal yg simple ini sering di abaikan pembuat film di era sekarang karena mayoritas pembuat film sudah terlalmpau jatuh cinta dengan hal teknis tetapi melupakan esensi cerita sehingga merugikan penonton.

Lucas bisa di bilang sebagai salah satu pencetus inovator CGI utama dengan perusahaan dia ILM (Industrial Light and Magic) dan era film-film CGI melonjak drastis di awal tahun 2000’an, di mulai dengan film Lucas sendiri ‘The Phantom Menace’, dan kita tahu sendiri dengan hasil film itu. Di kritik habis-habisan karena terlalu fokus dengan CGI tetapi tidak mempunyai fondasi cerita yg solid. Lucas sendiri mengakui bahwa menulis screenplay adalah hal yg paling dia tidak sukai karena dia lebih doyan dengan teknis visual. Intinya. Walaupun film itu di anggap film Star Wars terburuk tetapi masih menghasilkan box office hit sehingga menciptakan sebuah kultur di mana walaupun film mempunyai cerita jelek tetapi masih menghasilkan untung karena mempunyai visual yg menarik.

Belum lagi inovasi Lucas dengan menggunakan kamera digital yg merevolusi industri film dan media. Memang shooting dengan digital memudahkan proses teknis di mana tidak di perlukan proses pencucian film secara analog tetapi secara visual film masih lebih superior di bandingkan digital. Mayoritas director of photography di Hollywood masih lebih suka menggunakan film karena looknya jauh lebih natural dan variatif sementara digital lebih flat dan kaku. Pastinya teknologi digital akan selalu berkembang dan menyamai kualitas film cuman ironis sekali di masa depan yg cukup dekat, film akan punah tetapi kita masih menyebutnya sebagai ‘film’.

 

2. Mereka menciptakan Michael Bay (dan replikanya)

 Memang tidak secara langsung tetapi tidak di pungkiri lagi generasi-generasi sutradara Hollywood berikutnya sudah familiar dengan konsep blockbuster dan sudah di jadikan sebagai pedoman di hidup mereka. Untuk setiap sutradara unik seperti Christopher Nolan, David Fincher, Tim Burton, Peter Jackson dan Quentin Tarantino yg peduli dengan segala aspek di film dan mempunyai visi yg beda dan personal. Akan ada sepuluh Michael Bay dan bahkan replika Michael Bay lainnya yg hanya peduli dengan membuat film action/sensasi yg berkualitas junk food dan membuat sekuel atau remake yg tidak ada habisnya. Sehingga rasio film jelek/biasa/sampah akan selalu lebih banyak daripada film berkualitas.

 

1. Mereka telah menjadi bagian dari insitusi yg dulu mereka benci

steven&george

 Spielberg dan Lucas adalah orang-orang  yg sangat keras kepala dan mandiri. Ketika pertama kali mereka memulai karir sutradara, mereka sangat benci dengan institusi studio Hollywood yg terlalu mengatur film mereka. Mereka selalu bertempur mati-matian untuk mendapatkan kontrol untuk film-film mereka. Ketika, kesuksesan tercapai dan mereka telah menjadi bagian dari institusi itu sendiri apa yg terjadi? Yg pasti mereka ingin mempertahankan posisi mereka di status quo dan melanjutkan membuat film-film yg mempunyai mass appeal. Karir Spielberg mungkin lebih variatif dari Lucas karena dia lebih banyak membuat film dengan genre yg berbeda tetapi cangkupan Spielberg sebagai sutradara, produser film dan produser di beragam acara Televisi membuat dia sebagai salah satu orang berpengaruh di Hollywood dan menjadi bagian penting dari institusi yg dulu dia benci. Otomatis menjadikan dia sebagai pembisnis film yg ulung dan tahu cara mengexploitasi pasar demi keuntungan.

Sementar Lucas sendiri telah menjadi seorang Emperor seperti karakter di Star Wars dan dia juga mengakui itu:

“What I was trying to do was stay independent so that I could make the movies I wanted to make,” Lucas says in the 2004 documentary “Empire of Dreams.” “But now I’ve found myself being the head of a corporation … I have become the very thing that I was trying to avoid.”

Mungkin salah satu alasan kenapa Lucas menjual perusahaannya ke Disney karena dia sudah capek di rongrong terus oleh Hollywood untuk membuat sekuel-sekuel Star Wars berikutnya. Sementara Spielberg sendiri memutuskan untuk tidak membuat film action lagi karena sudah jenuh dan dia ingin membuat film-film biopic seperti’ Lincoln’:

 “I knew I could do the action in my sleep at this point in my career. In my life, the action doesn’t hold any – it doesn’t attract me anymore.”

Mereka mungkin sudah jenuh tetapi dampak dari tindakan mereka sudah mendarah daging di Hollywood.

Yg paling ironis juga adalah di tahun awal 70’an, studio-studio Hollywood terancam bangkrut karena tidak bisa mengikuti perkembangan jaman lagi karena di era itu sedang terjadi pergumulan perubahan sosial yg radikal di Amerika di mana gerakan perempuan yg ingin berstatus sama, gerakan anti pemerintah dan gerakan orang kulit hitam yg juga ingin kesamaan menilai Hollywood adalah institusi hiburan yg tidak berarti karena tidak bisa merefleksikan jaman yg berubah. Spielberg dan Lucas berhasil menyelamatkan Hollywood dan karena mereka Hollywood bertambah kuat dan berhasil mendominasi dunia.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: