Tag Archives: transeksual

Transparent: Tragedi/komedi di jati diri

26 Feb
Transparent (2014)

Transparent (2014)

 

Imej saya tentang orang-orang transeksual, kurang lebih masih misterius karena di kehidupan saya sehari-hari memang saya tidak punya kenalan dengan orang-orang seperti itu. Imej orang-orang transeksual yg sudah di buat di masyarakat kita terus terang masih belum positif, kita sebagai masyarakat masih mengganggap mereka sebagai mahluk hybrid yg cukup membingungkan atau paling gampang memasukan mereka di kotak “bencong” sebagai identitas komikal karena kita cukup nyaman dengan menjiplak mereka sebagai seorang karikatur daripada seorang karakter manusia.

Imej mereka di media juga sangat mengakar dan satu dimensi di mana karakter-karakter “bencong” hanya di gunakan sebagai comic relief. Kita tidak pernah melihat mereka sebagai manusia komplit, apakah ini karena pengaruh turun menurun dari budaya/media/masyarakat kita atau stigma dari ajaran agama posisi kaum transexual di negara ini (dan di kebanyakan negara di dunia) masih di tempatkan di pojok atau di bayang-bayang.

‘Transparent’ adalah serial TV buatan amazon.com yg menuai banyak pujian dan membuat dobrakan penting karena berani membuat serial TV dengan subyek yg sangat unik dan juga mampu memberikan sebuah pandangan humanis tentang kaum transeksual. Serial ini juga banyak di nobatkan sebagai salah satu serial terbaik di 2014.

Mort Pfeffermans (Jeffrey Tambor) adalah seorang guru lelaki intelektual di usia 70-an yg berniat untuk ‘keluar’ menjadi perempuan karena dia sudah lama merasa jadi perempuan tetapi perasaan ini terus di pendam. Sejak lama, dia diam-diam sering berpakaian seperti perempuan ketika sendirian dan hidup seperti seorang superhero yg mempunyai identitas ganda. Dia mengalami dilema bagaimana memberitahukan keluarganya. Keluarga Mort sendiri juga cukup menarik karena ketiga anaknya mempunya masalah sendiri-sendiri yg secara tidak langsung berhubungan dengan perubahan di diri Mort.

Yg membuat ‘Transparent’ sebagai serial TV modern klasik adalah menyatukan elemen komedi yg berasal dari situasi atau tempat yg menyakitkan dan membuat momen itu se-real/humanis mungkin. Ya, ‘Transparent’ memang mempunyai fokus utama ke Mort tetapi skop cerita ‘Transparent’ ternyata lebih meluas ke keluarga Mort (terutama ketiga anak-anaknya yg mempunyai masalah masing-masing). Sarah (Amy Landecker) adalah anak tertua yg mempunyai keluarga sempurna tetapi dia masih jatuh cinta kepada cinta pertamanya yg juga seorang wanita, Josh (Jay Duplass) seorang hipster yg mempunyai pekerjaan sebagai produser musik yg mempunyai trauma dalam tentang perempuan dan Ali (Gaby Hoffmann) anak paling bungsu yg tidak punya arahan hidup yg jelas.

Penulis/pencipta Jill Soloway membuat ‘Transparent’ karena terinspirasi dari kehidupan nyata di kehidupannya ketika bapak Soloway mengaku bahwa dia adalah seorang transeksual. Soloway juga dulu pernah bekerja sebagai penulis di serial HBO ‘Six Feet Under’ yg mempunyai tema tentang kehidupan keluarga yg janggal dan menyatukan tragedi dan humor secara humanis. Tonasi ‘Transparent’ memang mengikuti jejak ‘Six Feet Under’ di mana kita melihat karakter-karakter yg penuh dengan sikap dan motivasi kompleks karena mempunyai sebuah keinginan terpendam yg tidak bisa di ekspresikan secara luwes. Keinginan yg terpendam dan belum tercapai ini yg membuat hubungan keluarga mereka menjadi naik turun dengan konflik karena setiap anggota keluarga mempunyai rahasia masing-masing dan mereka memanipulasi satu sama lain –walaupun secara tidak sengaja/bukan maksud untuk menyakiti- untuk mendapatkan hal yg mereka mau/untuk menjaga rahasia mereka.

Kata-kata ‘realisme’ sering di utarkan di film-film indie/art house atau serial TV yg berbobot, tetapi realisme sendiri tidak cukup untuk membuat suatu karya yg excellent. Karya itu sendiri musti bisa ‘menghibur’ penonton dan membawa mereka ke tempat atau dunia lain yg mereka belum kenal. ‘Realisme’ dan ‘menghibur’ bukanlah sebuah hal yg eksklusif yg hanya bisa di taruh di satu tempat saja- film indie musti realistis!/film Hollywood musti menghibur! Kedua elemen ini bisa menyatu dan membuat sebuah karya yg special. Intinya, ‘Transparent’ bisa membuat cerita yg menghibur tetapi juga mempunyai bobot realisme yg mengakar sehingga sikap dan motivasi mereka terasa sangat otentik.

Melihat ekspresi Mort yg campur baur karena cemas ketika ingin memberitahu anaknya bahwa dia telah berubah menjadi perempuan sangat memilukan tetapi juga lucu karena kita mengerti rasanya ingin memberitahu seseorang tentang rahasia kita yg terdalam tetapi tidak bisa. Mort ingin terus terang tetapi masih ada sesuatu di dalam yg menahan dia untuk berterus-terang. Dan ini inti dari ‘Transparent’ , di mana kita ingin mengexpresikan identitas diri tetapi melakukannya dengan terbata-bata akhirnya menghasilkan suatu cerita yg campur baur antara lucu/sedih dan yg paling penting manusiawi.

Tetapi hal paling penting yg saya dapatkan dari ‘Transparent’ adalah saya tidak melihat Mort sebagai karikatur “bencong” lagi. Saya meihat dia sebagai manusia utuh yg mempunyai beragam lapis kompleksitas yg sangat normal dan biasa, walaupun dari penampilan luar Mort sangat tidak biasa.

tintascreenplay.com

 

%d bloggers like this: