Menonton Rambo di tiga fase kehidupan

20 Sep

 

Film ‘Rambo: First Blood Part II’ merupakan salah satu film favorit saya waktu kecil sekitar 10 tahun tetapi ketika saya umur 20 tahun saya teringat bahwa saya membenci film ini dan ketika saya umur 30 tahun saya merasa netral. Kenapa saya mempunyai perasaan yg begitu kuat kepada film ini? Apakah banyak juga film-film yg saya tonton sewaktu kecil yg membuat perasaan saya berubah-rubah setiap dekade? Ternyata ketika saya pikir ulang, penilaian saya tentang sebuah film yg saya tonton dari kecil sampai sekarang cukup konsisten dan tidak meleset jauh. Misalnya ketika saya berusia 10 tahun saya menonton Star Wars: Return of the Jedi, saya suka filmnya walaupun saya sebel sama Ewoks karena saya bepikir bagaimana mungkin segerombolan binatang liar berbadan teddy bear yg berkepala anjing shitzu dengan senjata primitif bisa mengalahkan Storm Troopers yg mempunyai perlengkapan tercanggih di seluruh jagad? Terlalu mengada-ngada buat saya dan pemikiran itu tidak beda jauh 20+ tahun kemudian. Tetapi kenapa film Rambo II bisa membuat emosi saya turun naik selama 3 dekade lebih? Akhirnya saya mencoba untuk merinci pengalaman saya.

 

10 tahun

Pertama kali saya menonton Rambo II saya merasakan sebuah rush atau adrenalin yg sangat powerful karena Rambo bisa mengalahkan ratusan musuhnya dengan berbagai macam cara. Ada dengan cara stealth ninja silent kill atau dengan menggunakan panah, pisau, machine gun, helicopter, RPG, jebakan dan masih banyak lagi. Apakah karena adegan action saja kenapa saya suka Rambo? Kayanya engga juga karena di dekade 80’an banyak juga film-film action yg penuh dengan 1001 cara inovatif untuk memenggalkan kepala musuh. Mungkin di balik adegan action Rambo yg bertubi-tubi saya merasa simpati dengan karakter dia karena Rambo adalah figur yg tragis. Apalagi jika sudah menonton film Rambo pertama: First Blood. Di mana Rambo pulang kampung ke Amerika setelah perang di Vietnam tetapi dia di perlakukan sebagai kriminal.  Film itu berhasil menggambarkan bagaimana banyak veteran perang Vietnam yg merasa tidak di hargai walaupun telah melakukan tugas mereka demi negara. Jadi intinya, karakter Rambo di asah sedemikan rupa sehingga dapat menguras simpati penonton karena dia selalu menjadi korban permainan pemerintah yg selalu menyia-nyiakan dia. Bagi saya yg umur 10 tahun, walaupun saya suka dengan action yg spektakuler karena Rambo jagonya kaya super hero tetapi saya juga mengerti bahwa dia adalah karakter yg kesepian dan menyedihkan sehingga sosok dia menjadi lebih tragis.

 

20 tahun

Di sini saya melalui fase kuliah di mana saya baru belajar untuk mencari jati diri saya. Tentunya kalo seorang pelajar di usia 20 tahun yg mempunyai banyak gairah dan semangat dan juga sedang belajar tentang film pasti mulai belajar cara dekonstruksi sebuah film. Apa arti sebuah film? Kenapa film ini di buat? Siapa yg buat? Apa nilai moral atau pesan propaganda yg ingin di sampaikan sebuah film? Rambo II menjadi sasaran paling empuk tentunya karena film ini bisa di kategorikan sebagai film propaganda di mana Amerika menunjukan superioritas dalam militer atau juga menjadi sebuah mimpi basah yg ingin membalas dendam kepada musuh-musuh komunis di era perang dingin karena di realitanya, Amerika telah di kalahkan oleh negara dari dunia ketiga yg miskin dan penuh dengan petani. Kekalahan ini masih sebuah hal yg menyakitkan di benak banyak orang Amerika karena untuk pertama kalinya Amerika kalah perang. Amerika juga punya obsesi tinggi dengan ribuan tentara mereka yg masih hilang di Vietnam sehingga Rambo di jadikan sebuah alat fantasi untuk mewujudkan mimpi bahwa tentara-tentara yg ketinggalan bisa di selamatkan lagi. Saya melihat sosok Rambo bukan figur yg tragis tetapi orang gila yg demen perang yg di ciptakan sebagai senjata murni yg mematikan. Mungkin saya membenci Rambo II karena sewaktu saya umur 10 tahun saya sangat naïf karena memuja dia tetapi setelah saya belajar tentang politik dunia dan pesan propaganda yg di buat blak-blakan saya merasa di tipu oleh sistem kapitalis melalui film yg saya sempat cintai.

 

30 tahun

Di sini adalah fase saya sudah bekerja atau cari duit, karena saya bekerja di bidang sutradara otomatis saya sudah mengerti dengan proses pembuatan sebuah film. Ketika saya menonton Rambo II, saya tidak merasakan kecintaan yg dalam seperti waktu umur 10 tahun atau kebencian yg kesumat di usia 20 tahun tetapi saya menjadi netral karena fokus saya bukan lagi dalam mencari makna arti film Rambo II tetapi lebih dalam mempelajari segi teknis bagaimana membuat film itu sendiri. Bagaimana logistik membuat film seperti Rambo? Bagaimana membuat adegan action seperti Rambo? Berapa crew yg di butuhkan? Berapa stuntman yg di perlukan? Walaupun usia film Rambo II sudah hampir 30 tahun lebih tetapi adegan actionnya masih cukup bagus dan tidak terkesan kuno seperti kebanyakan film action di dekade 80’an. Dan yg mengejutkan lagi, saya juga baru tahu bahwa yg menulis script Rambo II adalah James Cameron!  Jadi intinya saya lebih interest dengan behind the scene pembuatan film itu sendiri karena saya mengerti bagaimana susahnya membuat satu adegan.

 

Kesimpulan:

Saya sampai sekarang juga belum mengerti kenapa film ini mempunyai efek seperti ini. Padahal saya jarang sekali menonton filmya. Bahkan dari usia 20 tahun saya cuman nonton sekali sampai usia 30 tahun. Film Rambo II tidak pernah berubah tetapi saya selalu berubah dengan pengalaman hidup dan umur dan mungkin refleksi saya tentang fase kehidupan akan selalu ada di Rambo II. Tetapi kenapa saya  tidak merasakan ini di film-film arthouse atau film-film yg lebih berat/intelektual? Kenapa Rambo II? Kenapa bukan yg pertama, ketiga atau yg keempat? Mungkin saya menemukan jawabannya ketika saya menonton Rambo II ketika umur saya 80 tahun.

tintascreenplay.com

Advertisements

2 Responses to “Menonton Rambo di tiga fase kehidupan”

  1. sabaiX September 21, 2013 at 7:05 am #

    Life long and prosper Joe! Semoga masih ngeblog di umur 80 th, gw tunggu postingnya.

    • joegievano September 21, 2013 at 10:19 am #

      Thanks Tika! you too. Gw juga masih akan baca blog lo ketika gw udah ngompol di celana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: