Tag Archives: batman

8 film klasik yg hampir tidak jadi

13 Jun

Bicara blak-blakan, industri film adalah salah satu industri yg paling tidak bisa di prediksi. ‘Formula’ untuk membuat film sukses memang banyak di terapkan dalam pembuatan film (Cerita yg menarik, sutradara handal, aktor yg sedang terkenal, dsb) tetapi ini masih belum garansi bahwa film itu akan menjadi sukses.  Intinya membuat film adalah tebak-tebakan. Kebanyakan film yg tayang di bioskop tidak untung dan banyak sekali elemen yg membuat film gagal (Script yg lemah, akting yg terbatas, cerita yg standard, distribusi yg tidak sehat, film tidak punya visi, campur tangan investor, masalah personal, dsb). Tetapi kadang-kadang, perjalanan sebuah film yg nyaris tidak terjadi karena beragam masalah justru membuahkan hasil karya yg menjadi klasik dan membuat film itu legendaris.

 

1. Citizen Kane (1941)

Film yg selalu di nobatkan sebagai film terbaik di sepanjang masa ini hampir tidak tayang karena perseteruan antara sutradara/penulis/aktor Orson Welles dengan konglomert media di jaman itu, William Randolph Hearst. Background Welles adalah seorang sutradara teater jenius dan ‘Citizen Kane’ adalah film debut pertama dia. Welles mendapat inspirasi untuk membuat ‘Citizen Kane’ setelah bertemu dengan Hearst. Ketika ‘Citizen Kane’ akan tayang, Hearst mendapatkan masukan bahwa film ini menyindir sosok Hearst. Tersinggung, Hearst mencoba untuk membeli ‘Citizen Kane’ dan memboikot penayangan film. Hearst juga memerintah seluruh media masa milik dia (surat kabar, radio) untuk melakukan black campaign. Walaupun ‘Citizen Kane’ mendapatkan sembilan nominasi Oscar, film ini anjlok karena mendapatkan kampanye negatif dari Hearst. Untungnya film ini di tayang kembali di tahun 1950’an dan statusnya sebagai film masterpiece akan selalu abadi.

 

2. Breakfast at Tiffany’s (1961)

Film yg membuat Audrey Hepburn menjadi bintang ini hampir gagal produksi karena masalah awal di  casting. ‘Breakfast at Tiffany’s awalnya adalah sebuah novel laris karangan Truman Capote tentang cerita seorang ‘wanita malam’. Capote menyarankan Marilyn Monroe sebagai peran utama, Monroe menolak karena tema filmnya terlalu kontroversial untuk dia. Ketika Hepburn terpilih, Capote sangat marah dan tidak setuju. Produksi menjadi kacau, beberapa sutradara dan penulis di pecat, lagu ‘Moon River’ yg klasik hampir tidak terjadi dan Capote bahkan sempat bersikeras ingin menjadi pemeran utama laki-laki. Sebuah keajaiban film ini akhirnya selesai produksi dan menjadi sukses.

 

3. Batman (1989)

Di tahun 1979, produser dan fans berat buku komik Michael Uslan membeli hak cipta untuk membuat film Batman. Dia mempunyai visi bahwa Batman adalah seorang hero yg dark dan serius tetapi studio-studio Hollywood di saat itu menganggap ide film superhero yg dark dan lebih dewasa adalah ide konyol. Mereka lebih suka versi Batman TV seri yg campy dan di desain untuk anak kecil. Uslan tidak menyerah dan dia berjuang gigih selama sepuluh tahun untuk membuat versi Tim Burton. Walaupun versi Nolan lebih greget dan modern, Tim Burton yg membuka jalan terlebih dahulu bahwa film superhero bisa sukses walaupun lebih dark dan edgy.

 

4. Apocalypse Now (1979)

 

Salah satu film terbaik tentang perang Vietnam ini hampir tidak selesai. Francis Ford Coppola menggadaikan seluruh hartanya untuk membuat film ini karena over budget dan studio tidak mau menambahkan budget. Harvey Keitel di pecat dari pemeran utama di tengah produksi dan di gantikan oleh Martin Sheen sehingga must shoot ulang. Sheen mengalami serangan jantung dan nyawanya sempat terancam. Bencana seperti badai taifun dan kebakaran menghancurkan set film. Pemerintah Filipina tiba-tiba menarik helikopter-helikopter yg sedang shooting karena ada situasi darurat di mana tentara Filipina sedang berperang melawan pemberontak. Coppola mengalami nervous breakdown berkali-kali. Crew film dan aktor-aktor mulai sering memakai alkohol dan drugs. Coppola sendiri mengatakan,”We were in the jungle, there were too many of us, we had access to too much money, too much equipment, and little by little, we went insane.”

 

5. Toy Story (1995)

Tekanan di pihak Pixar untuk membuat film animasi CGI pertama sangat berat karena pihak Disney tidak suka dengan film rough cut pendek yg di presentasikan. Karakter Woody dan Buzz Lightyear awalnya sangat tidak bersahabat bahkan cukup kejam dan menyebalkan sehingga Disney hampir memutuskan untuk tidak melanjutkan produksi karena biayanya terlalu mahal dan masih dalam tahap experimen. Untungnya, Pixar mendapatkan kesempatan kedua dan beberapa bulan kemudian mereka membuat karakter Woody dan Buzz lightyear lebih bersahabat seperti yg di versi film sekarang. Sukses ‘Toy Story’ melahirkan film-film generasi animasi baru yg murni dari computer generated dan membuat Pixar menjadi trend setter.

 

6. China Town (1974)

Cerita ini cukup unik karena lebih tentang masalah pribadi. Sutradara Roman Polanski mendapat dukungan penuh dari studio, aktor Jack Nicholson dan juga produser-produser lain. Cerita musti di shooting di Los Angeles dan Polanski hampir tidak  mau. Beberapa tahun sebelumnya, istri Polanski, Sharon Tate (yg sedang hamil) dan beberapa temanya secara brutal di bunuh oleh Charles Manson dan kelompok cultnya. Kejadian ini menggemparkan Hollywood/Amerika dan tentunya membuat Polanski trauma. Setelah berpikir lama, Polanski akhrinya mau shooting di Los Angeles dan hasilnya ‘China Town’ menjadi film Polanski yg paling terkenal.

 

7. The Wizard of Oz (1939)

Wizard-of-Oz-Caps-the-wizard-of-oz-1739011-720-536

 

Masalah produksi yg berbelit-belit hampir membuat film ini gagal. Script film ini di revisi berulang-ulang oleh 16 penulis yg berbeda-beda. Ketika film selesai, empat sutradara telah bekerja di film ini. Aktor pertama yg memainkan The Tin Man musti masuk rumah sakit karena make up warna perak yg menghiasi mukanya masuk ke dalam paru-paru. Aktor yg memerankan peran Wicked Witch mengalami luka bakar yg cukup serius di adegan ketika dia memasuki  awan yg berasap, belum lagi rumor tentang salah satu karakter Munchkin yg menggantungkan diri di set film.

 

8. The Avengers (2012)

 

avengers

Ok, mungkin cerita ini agak sedikit menyimpang tetapi bagi saya sangat unik. Kita tahu Stan Lee (dan juga Jack Kirby) adalah pencipta karakter-karakter Marvel yg ikonik. Sebelum karakter-karakter Marvel lahir, Stan Lee memang sudah bekerja di perusahaan buku komik tetapi dia membenci pekerjaannya karena cerita dan karakter-karakternya sangat pasaran dan bosnya Stan Lee di saat itu memang tidak punya imajinasi yg lebih kreatif. Stan Lee ingin membuat karya-karya novel yg lebih serius dan dia sudah bertekad untuk mengundurkan diri dari industri penerbitan buku komik.

Ketika Stan Lee bercerita ke istrinya, si istri menyarankan Stan Lee untuk mencoba menulis satu judul lagi tetapi tulis yg Stan Lee mau bukan mengikut perintah bos. Stan Lee berpikir sesaat dan mau mencoba. Walaupun nanti hasilnya tidak memuaskan dan dia di pecat, paling tidak Stan Lee sudah mencoba sesuatu yg dia mau. Stan Lee menulis Fantastic Four dan ternyata laku keras. Kesuksesan Fantastic Four membuat Stan Lee menulis The Avengers, Spider-Man, The Hulk, Daredevil, X-Men dan akhirnya merevolusi industri buku komik.

tintascreenplay.com

Frank Miller: The man without fear

27 Jul

Waktu saya kecil, buku komik adalah salah satu passion saya. Mungkin karena saya doyan baca, jadi segala buku (kecuali buku pelajaran hehe), koran saya lahap. Yg pasti buku komik menjadi salah satu menu saya yg konsisten. Komik book adalah medium yg sangat unik karena berhubungan erat dengan film. Membaca komik  seperti membaca story board film, ada visual dan tulisan; dua hal yg saya suka. Seperti kebanyakan anak kecil di generasi saya, saya membaca komik-komik Tintin, Lucky Luke, pos kota, Asterix bahkan bobo 🙂

Sampai akhirnya ketemu komik-komik super hero, di situ saya menemukan one of my real passion. Saya lebih suka Marvel di bandingkan DC (Walaupun saya suka DC Vertigo), mungkin karena karakter-karakter Marvel lebih humanis atau penulisannya lebih greget atau art-nya lebih kick ass atau semua kombinasi itu.

Dari semua superhero yg saya baca dan suka, favorit saya adalah Daredevil (lebih spesifik Daredevil di era Frank Miller dan setelah itu) karena dia yg paling realistis/manusiawi dan juga super hero cacat yg pertama; dia buta. Sebelum Daredevil, tidak pernah ada konsep superhero cacat jadi ini membuat dia sangat unik. Super power yg dia miliki juga bukan spektakuler seperti Spiderman, Superman atau Silver Surfer, Super power yg dia miliki adalah heightened super senses di mana semua indera dia menjadi sangat tajam sehingga dia mempunyai sebuah ‘radar’ yg bisa mendeteksi keadaan sekitarnya. Masih lebih realistis dari pada bisa terbang atau menembakan laser optic beam dari mata bukan?

Walaupun Daredevil memiliki dasar cerita/karakter/konsep yg realistis dan lebih humanis, sebelum era Frank Miller, penulis lain selalu melihat Daredevil sebagai seorang super hero yg lebih ke ‘swash buckling’ hero type atau hero yg suka ‘berpetualangan’. Intinya, Daredevil sebelum Frank Miller adalah super hero yg biasa-biasa saja. Tidak begitu populer tetapi bukan tidak di kenal. Cerita-cerita Daredevil tidak menonjol malah sangat standard bahkan sedikit ‘campy’. Penjualan Daredevil di akhir 70’an semakin sedikit, sehingga terancam cancellation. And then Frank Miller came and changed everything…

Frank Miller merubah konsep Daredevil menjadi ‘tragic-noir’ hero dengan merubah fokus cerita ke crime stories karena salah satu inspirasi favorit  Miller adalah ‘film noir’, di mana secara visual gambar Daredevil lebih banyak menggunakan black shadows/bayangan gelap dan secara tema, ceritanya menjadi lebih  ‘gritty’, realistis dan dark.

Karena Miller, popularitas Daredevil menanjak cepat. Daredevil seperti ‘lahir’ kembali dan menjadi superhero yg dapat memukau pembaca karena Miller membuat Daredevil lebih kompleks dan lebih grounded to reality. Miller melihat potensi Daredevil dengan dunia yg lebih realistis dan humanis. Dia bisa membuat Daredevil menjadi karakter yg tragis karena Daredevil jatuh cinta dengan Elektra.  Di sini, salah satu sisi tragis Daredevil pelan-pelan mulai di perkenalkan; wanita yg dia cintai akan selalu tewas dengan mengerikan. Miller juga membawa Daredevil ke tema kehancuran yg identik dengan Daredevil berkali-kali, di mana Daredevil/Matt Murdock akan kehilangan segala-galanya tetapi akan selalu bangkit dan menjadi lebih kuat.

Jatuh bangkit Daredevil berulang-ulang yg membuat kenapa karakternya selalu populer dan unik di dunia komik superhero.

Musuh-musuh Daredevil seperti Kingpin, Bullseye dan tentunya Elektra menjadi legendaris karena Miller merubah karakter mereka dari supporting B-list menjadi ikon yg lebih berbahaya, kompleks dan mencekam. Salah satu klimaks yg di ciptakan Miller menjadi sejarah di dunia komik adalah ketika Elektra di bunuh Bullseye. Di awal 80’an, membunuh karakter yg popular adalah sesuatu hal yg tidak pernah mungkin di buat. Miller berani membuat itu karena dunia gelap yg dia ciptakan pas dengan tema itu dan dia membuat scene itu se- elegant dan se-cinematic mungkin.

Sejak saat itu, era modern super hero telah lahir. Di mana cerita dan karakter lebih realistis, kompleks.  Sosok anti-hero menjadi standard baru dan kematian/tragedi di dunia komik menjadi bagian yg normal. Influence Miller juga ke modern  film seperti Batman, 300, Sin City.

 

 

Christoper Nolan mengambil inspirasi dari Frank Miller untuk film Batman. Nolan mengambil inspirasi dari ‘Batman year one’ untuk’ Batman begins’ dan ‘The dark knight returns’ untuk ‘The dark knight rises’. Miller juga bertanggung jawab dalam membuat Wolverine menjadi ‘bad ass’ dengan Chris Claremont sewaktu mereka membuat komik Wolverine. Bayangkan saja bagaimana Industri film sekarang di influence oleh seorang pemuda kurus di tahun 1979 yg penggemar film noir dan suka baca novel crime. Siapa yg sangka, cinta Miller terhadap film meng-influence dan merubah industri komik dan akhirnya industri komik merubah industri film?

Bahkan kejadian penembakan di Colorado yg di lakukan James holmes di bioskop yg sedang memutarkan Batman pernah di ceritakan oleh Frank Miller sewaktu dia menulis Batman di tahun 1986. Spooky huh?

Apapun visi Frank Miller, bagi saya dia selalu menjadi inspirasi karena dia tidak takut untuk mewujudkan visi yg dia punya.

tintascreenplay.com

%d bloggers like this: